Episode 2

Bab 2: Tamparan Kakak

"Angkat, Dik."

Suara Dewi Prasetyo terdengar serak dari pengeras kecil handphone. Di belakang suaranya ada deru kendaraan, napas terburu-buru, dan kepanikan yang ia paksa agar tidak pecah.

Surya menatap layar itu beberapa detik sebelum ibu jarinya bergerak.

"Kak..."

Hanya satu kata. Setelah itu tenggorokannya terkunci.

"Kamu di mana?" tanya Dewi. "Jangan bohong. Lokasi HP kamu berhenti di dekat sungai dari tadi malam. Kakak sudah di Jakarta."

Surya memejamkan mata.

Ternyata kakaknya sudah datang.

Sejak Surya menikah dengan Nadia, Dewi jarang meminta apa pun. Ia tetap tinggal di Solo, bekerja di pabrik, mengirim pesan singkat setiap akhir pekan, dan selalu bertanya apakah Surya makan cukup. Tetapi dulu, setelah handphone Surya pernah hilang di terminal, Dewi memaksa memasang fitur berbagi lokasi.

"Biar kalau kamu kenapa-kenapa, Kakak bisa cari," katanya waktu itu.

Surya pernah menertawakan itu.

Sekarang tawa itu terasa seperti dosa.

"Di bawah jembatan kecil," bisik Surya. "Dekat jalan masuk kompleks."

Telepon langsung mati.

Lima belas menit kemudian, suara langkah terburu-buru memecah pagi yang masih kelabu. Dewi muncul dari ujung trotoar dengan jaket tipis, tas kain pabrik tersampir di bahu, dan wajah pucat karena perjalanan malam. Rambutnya berantakan. Matanya merah.

Ia berhenti ketika melihat Surya.

Adiknya, lulusan hukum UNAIR yang dulu menjadi kebanggaan seluruh kampung, terbaring di beton sungai seperti orang buangan. Celananya kotor. Bibirnya pucat. Di sampingnya ada kantong belanja basah yang isinya sudah rusak.

Dewi berjalan cepat.

PLAK!

Tamparan itu mendarat di pipi Surya.

Suara kerasnya memantul di bawah jembatan.

Surya tidak menghindar. Kepalanya miring, pipinya panas. Namun, rasa sakit itu justru membuat matanya kembali fokus.

"Kamu mau mati di sini?" suara Dewi pecah. "Lalu aku gimana? Aku yang sudah korbankan segalanya supaya kamu bisa kuliah!"

Surya menatap kakaknya.

Dewi mencengkeram kerah bajunya, mengguncangnya sekali. "Jawab, Surya! Kamu pikir hidupmu cuma punya kamu? Kamu pikir kalau kamu hancur, Kakak bisa pulang ke Solo dan kerja seperti biasa?"

Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada tamparan.

Dalam kepala Surya, gambar lama muncul beruntun. Dewi yang masih berseragam SMA, menangis diam-diam di depan kepala sekolah karena harus berhenti. Dewi yang pulang dari pabrik dengan tangan penuh luka kecil karena mesin jahit. Dewi yang menyembunyikan uang lembur di dalam kaleng biskuit supaya Surya bisa membayar biaya kos di Surabaya. Dewi yang tersenyum saat ia diterima di Fakultas Hukum UNAIR, padahal sandal yang dipakainya sudah hampir putus.

"Dik," kata Dewi lebih pelan. Namun, lebih sakit. "Kakak nggak membesarkan kamu supaya kamu kalah di depan orang-orang seperti mereka."

Surya menunduk.

Untuk pertama kalinya sejak semalam, air matanya jatuh.

Bukan karena Nadia.

Karena ia hampir membuang hidup yang dibayar Dewi dengan masa mudanya.

"Nadia selingkuh," katanya.

Dewi membeku.

Surya menarik napas. Suaranya masih parau. Namun, setiap kata mulai menemukan bentuk. Ia menceritakan sepatu laki-laki di depan pintu. Suara dari kamar. Mobil yang hampir menabraknya. Polis asuransi jiwa Rp 5 miliar. Surat persetujuan donor ginjal untuk ayah Nadia.

Makin lama Dewi makin diam.

Di akhir cerita, tangan kakaknya gemetar. Bukan karena takut. Karena marah.

"Kita lapor polisi," katanya.

Surya menggeleng.

"Belum."

"Belum?" Mata Dewi melebar. "Mereka mau bunuh kamu, Dik!"

"Aku tahu." Surya mengusap pipinya yang masih panas. "Tapi yang aku punya sekarang cuma omongan yang aku dengar sendiri dan salinan dokumen yang belum aku pegang. Mereka punya uang, rumah, koneksi, dan alasan untuk bilang aku suami miskin yang stres karena masalah rumah tangga."

Dewi menggigit bibir.

Surya berdiri perlahan. Lututnya hampir menyerah. Namun, ia menahan. Sungai di belakangnya terus mengalir, membawa bau lumpur dan sisa hujan.

"Kalau aku datang ke polisi sekarang tanpa bukti lengkap, mereka akan bersih-bersih. Polis dipindahkan. Surat donor hilang. Orang yang mau menabrakku kabur. Laki-laki itu menghilang." Tatapan Surya berubah dingin. "Aku nggak mau mereka takut. Aku mau mereka yakin aku masih bodoh."

Dewi menatapnya lama.

Ia mengenal adiknya. Surya yang dulu selalu menunduk jika dimarahi orang tua Nadia. Surya yang memilih diam saat dipermalukan di arisan keluarga. Surya yang memasak, mencuci, dan berkata semua baik-baik saja agar Dewi tidak khawatir.

Pria di depannya masih kurus dan basah.

Tetapi matanya berbeda.

"Apa rencanamu?" tanya Dewi.

Surya mengambil kantong belanja itu. Tomat pecah di dalam plastik. Ia menatapnya sebentar, lalu membuangnya ke tempat sampah dekat jembatan.

"Aku pulang."

"Apa?"

"Aku pulang ke rumah Nadia," kata Surya. "Aku minta maaf. Aku pura-pura takut. Aku biarkan mereka berpikir aku masih bisa dikendalikan."

Dewi mencengkeram lengannya. "Itu berbahaya."

"Lebih berbahaya kalau aku lari tanpa bukti." Suara Surya rendah. "Pertama, aku harus tahu semua dokumen mereka. Polis asuransi itu harus diubah. Surat donor itu harus jadi senjata balik. Setelah itu, aku cari rekaman CCTV kompleks. Mobil laki-laki itu pasti pernah masuk."

Dewi menatapnya seperti baru melihat seseorang yang tumbuh di depan matanya.

"Kamu yakin bisa menahan diri?"

Surya terdiam.

Bayangan Nadia dan suara laki-laki itu kembali menusuk kepalanya. Sampah. Bersihkan hidupmu dari sampah itu.

Jari Surya mengepal.

"Aku sudah menahan tiga tahun," katanya. "Sekarang aku menahan untuk menang."

Dewi menarik napas dalam. Lalu ia merapikan kerah baju Surya dengan tangan yang masih gemetar.

"Kalau kamu jatuh lagi, telepon Kakak. Jangan hilang seperti semalam."

Surya mengangguk. "Iya, Kak."

"Dan satu lagi." Dewi menatapnya tajam. "Jangan pernah lagi berpikir hidupmu murah. Bahkan kalau seluruh keluarga Kusuma bilang kamu nggak berharga, buat Kakak, kamu tetap adik yang Kakak besarkan dengan darah sendiri."

Dada Surya sesak.

Ia tidak memeluk Dewi. Kalau ia memeluknya sekarang, ia takut seluruh pertahanan yang baru ia bangun akan runtuh.

Maka ia hanya menunduk.

"Aku akan buat mereka semua berlutut," katanya pelan.

Dewi tidak menjawab.

Tetapi kali ini, ia tidak menamparnya.

Matahari mulai naik ketika Surya kembali ke rumah keluarga Kusuma. Dewi tidak ikut masuk. Ia berdiri di seberang jalan, mengawasi sampai Surya membuka pagar.

Di teras, sepatu laki-laki itu sudah tidak ada.

Nadia muncul dari ruang tamu dengan rambut rapi dan wajah kesal. Seolah semalam tidak terjadi apa-apa. Seolah ia bukan perempuan yang baru saja menghitung harga nyawa suaminya.

"Kamu kemarin ke mana?" bentaknya. "HP ditelepon nggak diangkat. Kamu pikir kamu siapa bikin aku repot?"

Surya menunduk.

"Maaf," katanya.

Nadia menyipitkan mata, puas melihat kepalanya kembali rendah. "Drama banget. Cepat cuci piring. Dapur berantakan dari semalam."

Di meja dekat sofa, Surya melihat map cokelat yang sama. Di sebelahnya ada berkas lain dengan sampul putih.

Perjanjian pranikah.

Dokumen yang dulu dibuat keluarga Kusuma untuk memastikan Surya tidak berhak atas harta apa pun. Dulu, kertas itu adalah rantai di lehernya.

Sekarang, mungkin kertas itu juga bisa menjadi pisau yang membebaskannya dari utang mereka.

Surya berjalan ke dapur.

Air keran menyala. Piring kotor menumpuk. Nadia masih mengomel di ruang tamu, suaranya tajam seperti biasa.

Surya mencuci piring satu per satu.

Kepalanya tetap tertunduk.

Namun di sudut bibirnya, muncul senyum yang sangat tipis.

Itu bukan senyum seorang suami yang menyerah.

Itu senyum pemburu yang baru memilih mangsa pertama.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!