Topeng Sempurna dan Permainan Baru

Suasana koridor fakultas kedokteran Universitas Airlangga Nusantara mendadak senyap seketika. Hawa dingin seolah merambat naik dari lantai marmer putih, membekukan setiap pasang mata yang menyaksikan adegan tegang di depan laboratorium biologi sore itu.

Jessica masih meringis kesakitan. Pergelangan tangannya terasa hampir remuk dalam cengkeraman tangan Revan yang mengeras bagaikan besi. Napas ketua geng penindas kampus itu memburu, wajahnya pucat pasi menatap manik mata cokelat gelap Revan yang menyala tajam penuh ancaman. Tidak ada sisa senyum ramah; yang tersisa hanyalah amarah dingin yang mendominasi.

"R-Revan... lepasin! Ini sakit banget!" rintih Jessica dengan suara bergetar, mencoba menarik tangannya yang terkunci.

Revan sama sekali tidak langsung melepaskan begitu saja. Ia mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Jessica, membuat gadis berpoles makeup tebal itu terpaksa menelan ludah dengan susah payah. Suara Revan rendah, dingin, namun terdengar sangat tajam di telinga siapa pun yang mendengarnya.

"Dengar baik-baik, Jessica," desis Revan penuh penekanan di setiap kata. "Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali untuk tidak membuat keributan di area fakultas ini. Tapi sekarang, kamu berani melewati batas. Kalau sampai ada satu hal aneh lagi yang kamu lakukan pada Nayara... bukan cuma status mahasiswi kamu yang bermasalah di kampus ini, tapi aku sendiri yang bakal pastikan hidupmu tidak tenang."

Brak!

Revan mengempaskan tangan Jessica begitu saja, membuat gadis itu terdorong mundur hingga hampir menabrak dinding dan ditangkap panik oleh teman-teman sekelompoknya. Tanpa membuang waktu sedetik pun untuk melirik Jessica lagi, Revan langsung membalikkan tubuhnya.

Namun, sebelum Revan sempat melangkah mendekat, sesosok remaja berpostur tinggi dengan seragam putih abu-abu yang sedikit berantakan sudah lebih dulu melesat bagai badai.

Bugh!

Sebuah hantaman keras mendarat di sudut rahang Revan. Pemuda itu terdorong ke samping akibat pukulan mendadak yang tidak sempat ia elak. Sudut bibirnya langsung mengeluarkan sedikit darah segar. Kevin, Dito, dan Satya yang baru saja menyusul dari ujung koridor sontak terpekik kaget dan berteriak meneriaki Fathan.

"Woi! Anjir, bocah SMA sialan! Berani banget lu pukul Revan!" geram Kevin, hendak maju mengepalkan tangan, namun langsung dihentikan oleh Revan yang mengangkat satu tangannya dengan tenang sambil mengusap darah di sudut bibirnya.

Fathan berdiri tepat di depan Nayara. Napas remaja SMA itu memburu hebat, dadanya naik turun menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Matanya menatap tajam penuh kebencian kepada Revan, sementara tangannya yang lain merentang lebar seolah menjadi perisai hidup bagi sang kakak.

"Jangan pernah dekati Kakak saya lagi!" teriak Fathan dengan suara bergetar karena emosi yang meluap-luap. Ia menatap Revan tajam, lalu beralih menatap noda merah pekat yang mengotori gamis sage green Nayara. "Kalian semua sama saja! Sok berkuasa, sok hebat, tapi pengecut yang cuma bisa main keroyok dan merendahkan orang lain!"

Nayara, yang sejak tadi terdiam dalam keterkejutan, langsung meraih lengan adiknya dengan lembut. Suaranya terdengar bergetar namun tetap tegas di tengah kekacauan itu. "Fathan... sudah, cukup. Jangan diteruskan. Kita pulang sekarang, kumohon."

Fathan menoleh, melihat kilatan air mata yang ditahan di balik bulu mata lentik kakaknya. Hati remaja itu seperti diiris sembilu. Tanpa memperdulikan Revan yang masih berdiri memegang sudut bibirnya yang terluka, Fathan melepas jaket bomber hitam miliknya, lalu memakaikannya ke tubuh Nayara untuk menutupi noda jus berry yang merusak pakaian kesayangan kakaknya itu.

"Ayo, Kak. Kita pulang ke rumah. Abah sama Ummi harus tahu apa yang terjadi di tempat sampah ini," ucap Fathan ketus, lalu menuntun langkah Nayara meninggalkan koridor tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.

Revan berdiri tegak di tempatnya. Ia mengusap pelan sudut bibirnya yang berdarah dengan ibu jari. Alih-alih merasa jera atau bertobat, sudut bibirnya justru tertarik membentuk sebuah seringai tipis yang sulit ditebak. Bagi Revan, insiden ini justru semakin membumbui permainan yang sedang ia jalani. Sifat keras kepala dan dunianya yang bebas sama sekali tidak luntur hanya karena sebuah teguran keras atau pukulan remaja SMA.

Di sisi lain, Jessica dan gengnya memanfaatkan momen keheningan itu untuk kabur meninggalkan area kejadian dengan langkah gemetar dan rasa malu yang luar biasa, menyisakan bisik-bisik ketakutan dari para mahasiswa lain yang menonton dari kejauhan.

Malam harinya, di dalam kamar minimalis berlantai kayu jati di kompleks Pesantren Al-Hikmah, suasana terasa jauh lebih tenang namun menyimpan ketegangan tersendiri.

Nayara duduk bersimpuh di atas sajadah usai melaksanakan salat Isya. Air matanya akhirnya tumpah tanpa bisa ditahan lagi. Di hadapan Sang Pencipta, ia menumpahkan segala bentuk rasa sesak, lelah, dan kebingungan yang melanda hatinya hari itu. Sebagai gadis yang selalu dibesarkan dalam lindungan kasih sayang penuh dan aturan agama yang mulia, dunia luar kampus yang penuh intrik, taruhan, dan kebencian terasa begitu melelahkan untuk dihadapi seorang diri.

Tok! Tok! Tok!

Pintu kamar diketuk perlahan. Sebelum Nayara sempat menjawab, pintu terbuka dan menampakkan sosok Fathan yang membawa segelas air hangat di atas nampan kecil. Wajah sang adik sudah jauh lebih tenang, meski sisa-sisa kemarahan masih tampak jelas di garis wajahnya.

Fathan berjalan mendekat, lalu berlutut di sebelah sajadah kakaknya. Ia menyodorkan segelas air hangat tersebut dengan gestur yang sangat lembut sangat kontras dengan perangainya yang garang di luar rumah tadi.

"Minum dulu, Kak. Tenggorokan Kakak pasti kering habis nangis seharian," bujuk Fathan pelan, suaranya terdengar begitu menyayangi kakaknya.

Nayara menerima gelas itu dengan tangan bergetar, meneguk sedikit airnya, lalu meletakkan gelas di atas meja nakas. Ia menatap adiknya dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Fathan... kenapa tadi kamu nekat banget pukul Kak Revan? Kalau tadi dia membalas bagaimana? Kamu bisa terluka."

Mendengar itu, Fathan mendengus kecil, menaikkan sebelah alisnya dengan gaya khas remaja SMA yang keras kepala. "Biarin saja! Kalau perlu tadi Fathan patahin tangannya sekalian. Siapa suruh dia bikin Kakak menangis? Siapa suruh cowok sok kegantengan itu bikin hidup Kakak jadi tidak tenang semenjak masuk universitas?"

Nayara menggelengkan kepala pelan, mengusap puncak kepala adiknya dengan penuh kasih sayang. "Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, Fathan. Abah selalu mengajarkan kita untuk menghadapi kezaliman dengan kesabaran dan doa, bukan dengan balasan tinju."

"Tapi Fathan nggak sanggup, Kak. Fathan di rumah dipercaya Abah buat menjaga Kakak. Kalau di luar rumah Kakak disakiti kayak tadi, harga diri Fathan sebagai adik hancur rasanya," balas Fathan dengan mata yang mulai berkaca-kaca, menunjukkan sisi manja dan rapuhnya di hadapan sang kakak tercinta.

Nayara menarik Fathan ke dalam pelukannya. Di dalam dekapan hangat sang kakak, pertahanan remaja SMA itu runtuh seketika. Fathan menyembunyikan wajahnya di bahu Nayara, membiarkan kakaknya mengelus punggungnya dengan lembut hingga ketegangan di tubuh mereka berdua perlahan mencair.

Sementara itu, di tempat yang sangat berbeda sebuah penthouse mewah berlantai tinggi yang dikelilingi dinding kaca dengan pemandangan lampu kota metropolis Revan duduk santai di atas sofa kulit hitam bergaya minimalis. Di hadapannya, beberapa botol minuman tersusun rapi, ditemani oleh Kevin dan Dito yang sedang membicarakan kejadian sore tadi sambil tertawa kecil.

"Sumpah, Rev, muka lu tadi pas dipukul sama adik bocah itu kocak banget tapi tetep songong," tawa Kevin sambil meneguk minumannya. "Tapi seriusan, lu kenapa nggak bales pukul? Biasanya juga paling pantang diserang duluan."

Revan menyandarkan punggungnya, menyesap minuman di gelasnya dengan santai. Matanya menatap tajam ke arah luar jendela kaca. "Buat apa gue pukul balik bocah SMA di depan Nayara? Yang ada citra gue makin jelek di mata dia. Lagian... permainan ini baru benar-benar dimulai."

Dito mengernyitkan dahi. "Maksud lu? Taruhan itu kan udah lu batalkan di depan kita minggu lalu?"

Revan tersenyum miring, seringai khas seorang playboy ulung yang sama sekali tidak pernah berubah. Prinsip hidupnya tetap sama: kebebasan adalah segalanya, dan wanita adalah babak hiburan yang tidak pernah membosankan. Keyakinan agamanya sebagai seorang penganut Kristen yang taat beribadah setiap hari minggu tetap ia jalankan secara rutin demi menenangkan hati nuraninya, namun hal itu tidak pernah sedikit pun menghalangi gaya hidup bebas dan hobi mempermainkan wanita di luar hari Minggu. Bagi Revan, agama adalah ritual hari Minggu, sedangkan dunia malam dan taruhan adalah dunianya yang nyata.

"Gue cuma bilang di depan kalian kalau taruhan itu dibatalkan supaya kalian nggak banyak komentar," ujar Revan dingin, suaranya penuh percaya diri. "Tapi berhenti mendekati Nayara? Yang benar saja. Tantangan itu justru makin menarik setelah kejadian sore tadi. Cewek sok suci kayak dia cuma butuh sedikit sentuhan kesabaran ekstra sebelum akhirnya jatuh ke pelukan gue dan jadi koleksi nomor lima belas."

Kevin dan Dito saling berpandangan, lalu tertawa keras mendengar ambisi sahabat mereka. Sifat asli Revan sebagai bad boy sejati sama sekali tidak melunak; ia justru semakin tertantang untuk menaklukkan benteng pertahanan anak kiai besar tersebut demi memuaskan egonya sendiri.

Keesokan paginya, matahari kembali terbit dengan sinarnya yang hangat, menyinari dua dunia yang berbeda dunia pesantren yang damai dengan gema ayat suci, dan dunia perkuliahan modern yang penuh dinamika.

Nayara melangkah turun dari mobil jemputannya dengan gamis baru berwarna biru pastel yang bersih dan anggun. Wajahnya tetap tenang, meski ia tahu bayang-bayang kejadian kemarin masih membekas di ingatannya. Alya langsung menyambutnya di depan gerbang dengan senyum lebar, merangkul lengannya erat-erat untuk memberikan dukungan penuh.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Begitu mereka melangkah masuk ke area koridor utama fakultas, sebuah pemandangan yang sudah sangat tidak asing kembali terlihat.

Disandarkan pada kap mobil sport hitam miliknya, Revan berdiri dengan postur sempurna. Mengenakan jaket kulit hitam dipadukan kaos putih polos, pemuda itu tampak sangat mencolok. Sudut bibirnya yang sedikit membiru akibat pukulan Fathan kemarin justru menambah kesan bad boy yang berbahaya dan memikat bagi sebagian besar mahasiswi yang lewat.

Begitu melihat sosok Nayara berjalan mendekat, Revan langsung menegakkan tubuhnya. Ia berjalan menghalang jalur langkah Nayara dengan senyum miring tersungging di bibirnya menunjukkan secara nyata bahwa ancaman kemarin sama sekali tidak membuat nyalinya ciut atau menghentikan niatnya.

Nayara menghentikan langkahnya seketika. Wajahnya berubah dingin, tatapannya menyiratkan kekecewaan mendalam bercampur rasa jijik melihat ketidakpedulian pemuda di hadapannya itu.

"Mau apa lagi kamu, Revan?" suara Nayara terdengar tajam, dingin, tanpa ada kelembutan sedikit pun yang ia tunjukkan sebelumnya. "Belum puaskah kamu membuat keributan dan mempermalukan saya kemarin?"

Revan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana jeansnya, menatap manik mata Nayara lekat-lekat dengan tatapan penuh pesona yang biasa ia gunakan untuk melumpuhkan mangsanya. "Aku cuma mau memastikan kalau bidadari galak ini baik-baik saja setelah kejadian kemarin. Soal keributan itu... bukan salahku kalau ada orang yang nggak tahu aturan nyari masalah duluan."

"Orang yang tidak tahu aturan itu adalah kamu!" tukas Nayara cepat, suaranya sedikit meninggi karena emosi yang tertahan. "Kamu dan seluruh permainan bodohmu adalah sumber dari semua masalah ini! Tolong, hargai diri saya dan hidup saya. Jangan pernah temui atau ganggu saya lagi!"

Setelah mengucapkan kalimat itu dengan penuh ketegasan, Nayara memutar tubuhnya, menarik tangan Alya untuk segera berjalan melebihi Revan menuju ruang kuliah, meninggalkan pemuda itu berdiri seorang diri di tengah koridor.

Revan tidak mengejar. Ia hanya diam berdiri sambil memperhatikan punggung Nayara yang menjauh dengan langkah cepat. Alih-alih merasa sakit hati atau mundur, sudut bibir Revan justru semakin terangkat lebar.

"Semakin kamu menolak, semakin aku penasaran untuk meruntuhkan tembok itu, Nayara," gumam Revan pelan pada dirinya sendiri, sementara di dalam dadanya, permainan penuh tipu daya itu terus berlanjut tanpa ada niat sedikit pun bagi sang bad boy untuk benar-benar berubah.

Episodes
1 Gema Tasbih dan Deru Mesin Sport
2 Topeng Sempurna dan Permainan Baru
3 Sisi Lain Sang Bidadari
4 Hari Minggu, Pasar Tradisional, dan Tamu di Balik Tembok Pesantren
5 Titik Temu di Bawah Kubah Langit Pesantren
6 Sisi Tersembunyi di Balik Dinding Panti Asuhan
7 Harmoni di Bawah Naungan Kasih
8 Melodi Rintik Hujan dan Batas Semesta
9 BARA CEMBURU DI BALIK KACA JENDELA
10 Bayangan Hitam di Lorong Sepi
11 Pelukan di Tengah Badai dan Tatapan Seribu Makna
12 Badai di Ruang Tamu Ndalem
13 Jalan Hidayah di Balik Badai Skandal
14 Pelukan Persahabatan di Tengah Badai Hijrah
15 Ikrar Suci di Bawah Lindungan Langit Pesantren
16 Sandiwara di Kampus dan Getaran Cemburu yang Tertahan
17 Alunan Kalam Ilahi di Balik Malam yang Tenang
18 Bayangan Kelam di Balik Hangatnya Pelukan
19 Embun Pagi dan Hangatnya Ampunan di Ujung Malam
20 Tabir yang Nyaris Robek dan Pengakuan di Balik Pagar Pesantren
21 Kejutan di Koridor Fakultas dan Badai yang Datang Kembali
22 Badai Kebenaran dan Benteng Terakhir di Kampus
23 Di Balik Pintu Ruangan Dekan dan Badai Birokrasi Kampus
24 24: Luka Lama yang Bernanah dan Bayangan Gelap di Parkiran Basement
25 Malam yang Disucikan dalam Pelukan Rida dan Cinta
26 Fajar Baru di Kampus dan Babak Hidup yang Sesungguhnya
27 Langkah Awal di Rumah Sakit dan Ujian Kesabaran Baru
28 Malam Penuh Air Mata Haru dan Keputusan Besar di Ujung Senja
29 Lembaran Baru di Kota Pahlawan dan Kejutan di Klinik Utama
30 Garis Dua di Balik Pintu Kamar Mandi dan Kejutan Pagi
31 Suami Siaga, Pesta Gender Reveal, dan Bunga-Bunga Bahagia
32 Kontraksi di Senja Hari dan Kepanikan di Ruang Bersalin
33 DETIK-DETIK MENCEKAM DI GRAHA FAMILI DAN TANGISAN PERTAMA DI RUANG NICU
34 PERJUANGAN DI BALIK KACA STERIL DAN IKATAN HATI DI RUANG NICU
35 HEMBUSAN NAPAS PERTAMA DI LUAR INKUBATOR DAN PELUKAN HANGAT SANG AYAH
36 KEPULANGAN SANG PEJUANG KECIL DAN KEHANGATAN PERTAMA DI GRAHA FAMILI
37 PAGI PENUH CAHAYA DAN CELOTEH PERTAMA DI GRAHA FAMILI
38 SIMFONI SORE DI TAMAN BELAKANG DAN CELOTEH SANG PEWARIS AL-GIBRAN
39 ENAM BULAN PENUH WARNA DAN TAWA RIANG DI GRAHA FAMILI
40 LANGKAH PERTAMA SANG PEWARIS DAN SENJA TERINDAH DI GRAHA FAMILI
41 KEDATANGAN ABAH, AROMA TANAH BASAH, DAN BERKAH DI GRAHA FAMILI
42 LANGKAH KECIL MENUJU DUNIA BARU DAN KEHANGATAN KELUARGA DI GRAHA FAMILI
43 LANGKAH PERTAMA YANG MENGGUNCANG DUNIA KECIL GRAHA FAMILI
44 SIMFONI PENGUJUNG TAHUN DAN DETIK-DETIK MENUJU SEMBILAN BULAN
45 FAJAR PERDANA TAHUN BARU DAN LANGKAH TEGAP SANG PEWARIS
Episodes

Updated 45 Episodes

1
Gema Tasbih dan Deru Mesin Sport
2
Topeng Sempurna dan Permainan Baru
3
Sisi Lain Sang Bidadari
4
Hari Minggu, Pasar Tradisional, dan Tamu di Balik Tembok Pesantren
5
Titik Temu di Bawah Kubah Langit Pesantren
6
Sisi Tersembunyi di Balik Dinding Panti Asuhan
7
Harmoni di Bawah Naungan Kasih
8
Melodi Rintik Hujan dan Batas Semesta
9
BARA CEMBURU DI BALIK KACA JENDELA
10
Bayangan Hitam di Lorong Sepi
11
Pelukan di Tengah Badai dan Tatapan Seribu Makna
12
Badai di Ruang Tamu Ndalem
13
Jalan Hidayah di Balik Badai Skandal
14
Pelukan Persahabatan di Tengah Badai Hijrah
15
Ikrar Suci di Bawah Lindungan Langit Pesantren
16
Sandiwara di Kampus dan Getaran Cemburu yang Tertahan
17
Alunan Kalam Ilahi di Balik Malam yang Tenang
18
Bayangan Kelam di Balik Hangatnya Pelukan
19
Embun Pagi dan Hangatnya Ampunan di Ujung Malam
20
Tabir yang Nyaris Robek dan Pengakuan di Balik Pagar Pesantren
21
Kejutan di Koridor Fakultas dan Badai yang Datang Kembali
22
Badai Kebenaran dan Benteng Terakhir di Kampus
23
Di Balik Pintu Ruangan Dekan dan Badai Birokrasi Kampus
24
24: Luka Lama yang Bernanah dan Bayangan Gelap di Parkiran Basement
25
Malam yang Disucikan dalam Pelukan Rida dan Cinta
26
Fajar Baru di Kampus dan Babak Hidup yang Sesungguhnya
27
Langkah Awal di Rumah Sakit dan Ujian Kesabaran Baru
28
Malam Penuh Air Mata Haru dan Keputusan Besar di Ujung Senja
29
Lembaran Baru di Kota Pahlawan dan Kejutan di Klinik Utama
30
Garis Dua di Balik Pintu Kamar Mandi dan Kejutan Pagi
31
Suami Siaga, Pesta Gender Reveal, dan Bunga-Bunga Bahagia
32
Kontraksi di Senja Hari dan Kepanikan di Ruang Bersalin
33
DETIK-DETIK MENCEKAM DI GRAHA FAMILI DAN TANGISAN PERTAMA DI RUANG NICU
34
PERJUANGAN DI BALIK KACA STERIL DAN IKATAN HATI DI RUANG NICU
35
HEMBUSAN NAPAS PERTAMA DI LUAR INKUBATOR DAN PELUKAN HANGAT SANG AYAH
36
KEPULANGAN SANG PEJUANG KECIL DAN KEHANGATAN PERTAMA DI GRAHA FAMILI
37
PAGI PENUH CAHAYA DAN CELOTEH PERTAMA DI GRAHA FAMILI
38
SIMFONI SORE DI TAMAN BELAKANG DAN CELOTEH SANG PEWARIS AL-GIBRAN
39
ENAM BULAN PENUH WARNA DAN TAWA RIANG DI GRAHA FAMILI
40
LANGKAH PERTAMA SANG PEWARIS DAN SENJA TERINDAH DI GRAHA FAMILI
41
KEDATANGAN ABAH, AROMA TANAH BASAH, DAN BERKAH DI GRAHA FAMILI
42
LANGKAH KECIL MENUJU DUNIA BARU DAN KEHANGATAN KELUARGA DI GRAHA FAMILI
43
LANGKAH PERTAMA YANG MENGGUNCANG DUNIA KECIL GRAHA FAMILI
44
SIMFONI PENGUJUNG TAHUN DAN DETIK-DETIK MENUJU SEMBILAN BULAN
45
FAJAR PERDANA TAHUN BARU DAN LANGKAH TEGAP SANG PEWARIS

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!