Bab 2

"Assalamu'alaikum." Suara salam Andara terdengar pelan saat ia melangkah masuk ke dalam rumah.

"Wa'alaikumussalam."

Aira yang sedang duduk di ruang keluarga, langsung menoleh. Senyum hangat menghiasi wajahnya.

"Sudah pulang, Nak?"

Andara menghampiri sang bunda, lalu mengecup punggung tangannya sebelum memeluknya singkat, seperti kebiasaannya sejak kecil.

"Iya, Bunda."

Aira mengusap lembut kepala putrinya. "Capek banget, ya?"

Andara menggeleng pelan. "Nggak kok, Bun."

"Kalau nggak capek, kenapa wajahnya lesu begitu?"

Andara mengembuskan napas panjang. "Lagi galau."

Aira terkekeh pelan. "Galau? Galau kenapa?"

Andara menatap wajah bundanya beberapa detik sebelum menjawab lirih, "...Kak Kafa nolak aku."

Senyum Aira perlahan memudar. Ia menghela napas panjang. "Ya Allah, Dara..."

"Bunda..."

"Kamu masih ngomongin itu lagi?"

"Aku nggak bercanda, Bun."

"Bunda tau."

"Perasaan aku beneran, tolong mengerti aku."

Aira menggenggam kedua tangan putrinya. "Tapi, Nak... kalian dibesarkan sebagai kakak dan adik."

"Tapi kami nggak punya hubungan darah."

"Bunda tau, sayang-"

"Lalu kenapa semua orang selalu mempermasalahkan itu?"

Aira tersenyum tipis. "Bukan mempermasalahkan."

"Terus?"

"Bunda cuma takut... apa yang kamu rasakan sekarang adalah rasa kagum seorang adik kepada kakaknya. Kalian tumbuh bersama sejak kecil. Kafa selalu menjaga kamu. Wajar kalau kamu merasa sangat bergantung sama dia."

Andara menggeleng mantap. "Bukan, Bun."

"Dara..."

"Perasaan ini bukan baru kemarin muncul. Aku udah suka sama Kak Kafa dari umur sepuluh tahun. Sekarang hampir sepuluh tahun berlalu. Dan perasaan itu nggak berubah sedikit pun."

Suara Andara mulai bergetar. "Kalau ini cuma rasa kagum, harusnya dari dulu udah hilang."

Aira menatap putrinya dengan penuh iba. "Bunda nggak bilang perasaan kamu bohong."

"Terus?"

"Bunda cuma gak mau kamu terus-terusan mengejar seseorang yang belum tentu memiliki perasaan yang sama."

"Aku nggak ngejar."

"Lalu?"

"Aku cuma berusaha memperjuangkan hati Kak Kafa."

"Dara..."

"Aku cuma mau buktiin kalau perasaan ini bukan perasaan anak kecil."

Aira kembali menghela napas. "Sayang..."

Namun Andara sudah lebih dulu menyela. "Kenapa sih semua orang selalu nganggep aku masih anak kecil?" Nada suaranya mulai meninggi.

"Aku sudah dua puluh tahun, Bun. Aku udah dewasa. Aku udah ngerti apa yang aku rasain. Dan perasaan itu masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Dan tidak akan pernah berubah!"

Usai mengatakan itu, Andara berbalik dan menaiki anak tangga menuju kamarnya.

"Dara..."

Langkah gadis itu tidak berhenti. Pintu kamarnya pun tertutup pelan.

Aira hanya mampu memandang ke arah lantai dua sambil mengembuskan napas panjang.

"Ya Allah..." Matanya berkaca-kaca. "Bunda bukan nggak mendukungmu, Nak. Bunda cuma nggak mau kamu terlalu berharap lalu akhirnya menjadi orang yang paling terluka."

Ia tau betul bagaimana Kafa memandang Andara. Penuh kasih sayang. Penuh perhatian. Namun kasih sayang itu masih sebatas seorang kakak kepada adik yang telah ia jaga sejak kecil. Dan justru itulah yang paling ditakutkan Aira.

Jika suatu hari nanti perasaan Kafa tidak pernah berubah, maka Andara lah yang akan menanggung patah hati paling besar.

Begitu pintu kamarnya tertutup, Andara langsung menjatuhkan tas kuliahnya ke atas sofa dengan kesal.

Bruk!

Tas itu terlempar begitu saja tanpa ia pedulikan. Dengan gerakan tergesa, ia melepas kerudung yang masih menutupi kepalanya lalu melemparkannya ke atas tempat tidur.

Kesal. Kecewa. Sedih. Semua emosi itu bercampur menjadi satu.

Andara berjalan mondar-mandir di dalam kamar sambil mengacak rambutnya sendiri. Ia benar-benar tidak mengerti.

Mengapa tidak ada seorang pun yang mendukungnya?

Mengapa semua orang selalu menganggap perasaannya hanya sekadar kekaguman seorang adik kepada kakaknya?

Padahal ia sudah berulang kali menjelaskan bahwa perasaan itu nyata. Sangat nyata. Dan sudah bertahan begitu lama.

Andara menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Ucapan Kafa kembali terngiang di kepalanya.

"Kamu tetap adik Kakak."

"Perasaan Kakak nggak sama."

Andara memejamkan mata kuat-kuat. "Pembohong..." gumamnya lirih.

Ia tidak percaya sepenuhnya pada ucapan itu. Bukan karena keras kepala. Tetapi karena selama bertahun-tahun, ia melihat sendiri bagaimana Kafa memperlakukannya.

Kafa memang selalu menyebutnya adik. Namun perhatian yang diberikan laki-laki itu sering kali terasa lebih dari sekadar kewajiban seorang kakak.

Setidaknya begitulah yang dirasakan Andara. Laki-laki itu selalu datang ketika ia membutuhkan bantuan. Selalu mengutamakannya. Selalu memastikan dirinya baik-baik saja.

Bahkan hari ini. Kafa memang meninggalkannya di taman.

Namun Andara tau, laki-laki itu pasti tidak benar-benar pergi begitu saja. Karena Muhammad Kafa Athalla adalah orang yang paling sulit membiarkannya sendirian.

Andara mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya meraih sebuah buku bersampul cokelat yang tersimpan rapi di laci meja belajarnya.

Buku harian. Tempat ia menyimpan semua rahasia yang bahkan tidak pernah berani ia ceritakan kepada siapa pun.

Perlahan ia membuka halaman demi halaman yang telah penuh oleh tulisan tangannya.

Beberapa lembar sudah menguning karena usia. Beberapa sudut kertas bahkan tampak mulai kusut karena terlalu sering dibaca ulang.

Di sana tersimpan begitu banyak cerita. Tentang seorang gadis kecil yang selalu mengikuti ke mana pun kakak angkatnya pergi.

Tentang rasa kagum yang awalnya sederhana. Tentang jantung yang mulai berdebar tanpa alasan ketika melihat senyum seseorang.

Tentang rasa cemburu yang tidak bisa dijelaskan. Dan tentang perasaan yang tumbuh diam-diam selama bertahun-tahun.

Di halaman pertama yang ia buka malam itu tertulis sebuah tanggal sepuluh tahun lalu. Tulisan tangan Andara saat masih kecil memenuhi halaman tersebut."

12 Mei

"Hari ini Kak Kafa ngajarin aku naik sepeda roda dua. Aku jatuh tiga kali. Sakit. Tapi Kak Kafa bilang aku hebat. Aku seneng banget."

3 Oktober

"Hari ini Kak Kafa beliin aku es krim. Aku mau nikah sama Kak Kafa kalau udah gede."

Senyum tipis terbit di bibir Andara. Ia membalik halaman berikutnya. Lalu berikutnya lagi.

Saat usiaku 6 tahun. "Aku takut disuntik. Kak Kafa pura-pura bilang jarumnya kecil. Padahal setelah selesai dia ketawa karena aku nangis."

Sampai akhirnya ia menemukan sebuah tulisan yang dibuat beberapa tahun setelahnya.

"Kayaknya aku suka Kak Kafa."

Andara menatap kalimat itu lama. Dulu ia sempat menyangkalnya. Ia berpikir mungkin itu hanya perasaan kagum. Mungkin hanya karena Kafa terlalu baik kepadanya. Mungkin hanya karena Kafa selalu ada untuknya.

Namun waktu terus berjalan. Hari berganti bulan. Bulan berganti tahun. Dan perasaan itu tidak pernah menghilang.

Justru semakin jelas. Semakin kuat. Hingga akhirnya Andara mengerti.

Apa yang ia rasakan bukanlah perasaan seorang adik kepada kakaknya. Bukan pula kekaguman sesaat. Melainkan perasaan seorang perempuan kepada laki-laki yang selama ini memenuhi seluruh ruang di hatinya.

Perasaan yang telah bertahan selama sepuluh tahun. Perasaan yang tidak berubah meski berkali-kali ditolak. Perasaan yang tetap sama meski seluruh dunia mengatakan bahwa ia seharusnya menyerah.

Andara menutup buku harian itu perlahan. Lalu memeluknya erat ke dada. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya.

"Aku tau mungkin jalannya masih sangat panjang. Bahkan mungkin tidak akan pernah berhasil. Tapi hari ini... aku belum sanggup menyerah." bisiknya pelan. "Mungkin sekarang Kakak belum bisa melihat aku sebagai perempuan. Tapi suatu hari nanti..."

Andara menatap foto kecil yang terselip di antara halaman buku hariannya. Foto dirinya dan Kafa saat beberapa tahun lalu.

"...aku akan membuat Kakak melihatku dengan cara yang berbeda."

Andara membuka kembali buku hariannya yang mulai usang. Ujung penanya menyentuh selembar halaman kosong, lalu perlahan ia mulai menulis.

"Jika matamu lebih indah dari senja, apa lagi yang bisa kulakukan selain jatuh cinta?"

Ia tersenyum tipis, lalu melanjutkan tulisannya.

"Orang-orang selalu bertanya kenapa aku mencintaimu. Padahal aku sendiri tidak pernah tau sejak kapan perasaan ini tumbuh. Yang aku tau, setiap kali melihatmu, hatiku selalu memilihmu.

Kamu mungkin menganggap semua yang kamu lakukan hanyalah tanggung jawab seorang kakak. Tapi bagiku, setiap perhatian kecilmu selalu berarti besar.

Kamu selalu memastikan aku pulang dengan selamat. Kamu selalu datang saat aku meminta tolong. Kamu selalu menjadi orang pertama yang berdiri di depanku ketika aku membutuhkan seseorang.

Aku menyukai caramu memikul tanggung jawab. Caramu menepati janji. Caramu melindungi orang-orang yang kamu sayangi tanpa banyak bicara.

Dan entah kenapa, setiap kali melihatmu melakukan semua itu, aku selalu semakin yakin bahwa aku telah jatuh pada orang yang sama selama bertahun-tahun.

Namamu masih sama di halaman-halaman buku ini.

Muhammad Kafa Athalla.

Laki-laki yang, sampai hari ini, masih menjadi rumah bagi seluruh perasaanku."

Di sudut bawah halaman, Andara menuliskan satu kalimat terakhir sebelum menutup buku hariannya.

"Kalau memang mencintaimu adalah perjalanan yang panjang, semoga Allah juga mengajarkanku cara mencintaimu dengan sabar."

Terpopuler

Comments

Syti Sarah

Syti Sarah

smngat mngjar kkasih halal ya dara 😊🥰

2026-07-17

0

Anak manis

Anak manis

kejar terus cinta kmu andara😍

2026-07-17

0

just a grandma

just a grandma

yey cerita kafa kekuar😍

2026-07-17

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Nikah Yuk
6 Gak akan Cape
7 Giska
8 Kamu Bukan Siapa-siapa
9 Menghibur Andara
10 Maaf
11 Kembali Ceria
12 Ke Kantor Polisi
13 Tristan
14 Misi Dimulai
15 Scrapbook
16 Menyamar
17 Misi Berhasil
18 Kafa Kelepasan
19 Happy Birthday, Kak!
20 Kafa Melamar Giska?
21 Sakit Hatinya Andara
22 Tulisan Andara
23 Andara Sakit
24 Jenguk Andara
25 Jemput Giska
26 Umi Ayza
27 Tulisan Andara
28 Undangan Makan Malam
29 Perasaan yang Dipendam
30 Rumah Baca
31 Teror Ancaman
32 Girls Time
33 Lamaran Kafa
34 Pembelaan Andara
35 Coffe date
36 Mengejar Penculik
37 Tekad Andara
38 Andara, Rafa, Zuleykha
39 Tak Sengaja Bertemu Tristan
40 Mencari Tau
41 Menemui Azzam
42 Ayah Tristan
43 Mimpi Oma Arsyila
44 Tidak Semudah Itu
45 Shofi Diculik
46 Shofi Diculik 2
47 Mengejar
48 Logika Andara
49 Kecurigaan Andara
50 Penyelamatan
51 Penyelamatan 2
52 Kembali Pulang
53 Tristan Ingin Tau
54 Nomor Tak Dikenal
55 Ancaman
56 Mendapat Kepercayaan Andara
57 Rafa Tau Tristan
58 Terbongkar
59 Dialah Penculik Sebenarnya
60 Bab 60
61 Kakak Disini
62 Hasil Visum
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Menikahi Andara
67 Aku tidak akan Menikah
68 Azlan ingin Menikahi Andara
69 Sah
70 Tantangan Diterima
71 Azlan Patah Hati
72 Memberi Kesempatan
73 Ponsel Baru
74 Bab 74
75 Dikepang
76 Naya
77 Pindah Rumah
78 My First Kiss
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Nikah Yuk
6
Gak akan Cape
7
Giska
8
Kamu Bukan Siapa-siapa
9
Menghibur Andara
10
Maaf
11
Kembali Ceria
12
Ke Kantor Polisi
13
Tristan
14
Misi Dimulai
15
Scrapbook
16
Menyamar
17
Misi Berhasil
18
Kafa Kelepasan
19
Happy Birthday, Kak!
20
Kafa Melamar Giska?
21
Sakit Hatinya Andara
22
Tulisan Andara
23
Andara Sakit
24
Jenguk Andara
25
Jemput Giska
26
Umi Ayza
27
Tulisan Andara
28
Undangan Makan Malam
29
Perasaan yang Dipendam
30
Rumah Baca
31
Teror Ancaman
32
Girls Time
33
Lamaran Kafa
34
Pembelaan Andara
35
Coffe date
36
Mengejar Penculik
37
Tekad Andara
38
Andara, Rafa, Zuleykha
39
Tak Sengaja Bertemu Tristan
40
Mencari Tau
41
Menemui Azzam
42
Ayah Tristan
43
Mimpi Oma Arsyila
44
Tidak Semudah Itu
45
Shofi Diculik
46
Shofi Diculik 2
47
Mengejar
48
Logika Andara
49
Kecurigaan Andara
50
Penyelamatan
51
Penyelamatan 2
52
Kembali Pulang
53
Tristan Ingin Tau
54
Nomor Tak Dikenal
55
Ancaman
56
Mendapat Kepercayaan Andara
57
Rafa Tau Tristan
58
Terbongkar
59
Dialah Penculik Sebenarnya
60
Bab 60
61
Kakak Disini
62
Hasil Visum
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Menikahi Andara
67
Aku tidak akan Menikah
68
Azlan ingin Menikahi Andara
69
Sah
70
Tantangan Diterima
71
Azlan Patah Hati
72
Memberi Kesempatan
73
Ponsel Baru
74
Bab 74
75
Dikepang
76
Naya
77
Pindah Rumah
78
My First Kiss

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!