Masalah Raka

Selesai mengikrarkan janji suci, Raka membawa Luna ke hotel yang berada dekat dengan rumah sakit. Suasana kamar itu begitu romantis, didesign khusus untuk malam pertama. Lampu-lampu kecil dengan cahaya temaram membuat ruangan itu terlihat begitu hangat. Kelopak bunga mawar yang bertaburan di lantai dan ranjang, membuat suasana semakin romantis. Namun suasana ruangan itu berbanding terbalik dengan perasaan canggung yang sedang merayap di dada Luna.

Tidak ada obrolan saat keduanya berada di kamar itu. Luna lebih memilih untuk duduk di sofa sambil menunduk. Sesekali mencuri pandang ke arah Raka yang tengah duduk di tepi tempat tidur. Ia tidak tahu harus berbuat dan berucap apa lagi.

Suhu kamar cukup dingin, tetapi telapak tangan Luna justru berkeringat. Jemarinya beberapa kali meremas ujung gaun untuk mengendalikan perasaan gugupnya.

Malam ini adalah malam pertama mereka. Luna benar-benar gugup. Apalagi mereka belum saling mengenal.

"Huff." Luna menggela napas berat, siap ataupun belum, ia harus menyerahkan tubuhnya saat itu juga jika Raka memintanya.

"Maaf, Luna. Aku gak bisa."

Kalimat itu membuat Luna mengangkat kepalanya. Pandangannya mengarah pada Raka, keningnya ikut mengernyit. Ia tidak tahu maksud dari kalimat yang keluar dari mulut Raka.

"Maksud kamu?" tanya Luna ragu.

"Aku gak bisa menyentuhmu," jawab Raka. Matanya menatap lurus ke arah Luna.

Seketika Luna menganga sampai akhirnya ia mengangguk pelan karena merasa sangat lega. "Gak apa-apa. Pernikahan ini sangat mendadak dan aku tahu kamu pasti gak siap."

"Atau mungkin kamu sudah memiliki wanita yang kamu cintai," imbuh Luna. "Kita bisa berpura-pura untuk sementara waktu. Jika kondisi tante Imelda lebih baik ... kita bisa ajukkan perpisahan."

Raka tidak langsung menjawab. Ia memilih untuk menatap Luna sejenak. "Bukan begitu. Aku percaya pilihan mama pasti baik."

Luna sedikit tersipu mendengar pujian dari Raka. Ia nyaris salah tingkah jika saja ia tidak bisa mengendalikan diri.

"Lalu?"

"Aku sebenarnya ... impoten."

Mata Luna terbelalak. "Hah, apa? Im--poten?"

Raka mengangguk. "Ya aku gak bisa kasih kamu kehangatan seperti suami-suami yang lain. Bukan hanya itu. Aku juga mungkin gak bisa kasih kamu keturunan."

"Benarkah?"

Raka mengangguk. "Kamu menyesal sudah mau menikah denganku?"

Luna menggeleng. "Kalau hanya karena itu alasannya, aku gak akan menyesal. Masalah seperti itu bukannya masih bisa diatasi. Yang terpenting kamu mau menerima aku apa adanya."

Raka mengangguk. "Aku akan berusaha." Ia lalu berdiri dan menghampiri Luna. Ia duduk di hadapan Luna sebelum menggenggam kedua tangannya. "Kamu mau nunggu aku?"

Kini giliran Luna yang mengangguk.

"Tapi tolong rahasiakan ini dari siapa pun. Aku gak mau masalah ini membebani mama maupun papa."

Luna kembali mengangguk. "Tenang saja. Aku akan merahasiakan ini dari siapapun."

"Terima kasih, Luna. Kamu benar-benar wanita yang baik," ucap Raka dengan senyuman tipis yang terukir di bibirnya.

"Tapi ..."

"Tapi apa, Luna?"

"Kamu yakin gak ada wanita lain yang kamu cintai? Maksudku ... aku gak ingin menjadi orang ketiga di antara kalian," jelas Luna.

Raka menggeleng. "Kamu tenang saja. Aku gak sedang memiliki hubungan spesial dengan wanita mana pun."

"Hmmm, syukurlah," ucap Luna senang.

"Baiklah. Sebaiknya kamu istirahat. Aku akan pergi ke rumah sakit untuk menemani mama," ucap Raka. Ia lantas berdiri.

Seketika Luna ikut berdiri. "Boleh aku ikut?"

Raka menggeleng. "Kamu pasti lelah. Istirahatlah di sini malam ini. Besok aku janji akan menjemputmu."

"Baiklah jika itu maumu," balas Luna tak ingin membantah.

"Aku pergi dulu. Selamat malam," ucap Raka. Ia lalu pergi setelah mendaratkan kecupan di kening Luna.

Jangan ditanya seperti apa perasaan Luna saat ini. Ia benar-benar tersipu dan merasa beruntung mendapatkan suami sebaik Raka.

"Daah," sapa Raka seraya melambaikan tangannya.

Luna juga membalas lambaian tangan Raka. "Hati-hati. Kabari aku jika kamu sudah sampai di rumah sakit," ucap Luna dibalas anggukkan oleh Raka.

Raka pun lenyap di balik pintu kamar itu. Luna menghela napas sambil melihat sekeliling. Malam pertamanya yang harusnya indah kini terasa begitu sepi. Di tambah sang suami pergi meninggalkan dirinya sendiri. Namun Luna tidak akan menuntut banyak. Yang terpenting sekarang ia sudah terbebas dari ayah tirinya.

"Lebih baik aku mandi dulu setelah itu tidur," gumam Luna.

Keesokan harinya ....

Luna sudah mandi dan berganti pakaian. Ia beberapa kali melihat waktu pada jam di ponselnya. Waktu sudah menujukkan pukul sepuluh pagi, tetapi Raka belum juga datang. Sarapan yang sudah disiapkan untuk mereka juga sudah dingin. Luna bahkan belum menyentuhnya sedikit pun, ia sengaja menunggu sang suami untuk sarapan bersama. Namun sampai saat ini Raka belum juga menunjukkan batang hidungnya. Ia juga sudah mencoba menghubungi Raka, tetapi laki-laki itu tidak menerimanya.

"Lebih baik aku menyusul saja ke rumah sakit," gumam Luna. "Aku sebaiknya kirim pesan pada mas Raka."

Tanpa pikir panjang, Luna kembali meraih ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan untuk Raka. Setelahnya mengambil roti dan minum segelas jus untuk mengganjal perutnya.

Luna kembali melihat ke layar ponselnya, waktu hampir pukul setengah sebelas. Ia segera bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Selesai bersiap, Luna keluar dari kamar hotel. Berjalan ke arah lobi seorang diri dengan langkah sedikit terburu-buru.

Sambil melangkah sesekali Luna melihat ke layar ponselnya. Berharap ada pesan balasan dari Raka, namun sayangnya nihil. Jangankan telepon, pesannya saja belum terbaca.

"Mungkin dia sedang sibuk," gumam Luna.

Saking fokusnya memerhatikan ponselnya, ia sampai tidak menyadari seseorang juga berjalan ke arah yang sama dengannya dari arah yang berlawanan.

DUK

Ponsel Luna terlepas dari tangannya dan terjatuh ke lantai saat ia bertabrakan dengan seseorang. Ia kehilangan keseimbangan tubuhnya dan nyaris terjatuh jika saja tidak ada yang menahan tubuhnya.

"Kamu gak apa-apa?"

Suara berat itu terdengar lembut di telinga Luna. Ia segera menegakkan tubuhnya dan sedikit tersentak saat matanya bertatapan langsung dengan seorang laki-laki yang familiar. Laki-laki itu adalah ayah mertuanya. "Om Bara."

Jantungnya serasa hampir lepas dari tempatnya ketika melihat wajah tampan ayah mertuanya itu. Luna segera menjauhkan diri, memberikan jarak dengan Bara. Segera ia memungut ponselnya dan bernapas lega karena ponselnya masih menyala. Ia kembali melihat ke arah Bara lalu berucap, "Maaf aku tidak sengaja."

Bara tidak merespon ucapan Luna, justru ia mengalihkan pembicaraan.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Bara. "Lalu di mana suamimu itu."

"Oh itu ... mas Raka semalam pergi. Katanya mau nemuin Tante Imelda," jawab Luna.

"Rumah sakit?" tanya Bara dengan kening yang mengerut.

"Iya, Om," jawab Luna. "Ada apa, Om, Kenapa Om kelihatan bingung."

"Tidak apa-apa," jawab Bara. "Jadi semalam kamu sendiri di sini?"

Luna mengangguk pelan.

"Dia keterlaluan."

"Tidak apa, Om. Mas Raka pasti khawatir sama tante Imelda. Kami masih punya waktu lain.

"Dia memang anak bodoh," ucap Bara lirih, tetapi masih bisa di dengar oleh Luna.

Luna sendiri memilih untuk diam, tidak berani menjawab ucap sang ayah mertua.

"Sekarang kamu mau ke mana?"

"Aku mau ke rumah sakit, Om."

"Baiklah, ayo kita pergi bersama."

Luna kembali mengangguk.

Keduanya kembali berjalan. Namun baru satu langkah, Bara kembali berhenti membuat langkah Luna ikut berhenti.

"Satu lagi."

"Apa, Om."

"Kamu sudah menikah dengan Raka. Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Mahendra. Jadi berhenti memanggilku dan Imelda dengan sebutan seperti orang asing."

"Lalu?"

"Panggil kami seperti Raka memanggil kami."

"Hah, ba-baiklah." Meskipun terasa canggung, Luna tetap mencoba. "Pa ..."

Senyum tipis terukir di bibir Bara. "Good girl." Bara berucap sambil mengacak-acak rambut Luna.

Episodes
1 Mendadak Nikah
2 Masalah Raka
3 Kepergian Imelda
4 Berubah
5 Kepulangan Bara
6 Salah Paham
7 Pelukan Hangat Bara
8 Kehangatan yang tak diminta
9 Permintaan maaf Vanessa
10 Rahasia Raka
11 Teguran dimeja Makan
12 Kebohongan yang dipertahankan
13 Tangis yang Tertahan
14 Bakat yang dipendam
15 Melupakan sejenak
16 Perjalanan Malam
17 Rasa yang Mengganggu
18 Deep talk with Bara
19 Pelarian yang Menenangkan
20 Kebahagiaan di atas Penderitaan
21 Lingerie Merah
22 Musuh Dalam Selimut
23 Rencana yang Gagal
24 Bertemu Sahabat Lama
25 Sketsa yang Hilang
26 Kepercayaan yang Mulai Runtuh
27 Saat Kebohongan Runtuh
28 Janji yang Terlupakan
29 Janji yang terlupakan 2
30 Akhir dari Kesetiaan
31 Kubalas Perselingkuhanmu
32 Rasa yang telah Hilang
33 Selamat tinggal masa lalu
34 Perceraian telah diputuskan
35 Pelabuhan Hati
36 Dari menantu menjadi istri
37 You're mine
38 Babak Baru
39 Call me Mom
40 Status yang membungkam
41 Tak Terima Kekalahan
42 Dimanja Tanpa Batas
43 Pertemuan yang Tidak diinginkan
44 Kabar baik di sela kecemasan
45 Pregnant
46 Bab 46-Di balik permintaan maaf
47 Bab 47 - Kenyataan yang Sesungguhnya
48 Bab 47- Jebakan di balik senyuman
49 Bab 49- Don't Touch my Wife
50 Bab 50 - Serangan Balik
51 Bab 51 - Ambisi di balik kehancuran
52 Bab 52 - Tawaran Bara
53 Bab 53 - Harga yang harus dibayar
54 Bab 54 - Harga yang harus dibayar 2
55 Bab 55 - Luna Vs Vanessa
56 Bab 56 - Kemarahan Raka pada Vanessa
57 Bab 56- Jebakan Vanessa untuk Bara
58 Kemarahan Luna
59 Kecemburuan Luna
60 Syarat yang memberatkan
61 Kebodohan Raka
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Mendadak Nikah
2
Masalah Raka
3
Kepergian Imelda
4
Berubah
5
Kepulangan Bara
6
Salah Paham
7
Pelukan Hangat Bara
8
Kehangatan yang tak diminta
9
Permintaan maaf Vanessa
10
Rahasia Raka
11
Teguran dimeja Makan
12
Kebohongan yang dipertahankan
13
Tangis yang Tertahan
14
Bakat yang dipendam
15
Melupakan sejenak
16
Perjalanan Malam
17
Rasa yang Mengganggu
18
Deep talk with Bara
19
Pelarian yang Menenangkan
20
Kebahagiaan di atas Penderitaan
21
Lingerie Merah
22
Musuh Dalam Selimut
23
Rencana yang Gagal
24
Bertemu Sahabat Lama
25
Sketsa yang Hilang
26
Kepercayaan yang Mulai Runtuh
27
Saat Kebohongan Runtuh
28
Janji yang Terlupakan
29
Janji yang terlupakan 2
30
Akhir dari Kesetiaan
31
Kubalas Perselingkuhanmu
32
Rasa yang telah Hilang
33
Selamat tinggal masa lalu
34
Perceraian telah diputuskan
35
Pelabuhan Hati
36
Dari menantu menjadi istri
37
You're mine
38
Babak Baru
39
Call me Mom
40
Status yang membungkam
41
Tak Terima Kekalahan
42
Dimanja Tanpa Batas
43
Pertemuan yang Tidak diinginkan
44
Kabar baik di sela kecemasan
45
Pregnant
46
Bab 46-Di balik permintaan maaf
47
Bab 47 - Kenyataan yang Sesungguhnya
48
Bab 47- Jebakan di balik senyuman
49
Bab 49- Don't Touch my Wife
50
Bab 50 - Serangan Balik
51
Bab 51 - Ambisi di balik kehancuran
52
Bab 52 - Tawaran Bara
53
Bab 53 - Harga yang harus dibayar
54
Bab 54 - Harga yang harus dibayar 2
55
Bab 55 - Luna Vs Vanessa
56
Bab 56 - Kemarahan Raka pada Vanessa
57
Bab 56- Jebakan Vanessa untuk Bara
58
Kemarahan Luna
59
Kecemburuan Luna
60
Syarat yang memberatkan
61
Kebodohan Raka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!