Nikah Yuk

"Beruntung sekali orang yang kamu cintai. Andai saja itu aku."

- Azlan Sameer Khateer -

***

Azlan baru saja menerima pesanan mie ayam yang sejak dulu selalu menjadi favorit Andara. "Mie ayam tanpa daun bawang, tanpa bawang goreng, sayurnya diperbanyak," gumamnya pelan sambil tersenyum.

Ia bahkan tak perlu bertanya lagi. Di luar kesadaran, ia telah menghafal semua hal kecil tentang gadis itu.

Dari kejauhan, pandangannya kembali tertuju pada Andara yang masih duduk sendiri di meja kantin. Seperti biasa. Kepalanya sedikit menunduk, sementara jemarinya sibuk menari di atas lembaran buku harian yang selalu ia bawa ke mana pun pergi.

Buku itu seolah menjadi dunianya sendiri. Dunia yang tak pernah diizinkan dimasuki siapa pun.

Azlan tersenyum tipis. Baru sekarang ia menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta pada Andara sejak masa putih abu-abu.

Entah sejak kapan tepatnya. Mungkin sejak gadis itu tersenyum kepadanya tanpa beban. Atau mungkin sejak Andara selalu percaya bahwa ia adalah sahabat terbaiknya.

Andara adalah perempuan yang mudah disukai siapa saja.

Gadis itu selalu ceria, cerdas, ramah dan cantik.

Namun, bukan itu yang membuat Azlan jatuh hati. Ada sesuatu yang jauh lebih berharga dari semua itu.

Kesederhanaannya. Meski terlahir sebagai putri dari keluarga pemilik perusahaan besar, Andara tidak pernah menjadikan kekayaan keluarganya sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain.

Ia berpakaian sederhana. Berteman dengan siapa saja. Dan tak pernah sekalipun memamerkan apa yang dimilikinya. Bahkan ada satu kebiasaan Andara yang hampir tidak diketahui siapa pun.

Setiap hari Jumat, ia selalu menyisihkan sebagian uang jajannya. Bukan untuk membeli barang mewah. Melainkan untuk membeli dagangan anak-anak jalanan atau pelaku UMKM kecil yang ditemuinya sepulang sekolah.

Makanan dan barang yang dibelinya itu kemudian ia bagikan lagi kepada orang-orang yang membutuhkan.

Ia melakukannya diam-diam. Tanpa mengunggahnya ke media sosial. Tanpa mencari pujian.

Selama ini, hanya sopir Andara yang mengetahui kebiasaan tersebut karena beliau yang selalu mengantar dan menjemput Andara.

Dan... Azlan.

Bertahun-tahun lalu, rasa penasarannya membuat ia diam-diam mengikuti mobil Andara setiap Jumat sepulang sekolah. Sejak hari itulah ia mengetahui kebiasaan gadis tersebut.

Ia juga berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah membocorkan rahasia itu kepada siapa pun. Karena ia tau, Andara bersedekah bukan untuk dilihat manusia. Melainkan untuk mencari ridha Allah.

Senyum Azlan kembali mengembang. Tanpa sadar, ia terus memandangi Andara. Namun beberapa detik kemudian ia segera mengalihkan pandangannya.

"Astaghfirullah." Ia menundukkan kepala.

Sejak kecil, Uminya selalu mengajarkan agar menjaga pandangan kepada lawan jenis.

Apalagi Uminya adalah putri dari seorang Kiai yang sangat menjunjung tinggi adab dan ajaran agama.

Azlan menarik napas panjang. Mencintai tidak berarti harus terus memandang. Menjaga hati juga berarti menjaga mata.

Lamunannya buyar ketika sebuah tepukan mendarat di bahunya.

"Dari tadi ngelamun aja."

Azlan menoleh. Beberapa sahabat mereka sudah berdiri di belakangnya sambil tersenyum jahil.

"Sana gih."

"Apaan?"

"Nyatain aja perasaan lo sama Dara."

Azlan hanya menggeleng pelan.

"Daripada dipendem terus."

"Ck."

"Apa?"

"Gue nggak mau persahabatan gue sama Dara hancur."

Vano langsung mendecak. "Ah... alasan klasik."

"Bukan alasan."

Azlan tersenyum tipis sambil kembali melirik ke arah Andara yang masih sibuk menulis. "Gue lebih takut kehilangan dia sebagai sahabat daripada ditolak sebagai orang yang mencintainya."

Kalimat itu membuat teman-temannya terdiam. Mereka tau. Perasaan Azlan bukan sekadar rasa suka yang datang sesaat. Ia telah mencintai Andara dalam diam selama bertahun-tahun.

Hanya saja... Perempuan yang memenuhi hatinya itu, sejak dulu hingga kini, masih terus menuliskan nama laki-laki lain di setiap lembar buku hariannya.

***

"Ini diaaa... mie ayam spesial untuk Dara muda, daranya para remaja!"

Azlan datang sambil membawa semangkuk mie ayam dan menyodorkannya ke hadapan Andara. Ujung kalimatnya bahkan diucapkan dengan nada bernyanyi.

Andara hanya menggeleng geli. "Makasih, Lan."

Melihat tingkah Azlan, Zuleykha dan Nuha langsung tertawa.

"Suara lo sebenarnya bagus, tau, Lan," puji Nuha sambil mengangguk-angguk.

Azlan langsung tersenyum bangga. "Nah, gitu dong. Ada yang mengakui bakat gue."

"Iya." Nuha menahan tawa. "Makanya... kenapa nggak jadi pelawak aja?"

Seketika semua yang ada di meja meledak tertawa.

"Bener-bener ya, lo!" protes Azlan.

"Gue setuju sama ayang beb gue!" sahut Kiki sambil terkekeh.

"Cieeeee..." Seruan panjang langsung menggema dari seluruh meja.

Wajah Kiki seketika memerah. "Ih, apaan sih kalian!"

Azlan malah ikut menggoda. "Yaudah, pacarin aja, Ki."

"Ogah!" jawab Nuha cepat, membuat semua orang kembali tertawa.

Andara yang sedari tadi menikmati tingkah mereka langsung menyela. "Astaghfirullah, Azlan!"

"Apa lagi?"

"Gue aduin ke Umi lo ya. Masa nyuruh anak orang pacaran."

Azlan langsung mengangkat kedua tangannya. "Eh, eh... salah paham. Maksud gue pacaran halal."

"Oh..." Andara mengangguk pelan. "Kirain pacaran biasa. Kalau gitu tetep aja gue laporin ke Umi lo."

"Loh, kenapa lagi?"

"Biar Umi lo nasehatin masa nyuruh orang pacaran halal, padahal dirinya sendiri jomblo."

Azlan langsung memasang wajah memelas. "Kagak, Dara... ampun. Nanti gue dijodohin sama Ning Ning pesantren."

Tingkah Azlan yang dramatis membuat satu meja kembali tertawa.

Vano yang baru datang bersama nampannya langsung mengeluh.

"Parah, lo."

Azlan menoleh. "Apaan?"

"Cuma pesenin Andara doang."

"Ya kalian pesen sendiri lah."

Vano mendengus pelan sebelum akhirnya menoleh ke arah Zuleykha.

"Zuleykha, lo mau makan apa? Sekalian gue pesenin."

Belum sempat Zuleykha menjawab, Andara langsung terkekeh.

"Eh, sadar nggak sih?"

"Apa?"

"Di antara kita semua..." Andara menunjuk Vano. "...yang manggil lengkap 'Zuleykha' cuma lo."

"Iya emang kenapa?"

"Yang lain manggil Jule."

Vano mengangkat bahu. "Lah, kan nama dia emang Zuleykha."

Andara menyeringai jahil. "Zuleykha apa.... makmum lo?"

Satu meja kembali pecah oleh gelak tawa.

Vano hanya bisa memijat pelipisnya. "Kalian ini ya..."

Belum selesai ia bicara, Andara sudah kembali menimpali.

"Gimana, Imam? Jadi pesenin makmumnya makan nggak?"

"ANDARAAA!"

"Hahaha!"

Tawa mereka memenuhi kantin kampus. Beberapa mahasiswa di meja sebelah bahkan ikut menoleh karena suara mereka yang terlalu ramai.

Azlan hanya menggeleng sambil tersenyum. "Berisik banget, sumpah."

"Yang bikin berisik siapa?" balas Nuha.

"Ya... kalian."

"Lah, tadi yang mulai nyanyi siapa?"

Azlan langsung pura-pura sibuk menyantap mie ayamnya. "Bukan saya."

"Bohong!"

Suasana kantin siang itu kembali dipenuhi canda tawa, memperlihatkan kehangatan persahabatan yang telah terjalin sejak lama. Meski masing-masing menyimpan cerita dan perasaan yang berbeda, saat bersama mereka tetap bisa tertawa seolah tidak ada beban apa pun.

"Nonton yuk. Udah lama kita nggak nonton bareng," usul Kiki sambil menyeruput minumannya.

"Yuk, ah!" sahut Zuleykha antusias.

"Setuju!" timpal Nuha.

"Gue juga ikut," ujar Vano.

Kiki kemudian menoleh ke arah Andara. "Lo ikut kan, Dar?"

Andara berpikir sejenak sebelum mengangguk pelan. "Hmm... boleh deh."

"Lah, mantap."

"Tapi..." Andara mengangkat sebelah alisnya. "Gue nebeng siapa?"

"Mobil Azlan lah," jawab Kiki tanpa ragu.

Andara langsung menggeleng cepat. "Ih, ogah."

"Kenapa?"

"Berdua doang gitu?"

Nuha langsung menyela. "Ya nggak berdua juga kali."

"Vano juga bawa mobil, kan? Jadi gini aja. Kita cewek-cewek naik mobil Azlan. Nah, Vano sama Kiki naik mobil Vano."

"Setuju!" seru Kiki.

Vano mengangguk santai. "Gue sih aman."

Azlan yang sejak tadi diam hanya menyeringai. "Wah... enak juga ya."

"Apa?" tanya Zuleykha curiga.

"Jadi gue dikelilingi cewek-cewek cantik. Itulah risiko orang ganteng."

Semua mata langsung tertuju padanya. Azlan masih dengan wajah percaya diri.

"Hah?"

Seketika Andara, Zuleykha, dan Nuha saling berpandangan.

Tanpa aba-aba, ketiganya mengambil tisu di atas meja.

"Satu..."

"Dua..."

"Tiga!"

Byur!

Hujan tisu langsung melayang ke arah Azlan.

"Woiii!" pekiknya sambil menutupi wajah.

"Kurang banyak!"

"Tambah lagi!"

"Orang ganteng, katanya!"

Azlan terkekeh di balik serangan tisu. "Iri aja kalian! Iri kepala batu!"

Andara kembali melempar gulungan tisu hingga mengenai bahu Azlan.

Pluk!

"Kena!"

"Curang! Gue dikeroyok!"

Vano yang sedari tadi hanya menonton ikut tertawa. "Makanya, kalau muji diri jangan di depan tiga cewek."

Kiki mengangguk setuju. "Itu namanya cari perkara."

Azlan menggeleng pasrah sambil membereskan tisu-tisu yang berserakan di bajunya. "Iya, iya... gue salah."

"Nah, gitu dong." Andara menyeringai puas. "Tau diri."

Azlan mendengus pelan. "Padahal gue emang ganteng."

"Buuuuuu..." Serentak satu meja bersorak mengejek.

Gelak tawa mereka kembali memenuhi kantin kampus hingga beberapa mahasiswa di meja sebelah ikut menoleh, ikut tersenyum melihat tingkah sekelompok sahabat yang tak pernah kehabisan bahan untuk saling mengerjai.

***

Keenam mahasiswa itu baru saja keluar dari bioskop setelah menonton film yang sedang viral beberapa waktu terakhir.

Langit mulai berubah jingga, pertanda waktu Magrib sudah semakin dekat.

Andara yang sejak tadi sibuk mengobrol dengan teman-temannya baru menyadari ponselnya terus bergetar.

Belasan panggilan tak terjawab memenuhi layar.

Bunda dan Abi.

Belum sempat ia mengecek lebih lanjut, Azlan melirik layar ponselnya. "Gue kira lo udah izin, Dar."

Andara hanya nyengir bersalah. "Hehe... lupa."

Azlan langsung menggeleng. "Habis ini Bunda lo pasti marahin ayah gue. Bilangnya gara-gara gue ngajak lo jalan sampai sore."

"Ah, santai aja." Andara melambaikan tangannya santai. "Kapan lagi gue bisa main bebas? Lagian mereka juga tau kok gue pergi sama kalian. Nih baru gue kirim pesan."

Nuha menggeleng geli. "Yang mereka tau, bukan berarti mereka tau kalau pulangnya telat."

"Iya juga sih." Andara meringis. "Yuk, guys. Pulang!"

Mereka pun berjalan menuju area parkir. Baru beberapa langkah, terdengar suara seseorang memanggil.

"Andara."

Keenam mahasiswa itu serentak menoleh. Seorang pria bertubuh tinggi dengan kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku berjalan menghampiri mereka.

Muhammad Kafa Athalla.

Sesampainya di hadapan Andara, Kafa tidak banyak bicara.

"Pulang."

Hanya satu kata. Namun nada suaranya cukup membuat Andara langsung berdiri tegak.

Tanpa menunggu jawaban, Kafa menarik lengan Andara dengan lembut, lalu mengajaknya berjalan menuju parkiran.

Kelima sahabat mereka hanya bisa melongo.

"Guys... gue pulang duluan ya!" seru Andara sambil menoleh ke belakang.

"Bye!"

Azlan hanya menganggukkan kepala pelan, meski tatapannya mengikuti punggung kedua orang itu hingga menghilang.

Andara mempercepat langkah agar bisa menyamai langkah panjang Kafa. "Kak... pelan-pelan dong."

Kafa tidak menghentikan langkahnya. "Kenapa nggak ngabarin Bunda kalau kamu pulang telat?"

"Aku lupa."

"Kamu tau nggak dari tadi Bunda sama Abi khawatir?"

"Iya... maaf."

"Kamu taunya maaf doang."

Andara mengangkat wajahnya. "Nggak juga."

"Oh ya?"

"Iya.. Selain maaf, aku juga tau hal lain."

Andara tersenyum jahil. "Aku tau kalau aku mencintai Kakak."

Kafa langsung mengembuskan napas panjang. "Kamu mulai lagi."

Mereka akhirnya tiba di samping mobil Kafa. Laki-laki itu membuka pintu penumpang. "Masuk."

Andara tersenyum lebar. "Ih... galak banget. Tapi aku suka kok."

Kafa hanya menggeleng sambil menutup pintu setelah Andara duduk di dalam.

Beberapa saat kemudian, ia masuk ke kursi pengemudi dan menjalankan mobil meninggalkan area parkir.

Suasana di dalam mobil sempat hening. Andara yang memang tidak bisa diam akhirnya kembali membuka percakapan.

"Kak."

"Hm?"

"Kok Kakak bisa tau aku di sini?"

"Nggak penting."

"Penting, dong."

"Nggak."

Andara mengerucutkan bibir. "Jangan-jangan Kakak mata-matain aku."

Kafa menggeleng tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. "Nggak."

"Terus?"

"Kebetulan aja."

Andara mendengus pelan. "Halah... bohong. Kak Kafa jangan gitu, deh."

"Gitu gimana?"

"Berlagak sok dingin."

Kafa melirik sekilas.

"Padahal sebenarnya khawatir sama aku, kan?"

Kafa terdiam beberapa detik. "Iya."

Mata Andara langsung berbinar. "Serius?"

"Kakak khawatir waktu Bunda telepon dan bilang kamu belum pulang."

"Hanya itu?"

"Iya."

Raut wajah Andara kembali berubah datar. "Oh..."

Melihat perubahan ekspresi itu, Kafa hanya menghela napas pelan. Beberapa menit kemudian, azan Magrib mulai berkumandang dari kejauhan. Andara menoleh ke luar jendela.

"Kak."

"Apa?"

"Udah Magrib."

"Iya."

"Salat dulu, yuk."

Kafa mengangguk. "Iya."

Ia memperlambat laju mobil sambil memperhatikan sisi jalan. "Kakak lagi cari masjid."

Tak lama kemudian, sebuah masjid tampak berdiri di tepi jalan. Kafa pun membelokkan mobilnya ke halaman masjid.

"Biar pulangnya tenang."

Andara tersenyum kecil. "Iya, Kak."

Baginya, sesederhana diajak singgah untuk salat bersama saja sudah cukup membuat perjalanan pulang sore itu terasa begitu berarti.

***

Usai menunaikan salat Magrib berjamaah di masjid, Kafa dan Andara kembali melanjutkan perjalanan pulang.

Suasana di dalam mobil terasa tenang. Lantunan murattal Al-Qur'an mengalun pelan dari audio mobil, menemani perjalanan mereka yang mulai diselimuti langit malam.

Kafa fokus mengemudi. Sementara Andara sesekali melirik ke arah pria di sampingnya.

Beberapa menit berlalu. "Kak..."

"Apa, Dara?"

Andara menarik napas pelan, seolah sedang mengumpulkan keberanian.

"Nikah yuk."

Terpopuler

Comments

Syti Sarah

Syti Sarah

haa mau jawab lo kaf 😁😁

2026-07-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Nikah Yuk
6 Gak akan Cape
7 Giska
8 Kamu Bukan Siapa-siapa
9 Menghibur Andara
10 Maaf
11 Kembali Ceria
12 Ke Kantor Polisi
13 Tristan
14 Misi Dimulai
15 Scrapbook
16 Menyamar
17 Misi Berhasil
18 Kafa Kelepasan
19 Happy Birthday, Kak!
20 Kafa Melamar Giska?
21 Sakit Hatinya Andara
22 Tulisan Andara
23 Andara Sakit
24 Jenguk Andara
25 Jemput Giska
26 Umi Ayza
27 Tulisan Andara
28 Undangan Makan Malam
29 Perasaan yang Dipendam
30 Rumah Baca
31 Teror Ancaman
32 Girls Time
33 Lamaran Kafa
34 Pembelaan Andara
35 Coffe date
36 Mengejar Penculik
37 Tekad Andara
38 Andara, Rafa, Zuleykha
39 Tak Sengaja Bertemu Tristan
40 Mencari Tau
41 Menemui Azzam
42 Ayah Tristan
43 Mimpi Oma Arsyila
44 Tidak Semudah Itu
45 Shofi Diculik
46 Shofi Diculik 2
47 Mengejar
48 Logika Andara
49 Kecurigaan Andara
50 Penyelamatan
51 Penyelamatan 2
52 Kembali Pulang
53 Tristan Ingin Tau
54 Nomor Tak Dikenal
55 Ancaman
56 Mendapat Kepercayaan Andara
57 Rafa Tau Tristan
58 Terbongkar
59 Dialah Penculik Sebenarnya
60 Bab 60
61 Kakak Disini
62 Hasil Visum
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Menikahi Andara
67 Aku tidak akan Menikah
68 Azlan ingin Menikahi Andara
69 Sah
70 Tantangan Diterima
71 Azlan Patah Hati
72 Memberi Kesempatan
73 Ponsel Baru
74 Bab 74
75 Dikepang
76 Naya
77 Pindah Rumah
78 My First Kiss
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Nikah Yuk
6
Gak akan Cape
7
Giska
8
Kamu Bukan Siapa-siapa
9
Menghibur Andara
10
Maaf
11
Kembali Ceria
12
Ke Kantor Polisi
13
Tristan
14
Misi Dimulai
15
Scrapbook
16
Menyamar
17
Misi Berhasil
18
Kafa Kelepasan
19
Happy Birthday, Kak!
20
Kafa Melamar Giska?
21
Sakit Hatinya Andara
22
Tulisan Andara
23
Andara Sakit
24
Jenguk Andara
25
Jemput Giska
26
Umi Ayza
27
Tulisan Andara
28
Undangan Makan Malam
29
Perasaan yang Dipendam
30
Rumah Baca
31
Teror Ancaman
32
Girls Time
33
Lamaran Kafa
34
Pembelaan Andara
35
Coffe date
36
Mengejar Penculik
37
Tekad Andara
38
Andara, Rafa, Zuleykha
39
Tak Sengaja Bertemu Tristan
40
Mencari Tau
41
Menemui Azzam
42
Ayah Tristan
43
Mimpi Oma Arsyila
44
Tidak Semudah Itu
45
Shofi Diculik
46
Shofi Diculik 2
47
Mengejar
48
Logika Andara
49
Kecurigaan Andara
50
Penyelamatan
51
Penyelamatan 2
52
Kembali Pulang
53
Tristan Ingin Tau
54
Nomor Tak Dikenal
55
Ancaman
56
Mendapat Kepercayaan Andara
57
Rafa Tau Tristan
58
Terbongkar
59
Dialah Penculik Sebenarnya
60
Bab 60
61
Kakak Disini
62
Hasil Visum
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Menikahi Andara
67
Aku tidak akan Menikah
68
Azlan ingin Menikahi Andara
69
Sah
70
Tantangan Diterima
71
Azlan Patah Hati
72
Memberi Kesempatan
73
Ponsel Baru
74
Bab 74
75
Dikepang
76
Naya
77
Pindah Rumah
78
My First Kiss

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!