Sisi Lain Sang Bidadari

Matahari perlahan mulai tergelincir ke barat, memantulkan cahaya jingga kemerahan di atas langit kota metropolitan yang sibuk. Jam perkuliahan di Universitas Airlangga Nusantara akhirnya selesai. Sebagian besar mahasiswa berhamburan keluar gerbang, menuju parkiran, atau sekadar nongkrong di kafe-kafe hipster sekitar kampus untuk menghabiskan sisa sore.

Bagi Nayara Zayna Az-Zahra, sore hari bukanlah waktunya untuk bersantai atau menikmati obrolan kosong. Usai membereskan buku-buku kedokteran ke dalam tas ranselnya, ia berjalan berdampingan dengan Alya menuju halte bus di seberang kampus.

"Nay, kamu yakin nggak mau ikut aku dulu ke kafe depan? Nyobain menu baru matcha latte di sana enak banget lho, buat ilangin stres abis kuis anatomi tadi," ajak Alya sambil merapikan tali tasnya.

Nayara tersenyum lembut, menggeleng pelan. "Makasih ajakannya, Alya. Tapi aku harus buru-buru. Sudah janji sama anak-anak di kolong jembatan veteran sore ini. Kasihan mereka sudah nunggu jadwal ngaji mingguan."

Alya menghela napas pasrah, meski ada binar kekaguman yang mendalam di matanya. "Duh, bidadari pesantren satu ini emang paling bisa bikin aku kagum. Ya udah deh, hati-hati ya, Nay. Salam buat anak-anak di sana!"

"Iya, Alya. Hati-hati juga di jalan," balas Nayara melambaikan tangan sebelum akhirnya ia menaiki angkutan umum yang membawanya menuju kawasan pinggiran kota.

Di tempat terpisah, Revan sedang duduk di dalam jok kulit lamborghini hitam miliknya bersama Kevin dan Dito. Mereka baru saja keluar dari area parkir kampus ketika Revan tidak sengaja melihat sosok bergamis biru pastel yang sangat ia kenal menaiki sebuah angkutan umum.

"Eh, tunggu sebentar," gumam Revan pelan, keningnya mengernyit.

"Kenapa, Rev? Mau ngekorin cewek gal itu lagi?" tanya Kevin meledek sambil menyesap minuman kaleng di tangan.

Tanpa mengindahkan ucapan temannya, Revan justru memutar kemudi kendaraannya secara perlahan, mengikuti jalur angkutan umum yang dinaiki Nayara dari jarak yang aman. Ada rasa penasaran yang menggelitik di benaknya; ke mana perginya gadis itu setiap kali jam kuliah usai, di saat mahasiswi lain sibuk menghabiskan waktu di mal atau tempat hiburan mewah?

Setelah berkendara sekitar dua puluh menit melewati jalanan kota yang mulai padat dan bising, angkutan umum itu berhenti di dekat sebuah kawasan padat penduduk di bawah jembatan layang. Area tersebut jauh dari kata bersih dihiasi oleh deretan bangunan semi-permanen dari kardus dan seng, debu jalanan yang mengepul, serta suara riuh kendaraan di atas jembatan.

Revan memarkirkan mobil mewahnya agak jauh di pinggir ruko kosong, lalu bersama Kevin dan Dito yang terpaksa mengekor dengan rasa bingung, ia berjalan mengendap-endap mendekati area bawah jembatan tersebut.

"Anjir, Rev. Kita dibawa ke sarang apa ini? Bau banget, debu di mana-mana. Kotor jas kulit gue," protes Dito sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka.

"Diam dan lihat ke sana," potong Revan tajam, dagunya menunjuk ke arah sudut lapangan kecil di dekat pilar jembatan.

Dari balik tembok pembatas beton yang agak tinggi, ketiganya tertegun.

Nayara terlihat sudah melepas tas ranselnya. Ia duduk bersila di atas sebuah tikar plastik sederhana yang digelar di atas tanah. Di hadapannya, belasan anak-anak jalanan berpakain kusam, berwajah dekil, dan bertelanjang kaki duduk mengelilinginya dengan mata berbinar penuh antusias. Di sebelah Nayara, tersusun rapi beberapa kotak makanan siap saji dan termos air hangat.

"Anak-anak, sebelum kita mulai belajar Iqra' dan membaca Al-Qur'an hari ini, kita makan dulu ya. Jangan berebut, semua kebagian," ucap suara Nayara terdengar sangat lembut, manis, dan menyejukkan di tengah bisingnya suara kendaraan di atas mereka.

Gadis itu dengan telaten membagikan satu per satu kotak makanan kepada anak-anak jalanan tersebut. Tidak ada rasa jijik atau canggung di wajahnya. Ia bahkan menyuapi seorang anak balita berkaos robek yang tampak kelaparan dengan senyuman tulus yang begitu memesona.

Setelah makan bersama usai, Nayara mengeluarkan beberapa buku Iqra' kecil dan Al-Qur'an saku dari tasnya. Dengan sabar, ia menuntun anak-anak jalanan itu mengeja huruf hijaiyah satu per satu. Suara Nayara yang merdu melafalkan ayat-ayat suci berpadu dengan suara polos anak-anak mengikuti bacaannya, menciptakan sebuah simfoni kedamaian yang terasa sangat kontras dengan dunia luar yang keras dan kejam.

Revan berdiri terpaku di balik tembok beton. Matanya tidak beralih sedikit pun dari sosok Nayara.

Selama ini, dunia Revan dipenuhi oleh wanita-wanita dari kalangan elit yang hanya peduli pada penampilan fisik, merek tas mewah, pesta malam, gosip murahan, dan cara memikat perhatiannya dengan kepalsuan. Tidak pernah sekalipun dalam hidupnya ia melihat seorang wanita muda berpendidikan tinggi, anak seorang ulama besar, yang dengan kerendahan hati yang luar biasa mau duduk di tanah berdebu, berbagi makanan, dan mengajar anak-anak kurang beruntung tanpa pamrih sedikit pun.

Degup jantung Revan berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ada rasa hangat yang asing menjalar di dadanya—sebuah perasaan kagum yang belum pernah ia rasakan terhadap wanita mana pun sebelumnya.

"Wah... sumpah, Rev. Cewek itu... dia beda banget ya," bisik Kevin pelan, suaranya kehilangan nada mengejek yang biasa ia lontarkan. "Dia bukan cuma cantik di luar, tapi... gila, hatinya mulia banget. Kalau gue jadi dia, jangankan ngajar anak gembel kayak gitu, keinjak debu aja udah ngomel seharian."

Dito mengangguk setuju. "Iya sih. Pantesan lu dari kemarin penasaran setengah mati sama dia. Aura cewek itu emang beda level sama mantan-mantan lu yang tukang drama, Rev."

Revan tidak menjawab ucapan teman-temannya. Tatapannya masih terkunci pada sosok Nayara yang sedang tertawa manis saat salah satu anak kecil salah mengeja huruf ‘Ain. Senyuman itu—senyuman yang tidak pernah ia dapatkan selama mendekati gadis tersebut—terasa begitu mahal dan meneduhkan jiwa.

Untuk sekian detik, benteng ego dan prinsip hidup seorang bad boy bernama Revan Al-Gibran seakan diuji oleh ketulusan yang terpancar dari diri Nayara. Namun, sisi keras kepalanya segera bangkit kembali. Alih-alih merasa kecil hati atau tersadar untuk langsung bertobat, Revan justru menyeringai tipis.

Nayara... kamu benar-benar perempuan paling unik yang pernah ada di muka bumi ini. Dan aku semakin ingin memiliki seluruh perhatianmu, batin Revan dalam hati.

Waktu terus berjalan hingga senja berganti malam. Kegiatan belajar mengajar di bawah jembatan itu selesai ditutup dengan doa bersama dan pelukan hangat dari anak-anak jalanan kepada Nayara. Setelah merapikan perlengkapannya, Nayara berpamitan dan berjalan sendirian menuju jalan raya untuk mencari angkutan umum pulang ke pesantren.

Tanpa Nayara sadari, mobil lamborghini hitam milik Revan perlahan melaju pelan mengikuti dari belakang dengan lampu utama yang dipadamkan agar tidak mencolok, memastikan gadis itu mendapatkan perjalanan pulangnya dengan aman tanpa gangguan dari preman-preman sekitar kawasan kumuh tersebut.

Sesampainya di gerbang Pesantren Al-Hikmah, Nayara turun dari angkutan umum, mengucapkan salam kepada penjaga pos, lalu melangkah masuk dengan perasaan tenang.

Malam itu, di dalam kamarnya yang sunyi, Nayara merebahkan diri sejenak di atas tempat tidur usai menunaikan salat Isya. Ia merasa lelah, namun hatinya dipenuhi oleh kebahagiaan batin yang luar biasa.

Sementara di tempat lain, di dalam penthouse mewahnya, Revan berdiri di depan dinding kaca besar menatap gemerlap lampu kota. Gelas wiski di tangannya digoyang-goyangkan pelan, namun cairan di dalam gelas itu sama sekali tidak ia teguk. Bayangan wajah Nayara yang tersenyum tulus di tengah debu jalanan terus berkelebat di dalam kepalanya, menciptakan perang batin yang hebat di dalam dada seorang pemuda yang terbiasa hidup dalam kebebasan tanpa aturan.

Permainan ini telah berubah wujud. Ini bukan lagi sekadar taruhan egois atau sekadar ambisi seorang playboy untuk menambah daftar koleksi mantannya menjadi lima belas. Ini telah menjadi sebuah obsesi baru sebuah ketertarikan berbahaya antara dunia kegelapan sang bad boy dan cahaya suci sang bidadari pesantren yang siap meledak dalam liku-liku takdir yang semakin rumit.

Episodes
1 Gema Tasbih dan Deru Mesin Sport
2 Topeng Sempurna dan Permainan Baru
3 Sisi Lain Sang Bidadari
4 Hari Minggu, Pasar Tradisional, dan Tamu di Balik Tembok Pesantren
5 Titik Temu di Bawah Kubah Langit Pesantren
6 Sisi Tersembunyi di Balik Dinding Panti Asuhan
7 Harmoni di Bawah Naungan Kasih
8 Melodi Rintik Hujan dan Batas Semesta
9 BARA CEMBURU DI BALIK KACA JENDELA
10 Bayangan Hitam di Lorong Sepi
11 Pelukan di Tengah Badai dan Tatapan Seribu Makna
12 Badai di Ruang Tamu Ndalem
13 Jalan Hidayah di Balik Badai Skandal
14 Pelukan Persahabatan di Tengah Badai Hijrah
15 Ikrar Suci di Bawah Lindungan Langit Pesantren
16 Sandiwara di Kampus dan Getaran Cemburu yang Tertahan
17 Alunan Kalam Ilahi di Balik Malam yang Tenang
18 Bayangan Kelam di Balik Hangatnya Pelukan
19 Embun Pagi dan Hangatnya Ampunan di Ujung Malam
20 Tabir yang Nyaris Robek dan Pengakuan di Balik Pagar Pesantren
21 Kejutan di Koridor Fakultas dan Badai yang Datang Kembali
22 Badai Kebenaran dan Benteng Terakhir di Kampus
23 Di Balik Pintu Ruangan Dekan dan Badai Birokrasi Kampus
24 24: Luka Lama yang Bernanah dan Bayangan Gelap di Parkiran Basement
25 Malam yang Disucikan dalam Pelukan Rida dan Cinta
26 Fajar Baru di Kampus dan Babak Hidup yang Sesungguhnya
27 Langkah Awal di Rumah Sakit dan Ujian Kesabaran Baru
28 Malam Penuh Air Mata Haru dan Keputusan Besar di Ujung Senja
29 Lembaran Baru di Kota Pahlawan dan Kejutan di Klinik Utama
30 Garis Dua di Balik Pintu Kamar Mandi dan Kejutan Pagi
31 Suami Siaga, Pesta Gender Reveal, dan Bunga-Bunga Bahagia
32 Kontraksi di Senja Hari dan Kepanikan di Ruang Bersalin
33 DETIK-DETIK MENCEKAM DI GRAHA FAMILI DAN TANGISAN PERTAMA DI RUANG NICU
34 PERJUANGAN DI BALIK KACA STERIL DAN IKATAN HATI DI RUANG NICU
35 HEMBUSAN NAPAS PERTAMA DI LUAR INKUBATOR DAN PELUKAN HANGAT SANG AYAH
36 KEPULANGAN SANG PEJUANG KECIL DAN KEHANGATAN PERTAMA DI GRAHA FAMILI
37 PAGI PENUH CAHAYA DAN CELOTEH PERTAMA DI GRAHA FAMILI
38 SIMFONI SORE DI TAMAN BELAKANG DAN CELOTEH SANG PEWARIS AL-GIBRAN
39 ENAM BULAN PENUH WARNA DAN TAWA RIANG DI GRAHA FAMILI
40 LANGKAH PERTAMA SANG PEWARIS DAN SENJA TERINDAH DI GRAHA FAMILI
41 KEDATANGAN ABAH, AROMA TANAH BASAH, DAN BERKAH DI GRAHA FAMILI
42 LANGKAH KECIL MENUJU DUNIA BARU DAN KEHANGATAN KELUARGA DI GRAHA FAMILI
43 LANGKAH PERTAMA YANG MENGGUNCANG DUNIA KECIL GRAHA FAMILI
44 SIMFONI PENGUJUNG TAHUN DAN DETIK-DETIK MENUJU SEMBILAN BULAN
45 FAJAR PERDANA TAHUN BARU DAN LANGKAH TEGAP SANG PEWARIS
Episodes

Updated 45 Episodes

1
Gema Tasbih dan Deru Mesin Sport
2
Topeng Sempurna dan Permainan Baru
3
Sisi Lain Sang Bidadari
4
Hari Minggu, Pasar Tradisional, dan Tamu di Balik Tembok Pesantren
5
Titik Temu di Bawah Kubah Langit Pesantren
6
Sisi Tersembunyi di Balik Dinding Panti Asuhan
7
Harmoni di Bawah Naungan Kasih
8
Melodi Rintik Hujan dan Batas Semesta
9
BARA CEMBURU DI BALIK KACA JENDELA
10
Bayangan Hitam di Lorong Sepi
11
Pelukan di Tengah Badai dan Tatapan Seribu Makna
12
Badai di Ruang Tamu Ndalem
13
Jalan Hidayah di Balik Badai Skandal
14
Pelukan Persahabatan di Tengah Badai Hijrah
15
Ikrar Suci di Bawah Lindungan Langit Pesantren
16
Sandiwara di Kampus dan Getaran Cemburu yang Tertahan
17
Alunan Kalam Ilahi di Balik Malam yang Tenang
18
Bayangan Kelam di Balik Hangatnya Pelukan
19
Embun Pagi dan Hangatnya Ampunan di Ujung Malam
20
Tabir yang Nyaris Robek dan Pengakuan di Balik Pagar Pesantren
21
Kejutan di Koridor Fakultas dan Badai yang Datang Kembali
22
Badai Kebenaran dan Benteng Terakhir di Kampus
23
Di Balik Pintu Ruangan Dekan dan Badai Birokrasi Kampus
24
24: Luka Lama yang Bernanah dan Bayangan Gelap di Parkiran Basement
25
Malam yang Disucikan dalam Pelukan Rida dan Cinta
26
Fajar Baru di Kampus dan Babak Hidup yang Sesungguhnya
27
Langkah Awal di Rumah Sakit dan Ujian Kesabaran Baru
28
Malam Penuh Air Mata Haru dan Keputusan Besar di Ujung Senja
29
Lembaran Baru di Kota Pahlawan dan Kejutan di Klinik Utama
30
Garis Dua di Balik Pintu Kamar Mandi dan Kejutan Pagi
31
Suami Siaga, Pesta Gender Reveal, dan Bunga-Bunga Bahagia
32
Kontraksi di Senja Hari dan Kepanikan di Ruang Bersalin
33
DETIK-DETIK MENCEKAM DI GRAHA FAMILI DAN TANGISAN PERTAMA DI RUANG NICU
34
PERJUANGAN DI BALIK KACA STERIL DAN IKATAN HATI DI RUANG NICU
35
HEMBUSAN NAPAS PERTAMA DI LUAR INKUBATOR DAN PELUKAN HANGAT SANG AYAH
36
KEPULANGAN SANG PEJUANG KECIL DAN KEHANGATAN PERTAMA DI GRAHA FAMILI
37
PAGI PENUH CAHAYA DAN CELOTEH PERTAMA DI GRAHA FAMILI
38
SIMFONI SORE DI TAMAN BELAKANG DAN CELOTEH SANG PEWARIS AL-GIBRAN
39
ENAM BULAN PENUH WARNA DAN TAWA RIANG DI GRAHA FAMILI
40
LANGKAH PERTAMA SANG PEWARIS DAN SENJA TERINDAH DI GRAHA FAMILI
41
KEDATANGAN ABAH, AROMA TANAH BASAH, DAN BERKAH DI GRAHA FAMILI
42
LANGKAH KECIL MENUJU DUNIA BARU DAN KEHANGATAN KELUARGA DI GRAHA FAMILI
43
LANGKAH PERTAMA YANG MENGGUNCANG DUNIA KECIL GRAHA FAMILI
44
SIMFONI PENGUJUNG TAHUN DAN DETIK-DETIK MENUJU SEMBILAN BULAN
45
FAJAR PERDANA TAHUN BARU DAN LANGKAH TEGAP SANG PEWARIS

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!