Tamu Tak di Undang

Matahari perlahan meninggi.

Sinarnya menembus celah-celah bangunan padat ibu kota.

Warung kecil milik Kirana mulai didatangi oleh para pekerja harian.

Ada kuli panggul pasar, pengemudi ojek online, hingga pedagang keliling.

Mereka duduk berdesakan di bangku-bangku plastik sederhana.

Menikmati sarapan hangat dan seduhan kopi hitam.

Andra bergerak sigap melayani para pembeli.

Meskipun ia terbiasa duduk di balik meja direktur yang megah.

Tangannya kini terbiasa mengangkat gelas, mengantar piring, dan membereskan meja.

Tidak ada rasa canggung di wajahnya.

Bahkan senyum tipis selalu terlukis saat ia menyapa para pelanggan.

Kirana yang memperhatikan dari balik meja racik merasa takjub.

Ia tidak menyangka pria berjaket usang yang tidur di balai bambu semalam.

Memiliki etos kerja dan kesopanan yang begitu luar biasa.

Biasanya, orang asing yang datang mengemis pekerjaan akan mengeluh dalam hitungan jam.

Tapi Andra justru melakukan semuanya tanpa ada keluhan sedikit pun.

"Mas Andra, istirahat dulu sebentar,"

panggil Kirana saat suasana warung mulai sedikit lengang menjelang siang.

"Nih, minum teh hangat dulu biar tidak terlalu lelah."

Andra mengangguk pelan.

Ia melangkah mendekati meja racik dan menerima uluran gelas plastik dari tangan Kirana.

"Terima kasih, Kir," ucap Andra tulus.

"Kamu sendiri dari tadi belum duduk sedari pagi."

Kirana tersenyum tipis, menyeka peluh di dahinya.

"Sudah biasa, Mas."

"Kalau tidak kerja keras begini, dapur di kontrakan tidak akan ngebul."

Pembicaraan mereka terhenti sejenak ketika deru motor matic tua berhenti tepat di depan warung.

Seorang pria berbadan kurus dengan jaket kulit sintetis yang sudah kusam turun dari kendaraan.

Wajahnya tampak lelah, dipenuhi guratan emosi dan sisa amarah yang tertahan.

Ia melepas helmnya dengan kasar dan langsung membantingnya ke atas meja kosong.

"Kir! Mana uang hasil jualan hari ini?"

 tanya pria itu dengan nada suara tinggi.

Suasananya langsung berubah tegang.

Andra yang berdiri tidak jauh dari tempat itu menyipitkan mata.

Mengamati gerak-gerik pria asing yang baru saja datang dengan sikap arogan.

Kirana terlihat menegang seketika.

Wajahnya yang ramah mendadak pucat pasi.

Senyuman di bibirnya seketika lenyap digantikan rasa takut yang yang terlihat jelas

"B-biar aku beresin dulu piringnya, Mas,"

jawab Kirana dengan suara sedikit gemetar.

"Aku tanya mana uangnya!"

 bentak pria itu lebih keras, sama sekali tidak peduli ada orang lain di sekitar warung.

"Jangan pura-pura tuli kamu!"

Andra langsung mengenali situasi ini.

Pria kasar di hadapannya ini bukanlah sekadar orang asing.

Melainkan sosok suami yang tadi sempat dibicarakan oleh Kirana.

Pria yang selama ini menjadi sumber ketakutan dan penderitaan dalam hidup wanita tegar tersebut.

Darah di dalam diri Andra mendidih seketika.

Insting pelindungnya sebagai seorang mantan pemimpin besar langsung bangkit.

Namun ia harus menahan diri agar penyamarannya tidak terbongkar terlalu cepat.

Ia tidak boleh bertindak gegabah di hadapan musuh-musuh kecil seperti ini.

Pria berjaket kulit kusam itu melangkah maju dengan angkuh.

Tanpa rasa risih sedikit pun pada pandangan orang-orang di sekitar warung.

Namanya Doni.

Pria yang bertahun-tahun menghisap tenaga dan mental Kirana tanpa sisa.

Suami yang seharusnya menjadi pelindung, justru menjelma menjadi beban terberat dalam hidup wanita itu.

"Cepat keluarkan dompetmu, Kir!"

bentak Doni sekali lagi sambil menatap tajam.

Tangannya menepuk-nepuk meja kayu dengan kasar.

Membuat beberapa mangkuk kosong berdering nyaring.

"Jangan bikin aku emosi pagi-pagi begini."

"Uang hasil kemarin malam ke mana saja?"

"Jangan bilang kamu habiskan lagi buat beli obat ibumu yang sakit-sakitan itu!"

Kirana menunduk dalam-dalam.

Bahu kecilnya bergetar hebat menahan rasa takut dan malu yang teramat sangat.

Di hadapan para pelanggan warung yang mulai berbisik-bisik.

Harga dirinya seolah diinjak-injak tanpa ampun.

"B-belum ada, Mas..." jawab Kirana dengan suara tercekat di tenggorokan.

"Semalam pembelinya sepi."

"Uang kas pegangan warung juga baru cukup buat belanja bahan baku hari ini..."

"Bohong!" teriak Doni memotong ucapan Kirana.

Ia menarik kerah apron yang dikenakan Kirana dengan kasar.

Membuat tubuh wanita itu terhuyung ke depan hingga hampir menabrak meja racik.

"Kamu sengaja kan mau menyembunyikan uang dariku?"

"Buat foya-foya di belakangku, hah?!"

Suasana di dalam warung mendadak berubah menjadi sunyi mencekam.

Para pelanggan yang sedang menikmati sarapan langsung menghentikan suapannya.

Mereka memilih menunduk karena takut ikut terseret masalah keluarga orang lain.

Tidak ada satupun yang berani maju membela.

Karena di lingkungan kumuh seperti ini, ikut campur urusan rumah tangga orang adalah malapetaka.

Namun, di tengah ketakutan yang melanda seisi warung.

Seseorang melangkah dengan tenang tanpa ada rasa gentar di matanya.

Andra.

Mantan CEO korporasi besar yang kini berbalut jaket usang.

Ia bergerak pelan dari balik meja saji.

Lalu berdiri tepat di samping Doni.

Tangannya yang kokoh terulur lurus ke depan.

Mencengkeram pergelangan tangan Doni yang sedang mencengkeram kerah baju Kirana.

Cengkraman itu tidak terlalu kuat pada detik pertama.

Namun memiliki tekanan yang membuat Doni langsung meringis kesakitan.

"Lepaskan tangan kotor itu dari tubuhnya,"

ucap Andra dengan suara rendah.

Dingin, datar, namun penuh dengan wibawa mutlak seorang pemimpin.

Doni terkejut bukan kepalang.

Ia menoleh dengan wajah merah padam karena amarah yang tersulut.

"Bangsat!

Siapa kamu, hah?!"

teriak Doni sambil mencoba melepaskan tangannya.

"Berani-beraninya ikut campur urusan rumah tangga orang!"

"Lepasin tanganmu atau—”

Kalimat ancaman Doni terhenti seketika.

Saat ia mendongak dan menatap langsung ke dalam mata Andra.

Ada tatapan tajam yang begitu mematikan di balik mata pria berjaket usang itu.

Tatapan mata seorang predator puncak rantai makanan.

Yang biasa membuat para direktur besar ketakutan di ruang rapat tertutup.

Bukan tatapan seorang pengemis jalanan yang lemah.

Keringat dingin mendadak mengucur di pelipis Doni.

Nyalinya ciut seketika dalam waktu kurang dari tiga detik.

"Aku tidak peduli apa statusmu di sini," lanjut Andra dengan nada suara yang semakin menusuk tulang.

"Tapi memperlakukan wanita dengan cara kasar di depan umum adalah tindakan paling pengecut."

"Sekarang..."

Andra mempererat cengkeramannya hingga tulang pergelangan tangan Doni berbunyi pelan.

"Pergi dari sini, atau kamu akan tahu akibatnya."

Doni meringis kesakitan.

Rasa sakit yang menjalar dari pergelangan tangannya membuat sekujur tubuhnya bergetar.

Ia ingin sekali marah dan membalas gertakan itu.

Namun nyalinya benar-benar sudah ciut melihat sorot mata Andra yang begitu tajam.

Tidak ada keraguan sedikit pun di sana.

Pria berjaket usang itu benar-benar terlihat berbahaya.

"I-iya... baik!

Lepasin dulu tangan gua!"

 rintih Doni dengan suara parau penuh rasa sakit.

Andra perlahan mengendurkan cengkeramannya.

Lalu mendorong tangan Doni dengan kasar ke belakang hingga pria itu hampir kehilangan keseimbangan.

Doni terhuyung mundur beberapa langkah.

Ia memegang pergelangan tangannya yang sudah memerah akibat cengkeraman kuat Andra.

Napasnya memburu karena rasa malu bercampur dengan takut.

Ia menatap tajam ke arah Andra dan Kirana secara bergantian.

"Awas kamu ya, Kir!"

 cibir Doni sambil menunjuk-nunjuk penuh ancaman.

"Berani-beraninya kamu cari pelindung laki-laki lain sekarang!"

"Urusan kita belum selesai!"

Setelah melontarkan ancaman pengecut itu.

Doni buru-buru membalikkan badannya.

Ia lansung mengambil helm yang tergeletak di atas meja.

Lalu berjalan tergopoh-gopoh menuju motor matic usang nya.

Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung menyalakan kendaraannya dengan kasar.

Dan pergi meninggalkan area warung dengan kecepatan tinggi.

Meninggalkan kepulan asap tipis di jalanan gang yang sempit.

Suasana di dalam warung perlahan-lahan kembali tenang.

Namun ketegangan masih terasa jelas menyelimuti udara pagi itu.

Para pelanggan yang tadinya menunduk kini mulai mengangkat kepala mereka kembali.

Berbisik-bisik pelan membicarakan kejadian dramatis yang baru saja terjadi.

Kirana masih berdiri terpaku di dekat meja racik.

Kedua matanya berkaca-kaca menahan air mata yang hampir tumpah.

Bahu kecilnya masih sedikit bergetar hebat.

Selama ini, ia selalu pasrah menanggung segala perlakuan kasar suaminya seorang diri.

Tidak pernah ada satu pun orang yang sudi berdiri di sisinya dan melindunginya seperti ini.

Andra menarik napas panjang.

Ia merapikan jaket usang nya sekilas.

Lalu melangkah mendekati Kirana dengan ekspresi wajah yang jauh lebih lembut.

"Kamu tidak apa-apa, Kir?"

tanya Andra pelan.

Suaranya kini tidak lagi sedingin tadi saat menghadapi Doni.

Kirana mengangkat kepalanya.

Menatap wajah pria di hadapannya dengan tatapan penuh rasa terima kasih yang teramat dalam.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh juga membasahi pipi.

"Mmmm-makasih, Mas..."

ucap Kirana lirih.

Suaranya bergetar parah.

"Kalau tidak ada kamu tadi, aku benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa..."

Andra tersenyum tipis.

Ia mengambil selembar tisu bersih dari wadah di atas meja.

Lalu mengulurkannya secara perlahan kepada wanita itu.

"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi," kata Andra menenangkan.

"Laki-laki seperti itu hanya berani pada perempuan lemah."

"Kalau dia berani datang lagi dan mengganggumu, biar aku yang urus."

Mendengar ucapan yang begitu tegas dan menenangkan itu.

Hati Kirana yang selama bertahun-tahun merasa kesepian dan tertekan, mendadak merasakan kehangatan yang luar biasa.

Di balik penampilan lusuh dan status tanpa asalnya saat ini.

Andra baru saja menunjukkan sisi pelindung yang membuat Kirana merasa aman.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Episodes
1 Penyamaran Sang Miliader
2 Pagi Pertama di Dunia Baru
3 Tamu Tak di Undang
4 Rahasia yang Mulai Terkuak
5 Badai yang Belum Usai
6 Malam Penentuan di Lorong Sempit dan Pukulan Telak Sang Miliader
7 Pagi Baru di Bawah Langit Ibu Kota
8 Akad Sederhana di Kantor Kelurahan
9 Badai Korporasi
10 Kembalinya Sang Penguasa di Lantai 50
11 Bayangan yang Kembali ke Lorong Sempit
12 Gema Malam di Balik Dinding Sempit
13 Darah di Bawah Lampu Temaram
14 Garis Akhir di Ujung Laras
15 Kepungan di Batas Malam
16 Jejak di Bawah Tanah
17 Setan Laut di Belakang Garis Horizon
18 Pintu Keluar Neraka dan Benturan di Lautan Bebas
19 Bayang Bayang di Balik Fajar
20 Persiapan Menuju Garis Akhir
21 Jatuh nya Sang Penguasa Bayangan
22 Fajar Baru di Istana yang Hilang
23 Bayang Bayang Masa Lalu yang Tersisa
24 Fajar Kebahagiaan Abadi
25 Akhir yang Sempurna di Bawah Langit Senja
26 Bayang Bayang Kontrak yang Belum Selesai
27 Cap Kebebasan dan Runtuhnya Jaringan Hitam
28 Perayaan Kemenangan di Istana Menteng
29 Perang Malam di Surabaya dan Kehancuran Cendana Tua
30 Kembalinya Sang Penguasa dan Bayangan Musuh Musuh Lama
31 Jaringan Hitam yang Bergerak
32 Sentuhan Terakhir Sebelum Badai Tiba
33 Asap Darah dan Tembakan di Lorong Bawah Tanah
34 Singa yang Keluar dari Sarang dan Jejak Darah di Hutan Menteng
35 Ledakan di Pelabuhan Tua
36 Mentari Baru di Menteng dan Damai yang Terbayar Mahal
37 Di Atas Sepuluh Ribu Kaki Menuju Horizon Baru
38 Topeng yang Retak
39 Kepulangan di Bawah Cahaya Gerhana
Episodes

Updated 39 Episodes

1
Penyamaran Sang Miliader
2
Pagi Pertama di Dunia Baru
3
Tamu Tak di Undang
4
Rahasia yang Mulai Terkuak
5
Badai yang Belum Usai
6
Malam Penentuan di Lorong Sempit dan Pukulan Telak Sang Miliader
7
Pagi Baru di Bawah Langit Ibu Kota
8
Akad Sederhana di Kantor Kelurahan
9
Badai Korporasi
10
Kembalinya Sang Penguasa di Lantai 50
11
Bayangan yang Kembali ke Lorong Sempit
12
Gema Malam di Balik Dinding Sempit
13
Darah di Bawah Lampu Temaram
14
Garis Akhir di Ujung Laras
15
Kepungan di Batas Malam
16
Jejak di Bawah Tanah
17
Setan Laut di Belakang Garis Horizon
18
Pintu Keluar Neraka dan Benturan di Lautan Bebas
19
Bayang Bayang di Balik Fajar
20
Persiapan Menuju Garis Akhir
21
Jatuh nya Sang Penguasa Bayangan
22
Fajar Baru di Istana yang Hilang
23
Bayang Bayang Masa Lalu yang Tersisa
24
Fajar Kebahagiaan Abadi
25
Akhir yang Sempurna di Bawah Langit Senja
26
Bayang Bayang Kontrak yang Belum Selesai
27
Cap Kebebasan dan Runtuhnya Jaringan Hitam
28
Perayaan Kemenangan di Istana Menteng
29
Perang Malam di Surabaya dan Kehancuran Cendana Tua
30
Kembalinya Sang Penguasa dan Bayangan Musuh Musuh Lama
31
Jaringan Hitam yang Bergerak
32
Sentuhan Terakhir Sebelum Badai Tiba
33
Asap Darah dan Tembakan di Lorong Bawah Tanah
34
Singa yang Keluar dari Sarang dan Jejak Darah di Hutan Menteng
35
Ledakan di Pelabuhan Tua
36
Mentari Baru di Menteng dan Damai yang Terbayar Mahal
37
Di Atas Sepuluh Ribu Kaki Menuju Horizon Baru
38
Topeng yang Retak
39
Kepulangan di Bawah Cahaya Gerhana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!