Warisan Dewa Kematian: Naga Bintang & Hantu Pedang

Warisan Dewa Kematian: Naga Bintang & Hantu Pedang

Tangisan di Taman Penginapan Kayu Mawar

Malam menyelimuti Ibukota Kekaisaran Zhou, Weiyang.

Di sudut Penginapan Kayu Mawar, sebuah taman kecil tampak sunyi. Cahaya bulan jatuh lembut di atas rerumputan yang masih basah oleh embun. Sesekali angin malam berembus, menggoyangkan dedaunan dan membuat bayangan pepohonan menari perlahan di atas tanah.

Seorang remaja duduk sendirian di bangku kayu. Tatapannya mengarah ke langit yang dipenuhi bintang. Itu adalah Gao Rui. Hari ini, usianya genap empat belas tahun.

Beberapa saat yang lalu, aula utama penginapan dipenuhi tawa dan suara ucapan selamat. Lampion-lampion merah menghiasi setiap sudut ruangan. Meja-meja dipenuhi hidangan terbaik, sementara para tamu dari berbagai kalangan memenuhi aula untuk menghadiri pesta ulang tahunnya.

Sampai sekarang pun, Gao Rui masih merasa semuanya seperti mimpi.

Ia tersenyum tipis.

"...Bibi Ya..."

Lan Suya, nama itu langsung terngiang di kepalanya. Lan Suya adalah pemimpin kelompok dagang yang cukup besar di Kekaisaran Zhou. Nama kelompok dagangnya adalah Harta Langit.

Ia benar-benar tidak menyangka Lan Suya telah menyiapkan kejutan sebesar itu. Bahkan, temannya, Pangeran Hong ikut bekerja sama demi membawa dirinya keluar dari penginapan selama hampir dua hari penuh agar semua persiapan bisa dilakukan tanpa diketahui.

Kalau dipikir-pikir sekarang, ajakan berburu itu memang terasa sangat mendadak. Perburuan yang biasanya selesai dalam sehari justru diperpanjang hingga keesokan harinya. Mereka bahkan sempat berhenti di sebuah desa hanya untuk mandi dan berganti pakaian sebelum kembali ke ibukota.

Saat itu Gao Rui sempat merasa semuanya terasa aneh. Namun kini semuanya telah terjawab.

Ia terkekeh pelan.

"...aku benar-benar dikerjai."

Senyumnya perlahan berubah menjadi lebih hangat.

Sejak kecil, ia bahkan tidak pernah tahu seperti apa rasanya merayakan ulang tahun. Tidak pernah ada hadiah dan tidak pernah ada orang yang mengingat tanggal kelahirannya. Baginya, hari ulang tahun hanyalah hari yang sama seperti hari-hari lainnya.

Namun malam ini berbeda. Ada orang-orang yang mengingatnya dan ada orang-orang yang dengan tulus berharap dirinya bahagia. Perasaan itu begitu asing. Namun juga sangat hangat.

Gao Rui kembali mengangkat kepalanya menatap langit. Senyumnya perlahan memudar, berganti menjadi tatapan yang sedikit jauh.

Tanpa sadar ia bergumam.

"...setahun..."

Baru satu tahun berlalu. Namun kehidupannya benar-benar berubah dalam waktu yang sangat singkat.

Pikirannya perlahan kembali ke masa lalu. Saat itu, ia hampir mati. Kakak seperguruannya sendiri berusaha membunuhnya karena alasan yang konyol. Tubuhnya dibuang ke sungai yang deras.

Dalam keadaan terluka parah, ia hampir tenggelam. Kalau saat itu tidak ada seseorang yang menolongnya, mungkin namanya menghilang dari dunia ini.

Bayangan seseorang perlahan muncul di benaknya. Boqin Changing, pria itulah yang menyelamatkan hidupnya.

Tidak hanya menyelamatkan. Boqin Changing bahkan mengubah seluruh hidupnya.

Di bawah bimbingan pria itu, ia belajar ilmu pedang. Ia juga belajar memanah, bertarung, dan belajar mengenal dunia persilatan. Ia menjadi pribadi yang jauh lebih kuat dibanding dirinya dulu.

Bukan hanya itu. Boqin Changing juga memberinya kekayaan yang bahkan tidak berani ia bayangkan sebelumnya. Kepemilikan saham di Rumah Dagang Harta Langit, hubungannya dengan Lan Suya, berbagai harta langka, bahkan orang-orang hebat yang kini berada di sekitarnya. Semua itu bermula karena satu pertemuan di sungai.

Namun tatapan Gao Rui sedikit meredup. Pada akhirnya mereka tetap harus berpisah. Gurunya memilih berjalan di jalannya sendiri. Sedangkan dirinya harus menempuh jalannya sendiri pula.

Ia menghela napas panjang.

"Guru..."

Rasa rindu perlahan muncul di dalam dadanya.

Padahal, kalau dihitung, mereka belum berpisah terlalu lama. Namun entah kenapa. Malam ini ia benar-benar ingin bertemu lagi dengan pria itu.

Ia kembali menatap langit yang dipenuhi bintang. Lalu tersenyum kecil.

Gao Rui nampak berdoa.

"Semoga... aku bisa segera berpetualang lagi bersamamu, Guru."

Hum...

Begitu kalimat itu selesai terucap, udara di samping taman tiba-tiba bergetar.

Alis Gao Rui langsung berkerut.

"...?"

Ia menoleh.

Di ruang kosong beberapa meter di samping bangku tempatnya duduk, muncul sebuah retakan. Retakan itu perlahan membesar.

Krak... Krak... Krak...

Ruang di sekitarnya seperti pecah layaknya kaca.

Cahaya hitam dan biru berputar di dalam retakan tersebut. Semakin lama, semakin besar. Dalam hitungan napas, retakan itu berubah menjadi sebuah lingkaran besar. Itu adalah portal dimensi.

Mata Gao Rui langsung membesar.

"Apa itu...?"

Belum sempat ia bereaksi, sebuah langkah kaki terdengar dari dalam portal.

Tap.

Seorang pria bertubuh tinggi besar berjalan perlahan melewati cahaya hitam kebiruan itu. Pundaknya lebar, tubuhnya tinggi besar.

Ia mengenakan pakaian gelap sederhana tanpa sedikit pun hiasan mencolok. Di tangan kanannya tergenggam sebuah tongkat panjang. Sementara di pinggangnya, tergantung sepasang pedang hitam kembar.

Begitu kedua kakinya benar-benar menginjak tanah...

Krek...

Tongkat panjang di tangannya mendadak dipenuhi retakan. Retakan itu menyebar sangat cepat.

Plak!

Tongkat tersebut pecah menjadi serpihan-serpihan cahaya. Serpihan itu melayang sesaat sebelum menghilang ke udara.

Pada saat yang sama portal dimensi di belakang pria itu mulai mengecil.

Hum...

Beberapa detik kemudian, portal itu benar-benar lenyap.

Taman kembali sunyi. Pria bertubuh besar itu berdiri diam. Ia mengamati sekeliling dengan ekspresi kebingungan.

Tatapannya menyapu pepohonan, bangunan penginapan dan jalan setapak. Lalu ia bergumam pelan,

"...tempat ini..."

Ia berhenti sejenak.

"...sudah jauh berbeda."

Sejak tadi Gao Rui hanya memperhatikannya dari bangku taman. Naluri seorang pendekarnya mengatakan bahwa pria ini sangat kuat. Namun anehnya, pria itu seakan belum menyadari keberadaannya.

Sementara itu, pria bertubuh besar tersebut akhirnya memutar tubuhnya. Tatapannya bergerak ke arah bangku taman dan mata mereka bertemu.

Suasana mendadak menjadi sunyi. Tidak ada yang berbicara dan tidak ada yang bergerak. Hanya saling menatap.

Mata Gao Rui perlahan membesar. Di saat yang sama mata pria bertubuh besar itu juga membesar. Keduanya tampak sama-sama terkejut.

Lalu, hampir dalam waktu yang bersamaan mereka spontan berseru,

"...Eh?"

Suasana kembali hening. Gao Rui dan pria bertubuh tinggi besar itu masih saling memandang. Tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak.

Beberapa saat kemudian, pria itu perlahan mengangkat telunjuknya. Bukannya mencabut pedang atau bersiap menyerang. Ia justru menempelkan telunjuknya di depan bibirnya.

"Sst..."

Gerakannya sangat pelan. Seolah sedang memberi isyarat agar Gao Rui tidak mengeluarkan suara.

Gao Rui berkedip. Entah mengapa, ia justru menganggukkan kepala kecil.

"..."

Bahkan dirinya sendiri tidak mengerti kenapa ia menuruti isyarat pria asing itu. Mungkin karena ia tidak merasakan sedikit pun niat membunuh dari orang tersebut.

Melihat Gao Rui mengangguk, pria itu tersenyum tipis. Senyum itu terlihat sangat tulus.

Pria itu bergumam pelan, seolah sedang mengingat sesuatu.

"...kalau tidak salah..."

Tatapannya menyapu jalan setapak di depannya.

"...dari tempat ini... aku harus berjalan dua puluh langkah ke depan."

Gao Rui yang masih duduk di bangku taman memasang telinga. Pria itu mulai melangkah. Ia berjalan perlahan sambil sesekali melihat ke sekeliling.

Gao Rui tanpa sadar ikut menghitung langkahnya.

Satu... Lima... Sepuluh... Lima belas... Dua puluh. Pria itu akhirnya berhenti.

Di depannya terbentang sebuah kolam ikan yang airnya memantulkan cahaya bulan. Di sekeliling kolam terdapat beberapa batu besar yang ditata dengan indah sebagai hiasan taman. Tempat itu tampak sangat biasa.

Namun, begitu sampai di sana, pria bertubuh besar itu perlahan berlutut.

Bruk.

Kedua lututnya menyentuh tanah. Kepalanya tertunduk.

Beberapa detik kemudian, bahu pria itu mulai bergetar. Setetes air mata jatuh ke rerumputan. Lalu disusul tetesan berikutnya.

Gao Rui terdiam. Ia sama sekali tidak menyangka pria yang tampak sangat kuat, justru menangis sendirian di tengah taman.

Dengan suara lirih, pria itu membuka mulut.

"...Ayah... Ibu..."

Ia menarik napas panjang.

"...maaf... aku baru sempat menjenguk kalian."

Suara itu terdengar begitu berat. Penuh penyesalan yang telah dipendam sangat lama.

Gao Rui tidak berani bergerak sedikit pun. Ia hanya mendengarkan dari kejauhan.

Pria itu tersenyum tipis di sela tangisnya.

"...sekarang aku sudah berubah."

Tangannya mengepal perlahan.

"...tidak ada lagi orang yang takut kepadaku."

Ia mengusap air matanya.

"Aku baik-baik saja. Kalian tidak perlu mengkhawatirkanku lagi."

Ia tertawa kecil. Meski tawa itu terdengar jauh lebih menyedihkan daripada tangisan.

"...aku juga sudah punya teman dan seseorang yang sangat ku hormati."

Pria itu terus berbicara. Menceritakan kehidupannya sekarang. Tentang perjalanan panjang yang telah ia lalui. Tentang dirinya yang akhirnya menemukan tujuan hidup.

Sesekali ia tertawa kecil. Sesekali kembali terdiam. Seolah benar-benar sedang berbincang dengan kedua orang tuanya.

Di kejauhan, Gao Rui hanya bisa memandang tanpa mengganggu. Dalam benaknya mulai muncul sebuah kesimpulan.

"...dia sedang mengunjungi... makam kedua orang tuanya."

Namun, beberapa detik kemudian alis Gao Rui perlahan berkerut. Tatapannya kembali mengarah ke depan pria itu.

Di sana hanya ada kolam ikan, air yang tenang, dan beberapa batu besar yang mengelilinginya. Tidak ada batu nisan dan tidak ada tanda-tanda bahwa tempat itu adalah sebuah makam.

"...eh?"

Gao Rui semakin bingung.

“Kalau begitu dengan siapa pria itu berbicara?”

Ia mulai berpikir. Siapa sebenarnya pria aneh yang tiba-tiba muncul dari sebuah portal dimensi di taman Penginapan Kayu Mawar, tepat di tengah malam seperti ini?

Terpopuler

Comments

Andi Heryadi

Andi Heryadi

kenapa jd ingat film sidoel anak sekolahan,saat babenya didoel ziarah kelapangan bola yg dikira makam engkongnya🤣🤣🤣🤣🤣

2026-07-27

0

asammanis

asammanis

mantap bener habis sholat subuh lihat notif gao rui sudah update 😭👍👍👍👍

2026-07-27

4

Armoire

Armoire

Thooooorrrrr jahaaaaaaaaattttt ... Episode 1 om Nuonuo pulang bikin w nangis termehek-mehek .... Udah menahan rasa rindu pulak /Cry//Cry//Cry//Cry/

2026-07-27

0

lihat semua
Episodes
1 Tangisan di Taman Penginapan Kayu Mawar
2 Pertemuan dengan Pria Misterius
3 Jabat Tangan Takdir
4 Sehari Bersama Sha Nuo
5 Janji yang Harus Ditunda
6 Menyusuri Kenangan
7 Janji yang Terlewat
8 Hari yang Penuh Kesalahpahaman
9 Nama yang Terdengar Familiar
10 Pertikaian Dua Pendekar
11 Hantu Pedang vs Hakim Langit
12 Identitas Hantu Pedang Terungkap
13 Mengejar Sebelum Terlambat
14 Firasat Buruk Lan Suya
15 Benturan Petir dan Kegelapan
16 Musuh atau Teman?
17 Tangan Kanan Dewa Kematian : Hantu Pedang
18 Kenangan yang Belum Padam
19 Pertemuan di Penginapan Kayu Mawar
20 Permaisuri Kekaisaran Zhou Diculik
21 Sha Nuo Menerima Misi
22 Janji Hantu Pedang
23 Perjalanan Menuju Reruntuhan Kota Kuno
24 Pemimpin yang Kehilangan Arah
25 Api Unggun dan Kisah Sang Pendekar
26 Masalah Datang Tanpa Diminta
27 Desa dalam Kepungan Perampok
28 Seorang Diri Menghadapi Serigala Darah
29 Gaya Bertarung yang Sangat Familiar
30 Monster di Tengah Hujan
31 Benturan Dua Pendekar Raja
32 Mengapa Gao Rui Menguasai Jurus Itu
33 Enam Sandera di Tengah Hujan Lebat
34 Satu Langkah yang Menghabisi Puluhan Pendekar
35 Rasa Takut Berubah Jadi Hormat
36 Pendekar Terkuat yang Pernah Dilawan Sha Nuo
37 Identitas Sha Nuo Terungkap
38 Perjalanan yang Salah Arah
39 Bertemu Kawan Lama
40 Masalah Besar Keluarga Huo
41 Tuan Muda yang Kehilangan Segalanya
42 Meminta Bantuan Kelompok Harta Langit
43 Bantuan Diam-Diam Harta Langit
44 Ternyata Dia Tuan Muda Harta Langit
45 Pengepungan yang Salah Sasaran
46 Pewaris Keluarga Huo Berdiri di Depan Keluarganya
47 Sahabat yang Mengangkat Pedang
48 Pedang yang Tak Terbendung
49 Kekuatan di Balik Tawa
50 Tanpa Belas Kasihan
51 Bayangan Lembah Iblis Darah
52 Membiarkan Dia Berkembang
53 Melawan Pendekar Suci Puncak
54 Waktumu Sudah Habis
55 Hantu Pedang Turun Tangan
56 Kekuatan yang Tak Terbendung
57 Kekuatan yang Melampaui Pendekar Suci
58 Kematian Patriak Keluarga Huo
59 Ini Bukan Milikku
60 Orang Terkuat Ketiga Lembah Iblis Darah
61 Usulan Meninggalkan Kota
62 Rencana Sha Nuo
63 Musuh Bersiap Menyerang
64 Serahkan Sha Nuo pada Kami
65 Jangan Terlalu Banyak Berpikir
66 Dua Orang yang Menarik Perhatian
67 Hantu Pedang vs Iblis Darah Pembantai
68 Gao Rui Dalam Bahaya
69 Hantu Pedang vs Iblis Darah Pembantai
70 Orang Gila Itu Bernama Xuen Jinan
71 Tangan Kanan Boqin Changing
72 Keduanya Saling Bertarung
73 Tidak akan Membiarkanmu Berkembang
74 Pusaka Peningkat Kekuatan
75 Kemenangan Gao Rui
76 Akhir dari Pertarungan
77 Kemenangan yang Sesungguhnya
78 Ganti Rugi Dibebankan ke Istana?
79 Harapan di Balik Gulungan Kertas
80 Tersesat di Jalan
81 Kami Sudah Semakin Dekat
82 Lokasi Permaisuri Ditemukan
83 Kerjasama Hantu Pedang dan Naga Bintang
84 Upaya Penyelamatan Permaisuri
85 Ini Hanyalah Jebakan
86 Istana Diserang
87 Menolong Lan Suya
88 Hantu Pedang Sha Nuo Bergerak
89 Apa yang Sebenarnya Terjadi?
90 Ada Kaisar Wilayah di Tempat Ini
91 Bantuan Segera Datang
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Tangisan di Taman Penginapan Kayu Mawar
2
Pertemuan dengan Pria Misterius
3
Jabat Tangan Takdir
4
Sehari Bersama Sha Nuo
5
Janji yang Harus Ditunda
6
Menyusuri Kenangan
7
Janji yang Terlewat
8
Hari yang Penuh Kesalahpahaman
9
Nama yang Terdengar Familiar
10
Pertikaian Dua Pendekar
11
Hantu Pedang vs Hakim Langit
12
Identitas Hantu Pedang Terungkap
13
Mengejar Sebelum Terlambat
14
Firasat Buruk Lan Suya
15
Benturan Petir dan Kegelapan
16
Musuh atau Teman?
17
Tangan Kanan Dewa Kematian : Hantu Pedang
18
Kenangan yang Belum Padam
19
Pertemuan di Penginapan Kayu Mawar
20
Permaisuri Kekaisaran Zhou Diculik
21
Sha Nuo Menerima Misi
22
Janji Hantu Pedang
23
Perjalanan Menuju Reruntuhan Kota Kuno
24
Pemimpin yang Kehilangan Arah
25
Api Unggun dan Kisah Sang Pendekar
26
Masalah Datang Tanpa Diminta
27
Desa dalam Kepungan Perampok
28
Seorang Diri Menghadapi Serigala Darah
29
Gaya Bertarung yang Sangat Familiar
30
Monster di Tengah Hujan
31
Benturan Dua Pendekar Raja
32
Mengapa Gao Rui Menguasai Jurus Itu
33
Enam Sandera di Tengah Hujan Lebat
34
Satu Langkah yang Menghabisi Puluhan Pendekar
35
Rasa Takut Berubah Jadi Hormat
36
Pendekar Terkuat yang Pernah Dilawan Sha Nuo
37
Identitas Sha Nuo Terungkap
38
Perjalanan yang Salah Arah
39
Bertemu Kawan Lama
40
Masalah Besar Keluarga Huo
41
Tuan Muda yang Kehilangan Segalanya
42
Meminta Bantuan Kelompok Harta Langit
43
Bantuan Diam-Diam Harta Langit
44
Ternyata Dia Tuan Muda Harta Langit
45
Pengepungan yang Salah Sasaran
46
Pewaris Keluarga Huo Berdiri di Depan Keluarganya
47
Sahabat yang Mengangkat Pedang
48
Pedang yang Tak Terbendung
49
Kekuatan di Balik Tawa
50
Tanpa Belas Kasihan
51
Bayangan Lembah Iblis Darah
52
Membiarkan Dia Berkembang
53
Melawan Pendekar Suci Puncak
54
Waktumu Sudah Habis
55
Hantu Pedang Turun Tangan
56
Kekuatan yang Tak Terbendung
57
Kekuatan yang Melampaui Pendekar Suci
58
Kematian Patriak Keluarga Huo
59
Ini Bukan Milikku
60
Orang Terkuat Ketiga Lembah Iblis Darah
61
Usulan Meninggalkan Kota
62
Rencana Sha Nuo
63
Musuh Bersiap Menyerang
64
Serahkan Sha Nuo pada Kami
65
Jangan Terlalu Banyak Berpikir
66
Dua Orang yang Menarik Perhatian
67
Hantu Pedang vs Iblis Darah Pembantai
68
Gao Rui Dalam Bahaya
69
Hantu Pedang vs Iblis Darah Pembantai
70
Orang Gila Itu Bernama Xuen Jinan
71
Tangan Kanan Boqin Changing
72
Keduanya Saling Bertarung
73
Tidak akan Membiarkanmu Berkembang
74
Pusaka Peningkat Kekuatan
75
Kemenangan Gao Rui
76
Akhir dari Pertarungan
77
Kemenangan yang Sesungguhnya
78
Ganti Rugi Dibebankan ke Istana?
79
Harapan di Balik Gulungan Kertas
80
Tersesat di Jalan
81
Kami Sudah Semakin Dekat
82
Lokasi Permaisuri Ditemukan
83
Kerjasama Hantu Pedang dan Naga Bintang
84
Upaya Penyelamatan Permaisuri
85
Ini Hanyalah Jebakan
86
Istana Diserang
87
Menolong Lan Suya
88
Hantu Pedang Sha Nuo Bergerak
89
Apa yang Sebenarnya Terjadi?
90
Ada Kaisar Wilayah di Tempat Ini
91
Bantuan Segera Datang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!