Nama yang Mulai Dikenal

Hujan telah reda ketika Aluna tiba di rumah. Langit malam masih diselimuti awan, menyisakan udara yang lebih sejuk daripada biasanya. Cahaya lampu taman memantul di atas rumput yang masih basah, menciptakan pemandangan yang menenangkan setelah perjalanan panjang.

Begitu melangkah masuk, aroma teh hangat memenuhi ruang utama.

Bibi Mira yang sejak tadi mondar-mandir di ruang keluarga segera menghampiri.

"Akhirnya Nona pulang."

Aluna tersenyum bersalah.

"Maaf membuat Bibi khawatir."

"Sudah kubilang jangan keluar saat cuaca seperti ini."

"Aku baik-baik saja."

Bibi Mira mengamati wajah Aluna beberapa saat, memastikan tidak ada luka ataupun tanda-tanda kelelahan yang berlebihan.

"Untunglah."

Wanita itu kemudian mengambil kantong hadiah dari tangan Aluna.

"Aku akan menyimpannya dulu."

Aluna mengangguk sebelum menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

Entah mengapa, pikirannya terus kembali pada pria yang ditemuinya di tengah hujan.

Niel.

Nama itu masih terngiang jelas di kepalanya.

Sikapnya tenang. Cara bicaranya singkat. Tatapannya dingin, tetapi sama sekali tidak menunjukkan kesombongan.

Ia seperti seseorang yang terbiasa memikul banyak hal seorang diri.

"Sedang memikirkan sesuatu?"

Suara Bibi Mira membuyarkan lamunannya.

"Hm?"

"Sejak pulang, Nona terlihat melamun."

Aluna tersenyum kecil.

"Tadi aku melihat kecelakaan."

Bibi Mira langsung menghentikan langkahnya.

"Kecelakaan?"

"Ada sebuah mobil menabrak pembatas jalan."

"Astaga... Kau tidak terluka, bukan?"

Aluna menggeleng.

"Tidak."

"Lalu?"

"Aku hanya membantu pria yang berada di dalam mobil itu."

Bibi Mira menghela napas lega.

"Syukurlah."

"Orangnya aneh."

"Bagaimana maksudmu?"

"Dia terluka, tetapi menolak dibawa ke rumah sakit."

Bibi Mira mengernyit.

"Mungkin ada alasan."

"Mungkin."

Aluna tidak melanjutkan cerita.

Entah mengapa, ia memilih menyimpan bagian tentang kedatangan belasan pria berpakaian hitam.

Bahkan ia sendiri belum memahami apa yang sebenarnya terjadi.

__________________________________________

Di tempat lain.

Sebuah bangunan megah berdiri jauh dari keramaian kota.

Gerbang besi setinggi hampir empat meter terbuka perlahan ketika iring-iringan kendaraan hitam memasuki halaman.

Puluhan pria telah berjajar rapi di kedua sisi jalan.

Mereka menundukkan kepala saat mobil yang ditumpangi Niel berhenti tepat di depan pintu utama.

Pintu belakang terbuka.

Niel keluar tanpa tergesa.

"Selamat malam, Tuan."

Sapaan itu terdengar serempak.

Ia hanya mengangguk tipis sebelum melangkah masuk.

Di dalam bangunan, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun telah menunggu dengan kotak peralatan medis di atas meja.

"Silakan duduk."

Niel melepaskan jasnya.

Lengan kemeja putih yang dikenakannya robek di bagian siku. Luka yang sebelumnya tampak ringan ternyata cukup dalam.

Pria itu membersihkan luka tersebut dengan hati-hati.

"Beruntung pelurunya hanya menggores."

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

"Tuan selalu mengatakan hal yang sama setiap kali terluka."

Niel tidak menjawab.

Pikirannya justru kembali pada gadis yang ditemuinya beberapa jam lalu.

Aluna.

Nama yang sederhana.

Namun entah mengapa sulit diabaikan.

"Siapa pemilik sapu tangan ini?"

Suara pria itu kembali terdengar.

Di tangannya kini terdapat sapu tangan putih yang telah dicuci dari noda darah.

Pada salah satu sudutnya terdapat sulaman kecil berbentuk bunga lavender.

Niel memperhatikannya beberapa saat.

"Seorang gadis."

"Orang yang menolong Tuan?"

Niel mengangguk pelan.

Pria itu tersenyum tipis.

"Jarang sekali ada orang asing yang berani mendekati mobil Tuan setelah kecelakaan."

"Mungkin dia tidak tahu siapa aku."

"Itu justru lebih menarik."

Niel tidak menanggapi.

Ia mengambil sapu tangan tersebut lalu melipatnya dengan rapi.

"Besok."

"Ya, Tuan?"

"Cari tahu alamatnya."

Pria itu tampak terkejut.

"Apakah ada masalah?"

"Tidak."

"Lalu mengapa?"

Niel terdiam sejenak.

"Aku hanya ingin mengembalikan sesuatu yang bukan milikku."

___________________________________________

Keesokan paginya.

Aluna sedang membantu Celine menghias sebuah ruang baca kecil di sekolah tempat sahabatnya mengajar.

"Kau tidak perlu datang sepagi ini."

"Aku sudah berjanji akan membantu."

Celine tersenyum.

"Kalau begitu, tolong susun buku-buku itu."

Aluna mengangguk.

Suasana sekolah masih tenang karena kegiatan belajar belum dimulai.

Beberapa guru terlihat sibuk menyiapkan kelas masing-masing.

Saat Aluna sedang menata buku di rak paling atas, ponselnya bergetar.

Nomor yang tidak dikenalnya muncul di layar.

Ia mengangkat panggilan itu.

"Halo?"

"Selamat pagi."

Suara laki-laki terdengar tenang.

Aluna merasa pernah mendengarnya.

"Maaf, dengan siapa saya berbicara?"

"Hari ini cuacanya cerah."

Aluna mengernyit.

"Apa?"

"Jadi seharusnya sapu tanganmu bisa kukembalikan."

Aluna membeku.

Ia langsung mengenali suara itu.

"Niel?"

"Ya."

Aluna menatap layar ponselnya dengan bingung.

"Tunggu... bagaimana Anda bisa mendapatkan nomor saya?"

Hening.

Lalu suara Niel terdengar kembali.

"Itu pertanyaan yang wajar."

"Tentu saja."

"Aku akan menjelaskannya saat kita bertemu."

Sebelum Aluna sempat mengatakan apa pun...

Sambungan telepon terputus.

Aluna masih memandangi layar ponselnya.

Perasaannya dipenuhi tanda tanya.

Ia tidak pernah memberikan nomor teleponnya.

Ia juga tidak memberitahukan tempat yang biasa ia datangi.

Lalu...

Bagaimana pria itu menemukannya hanya dalam semalam?

Di sisi lain kota, Niel berdiri di depan jendela ruang kerjanya sambil memandangi langit yang mulai cerah.

Di atas mejanya tergeletak sebuah berkas tipis.

Pada halaman pertama tertulis satu nama.

Aluna Pradipta.

Namun tepat di bawah nama itu, terdapat sebuah catatan yang membuat tatapan Niel berubah.

"Data masa kecil tidak ditemukan."

— Bersambung —

Episodes
1 Hujan Pertama
2 Pria di Balik Hujan
3 Nama yang Mulai Dikenal
4 Berkas yang Hilang
5 Bayang yang Mengikuti
6 Undangan Tanpa Nama
7 Senyum di Depan Kamera
8 Langkah Yang Terlambat
9 Garis yang Mulai Kabur
10 Di Balik Dentuman
11 Nama Yang Hilang
12 Kebenaran Yang Terkubur
13 Tempat semuanya di Mulai
14 Orang di Balik Permainan
15 Pesan Dari Masa Lalu
16 Pilihan yang Tidak Pernah Ada
17 Ingatan Yang Hilang
18 Awal Dari Sebuah Permainan
19 Permainan Terakhir
20 Suara Yang Menunggu
21 END | Takdir Yang di Pilih
22 PERMAINAN TAKDIR | SEASON 2 | Pertemuan Yang Terasa Tak Asing
23 Alasan Yang Tak Bisa Dijelaskan
24 Janji yang Ditepati
25 Pesan di Tengah Malam
26 Langkah yang Semakin Dekat
27 Langkah yang Tak Sengaja Sejalan
28 Kebetulan yang Terlalu Sering
29 Bayangan Masalalu
30 Pesan Tanpa Nama
31 Permainan Dimulai
32 Di Balik Bayangan
33 Simbol yang Terlupakan
34 Makan Malam yang Dijebak
35 Kepercayaan yang Diuji
36 Jejak yang Disembunyikan
37 Taman yang Terlupakan
38 Fragmen Kenangan
39 Jejak di Tengah Kegelapan
40 Lorong Tanpa Jalan Pulang
41 Perburuan di Tengah Malam
42 Orang yang Seharusnya Tidak Diingat
43 Orang yang Paling Dipercaya
44 Suara dari Masa Lalu
45 Nama yang Disembunyikan
46 Nama yang Kembali
47 Pintu Berwarna Biru
48 Rumah Sakit yang Terlupakan
49 Orang yang Datang Menjemput
50 Huruf A
51 Ruangan yang Tidak Pernah Ada
52 Orang yang Seharusnya Sudah Pergi
53 Orang Diantara Mereka
Episodes

Updated 53 Episodes

1
Hujan Pertama
2
Pria di Balik Hujan
3
Nama yang Mulai Dikenal
4
Berkas yang Hilang
5
Bayang yang Mengikuti
6
Undangan Tanpa Nama
7
Senyum di Depan Kamera
8
Langkah Yang Terlambat
9
Garis yang Mulai Kabur
10
Di Balik Dentuman
11
Nama Yang Hilang
12
Kebenaran Yang Terkubur
13
Tempat semuanya di Mulai
14
Orang di Balik Permainan
15
Pesan Dari Masa Lalu
16
Pilihan yang Tidak Pernah Ada
17
Ingatan Yang Hilang
18
Awal Dari Sebuah Permainan
19
Permainan Terakhir
20
Suara Yang Menunggu
21
END | Takdir Yang di Pilih
22
PERMAINAN TAKDIR | SEASON 2 | Pertemuan Yang Terasa Tak Asing
23
Alasan Yang Tak Bisa Dijelaskan
24
Janji yang Ditepati
25
Pesan di Tengah Malam
26
Langkah yang Semakin Dekat
27
Langkah yang Tak Sengaja Sejalan
28
Kebetulan yang Terlalu Sering
29
Bayangan Masalalu
30
Pesan Tanpa Nama
31
Permainan Dimulai
32
Di Balik Bayangan
33
Simbol yang Terlupakan
34
Makan Malam yang Dijebak
35
Kepercayaan yang Diuji
36
Jejak yang Disembunyikan
37
Taman yang Terlupakan
38
Fragmen Kenangan
39
Jejak di Tengah Kegelapan
40
Lorong Tanpa Jalan Pulang
41
Perburuan di Tengah Malam
42
Orang yang Seharusnya Tidak Diingat
43
Orang yang Paling Dipercaya
44
Suara dari Masa Lalu
45
Nama yang Disembunyikan
46
Nama yang Kembali
47
Pintu Berwarna Biru
48
Rumah Sakit yang Terlupakan
49
Orang yang Datang Menjemput
50
Huruf A
51
Ruangan yang Tidak Pernah Ada
52
Orang yang Seharusnya Sudah Pergi
53
Orang Diantara Mereka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!