Istri Misterius Sang Jenderal

Istri Misterius Sang Jenderal

Bab 1

Di balik tirai kamar di bagian paling belakang kediaman megah keluarga Volans, seorang wanita berambut ungu berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Namanya Arina Volans, putri sulung keluarga itu.

Sejak kecil, Arina telah dikucilkan oleh semua orang di rumah ini. Mereka menjauhinya, menganggapnya tidak pernah ada.

Bagi mereka, Arina hanyalah sampah yang tak memiliki arti. Kebencian itu bahkan membuat mereka berkali-kali mencoba menghabisi nyawanya.

Namun, mana mungkin mereka berhasil?

Arina adalah pedang tajam yang sengaja dibiarkan terkubur dan berkarat demi menyembunyikan rahasia masa lalu.

Sayangnya, mereka lupa bahwa suatu hari nanti pedang itu akan kembali muncul ke permukaan... dan menebas mereka tanpa ampun.

"Arina! Cepat siapkan makan malam! Putra Wali Kota Varendel akan datang malam ini untuk melamar adikmu!"

Suara keras yang arogan dan penuh perintah menggema dari balik pintu. Itu adalah Teresa Palmer, ibu tiri Arina. Dahulu ia hanyalah seorang budak yang dipungut ayahnya, tetapi kini bertindak seolah-olah dirinya adalah nyonya rumah.

"Lakukan saja sendiri," jawab Arina datar.

Ia tahu Teresa akan marah. Namun, ia juga tahu wanita itu tidak akan mampu berbuat apa-apa.

"Itu perintah ayahmu!"

"Kalau begitu suruh dia datang sendiri. Biarkan dia yang mengatakannya langsung kepadaku."

Suara tenang Arina menembus pintu hingga terdengar jelas di telinga Teresa.

Wanita itu mengepalkan tangan. Wajahnya memerah menahan amarah.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang menjauh terdengar di lorong. Teresa akhirnya pergi.

Arina duduk di dekat jendela sampai malam hari, ia bahkan tidak menghadiri makan malam. Biasanya begitu, ia selalu makan sendirian di kamarnya.

Arina merobek sedikit bagian dada gaunnya, memperlihatkan tanda lahir berbentuk bulan sabit berwarna ungu. Cahaya samar memancar dari sana, seolah sepotong alam semesta tertanam di balik kulitnya.

"Sudah lama sekali... kenapa Ibu belum kembali?" gumamnya pelan.

Pikirannya kembali pada saat ia baru berusia empat tahun.

Malam itu, Lunar Mallorca membangunkannya di tengah malam hanya untuk mengucapkan selamat tinggal.

"Ibu harus pergi. Saat kau dewasa nanti, Ibu akan menjemputmu."

Itulah perpisahan paling dingin yang pernah diterima Arina.

Tak ada senyum.

Tak ada pelukan.

Hanya suara datar yang terus teringat hingga kini.

Setelah itu, Lunar melompat keluar melalui jendela, berjalan menuju hutan, lalu menghilang ditelan kegelapan malam.

Dan...

Ia tidak pernah kembali. Semua orang seolah melupakannya. Tidak... mereka bukan lupa. Mereka hanya berpura-pura lupa.

Arina tahu, diam-diam para tetua keluarga masih sering membicarakan ibunya.

Ia pernah mendengar bisikan mereka, menyebut sebuah negeri yang sangat jauh, megah, dan agung.

Lunar telah kembali ke sana. Karena sejak awal, wanita itu memang berasal dari negeri tersebut.

"Kalau memang begitu... kenapa Ibu datang ke sini? Dan kenapa meninggalkan aku dan Ayah?" Tatapan mata biru kehijauan Arina, sebening langit setelah hujan, menatap bulan sabit di langit malam tanpa berkedip.

Tok... tok... tok...

Pintu diketuk tiga kali.

Arina langsung tahu siapa tamunya. Hanya Stella yang selalu mengetuk pintu sebelum masuk.

"Masuk."

Pintu terbuka.

Seorang gadis berusia sembilan belas tahun melangkah masuk dengan anggun. Kulit Stella putih kemerahan, rambutnya hitam panjang, dan mata cokelatnya memancarkan kelembutan.

"Kak Arina."

"Ya." Arina mengangguk pelan.

Ia dan Stella sangat berbeda. Stella adalah pusat perhatian keluarga. Semua orang menyayanginya.

Sedangkan Arina adalah seseorang yang bahkan tak ingin didekati siapa pun.

"Aku akan menikah dengan Arcturus bulan depan," ucap Stella lirih.

"Kudengar dia putra Wali Kota Varendel. Tampan, terpandang, dan memiliki masa depan cerah. Apa yang membuatmu tidak senang?" tanya Arina.

"Aku mencintai Orion."

Arina sedikit terkejut. Nama itu bukan sesuatu yang boleh diucapkan sembarangan.

"Kau tahu siapa dia?" bisik Arina pelan. "Jangan sembarangan menyebut namanya. Dinding bisa mendengar. Jika sampai terdengar oleh orang yang salah, tak seorang pun akan mampu melindungimu."

Stella tersenyum tipis.

"Kami saling mencintai."

Ia menatap kakaknya penuh harap.

"Tidak bisakah kau menggantikanku menikah dengan Arcturus?"

"Kau ingin mengirimku ke ranjang kematian?" Arina menggeleng pelan. "Tak seorang pun bisa menentang keputusan Ayah."

"Tapi kau bisa."

"Aku tidak bisa."

Stella menundukkan kepala.

"Baiklah. Maaf sudah mengganggu malam kakak."

Ia berbalik dan meninggalkan kamar.

Arina memandangi punggung Stella hingga pintu tertutup rapat. Hubungan mereka tidak pernah dipenuhi kasih sayang. Namun, mereka juga tidak pernah saling membenci.

Mereka hanyalah dua saudari yang terikat oleh darah ayah yang sama, tetapi lahir dari ibu yang berbeda.

Setelah kamar kembali sunyi, Arina menutup tirai jendela lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang.

Ia mencoba memejamkan mata.

Namun, wajah seorang pria justru muncul di benaknya. Arina meletakkan telapak tangan di atas dadanya. Ia hanya pernah melihat pria itu beberapa kali, bahkan belum pernah berbicara dengannya.

Akan tetapi, entah mengapa wajah itu masih tersimpan jelas di dalam ingatannya.

...***...

...Like, komen dan vote....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!