~ Malam Pertama Di Sangkar Emas

Deru mesin mobil Alphard hitam itu perlahan meredup saat membelah kegelapan area basement eksklusif dari sebuah gedung pencakar langit di kawasan bisnis SCBD. Lampu-lampu sorot bernuansa modern menerangi deretan mobil-mobil mewah yang terparkir rapi di sana, menandakan kawasan ini hanya dihuni oleh orang-orang terpilih dari kalangan kelas atas.

Aura Zhafira menatap keluar jendela mobil yang gelap dengan perasaan campur aduk. Di pangkuannya, sebuah tas pribadi berukuran sedang berisi beberapa potong pakaian dan keperluan dasarnya terasa begitu berat seberat keputusan besar yang baru saja ia tanda tangani satu jam yang lalu di restoran.

Pak Aslan dengan cepat membukakan pintu mobil dari luar. "Silakan turun, Nona Zhafira. Tuan Reno sudah menunggu di depan lift pribadi."

Aura mengangguk pelan. "Terima kasih, Pak Aslan."

Ia melangkah keluar dari mobil, mengusap bahunya yang terasa agak dingin seraya menyusul langkah Reno yang sudah berdiri di depan pintu lift beraksen emas. Pria itu berdiri begitu tegap, menempelkan kartu akses khusus dan melakukan pemindaian sidik jari sebelum pintu lift berdenting halus dan terbuka lebar.

Selama perjalanan naik menuju lantai paling atas penthouse, tidak ada satu pun kata yang terucap di antara mereka. Keheningan yang mencengkeram di dalam lift kaca itu terasa begitu pekat. Reno berdiri tegap di sudut lift, memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana bahan hitamnya sembari menatap angka lantai yang terus bertambah di layar digital dengan tatapan kosong. Aura sendiri memilih menunduk, meremas tali tasnya erat-erat demi meredam rasa canggung dan gugup yang membakar dadanya.

Denting!

Pintu lift terbuka pelan, langsung menyajikan pemandangan sebuah penthouse dua lantai yang sangat luas, megah, dan mewah. Dinding-dinding kaca setinggi lima meter menampilkan lanskap gemerlap sinar lampu metropolitan Jakarta di bawah naungan malam. Interior ruangan didominasi warna hitam, abu-abu marmer, dan aksen kayu gelap,desain minimalis yang terkesan sangat maskulin, dingin, namun memancarkan kekuasaan.

"Ini tempat tinggal saya," ujar Reno datar, melangkah masuk ke atas lantai marmer yang dingin dan mengkilap. "Dan mulai malam ini, ini juga tempat tinggalmu selama satu tahun ke depan."

Aura melangkah ragu-ragu mengikuti arah langkah Reno. Matanya menyapu sekeliling ruangan yang terasa begitu hampa, sepi, dan asing. Tidak ada hiasan hangat atau foto keluarga; rumah ini benar-benar mencerminkan pemiliknya yang berhati es.

"Pekerja rumah tangga hanya datang dari pagi sampai sore untuk membersihkan ruangan dan menyiapkan makanan," terang Reno seraya melepas jas hitamnya dan menyampirkannya di lengan sofa kulit. Ia melonggarkan ikatan dasinya dengan gerakan santai. "Malam hari tidak akan ada orang lain di rumah ini selain kita berdua."

Aura menelan ludah yang terasa menyumbat di tenggorokan. "Baik, Mr. Adhyastha."

Reno memutar tubuhnya perlahan, menatap Aura dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai yang tajam. "Panggil saya Reno saat kita sedang berdua saja. Terlalu kaku jika kamu terus memanggil saya dengan sebutan formal seperti itu di dalam rumah."

Aura tertegun sejenak sebelum mengangguk. "Baik... Reno." Nama itu terasa sangat aneh dan berat saat diucapkan oleh bibirnya.

Reno kemudian berbalik dan memandu Aura menyusuri koridor lantai atas. Pria itu berhenti di depan sebuah pintu kayu jati berwarna cokelat terang, memutar gagang pintunya, dan menggeser pintu tersebut hingga terbuka lebar.

"Ini kamarmu," kata Reno singkat.

Aura melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut dan seketika matanya membelalak kaget. Kamar tidur itu sangat luas, lengkap dengan kamar mandi dalam berkonsep spa dan area walk-in closet yang megah. Namun yang membuat Aura benar-benar terpaku adalah warna dekorasi ruangan tersebut. Berbeda total dengan bagian luar rumah yang serba gelap dan kaku, kamar ini didominasi warna dusty pink dan putih lembut yang hangat.

Di atas tempat tidur berukuran king size, terhampar sprei berbahan sutra berwarna pink pastel yang sangat elegan. Bahkan di atas meja rias, sudah tertata beberapa produk perawatan wanita dan aroma terapi beraroma mawar lembut yang menenangkan.

Aura menoleh pada Reno dengan dahi berkerut heran. "Ini... kenapa tema kamarnya berwarna pink?"

Reno berdehem pelan, mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar seolah enggan menatap langsung mata Aura. "Pak Aslan yang menyiapkan seluruh dekorasi dan belanjaan ini sore tadi. Dia yang mencari tahu warna favoritmu dari data pribadi yang dikumpulkan tim saya."

Dada Aura berdesir pelan. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menyelinap di sudut hatinya. Meskipun pria di hadapannya selalu menegaskan bahwa semua ini dilakukan murni demi kepraktisan transaksi bisnis, kenyataan bahwa ruangan ini disiapkan secara khusus untuk kenyamanannya tetap membuat hati Aura tersentuh.

"Terima kasih... ini benar-benar terlalu bagus," ucap Aura tulus dengan senyuman tipis.

Reno hanya mengangguk singkat, dengan cepat kembali memasang raut wajah dinginnya yang tak tersentuh. "Kamar saya berada di ujung koridor, tepat di sebelah ruang kerja utama. Aturan di rumah ini jelas: jangan pernah masuk ke kamar pribadi atau ruang kerja saya tanpa izin."

"Saya mengerti," balas Aura patuh.

"Satu hal lagi," tambah Reno, memberikan penekanan tegas pada setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Besok pagi jam delapan tepat, tim dari dinas kependudukan dan petugas catat sipil akan datang ke penthouse ini secara tertutup untuk memproses pernikahan hukum kita. Setelah berkas selesai, jam sepuluh pagi kita harus berangkat ke kediaman Nenek saya di kawasan Menteng."

Napas Aura tertahan. "Nenekmu?"

"Ya. Nenek adalah orang paling krusial dalam rencana ini," jelas Reno dingin. "Beliau adalah pemegang saham terbesar Adhyastha Group dan orang yang paling gencar menuntut saya untuk segera berkeluarga. Kamu harus berakting sebagai calon istri yang sempurna di hadapannya. Jangan sampai ada sedikit pun celah atau kecanggungan yang membuat Nenek curiga bahwa kita menikah hanya karena sebuah kontrak."

Aura menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan kembali seluruh rasa percaya dirinya. Ia adalah seorang presenter TV profesional yang terbiasa berhadapan dengan kamera siaran langsung dan tokoh-tokoh penting negara. Jika berakting adalah bagian dari kewajiban kontraknya, maka ia akan melakukannya dengan sempurna.

"Kamu tidak perlu khawatir. Berakting dan menjaga sikap profesional di depan publik adalah keahlian saya," ujar Aura tegas dengan tatapan mata yang tenang dan anggun.

Reno sempat tertegun sejenak, terpesona oleh pendar keberanian dan keteguhan di wajah cantik Aura yang terbingkai hijab pink-nya. Namun dengan cepat, CEO berhati es itu menguasai ekspresinya kembali.

"Bagus kalau begitu," kata Reno datar. "Istirahatlah. Besok akan menjadi hari yang sangat panjang untuk kita berdua."

Reno berbalik dan menutup pintu kamar tersebut dari luar, meninggalkan suara klik halus yang mengunci ruangan itu.

Aura melangkah mendekati tempat tidur empuk berwarna pink pastel tersebut, lalu meluruhkan tubuhnya yang terasa sangat lelah di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan sejuta gejolak rasa di dalam dada. Malam ini, di dalam penthouse mewah ini, kisah barunya sebagai istri rahasia sang CEO dingin resmi dimulai.

Episodes
1 ~ Perjanjian Di Ujung Krisis
2 ~ Tanda Tangan Di Atas Kertas
3 ~ Malam Pertama Di Sangkar Emas
4 ~ Sandiwara Di Rumah Menteng
5 ~ Debaran Di Luar Kendali
6 ~ Batas Yang Mulai Kabur
7 ~ Cemburu Yang Tak Diakui
8 ~ Sesuatu Di Balik Sikap Dingin
9 ~ Satu Kamar Di Kediaman Menteng
10 ~ Cincin Warisan Dan Kehangatan Pagi
11 ~ Panggilan Mesra Dan Badai Media
12 ~ Bantaian Di Hadapan Media
13 ~ Bayangan Di Balik Celah
14 ~ Badai Skandal Dan Lemparan Fitnah
15 ~ Perlindungan Di Tengah Badai
16 ~ Bisikan Malam Dan Janji Di Atas Mimbar
17 ~ Bukti Di Atas Mimbar Dan Kehancuran Fitnah
18 ~ Pengakuan, Pembalasan, Dan Kejutan Tiket Bulan Madu
19 ~ Terbang Menuju Pulau Impian
20 ~ Malam Penuh Pengakuan di Maldives
21 ~ Di Bawah Langit Maldives
22 ~ Fajar Pertama Di Maldives
23 ~ Kehangatan Pagi Di Maldives
24 ~ Kembali ke Jakarta
25 ~ Kejutan di Balik Layar Studio
26 ~ Integritas dan Perlindungan
27 ~ Momen Sepulang Siaran
28 ~ Janji di Sisi Peraduan
29 ~ Harapan di Tengah Keheningan
30 ~ Kejutan Manis
31 ~ Bunga dan Duri
32 ~ Janji dan Kerinduan
33 ~ Kabar dari VIP
34 ~ Senyuman Ibu
35 ~ Jebakan di Ruang Siar
36 ~ Tangan Dingin Adhyastha
37 ~ Sempurna di Ujung Fajar
38 ~ Kehangatan Kasihsayang
39 ~ Langkah Baru Aura
40 ~ Bunga Untuk Sang Bintang
41 ~ Pelukan di Balik Kabut
42 ~ Kado Terindah
43 ~ Kehangatan Rumah Adhyastha
44 ~ Ngidam
45 ~ Detak Jantung Pertama
46 ~ Kembali Siaran
47 ~ Kehangatan Dua Keluarga
48 ~ Demi Buah Hati
49 ~ Di Dalam Dekapan Reno
50 ~ Senja di Teras Penthouse
51 ~ Ruang Penuh Cinta
52 ~ Bahagia yang Sempurna
53 ~ Kasih Tanpa Batas
54 ~ Keajaiban Kecil
55 ~ Pesona Sang Anchor
56 ~ Pendamping Sang CEO
57 ~ Janji Sang Suami
58 ~ Kejutan Manis Sang CEO
59 ~ Kehangatan Keluarga
60 ~ Doa dan Rasa Syukur
61 ~ Perhatian Sang CEO
62 ~ Bisikan Kasih Sang Ayah
63 ~ Detak Jantung Malaikat Kecil
64 ~ Kebahagiaan Yang Meluap
65 ~ Pesona Sang Ratu
66 ~ Kamar Mungil Malaikat Kecil
67 ~ Pesona Di Layar Kaca
68 ~ Nama Indah Untuk Sang Malaikat
69 ~ Kejutan Di Studio Berita
Episodes

Updated 69 Episodes

1
~ Perjanjian Di Ujung Krisis
2
~ Tanda Tangan Di Atas Kertas
3
~ Malam Pertama Di Sangkar Emas
4
~ Sandiwara Di Rumah Menteng
5
~ Debaran Di Luar Kendali
6
~ Batas Yang Mulai Kabur
7
~ Cemburu Yang Tak Diakui
8
~ Sesuatu Di Balik Sikap Dingin
9
~ Satu Kamar Di Kediaman Menteng
10
~ Cincin Warisan Dan Kehangatan Pagi
11
~ Panggilan Mesra Dan Badai Media
12
~ Bantaian Di Hadapan Media
13
~ Bayangan Di Balik Celah
14
~ Badai Skandal Dan Lemparan Fitnah
15
~ Perlindungan Di Tengah Badai
16
~ Bisikan Malam Dan Janji Di Atas Mimbar
17
~ Bukti Di Atas Mimbar Dan Kehancuran Fitnah
18
~ Pengakuan, Pembalasan, Dan Kejutan Tiket Bulan Madu
19
~ Terbang Menuju Pulau Impian
20
~ Malam Penuh Pengakuan di Maldives
21
~ Di Bawah Langit Maldives
22
~ Fajar Pertama Di Maldives
23
~ Kehangatan Pagi Di Maldives
24
~ Kembali ke Jakarta
25
~ Kejutan di Balik Layar Studio
26
~ Integritas dan Perlindungan
27
~ Momen Sepulang Siaran
28
~ Janji di Sisi Peraduan
29
~ Harapan di Tengah Keheningan
30
~ Kejutan Manis
31
~ Bunga dan Duri
32
~ Janji dan Kerinduan
33
~ Kabar dari VIP
34
~ Senyuman Ibu
35
~ Jebakan di Ruang Siar
36
~ Tangan Dingin Adhyastha
37
~ Sempurna di Ujung Fajar
38
~ Kehangatan Kasihsayang
39
~ Langkah Baru Aura
40
~ Bunga Untuk Sang Bintang
41
~ Pelukan di Balik Kabut
42
~ Kado Terindah
43
~ Kehangatan Rumah Adhyastha
44
~ Ngidam
45
~ Detak Jantung Pertama
46
~ Kembali Siaran
47
~ Kehangatan Dua Keluarga
48
~ Demi Buah Hati
49
~ Di Dalam Dekapan Reno
50
~ Senja di Teras Penthouse
51
~ Ruang Penuh Cinta
52
~ Bahagia yang Sempurna
53
~ Kasih Tanpa Batas
54
~ Keajaiban Kecil
55
~ Pesona Sang Anchor
56
~ Pendamping Sang CEO
57
~ Janji Sang Suami
58
~ Kejutan Manis Sang CEO
59
~ Kehangatan Keluarga
60
~ Doa dan Rasa Syukur
61
~ Perhatian Sang CEO
62
~ Bisikan Kasih Sang Ayah
63
~ Detak Jantung Malaikat Kecil
64
~ Kebahagiaan Yang Meluap
65
~ Pesona Sang Ratu
66
~ Kamar Mungil Malaikat Kecil
67
~ Pesona Di Layar Kaca
68
~ Nama Indah Untuk Sang Malaikat
69
~ Kejutan Di Studio Berita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!