Bab 5: Surat Lama dan Rahasia Kebangkrutan yang Sebenarnya

Keesokan paginya, suasana di rumah Erlan terasa berbeda. Tidak ada lagi kecemasan yang menyelimuti setiap sudut ruangan, tidak ada lagi dering telepon yang memecah keheningan. Namun ketenangan ini justru membuatku merasa gelisah seperti badai besar yang sedang berkumpul di balik awan gelap, menunggu waktu yang tepat untuk meledak.

Aku duduk di teras samping, membiarkan sinar matahari pagi menyentuh kulitku sambil menyisir rambut panjangku perlahan dengan jari. Pikiran tak henti-henti melayang pada satu hal yang belum terungkap: bagaimana mungkin perusahaan ayahku yang dulu berdiri kokoh selama belasan tahun, bisa runtuh dalam waktu kurang dari dua bulan? Di kehidupan dulu, aku hanya mendengar kabar bahwa itu karena kesalahan manajemen dan utang yang menumpuk. Tapi kini, setelah melihat betapa liciknya Rian dan Sari, aku yakin ada tangan jahat yang bekerja di balik kehancuran itu.

"Kamu sedang memikirkan sesuatu yang berat," suara Erlan terdengar dari belakangku. Dia melangkah mendekat, lalu duduk di sampingku di bangku kayu yang sama. Aroma wangi khasnya—campuran kayu cendana dan hujan—tercium samar, membuat detak jantungku sedikit lebih tenang.

"Aku bertanya-tanya," jawabku pelan tanpa menoleh. "Apakah benar perusahaan ayahku bangkrut karena kesalahan sendiri? Atau ada orang lain yang merencanakannya dari jauh, bahkan sebelum aku menyadari niat jahat mereka?"

Erlan diam sejenak. Dia menatap pemandangan taman yang hijau di depan kami, rahangnya sedikit mengeras seolah menahan sesuatu yang berat. "Aku sudah lama menyelidiki hal ini, Dian. Tapi buktinya selalu hilang atau rusak sebelum aku bisa memegangnya. Seolah ada kekuatan besar yang melindungi pelakunya."

"Kekuatan besar?" aku berbalik menatapnya, rambutku beralun mengikuti gerakanku. "Maksudmu bukan hanya Rian dan Sari?"

"Belum tentu mereka yang memimpin," jawabnya serius. "Mereka mungkin hanya alat. Alat yang mudah dikendalikan dengan janji harta dan jabatan."

Siang itu, aku memutuskan pulang sebentar ke rumah lamaku—rumah yang sekarang sudah hampir kosong, menunggu proses penyitaan yang batal setelah Erlan melunasi semua utang. Ayah dan Ibu sudah pindah ke sebuah apartemen kecil sementara, tapi aku meminta izin untuk mengambil beberapa barang pribadi yang tertinggal. Erlan mengantar dan menemaniku, tidak ingin aku pergi sendirian ke tempat yang menyimpan banyak kenangan menyakitkan.

Rumah itu terasa sepi dan berdebu. Langkah kakiku bergema di lantai keramik yang dulu selalu bersih. Aku berjalan menuju ruang kerja ayah yang pintunya sedikit terbuka. Di sana, di sudut lemari arsip yang terkunci, aku melihat laci kecil yang pernah ayah larang aku buka.

"Kunci laci ini ada di mana ya?" gumamku pelan.

Erlan mendekat, lalu mengeluarkan sebuah kunci kecil dari saku jasnya. "Aku menemukannya di saku jaket ayahmu saat pertama kali bertemu dengannya untuk membicarakan pernikahan kita. Dia tampak sangat gelisah memegang kunci ini, seolah takut kehilangannya."

Tanganku sedikit gemetar saat menerima kunci itu. Saat pintu laci terbuka, tidak ada harta berharga di sana—hanya tumpukan surat-surat lama, buku catatan, dan sebuah amplop cokelat besar yang tertulis nama ayah dengan tulisan tangan yang gemetar.

Aku membuka amplop itu. Isinya adalah surat peringatan yang dikirimkan tiga bulan sebelum perusahaan bangkrut. Surat itu menyatakan bahwa ada transaksi mencurigakan yang dilakukan oleh seorang direktur baru—orang yang direkomendasikan oleh kerabat jauh keluarga kami. Dan di bagian bawah surat itu, ada tanda tangan yang membuat darahku berdesir hebat.

Tanda tangan itu mirip persis dengan tanda tangan di dokumen perjanjian kerja sama yang pernah kulihat di meja kerja... ayah kandung Sari. Paman Dika.

"Paman Dika?" bisikku tak percaya. "Dia yang selama ini selalu membantu kami, yang bilang menganggapku seperti anak sendiri... ternyata dia yang merusak perusahaan ayahku?"

Erlan mengambil surat itu, membacanya saksama, lalu mengangguk berat. "Dia bekerja sama dengan kelompok bisnis yang ingin menguasai aset daerah ini. Rian dan Sari hanya anak buah yang dia manfaatkan untuk masuk ke dalam lingkaran keluargamu dengan lebih mudah."

Belum sempat aku mencerna kenyataan pahit itu, ponsel Erlan berdering dengan nada darurat. Wajahnya berubah pucat saat mendengar laporan dari pengawalnya.

"Kita harus segera pergi," ucapnya tegas sambil menggenggam tanganku erat. "Ada sekelompok orang asing yang mendekati rumah ini. Mereka membawa alat pemecah pintu, seolah tahu kita sedang di sini."

Kami segera bergegas keluar, tapi terlambat. Di halaman depan sudah berdiri lima orang berbadan tegap dengan wajah tertutup sebagian. Di belakang mereka, Paman Dika muncul perlahan sambil tersenyum sinis—senyum yang selama ini dia sembunyikan di balik topeng keramahan.

"Terima kasih sudah membuka kuncinya untukku, Dian," ucapnya dengan nada dingin yang belum pernah kudengar sebelumnya. "Surat itu adalah bukti terakhir yang aku cari. Selama ini aku tidak berani masuk karena ayahmu menyembunyikannya dengan baik. Tapi kau... kau terlalu polos untuk menyadari bahayanya."

"Kau yang merencanakan semuanya!" bentakku berani, meski kakiku terasa lemas. "Kau yang membuat ayahku bangkrut, kau yang menyuruh Rian dan Sari menghancurkan hidupku!"

"Tentu saja," jawabnya santai. "Harta keluargamu sebenarnya milik kami. Kakekmu dulu merebutnya dari keluarga kami dengan cara curang. Sekarang aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hakku."

Dia memberi isyarat, dan orang-orang itu melangkah maju. Erlan segera menarikku ke belakang tubuhnya, membentengi aku dengan badannya sendiri.

"Jangan bergerak," ancam Erlan dengan suara menggelegar. "Aku sudah mengirim lokasi ini ke tim keamanan dan polisi. Jika kalian menyentuh kami sedikit saja, kalian tidak akan bisa lari ke mana pun."

Paman Dika tertawa mengejek. "Kau pikir aku takut? Aku sudah menyiapkan segalanya. Jika aku tertangkap, rahasia terbesarmu pun akan terungkap, Erlan Pratama. Rahasia tentang siapa kau sebenarnya, dan mengapa kau bisa kembali ke masa lalu bersama gadis ini."

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada pukulan apa pun. Aku menatap punggung Erlan yang tiba-tiba menegang kaku. Bahunya bergetar pelan, seolah kata-kata itu merobek dinding pertahanan yang dia bangun selama bertahun-tahun.

"Apa maksudnya?" tanyaku nyaris berbisik. "Mas Erlan... apa yang dia katakan? Kembali ke masa lalu... bersama?"

Erlan berbalik perlahan menatapku. Matanya yang biasanya tajam dan tenang kini penuh dengan kepedihan dan ketakutan. Dia ingin bicara, tapi suaranya terhenti di kerongkongan.

Saat itu terdengar suara sirine polisi dari kejauhan. Paman Dika mengumpat kesal, lalu memberi perintah untuk mundur cepat sebelum tertangkap. Mereka menghilang di balik pagar samping, meninggalkan kami berdua dalam keheningan yang penuh teka-teki.

Perjalanan pulang berjalan tanpa sepatah kata pun. Aku menatap ke luar jendela, tapi pikiranku buntu. Selama ini aku berpikir hanya aku satu-satunya yang terlahir kembali. Tapi ternyata Erlan juga? Dan dia sudah tahu dari awal? Mengapa dia menyembunyikannya dariku? Apa rahasia besar yang membuatnya takut untuk mengaku?

Sesampainya di rumah, Erlan tidak langsung masuk. Dia berdiri di beranda, menatap langit yang mulai mendung. Aku mendekat perlahan, menyentuh lengannya dengan lembut.

"Kau tidak perlu berbohong lagi," ucapku pelan. "Aku siap mendengar semuanya. Apa pun itu."

Erlan menarik napas panjang, lalu menatapku dengan tatapan yang memilukan. Dia mengangkat tangannya, menyentuh wajahku dengan penuh rasa rindu yang mendalam seolah dia sudah merindukanku selama berabad-abad.

"Kita berdua pernah mati di hari yang sama, Dian," bisiknya parau. "Di kehidupan yang lalu, aku mati mencoba menyelamatkanmu. Dan saat aku terbangun, aku kembali ke masa tiga tahun lalu... tepat saat kau juga mulai melangkah menuju takdirmu yang kelam. Aku berjanji pada diriku sendiri kali ini aku tidak akan membiarkanmu mati. Aku akan melindungimu, sekalipun aku harus menyembunyikan identitas asliku, sekalipun aku harus menanggung semua beban ini sendirian."

Air mata perlahan mengalir di pipiku. Bukan karena sedih, tapi karena aku akhirnya mengerti segalanya mengapa dia selalu tahu segalanya, mengapa dia begitu menjagaku, mengapa tatapannya selalu terasa begitu akrab dan menyakitkan.

Tapi baru aku menyadari satu hal lain yang lebih menakutkan jika Paman Dika tahu rahasia ini, berarti dia juga mengetahui hal yang tidak seharusnya diketahui manusia biasa. Dan itu berarti bahaya yang menanti kami bukan lagi sekadar urusan harta atau dendam duniawi.

Di ujung lorong, pintu sayap timur yang dilarang Erlan itu kini terbuka sedikit. Cahaya samar berwarna keemasan memancar dari balik celah pintu itu, seolah memanggil kami untuk masuk dan mengetahui kebenaran terakhir yang selama ini tersimpan rapat di sana.

Episodes
1 Bab 1: Kematian yang Menyadarkanku
2 Bab 2 : Rumah yang Tak Pernah Sepi dan Rahasia di Balik Pintu
3 Bab 3 : Bisikan Masa Lalu dan Ancaman di Balik Pesta
4 Bab 4: Kabar Bohong dan Bukti yang Tak Terbantahkan
5 Bab 5: Surat Lama dan Rahasia Kebangkrutan yang Sebenarnya
6 Bab 6 : Pintu Terlarang dan Jejak Kehidupan yang Hilang
7 Bab 7 : Bawahan Rahasia dan Jebakan di Balik Meja Kerja
8 Bab 8: Jejak Bayangan dan Bukti yang Tak Terhapus
9 Bab 9: Terjebak di Tengah Guyuran Hujan
10 Bab 10 : Perhatian yang Tak Pernah Terduga
11 Bab 11: Surat Rahasia dan Bayangan yang Mengintai
12 Bab 12 : Jejak Pengkhianat dan Kebenaran yang Terlindas Waktu
13 Bab 13: Cincin Pusaka dan Kebenaran yang Terkunci Masa Lalu
14 Bab 14 : Pertarungan Hati di Bawah Pohon Kenangan
15 Bab 15: Cahaya Dua Dunia dan Janji di Ambang Gerbang
16 Bab 16: Bayarannya dan Janji yang Tak Bisa Diingkari
17 Bab 17: Dua Pilihan di Ujung Jarum Waktu
18 Bab 18: Jalan Ketiga dan Kebohongan yang Terbungkus Kasih Sayang
19 Bab 19: Bayangan di Balik Jeruji dan Tanda Datangnya Hari Penebusan
20 Bab 20: Tiga Hari Menuju Puncak Bukit dan Cahaya yang Menanti di Ujung Senja
21 Bab 21: Jejak yang Tersisa dan Bayangan yang Tak Pernah Hilang
22 Bab 22: Cahaya Merah dan Jejak yang Tak Bisa Hilang
23 Bab 23: Tanda yang Berbicara dan Suara dari Bayang Masa Lalu
24 Bab 24: Dermaga Sepi dan Wajah yang Tak Selalu Sama
25 Bab 25: Bisikan di Tengah Kabut
26 Bab 26: Pilihan yang Tak Pernah Ada
27 Bab 27: Jejak yang Tertinggal
28 Bab 28: Mata yang Mengawasi
29 Bab 29: Bayangan yang Kembali
30 Bab 30: Sumpah di Bawah Fondasi
31 Bab 31: Pengorbanan yang Tak Terduga
32 Bab 32: Luka yang Sama
33 Bab 33: Benih Pengkhianatan
34 Bab 34: Topeng Kesetiaan
35 Bab 35: Jejak yang Kusingkirkan Sendiri
36 Bab 36: Pilihan yang Tak Pernah Ada
37 Bab 37: Bayangan yang Tak Pernah Punah
38 Bab 38: Di Antara Kita
39 Bab 39: Ketukan yang Sama
Episodes

Updated 39 Episodes

1
Bab 1: Kematian yang Menyadarkanku
2
Bab 2 : Rumah yang Tak Pernah Sepi dan Rahasia di Balik Pintu
3
Bab 3 : Bisikan Masa Lalu dan Ancaman di Balik Pesta
4
Bab 4: Kabar Bohong dan Bukti yang Tak Terbantahkan
5
Bab 5: Surat Lama dan Rahasia Kebangkrutan yang Sebenarnya
6
Bab 6 : Pintu Terlarang dan Jejak Kehidupan yang Hilang
7
Bab 7 : Bawahan Rahasia dan Jebakan di Balik Meja Kerja
8
Bab 8: Jejak Bayangan dan Bukti yang Tak Terhapus
9
Bab 9: Terjebak di Tengah Guyuran Hujan
10
Bab 10 : Perhatian yang Tak Pernah Terduga
11
Bab 11: Surat Rahasia dan Bayangan yang Mengintai
12
Bab 12 : Jejak Pengkhianat dan Kebenaran yang Terlindas Waktu
13
Bab 13: Cincin Pusaka dan Kebenaran yang Terkunci Masa Lalu
14
Bab 14 : Pertarungan Hati di Bawah Pohon Kenangan
15
Bab 15: Cahaya Dua Dunia dan Janji di Ambang Gerbang
16
Bab 16: Bayarannya dan Janji yang Tak Bisa Diingkari
17
Bab 17: Dua Pilihan di Ujung Jarum Waktu
18
Bab 18: Jalan Ketiga dan Kebohongan yang Terbungkus Kasih Sayang
19
Bab 19: Bayangan di Balik Jeruji dan Tanda Datangnya Hari Penebusan
20
Bab 20: Tiga Hari Menuju Puncak Bukit dan Cahaya yang Menanti di Ujung Senja
21
Bab 21: Jejak yang Tersisa dan Bayangan yang Tak Pernah Hilang
22
Bab 22: Cahaya Merah dan Jejak yang Tak Bisa Hilang
23
Bab 23: Tanda yang Berbicara dan Suara dari Bayang Masa Lalu
24
Bab 24: Dermaga Sepi dan Wajah yang Tak Selalu Sama
25
Bab 25: Bisikan di Tengah Kabut
26
Bab 26: Pilihan yang Tak Pernah Ada
27
Bab 27: Jejak yang Tertinggal
28
Bab 28: Mata yang Mengawasi
29
Bab 29: Bayangan yang Kembali
30
Bab 30: Sumpah di Bawah Fondasi
31
Bab 31: Pengorbanan yang Tak Terduga
32
Bab 32: Luka yang Sama
33
Bab 33: Benih Pengkhianatan
34
Bab 34: Topeng Kesetiaan
35
Bab 35: Jejak yang Kusingkirkan Sendiri
36
Bab 36: Pilihan yang Tak Pernah Ada
37
Bab 37: Bayangan yang Tak Pernah Punah
38
Bab 38: Di Antara Kita
39
Bab 39: Ketukan yang Sama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!