PERMAINAN TAKDIR

PERMAINAN TAKDIR

Hujan Pertama

Langit Kota Arvandra diselimuti awan kelabu sejak matahari belum mencapai puncaknya. Udara yang biasanya hangat berubah sejuk, sementara angin berembus perlahan, membawa aroma tanah yang sebentar lagi akan diguyur hujan.

Dari lantai dua sebuah rumah bergaya klasik yang berdiri megah di kawasan elite, seorang gadis tengah berdiri di depan jendela kamarnya. Kedua tangannya bertumpu pada bingkai kayu berwarna putih, sementara pandangannya menerobos hamparan taman yang tertata rapi di halaman depan.

Bunga mawar yang ditanam berderet di sepanjang jalan setapak tampak bergoyang pelan diterpa angin.

Senyum tipis terukir di bibirnya.

"Akhirnya akan hujan."

Suara pintu yang diketuk perlahan memecah keheningan.

"Nona Aluna."

"Masuk saja, Bibi."

Pintu terbuka, memperlihatkan seorang wanita paruh baya dengan celemek berwarna krem. Rambutnya yang mulai memutih disanggul sederhana, tetapi sorot matanya selalu memancarkan kehangatan.

"Ayah dan Ibu sudah berangkat ke Surabaya satu jam yang lalu. Mereka berpesan agar Nona tidak keluar rumah hari ini."

Aluna berbalik sambil menghela napas pelan.

"Mereka pasti mengira aku masih berusia lima belas tahun."

"Bukan begitu. Mereka hanya mengkhawatirkan Nona."

"Aku sudah dua puluh tiga tahun, Bibi."

"Di mata orang tua, usia tidak pernah mengurangi rasa khawatir."

Aluna tersenyum kecil. Ia tidak membantah, sebab ia tahu ucapan itu benar.

Sejak kecil, kedua orang tuanya memang selalu bersikap sangat melindunginya. Hampir setiap keinginan Aluna dipenuhi, bukan karena mereka ingin memanjakannya tanpa alasan, melainkan karena ia adalah satu-satunya anak yang mereka miliki.

Setidaknya, itulah yang selama ini ia yakini.

"Bibi."

"Ya?"

"Aku ingin pergi sebentar."

Wanita itu langsung menggeleng sebelum Aluna selesai berbicara.

"Tidak."

"Bibi bahkan belum mendengar alasanku."

"Apa pun alasannya, jawabannya tetap sama."

Aluna tertawa pelan.

"Baiklah, kalau begitu aku akan menjelaskan supaya penolakannya terasa lebih adil."

Wanita itu melipat kedua tangan di depan dada.

"Aku mendengarkan."

"Hari ini ulang tahun Celine."

"Celine yang bekerja sebagai guru itu?"

Aluna mengangguk.

"Aku sudah berjanji akan memberikan hadiah secara langsung."

"Bukankah besok juga masih bisa?"

"Aku tidak pernah mengingkari janji."

Kalimat itu membuat wanita tersebut terdiam beberapa saat.

Ia mengenal Aluna sejak gadis itu masih balita. Di balik sifatnya yang ceria, Aluna selalu memegang teguh setiap ucapan yang keluar dari mulutnya.

Bila telah berjanji, ia akan berusaha menepatinya.

"Aku hanya pergi sebentar."

"Bersama sopir."

Aluna menggeleng pelan.

"Aku ingin pergi sendiri."

"Nona..."

"Sesekali saja."

Tatapan memohon yang diberikan Aluna akhirnya meluluhkan hati wanita itu.

"Kalau begitu, setidaknya bawalah payung."

"Akan kubawa."

"Dan telepon harus tetap aktif."

Aluna mengangguk cepat.

"Terima kasih, Bibi."

Ia memeluk wanita itu sekilas sebelum berlari kecil keluar dari kamar.

Wanita paruh baya itu hanya bisa menggeleng sambil tersenyum.

"Gadis itu tidak pernah berubah."

___________________________________________

Satu jam kemudian.

Aluna melangkah santai di trotoar yang mulai dipenuhi pejalan kaki. Rambut hitamnya yang dibiarkan tergerai bergerak lembut mengikuti embusan angin.

Ia mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda dipadukan dengan kardigan putih. Penampilannya jauh dari kesan mencolok, sehingga tidak banyak orang menyadari bahwa gadis itu berasal dari keluarga yang sangat berada.

Aluna memang lebih menyukai kesederhanaan.

Ia senang berjalan kaki, menikmati aroma kopi dari kafe-kafe kecil di pinggir jalan, atau sekadar menghabiskan waktu membaca buku di taman kota.

Hal-hal sederhana seperti itu selalu membuatnya merasa hidup.

Langkahnya berhenti di depan sebuah toko buku tua yang berdiri di sudut jalan.

Bel kecil di atas pintu berdenting pelan saat ia masuk.

Ruangan itu dipenuhi aroma khas kertas yang telah lama tersusun di rak-rak kayu.

"Selamat siang."

Seorang pria lanjut usia menyapanya ramah dari balik meja kasir.

"Selamat siang."

"Sudah lama tidak berkunjung."

Aluna tersenyum.

"Beberapa minggu terakhir cukup sibuk."

"Kau mencari buku baru?"

"Bukan."

Aluna menggeleng pelan.

"Aku ingin mencari hadiah."

Pria tua itu mengangguk mengerti.

"Rak sebelah sana mungkin bisa membantumu."

Aluna menghabiskan hampir tiga puluh menit berkeliling sebelum akhirnya menemukan sebuah buku edisi khusus yang sejak lama diinginkan sahabatnya.

"Ini pasti membuat Celine senang."

Setelah membayar, ia meminta buku itu dibungkus dengan kertas kado sederhana berwarna hijau tua.

"Terima kasih."

"Sama-sama. Hati-hati di jalan. Kurasa hujan akan segera turun."

Aluna menoleh ke arah jendela.

Langit memang semakin gelap.

"Sepertinya benar."

Ia melangkah keluar sambil membawa kantong hadiah di tangan kanan.

Namun baru beberapa langkah meninggalkan toko buku, ponselnya berdering.

Nama Ayah muncul di layar.

Aluna segera mengangkatnya.

"Haiiiii sayang."

"Hallo Ayah."

Suara hangat ayahnya terdengar dari seberang.

"Kau sedang di rumah?"

Aluna terdiam sesaat.

Ia tidak pandai berbohong.

"Aku sedang membeli hadiah ulang tahun Celine."

Hening beberapa detik.

"Bukankah Ayah sudah berpesan agar kau tetap di rumah?"

"Aku hanya keluar sebentar."

Ayahnya mengembuskan napas pelan.

"Ayah tidak sedang memarahimu."

"Aku tahu."

"Hanya saja... entah mengapa sejak tadi Ayah merasa tidak tenang."

Aluna tersenyum kecil.

"Mungkin Ayah terlalu mencemaskanku."

"Mungkin."

Suara itu terdengar lirih.

"Segeralah pulang."

"Baik."

Sambungan telepon berakhir.

Aluna memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.

Ia tidak menyadari bahwa, sejak keluar dari toko buku tadi, sepasang mata terus mengawasinya dari seberang jalan.

Seorang pria bertubuh tinggi mengenakan topi hitam berdiri di dekat halte.

Tatapannya tidak pernah lepas dari Aluna.

Beberapa detik kemudian, ia menekan sebuah alat komunikasi kecil yang terselip di balik kerah bajunya.

"Target telah meninggalkan toko."

Suara berat dari seberang terdengar singkat.

"Terus awasi."

"Baik."

Pria itu memutus sambungan, lalu kembali mengikuti langkah Aluna dari kejauhan.

Sementara itu, langit akhirnya tak lagi mampu menahan beban awan.

Setetes air jatuh ke permukaan jalan.

Disusul tetes berikutnya.

Dan dalam hitungan detik, hujan turun membasahi seluruh kota.

— Bersambung

Episodes
1 Hujan Pertama
2 Pria di Balik Hujan
3 Nama yang Mulai Dikenal
4 Berkas yang Hilang
5 Bayang yang Mengikuti
6 Undangan Tanpa Nama
7 Senyum di Depan Kamera
8 Langkah Yang Terlambat
9 Garis yang Mulai Kabur
10 Di Balik Dentuman
11 Nama Yang Hilang
12 Kebenaran Yang Terkubur
13 Tempat semuanya di Mulai
14 Orang di Balik Permainan
15 Pesan Dari Masa Lalu
16 Pilihan yang Tidak Pernah Ada
17 Ingatan Yang Hilang
18 Awal Dari Sebuah Permainan
19 Permainan Terakhir
20 Suara Yang Menunggu
21 END | Takdir Yang di Pilih
22 PERMAINAN TAKDIR | SEASON 2 | Pertemuan Yang Terasa Tak Asing
23 Alasan Yang Tak Bisa Dijelaskan
24 Janji yang Ditepati
25 Pesan di Tengah Malam
26 Langkah yang Semakin Dekat
27 Langkah yang Tak Sengaja Sejalan
28 Kebetulan yang Terlalu Sering
29 Bayangan Masalalu
30 Pesan Tanpa Nama
31 Permainan Dimulai
32 Di Balik Bayangan
33 Simbol yang Terlupakan
34 Makan Malam yang Dijebak
35 Kepercayaan yang Diuji
36 Jejak yang Disembunyikan
37 Taman yang Terlupakan
38 Fragmen Kenangan
39 Jejak di Tengah Kegelapan
40 Lorong Tanpa Jalan Pulang
41 Perburuan di Tengah Malam
42 Orang yang Seharusnya Tidak Diingat
43 Orang yang Paling Dipercaya
44 Suara dari Masa Lalu
45 Nama yang Disembunyikan
46 Nama yang Kembali
47 Pintu Berwarna Biru
48 Rumah Sakit yang Terlupakan
49 Orang yang Datang Menjemput
50 Huruf A
51 Ruangan yang Tidak Pernah Ada
52 Orang yang Seharusnya Sudah Pergi
53 Orang Diantara Mereka
Episodes

Updated 53 Episodes

1
Hujan Pertama
2
Pria di Balik Hujan
3
Nama yang Mulai Dikenal
4
Berkas yang Hilang
5
Bayang yang Mengikuti
6
Undangan Tanpa Nama
7
Senyum di Depan Kamera
8
Langkah Yang Terlambat
9
Garis yang Mulai Kabur
10
Di Balik Dentuman
11
Nama Yang Hilang
12
Kebenaran Yang Terkubur
13
Tempat semuanya di Mulai
14
Orang di Balik Permainan
15
Pesan Dari Masa Lalu
16
Pilihan yang Tidak Pernah Ada
17
Ingatan Yang Hilang
18
Awal Dari Sebuah Permainan
19
Permainan Terakhir
20
Suara Yang Menunggu
21
END | Takdir Yang di Pilih
22
PERMAINAN TAKDIR | SEASON 2 | Pertemuan Yang Terasa Tak Asing
23
Alasan Yang Tak Bisa Dijelaskan
24
Janji yang Ditepati
25
Pesan di Tengah Malam
26
Langkah yang Semakin Dekat
27
Langkah yang Tak Sengaja Sejalan
28
Kebetulan yang Terlalu Sering
29
Bayangan Masalalu
30
Pesan Tanpa Nama
31
Permainan Dimulai
32
Di Balik Bayangan
33
Simbol yang Terlupakan
34
Makan Malam yang Dijebak
35
Kepercayaan yang Diuji
36
Jejak yang Disembunyikan
37
Taman yang Terlupakan
38
Fragmen Kenangan
39
Jejak di Tengah Kegelapan
40
Lorong Tanpa Jalan Pulang
41
Perburuan di Tengah Malam
42
Orang yang Seharusnya Tidak Diingat
43
Orang yang Paling Dipercaya
44
Suara dari Masa Lalu
45
Nama yang Disembunyikan
46
Nama yang Kembali
47
Pintu Berwarna Biru
48
Rumah Sakit yang Terlupakan
49
Orang yang Datang Menjemput
50
Huruf A
51
Ruangan yang Tidak Pernah Ada
52
Orang yang Seharusnya Sudah Pergi
53
Orang Diantara Mereka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!