Dari Menantu Menjadi Istri

Dari Menantu Menjadi Istri

Mendadak Nikah

"Luna, sebelum Tante meninggal, tolong menikahlah dengan anak Tante," ucap seorang wanita paruh baya bernama Imelda.

Luna tidak langsung merespon ucapan Imelda. Ia hanya berdiri mematung sambil mencerna apa yang baru saja diucapkan wanita itu. Dirinya tidak terlalu mengenal sosok Imelda. Luna hanya tidak sengaja menolongnya saat Imelda terkena serangan jantung. Bahkan pertemuan saat ini baru kedua kalinya.

"Aku gak salah dengar, kan?" batin Luna.

Belum sempat ia bisa mencerna permintaan yang menurutnya konyol itu, sebuah genggaman tangan yang dingin membuat Luna tersentak. Pandangannya lantas melihat ke arah Imelda.

"Luna ... Tante mohon." Suara lemah lembut itu membuat Luna tidak tega untuk menolak.

"Tapi, Tante ..." Luna menggantungkan ucapannya lantas menoleh ke arah laki-laki di seberangnya. Laki-laki yang baru ia temui, bahkan namanya saja belum ia ketahui.

"Namanya Raka. Dia anak Tante satu-satunya. Sebelum saya meninggal saya ingin dia mendapatkan pendamping yang tepat," ucap Imelda lirih, tetapi masih bisa di dengar oleh Luna maupun raka.

"Ma, stop bicara yang aneh-aneh. Mama pasti akan sembuh," ucap Raka sedikit kesal. "Aku telepon papa dulu. Aku akan suruh dia pulang."

"Raka ... jangan ganggu papa kamu. Dia sedang bekerja," cegah Imelda.

Raka menggeram kesal, Luna maupun Imelda bisa melihat dengan jelas kekesalan itu.

"Dia suami Mama. Istrinya sedang terbaring di rumah sakit bagaimana bisa dia lebih mementingkan pekerjaan," ucap Raka.

"Raka —"

"Cukup, Ma. Jangan cegah aku. Aku akan menghubunginya segera!" Raka sedikit menjauh lalu mengambil ponselnya dari dalam saku.

Luna sendiri masih berada di tempat yang sama, berdiri sambil memerhatikan Raka yang terlihat sedang menghubungi seseorang.

"Luna ... mau ya. Ini keinginan terakhir Tante."

Luna tersenyum, lalu mengusap punggung tangan Imelda dengan lembut. "Tante ... Tante jangan bicara seperti itu. Tante pasti akan sembuh."

Imelda menggeleng. "Tante sudah gak punya banyak waktu."

"Lalu bagaimana dengan anak Tante? Dia pasti gak akan setuju."

"Dia akan setuju. Raka selalu menurut sama Tante."

Ruangan itu mendadak sunyi.

"Kenapa harus saya, Tante? Tante belum mengenal saya," ucap Luna.

"Saya sudah tahu siapa kamu. Semuanya," balas Imelda.

Luna melihat Imelda dengan alis yang terangkat sebelah. "Maksud, Tante."

Senyum tipis terukir di bibir Imelda. "Saya sudah mencari tahu siapa kamu. Saya gak merasa keberatan dengan latar belakangmu. Saya tahu kamu perempuan yang baik."

Luna menghela napas panjang, tidak tahu harus mencari alasan apa lagi untuk menolak. Wanita paruh baya itu selalu mematahkan argumennya.

"Saya mohon, Luna."

Pada akhirnya Luna mengangguk. "Saya akan setuju jika anak Tante juga gak keberatan."

Imelda mengangguk. "Terima kasih, Luna."

"Aku berharap Tante gak menyesal nantinya."

"Saya gak akan pernah menyesal dengan keputusan saya sekarang, Luna."

Obrolan mereka terhenti saat Raka kembali mendekat. Kemarahan terlihat jelas di wajahnya.

"Papa gak menerima panggilanku, Ma."

"Dia pasti sedang sibuk."

"Ma ... kenapa Mama selalu membela papa?" ucap Raka sambil berdecak.

Luna hanya diam sambil memerhatikan keduanya.

KLEK

Semua orang menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Muncul sosok laki-laki gagah dan tampan, tubuhnya terbentuk nyaris sempurna. Wajah laki-laki itu ditumbuhi bulu-bulu tipis yang justru membuatnya terlihat berwibawa.

"Kamu kenapa tiba-tiba datang?" ucap Imelda masih dengan suaranya yang lirih.

"Kamu ada di sini bagaimana aku gak datang," ucap laki-laki itu.

"Dari mana saja Papa? Mama di sini sudah lebih dari tiga hari dan Papa baru datang?" tanya Raka.

Dari nada bicaranya jelas Raka terlihat sangat marah.

"Raka, jangan seperti itu. Yang penting papa kamu sudah datang, kan?"

Raka mengangguk kecil dan menghela napas untuk meredam kemarahannya.

Tatapan laki-laki itu tiba-tiba tertuju pada Luna, membuat Luna gugup seketika.

"Dia siapa?" tanyanya.

Imelda menoleh ke arah Luna sambil tersenyum kecil. "Dia wanita yang kupilihkan untuk Raka."

Pandangan Imelda kembali mengarah ke laki-laki itu. "Bagaimana? Dia cantik, kan?"

Laki-laki itu mengangguk.

"Luna, dia papanya Raka. Namanya Bara."

Luna mengangguk lantas mengulurkan tangannya ke arah Bara. "Salam kenal, Om."

Bara mengangguk sebelum membalas uluran tangan Luna.

"Karena kalian sudah berkumpul. Aku ingin Raka dan Luna menikah secepatnya. Aku merasa waktuku sudah akan habis."

"Ma ... jangan bicara seperti itu."

Imelda hanya tersenyum tipis menggapai ucapan Raka.

"Raka ... kamu setuju dengan pilihan Mama?"

Raka tidak langsung menjawab, ia melihat ke arah Luna sesaat seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Mama yakin dengan pilihan Mama?"

"Mama sangat yakin, Raka." Imelda menjawab dengan tegas dan penuh keyakinan meskipun suaranya masih lemah.

"Baiklah, Raka setuju."

Luna menoleh ke arah Raka, ia sedikit terkejut dengan persetujuan Raka. Luna mengira Raka akan menolaknya dengan tegas.

"Lihat, Luna. Raka menurut pada Tante, kan?"

Luna sendiri tidak bisa menjawab dengan kata-kata lagi, hanya lewat anggukan dan senyuman kecil saja.

"Bara, kamu urus pernikahan mereka ya," ucap Imelda.

"Baiklah. Aku akan mengurus pernikahan mereka sekarang juga."

-

-

-

Tiba-tiba menikah membuat Luna nyaris tidak percaya dengan kehidupannya saat ini. Baru saja kemarin ia mengatakan setuju untuk menikah dan pada hari ini, ia sudah memakai pakaian pengantin berwarna putih.

Padahal umurnya baru dua puluh tahun. Dirinya sama sekali tidak pernah membayangkan akan menikah muda.

Ia duduk di cermin sambil menatap pantulan wajahnya sendiri. Luna hampir tidak percaya jika itu adalah dirinya sendiri, begitu cantik dan anggun.

"Aku benar-benar akan menikah?"

"Dengan laki-laki yang belum aku kenal sebelumnya?"

"Bagaimana kalau dia jahat padaku nantinya?"

Kata-kata itu terus berputar di benak Luna membuatnya sedikit takut. Akan tetapi dirinya tidak bisa mundur saat ini. Apalagi Imelda sudah menolongnya untuk keluar dari jerat hutang yang hampir menelan hidupnya. Ia nyaris dijual oleh ayah tirinya ke rumah bordir untuk dijadikan wanita penghibur.

"Ayo Luna. Jalani saja pernikahan ini lebih dulu. Jangan pikirkan nantinya. Jika suamimu nanti gak baik, kamu tinggal minta cerai," batinnya mencoba untuk menenangkan.

"Huff." Luna menarik napas panjang lantas berdiri dan bersiap untuk pergi.

TOK TOK

Luna menoleh ke arah pintu, seorang wanita paruh baya datang untuk menjemputnya.

"Semuanya sudah siap. Saya datang untuk menjemput Anda," ucapnya.

"Iya, ayo," balas Luna.

Setelahnya Luna merangkul lengan wanita itu dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Ia dan Raka rencananya akan melakukan pernikahan di sana. Pernikahan yang tadinya akan digelar satu minggu lagi justru terjadi lebih awal. Keadaan Imelda tiba-tiba kritis.

Sampai di rumah sakit. Luna segera pergi ke ruangan rawat Imelda. Beberapa orang di sana memerhatikan dirinya. Luna merasa sedikit canggung, tetapi mencoba untuk biasa saja.

Hingga beberapa saat kemudian, Luna sampai di ruangan rawat Imelda. Di sana sudah ada Bara dan Raka juga seseorang yang mungkin akan menikahkan mereka.

"Silahkan ke tempat masing-masing."

Luna mengantuk lantas duduk di samping Raka yang terlihat tampan dengan setelan jasnya. Seseorang di hadapan mereka mulai mengucapkan doa sebelum memimpin Luna dan Raka untuk melakukan janji suci.

Terpopuler

Comments

Dea Anggie

Dea Anggie

wow.. ceritanya menarik thor.. semangat terus ya..

mampir yuk, ke cerita

"Tubuhku Aturannya"

2026-08-23

2

lihat semua
Episodes
1 Mendadak Nikah
2 Masalah Raka
3 Kepergian Imelda
4 Berubah
5 Kepulangan Bara
6 Salah Paham
7 Pelukan Hangat Bara
8 Kehangatan yang tak diminta
9 Permintaan maaf Vanessa
10 Rahasia Raka
11 Teguran dimeja Makan
12 Kebohongan yang dipertahankan
13 Tangis yang Tertahan
14 Bakat yang dipendam
15 Melupakan sejenak
16 Perjalanan Malam
17 Rasa yang Mengganggu
18 Deep talk with Bara
19 Pelarian yang Menenangkan
20 Kebahagiaan di atas Penderitaan
21 Lingerie Merah
22 Musuh Dalam Selimut
23 Rencana yang Gagal
24 Bertemu Sahabat Lama
25 Sketsa yang Hilang
26 Kepercayaan yang Mulai Runtuh
27 Saat Kebohongan Runtuh
28 Janji yang Terlupakan
29 Janji yang terlupakan 2
30 Akhir dari Kesetiaan
31 Kubalas Perselingkuhanmu
32 Rasa yang telah Hilang
33 Selamat tinggal masa lalu
34 Perceraian telah diputuskan
35 Pelabuhan Hati
36 Dari menantu menjadi istri
37 You're mine
38 Babak Baru
39 Call me Mom
40 Status yang membungkam
41 Tak Terima Kekalahan
42 Dimanja Tanpa Batas
43 Pertemuan yang Tidak diinginkan
44 Kabar baik di sela kecemasan
45 Pregnant
46 Bab 46-Di balik permintaan maaf
47 Bab 47 - Kenyataan yang Sesungguhnya
48 Bab 47- Jebakan di balik senyuman
49 Bab 49- Don't Touch my Wife
50 Bab 50 - Serangan Balik
51 Bab 51 - Ambisi di balik kehancuran
52 Bab 52 - Tawaran Bara
53 Bab 53 - Harga yang harus dibayar
54 Bab 54 - Harga yang harus dibayar 2
55 Bab 55 - Luna Vs Vanessa
56 Bab 56 - Kemarahan Raka pada Vanessa
57 Bab 56- Jebakan Vanessa untuk Bara
58 Kemarahan Luna
59 Kecemburuan Luna
60 Syarat yang memberatkan
61 Kebodohan Raka
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Mendadak Nikah
2
Masalah Raka
3
Kepergian Imelda
4
Berubah
5
Kepulangan Bara
6
Salah Paham
7
Pelukan Hangat Bara
8
Kehangatan yang tak diminta
9
Permintaan maaf Vanessa
10
Rahasia Raka
11
Teguran dimeja Makan
12
Kebohongan yang dipertahankan
13
Tangis yang Tertahan
14
Bakat yang dipendam
15
Melupakan sejenak
16
Perjalanan Malam
17
Rasa yang Mengganggu
18
Deep talk with Bara
19
Pelarian yang Menenangkan
20
Kebahagiaan di atas Penderitaan
21
Lingerie Merah
22
Musuh Dalam Selimut
23
Rencana yang Gagal
24
Bertemu Sahabat Lama
25
Sketsa yang Hilang
26
Kepercayaan yang Mulai Runtuh
27
Saat Kebohongan Runtuh
28
Janji yang Terlupakan
29
Janji yang terlupakan 2
30
Akhir dari Kesetiaan
31
Kubalas Perselingkuhanmu
32
Rasa yang telah Hilang
33
Selamat tinggal masa lalu
34
Perceraian telah diputuskan
35
Pelabuhan Hati
36
Dari menantu menjadi istri
37
You're mine
38
Babak Baru
39
Call me Mom
40
Status yang membungkam
41
Tak Terima Kekalahan
42
Dimanja Tanpa Batas
43
Pertemuan yang Tidak diinginkan
44
Kabar baik di sela kecemasan
45
Pregnant
46
Bab 46-Di balik permintaan maaf
47
Bab 47 - Kenyataan yang Sesungguhnya
48
Bab 47- Jebakan di balik senyuman
49
Bab 49- Don't Touch my Wife
50
Bab 50 - Serangan Balik
51
Bab 51 - Ambisi di balik kehancuran
52
Bab 52 - Tawaran Bara
53
Bab 53 - Harga yang harus dibayar
54
Bab 54 - Harga yang harus dibayar 2
55
Bab 55 - Luna Vs Vanessa
56
Bab 56 - Kemarahan Raka pada Vanessa
57
Bab 56- Jebakan Vanessa untuk Bara
58
Kemarahan Luna
59
Kecemburuan Luna
60
Syarat yang memberatkan
61
Kebodohan Raka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!