sentakan takdir

Suasana di dalam ruang tamu megah itu mendadak mendingin. Nyonya Besar mengalihkan pandangannya dari Bima, lalu menatap lurus ke arah cucu semata wayangnya. Senyum ramah yang tadinya menghiasi wajah sepuh itu kini lenyap, digantikan oleh ekspresi kedewasaan yang penuh dengan ketegasan mutlak.

"Viona," kata sang nenek, membuka suara dengan nada yang berat dan dalam. "Dari kecil aku sudah bersusah payah membesarkanmu seorang diri. Apa pun yang kamu inginkan, segala kemewahan dan fasilitas di dunia ini, semuanya sudah aku penuhi tanpa terkecuali."

Viona yang awalnya masih sibuk merenung dan berdebat dengan isi kepalanya sendiri tentang status Bima yang seorang petani, mulai merasa atmosfer di sekitarnya berubah mencekam. Bulu kuduknya meremang saat sang nenek terus melanjutkan kalimatnya.

"Kali ini, aku hanya meminta satu hal darimu. Aku meminta kamu menikah dengan Bima, dan melahirkan anak dari keturunan kalian berdua untuk meneruskan darah keluarga Utara. Permintaanku sangat sederhana, Viona. Kamu mau apa tidak?!" Nyonya Besar sedikit menaikkan oktaf suaranya di akhir kalimat, memberikan penekanan yang bergetar di seluruh sudut ruangan.

Mendengar suara yang agak tinggi dan penuh penekanan dari sang nenek, Viona yang sedari tadi melamun langsung tersentak kaget. Efek domino dari rasa hormat dan ketakutannya terhadap figur sang nenek membuat otaknya mendadak macet. Tanpa sempat menyaring kata-kata yang keluar dari bibirnya akibat rasa panik yang menyerang, dia langsung menjawab gelagapan.

"I-iya, Nenek! Iya, saya mau, Nenek!" seru Viona dengan refleks tubuh yang tegap, seolah seorang prajurit yang sedang menerima perintah komando.

Nyonya Besar seketika tersenyum puas, ketegangan di wajahnya langsung mencair. Beliau menoleh ke arah Bima dengan binar mata yang penuh kemenangan. "Nah, Nak Bima. Kamu mendengar sendiri, kan? Viona mau menerimamu dengan sukarela tanpa paksaan."

Detik itu juga, Viona mendadak membeku di tempat duduknya. Kesadarannya baru saja kembali pulih seutuhnya, dan otaknya baru selesai mencerna dengan baik seluruh rentetan perkataan sang nenek beserta jawaban refleks yang baru saja dia ucapkan.

'Hah?! Setuju?! Kawin?! Melahirkan anak?!' batin Viona berteriak kaget setengah mati. Wajahnya yang tadi memerah karena malu kini langsung pucat pasi.

"T-tidak, Nenek! Tidak! Maksud saya bukan begitu!" bantah Viona dengan cepat, melambaikan kedua tangannya dengan panik di depan dada. "Tadi saya cuma kaget! Saya tidak mau menikah dengan—"

"Viona! Kamu jangan plin-plan!" potong Nyonya Besar dengan tatapan mata yang kembali menajam, membuat kata-kata Viona tertahan di tenggorokan. "Tadi bilang iya, sekarang bilang tidak. Apa seperti itu sikap seorang bangsawan dan pewaris keluarga Utara?

Di mana harga diri dari ucapanmu sendiri?"

Disemprot dengan argumen telak mengenai etika bangsawan, Viona langsung mati kutu. Dia melirik ke arah Bima yang masih duduk dengan sangat tenang di hadapannya. Melihat Bima yang tampak begitu santai tanpa beban, rasa kesal dan gengsi Viona sebagai gadis tsundere kembali bergejolak, namun dia tidak berani membantah kepemimpinan neneknya yang sudah mengetuk palu keputusan.

"Hehe... i-iya, Nenek," cicit Viona akhirnya dengan senyum yang dipaksakan dan tawa garing yang terdengar pasrah, sementara tangan kanan dan kirinya meremas gaun biru mudanya dengan sangat erat meluapkan kekesalan batinnya.

"Nah, gitu dong. Nurut aja sama Nenek, ini semua demi kebaikan masa depanmu juga," ujar Nyonya Besar sambil mengangguk-angguk puas, mengabaikan gerutuan pelan yang terus keluar dari bibir tipis cucunya yang sedang merajuk hebat.

Episodes
1 ditepi sungai
2 langkah pertama dikota barat
3 perjodohan
4 jati diri
5 sentakan takdir
6 malam pertama
7 pertarungan dimalam pertama
8 koki terbaik
9 pemandangan baru
10 tepi kolam
11 berkas yg membeku
12 pergi dalam diam
13 kecemasan ditengah malam
14 misi selesai
15 dibalik pintu kamar mandi
16 titah sang nenek
17 aksi pahlawan
18 gas beracun
19 bayangan masa lalu
20 undangan ibu sanjaya
21 diluar dugaan
22 putri mahkota
23 sebuah penolakan
24 sebuah petunjuk
25 debaran gadis muda
26 gejolak didepan kaca
27 sebuah janji
28 mahakarya sang petani
29 ingat janjimu viona...
30 air mata viona
31 diluar ekspektasi
32 pergi tanpa kata
33 lompatan kebebasan
34 air mata bima
35 panggilan ditengah malam
36 sebuah kenyataan
37 penyesalan viona
38 pahitnya fakta
39 syarat mutlak
40 kembali berladang
41 janji yg dibuat bima
42 sang pejalan kaki
43 gaya baru
44 hadiah dari keluarga sanjaya
45 aksi bima
46 trauma
47 celah yg rapuh
48 pernikahan akbar
49 bersama mia
50 akibat semalam
51 tehnik rahasia
52 senjata pamungkas
53 rahasia yg terungkap
54 batasan ditepi sungai
55 perjalanan viona
56 masa lalu
57 sumpah mantan komandan muda
58 ketenangan yg terusik
59 diatas meja
60 diskusi
61 counter attack dari bima
62 keputusan bima
63 aturan dari selatan
64 perjanjian baru
65 tuntutan bima
66 pasrah
67 tekanan dari mia
68 cerita baru
69 gejolak nyonya sanjaya
70 undangan terbuka
71 sandiwara segelas kopi
72 kopi hangat dan sebuah janji
73 kesepakatan baru
74 kembali ber aksi
75 dua garis
76 hitungan mundur
77 batasan
78 perubahan
79 sebuah kejutan
80 pergerakan
81 perpisahan
82 solusi absurd
83 diskusi dua wanita
84 aturan baru
85 virus nakal
86 hasutan utara
87 sulusi instan
88 penerus tahta
89 belum ada nama
90 ultimatum
91 kedua kali
92 perjanjian terahir
93 aroma penutup
94 terima kasih suamiku...
95 janji terahir
96 ahir kisah
Episodes

Updated 96 Episodes

1
ditepi sungai
2
langkah pertama dikota barat
3
perjodohan
4
jati diri
5
sentakan takdir
6
malam pertama
7
pertarungan dimalam pertama
8
koki terbaik
9
pemandangan baru
10
tepi kolam
11
berkas yg membeku
12
pergi dalam diam
13
kecemasan ditengah malam
14
misi selesai
15
dibalik pintu kamar mandi
16
titah sang nenek
17
aksi pahlawan
18
gas beracun
19
bayangan masa lalu
20
undangan ibu sanjaya
21
diluar dugaan
22
putri mahkota
23
sebuah penolakan
24
sebuah petunjuk
25
debaran gadis muda
26
gejolak didepan kaca
27
sebuah janji
28
mahakarya sang petani
29
ingat janjimu viona...
30
air mata viona
31
diluar ekspektasi
32
pergi tanpa kata
33
lompatan kebebasan
34
air mata bima
35
panggilan ditengah malam
36
sebuah kenyataan
37
penyesalan viona
38
pahitnya fakta
39
syarat mutlak
40
kembali berladang
41
janji yg dibuat bima
42
sang pejalan kaki
43
gaya baru
44
hadiah dari keluarga sanjaya
45
aksi bima
46
trauma
47
celah yg rapuh
48
pernikahan akbar
49
bersama mia
50
akibat semalam
51
tehnik rahasia
52
senjata pamungkas
53
rahasia yg terungkap
54
batasan ditepi sungai
55
perjalanan viona
56
masa lalu
57
sumpah mantan komandan muda
58
ketenangan yg terusik
59
diatas meja
60
diskusi
61
counter attack dari bima
62
keputusan bima
63
aturan dari selatan
64
perjanjian baru
65
tuntutan bima
66
pasrah
67
tekanan dari mia
68
cerita baru
69
gejolak nyonya sanjaya
70
undangan terbuka
71
sandiwara segelas kopi
72
kopi hangat dan sebuah janji
73
kesepakatan baru
74
kembali ber aksi
75
dua garis
76
hitungan mundur
77
batasan
78
perubahan
79
sebuah kejutan
80
pergerakan
81
perpisahan
82
solusi absurd
83
diskusi dua wanita
84
aturan baru
85
virus nakal
86
hasutan utara
87
sulusi instan
88
penerus tahta
89
belum ada nama
90
ultimatum
91
kedua kali
92
perjanjian terahir
93
aroma penutup
94
terima kasih suamiku...
95
janji terahir
96
ahir kisah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!