Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Episode 1

Bab 1: Sepatu di Depan Pintu

Ban mobil menjerit di aspal basah.

Surya Prasetyo mundur setengah langkah. Kantong belanja di tangan kirinya terlepas, bawang merah dan cabai rawit berguling ke tepi jalan. Hanya satu detik. Kalau ia melangkah sedikit lebih cepat, bumper hitam mobil itu sudah menghantam lututnya, mungkin dadanya.

Mobil itu tidak berhenti.

Ia hanya melihat plat belakangnya sebentar sebelum kendaraan itu menghilang di tikungan Perumahan Bintaro. Napas Surya tertahan. Jantungnya memukul tulang rusuk seperti hendak keluar.

BRAK!

Sebuah Maserati perak berhenti mendadak tidak jauh darinya. Dari balik kaca gelap, seseorang seolah menatapnya. Tidak lama. Mobil itu hanya diam beberapa detik, lalu melaju pelan, meninggalkan bau rem panas dan rasa dingin di tengkuk Surya.

"Mas, hati-hati kalau nyebrang!" teriak tukang ojek dari warung seberang.

Surya memaksakan senyum. "Iya, Bang. Saya kurang fokus."

Kurang fokus?

Hari ini ulang tahun pernikahannya yang ketiga.

Ia sudah bangun sejak subuh, membersihkan dapur, mencuci baju Nadia, lalu pergi ke pasar untuk membeli bahan makan malam. Nadia bilang ia akan pulang lebih cepat. Surya ingin memasak ayam kecap, sup jagung, dan puding mangga, menu sederhana yang pernah membuat Nadia tersenyum sebelum mereka menikah.

Senyum itu sudah lama hilang.

Tiga tahun tinggal di rumah keluarga Kusuma membuat Surya hafal suara hinaan. Suara piring yang dilempar ke wastafel. Suara Nadia berkata, "Kamu tuh nggak ada apa-apanya tanpa keluarga aku." Suara ayah mertuanya yang paling ia benci, berat dan penuh jijik.

"Lebih baik pelihara anjing, setidaknya dia setia!"

Surya memungut belanjaannya satu per satu. Ia menahan rasa gemetar di jari, lalu berjalan pulang.

Rumah dua lantai keluarga Kusuma terlihat terang dari luar. Lampu teras menyala, tirai ruang tamu tertutup. Sepasang sandal Nadia ada di dekat pintu.

Dan di sebelahnya, ada sepasang sepatu laki-laki.

Sepatu kulit hitam. Mahal. Bukan milik Surya.

Tubuh Surya berhenti.

Ia menatap sepatu itu lama. Ujungnya mengilap, masih basah oleh sisa hujan. Ukurannya lebih besar darinya. Ada aroma parfum maskulin yang asing, tajam, bercampur bau kulit baru.

Surya menelan ludah. Pelan-pelan ia membuka pintu.

Rumah itu tidak terkunci.

Ruang tamu kosong. Pendingin ruangan menyala terlalu dingin. Di meja makan, ada dua gelas wine, satu lipstik merah menempel di bibir gelas. Nadia tidak pernah minum wine bersamanya. Ia selalu bilang minuman seperti itu mubazir kalau hanya diminum bersama suami yang tidak menghasilkan uang.

Dari lantai atas, terdengar suara.

Awalnya samar. Lalu jelas.

Tawa Nadia.

Kemudian suara laki-laki.

Surya berdiri di bawah tangga. Kantong belanja di tangannya menggantung seperti beban mati. Ia ingin memanggil nama istrinya. Namun, tenggorokannya mengering.

"Mas, pelan," suara Nadia terdengar manja, lembut dengan cara yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia pakai pada Surya. "Dia bisa pulang kapan saja."

Laki-laki itu tertawa rendah. "Surya? Laki-laki itu bahkan kalau lihat bayangan sendiri saja takut. Kamu serius masih khawatir sama dia?"

Surya mencengkeram pegangan tangga.

Jari-jarinya memutih.

"Bukan khawatir," kata Nadia. "Aku cuma nggak mau rencana kita berantakan."

Rencana?

Surya naik satu anak tangga. Lalu satu lagi. Ia bergerak tanpa suara, tubuhnya hafal setiap bagian rumah yang selama ini ia bersihkan.

Pintu kamar utama tidak tertutup rapat. Dari celahnya, cahaya kuning lampu tidur jatuh ke koridor. Surya tidak melihat ke dalam. Ia tidak sanggup.

Ia hanya mendengar.

"Tadi orangmu hampir berhasil?" tanya Nadia.

"Hampir," jawab laki-laki itu. "Supirnya bilang Surya mundur mendadak. Ada mobil lain juga yang bikin situasi kacau."

Darah Surya seperti membeku.

Mobil hitam itu.

Maserati perak itu.

"Bodoh," desis Nadia. "Aku sudah capek lihat dia mondar-mandir di rumah ini. Tiga tahun aku tahan hidup sama laki-laki nggak berguna. Papa juga makin parah. Dokter bilang ginjalnya nggak bisa menunggu lama."

"Tenang, Sayang." Suara laki-laki itu tetap santai. "Polis asuransi jiwa lima miliar itu sudah aktif, kan?"

"Sudah. Penerima manfaatnya aku."

Surya hampir kehilangan pijakan.

Polis asuransi jiwa Rp 5 miliar.

Ia ingat dua bulan lalu Nadia memaksanya menandatangani beberapa dokumen. Katanya untuk pengajuan kartu kredit dan administrasi keluarga. Surya tidak banyak bertanya. Sejak menikah, setiap kali ia bertanya, Nadia akan menatapnya seolah ia pembantu yang lupa diri.

"Kalau dia mati karena kecelakaan, uangnya cair," lanjut Nadia. "Setelah itu, aku bisa bayar semua biaya rumah sakit Papa. Sisanya kita mulai hidup baru."

"Dan ginjalnya?"

Nadia tertawa pelan. Suara itu menusuk lebih tajam daripada pecahan kaca.

"Hasil medical check-up kemarin cocok. Dokter bilang peluangnya bagus. Kalau kecelakaan dibuat rapi, donor organ bisa diurus. Surat persetujuan juga sudah aku siapkan. Tinggal cari cara supaya tanda tangannya lengkap."

Surya mundur satu langkah.

Punggungnya menabrak meja kecil di koridor. Sebuah map cokelat hampir jatuh. Ia menahannya dengan refleks.

Map itu terbuka.

Di dalamnya ada salinan polis asuransi. Nama tertanggung: Surya Prasetyo. Uang pertanggungan: Rp 5.000.000.000. Penerima manfaat: Nadia Kusuma.

Di bawahnya, selembar formulir lain.

Surat persetujuan donor ginjal.

Nama pasien: ayah Nadia.

Nama calon donor: Surya Prasetyo.

Tanda tangan calon donor masih kosong.

Surya menatap kertas itu. Matanya perih. Namun, air mata tidak keluar. Ada sesuatu yang lebih dingin dari tangis merayap dari dadanya ke seluruh tubuh.

Mereka tidak hanya mengkhianatinya.

Mereka sedang menghitung harga kematiannya.

"Setelah semuanya selesai," bisik Nadia dari dalam kamar, "kita menikah, ya?"

"Tentu," jawab laki-laki itu. "Tapi bersihkan dulu hidupmu dari sampah itu."

Sampah.

Kata itu menancap.

Surya menutup map dengan tangan gemetar. Ia meletakkannya kembali persis seperti semula. Setiap gerak harus pelan. Setiap napas harus ditahan.

Ia ingin menerobos masuk.

Ia ingin menyeret laki-laki itu keluar.

Ia ingin bertanya kepada Nadia, tiga tahun ini apa artinya. Semua nasi hangat yang ia siapkan. Semua pakaian yang ia cuci. Semua hinaan yang ia telan demi menjaga rumah tangga.

Namun bayangan mobil hitam tadi muncul lagi.

Polis itu.

Surat donor itu.

Kalau ia meledak sekarang, ia hanya memberi mereka alasan untuk menyelesaikan rencana lebih cepat.

Surya turun dari tangga tanpa suara. Ia mengambil kantong belanja yang tadi jatuh di ruang tamu. Cabai rawitnya tercecer. Satu butir tomat pecah, daging merahnya menempel di lantai marmer seperti luka.

Ia menatapnya sebentar.

Lalu ia pergi.

Pintu depan tertutup pelan di belakangnya.

Malam sudah turun. Hujan berubah menjadi gerimis tipis. Surya berjalan tanpa tujuan melewati jalan kompleks, pos satpam, minimarket, lalu trotoar besar menuju sungai. Handphone di sakunya bergetar berkali-kali. Nadia.

Ia tidak mengangkat.

Sekali lagi, layar menyala.

Nadia: Kamu di mana? Jangan bikin masalah. Pulang dan cuci piring.

Surya tertawa.

Suara itu keluar pendek, pecah, seperti benda rusak.

Ia terus berjalan sampai lampu kota memantul di air sungai yang gelap. Di bawah jembatan kecil, bau lumpur dan sampah basah naik bersama angin malam. Surya duduk di tepi beton. Sepatunya basah. Celananya kotor. Kantong belanja ia letakkan di samping, isi makan malam ulang tahun pernikahan mereka sudah tidak berarti apa-apa.

Tiga tahun.

Selama tiga tahun, ia kira sabar adalah bentuk cinta.

Ternyata, di mata Nadia, sabarnya adalah tali yang enak ditarik. Diamnya adalah izin untuk diinjak. Hidupnya adalah uang lima miliar dan sepasang ginjal yang bisa dipakai menyelamatkan ayah orang lain.

"Ya Allah..." bisiknya, nyaris hilang ditelan suara air. "Kalau aku masih harus hidup, tunjukkan jalanku."

Tidak ada jawaban dari langit.

Hanya sungai yang mengalir.

Surya berbaring di beton dingin. Matanya terbuka menatap bagian bawah jembatan. Setiap kali ia memejamkan mata, ia mendengar lagi suara Nadia. Mas. Sayang. Sampah itu.

Menjelang subuh, tubuhnya menggigil. Punggungnya kaku, tenggorokannya kering. Ia tidak tahu apakah ia tidur atau hanya pingsan sebentar.

Handphone-nya kembali bergetar.

Kali ini bukan Nadia.

Ada beberapa panggilan tak terjawab dari nama yang sama sejak tengah malam.

Di layar yang retak oleh lembap, muncul nama yang membuat dada Surya akhirnya sakit seperti ditusuk.

Mbak Dewi.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!