Badai yang Belum Usai

Debu jalanan perlahan mereda setelah kepergian Doni yang tertatih-tatih menahan sakit di pergelangan tangannya.

Angin pagi membawa sisa-sisa bau knalpot motor yang pekat dan menusuk hidung.

Warga sekitar yang tadinya berkerumun di depan warung kecil itu mulai membubarkan diri satu persatu.

Bisik-bisik tetangga terdengar saling bersahutan di sepanjang lorong sempit.

Ada yang merasa puas melihat si benalu itu pergi dengan menanggung malu.

Namun, tidak sedikit pula yang melirik curiga ke arah Andra.

Mereka bertanya-tanya, siapa sebenarnya pemuda berjaket usang yang memiliki tenaga sekuat itu.

Meskipun ancaman itu sementara mereda, ketegangan belum sepenuhnya sirna dari udara pagi itu.

Kirana masih berdiri terpaku di balik meja kasir dengan napas yang memburu tidak beraturan.

Kedua tangannya mencengkeram erat tepi meja kayu yang sudah kusam dimakan usia.

Matanya menatap lurus ke arah Andra, seolah baru sadar sepenuhnya.

Bahwa pria penjemput rezeki yang ditampungnya semalam bukanlah orang sembarangan yang bisa diremehkan begitu saja.

Ada aura dingin dan ketenangan misterius yang terpancar dari diri Andra di balik pakaian compang-camping nya.

"Mas... tangan kamu tidak apa-apa?" tanya Kirana dengan suara bergetar hebat.

Ketakutan akan keselamatan orang lain mengalahkan rasa panik pada dirinya sendiri.

Ia melangkah mendekat perlahan dengan langkah ragu-ragu.

Matanya memperhatikan jemari tangan Andra yang baru saja melintir pergelangan tangan suaminya tanpa ampun.

"Aku tidak apa-apa, Kir," jawab Andra singkat dengan nada suara yang begitu tenang.

Ia sengaja menyembunyikan tangannya kembali ke dalam saku jaket usang miliknya.

Berusaha menepis segala kekhawatiran berlebihan yang terpancar dari wajah lelah wanita itu.

"Tapi... Doni itu pria yang sangat pendendam, Mas," lanjut Kirana, suaranya kini berubah menjadi bisikan penuh teror.

Air mata penyesalan dan ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Tadi dia bilang mau bawa preman-preman yang lebih banyak ke tempat ini."

"Aku takut warung peninggalan bapak ini dihancurkan sampai rata dengan tanah."

"Dan... dan aku semakin takut kalau kamu malah celaka karena membela aku yang bukan siapa-siapa ini."

Andra menatap tajam ke dalam mata Kirana yang basah oleh kecemasan.

Tidak ada kepalsuan di sana.

Yang ada hanyalah ketulusan luar biasa dari seorang wanita yang hidup di bawah tekanan hebat namun tetap memikirkan keselamatan orang lain.

Hal itu semakin menghujam ke dalam lubuk hati Andra yang paling dalam.

Membuatnya semakin yakin bahwa keputusannya turun ke jalan adalah pilihan yang tepat.

"Jangan takut, Kir," ucap Andra dengan suara rendah yang penuh kewibawaan.

Suara itu terdengar begitu mantap, memberikan sauh ketenangan di tengah badai emosi yang melanda Kirana.

"Selama aku ada di sini menemani hari-hari ke depan, tidak ada seorang pun yang boleh menyentuhmu."

"Dan tidak ada satu orang pun yang berani merusak tempat pencarian rezekimu ini."

Hari itu, meskipun bayang-bayang ancaman Doni terus mengintai di balik gang-gang sempit ibu kota.

Warung kecil tersebut tetap dibuka seperti biasa demi menyambung hidup.

Andra mengambil alih seluruh tugas-tugas berat di warung tanpa mengeluh sedikit pun.

Ia mulai mengangkat tabung-tabung gas melon yang berat dengan sebelah tangan.

Menata ulang kursi-kursi plastik yang berserakan dengan sigap dan teratur.

Bahkan membantu membersihkan sisa-sisa kotoran di lantai semen tanpa canggung.

Warga sekitar yang melihat kinerja sigap dan tenaga luar biasa dari pria berjaket usang itu mulai melontarkan berbagai macam komentar.

Sebagian ibu-ibu warung sebelah memuji kecekatan Andra dalam bekerja.

Namun, sebagian pemuda pengangguran di ujung jalan mencibir nasibnya sebagai pria miskin numpang hidup.

Namun, Andra sama sekali tidak terusik oleh segala cibiran murahan itu.

Di balik kesibukan fisik yang tampak melelahkan di luar, otak jenius seorang mantan CEO sedang bekerja keras di dalam kepalanya.

Ia tahu persis tabiat pria benalu seperti Doni.

Ancaman itu bukanlah sekadar gertakan sambal untuk menakut-nakuti semata.

Doni pasti akan kembali membawa gerombolan preman jalanan dengan skala kekuatan yang lebih besar dan beringas.

Dan jika preman-preman bayaran itu benar-benar datang mengacau di kemudian hari, Andra sudah menyiapkan skenario tersendiri.

Ia harus memastikan skala perlawanannya cukup terukur untuk membuat mereka jera selamanya.

Tanpa harus membocorkan identitas aslinya sebagai penguasa imperium bisnis raksasa terlalu cepat kepada dunia luar.

Matahari perlahan merayap naik ke atas kepala, membawa hawa panas yang menyengat dan bergesekan langsung dengan debu jalanan ibu kota.

Warung kecil Kirana mulai kedatangan beberapa pelanggan tetap dari warga sekitar yang sekadar ingin membeli secangkir kopi hitam atau sarapan bungkus sederhana.

Di tengah kesibukan melayani para pembeli, pikiran Kirana tetap tidak bisa tenang sepenuhnya.

Setiap kali terdengar suara mesin motor yang melintas di ujung gang, tubuhnya pasti akan menegang sesaat.

Ia melirik ke arah Andra yang sedang sibuk mencuci piring kotor di belakang warung.

Pria itu tampak begitu tenang, seolah ancaman Doni pagi tadi hanyalah angin lalu yang sama sekali tidak layak untuk dipikirkan.

"Mas Andra..." panggil Kirana pelan ketika warung mulai sepi dari para pembeli.

Andra menghentikan gerakannya, lalu berbalik menatap Kirana dengan tatapan lembut.

"Ada apa, Kir?" tanya Andra sambil menyeka tangannya yang basah ke kain lap.

"Sebenarnya... aku cemas," ucapnya sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Doni itu punya teman-teman preman terminal yang terkenal nekat."

"Kalau mereka benar-benar datang merusak tempat ini nanti malam, bagaimana nasib kita?"

Andra melangkah mendekati Kirana, lalu berhenti tepat di hadapan wanita itu dengan jarak yang cukup untuk memberikan rasa aman.

"Jangan khawatirkan hal yang belum terjadi," ucap Andra dengan suara baritonnya yang tegas dan berwibawa.

"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjagamu dan tempat ini."

"Biarkan mereka datang jika memang itu jalan yang mereka pilih."

"Aku pastikan mereka akan pulang dengan penyesalan yang mendalam."

Mendengar ucapan penuh keyakinan dari pria berjaket usang itu, ada secercah rasa hangat yang menjalar di dada Kirana.

Meskipun akal sehatnya sempat meragukan bagaimana mungkin seorang pria miskin tanpa latar belakang jelas bisa melawan gerombolan preman berbahaya.

Namun, sorot mata tajam dan ketenangan mutlak yang terpancar dari wajah Andra berhasil meredakan separuh ketakutannya.

Sementara itu, jauh di tempat lain di sebuah kelab malam mewah kawasan pusat kota.

Doni tampak sedang mengerang kesakitan sambil memegang pergelangan tangannya yang membengkak ungu.

Di hadapannya duduk seorang bos preman lokal bertubuh penuh tato bernama Badrun, yang mendengarkan cerita pengaduan Doni dengan seringai mengerikan.

"Berani sekali gelandangan itu mematahkan tangan anak buahmu dan merusak muka kau, Don?" geram Badrun sambil menyesap minuman kerasnya.

"Tenang saja, bos! Sikat habis saja dia!" seru Doni penuh dendam kesumat.

"Hancurkan warung istri sialan itu biar dia tahu rasa!"

Badrun berdiri dari sofa empuknya, menyeringai lebar sambil memanggil puluhan anak buahnya yang sudah menanti di luar ruangan.

"Malam ini, kita beri pelajaran pada pria sombong di warung kumuh itu," ujar Badrun penuh percaya diri.

Tanpa mereka sadari, gerombolan preman bayaran itu sedang berjalan menuju perangkap maut yang dipersiapkan oleh seorang mantan CEO berhati dingin.

Episodes
1 Penyamaran Sang Miliader
2 Pagi Pertama di Dunia Baru
3 Tamu Tak di Undang
4 Rahasia yang Mulai Terkuak
5 Badai yang Belum Usai
6 Malam Penentuan di Lorong Sempit dan Pukulan Telak Sang Miliader
7 Pagi Baru di Bawah Langit Ibu Kota
8 Akad Sederhana di Kantor Kelurahan
9 Badai Korporasi
10 Kembalinya Sang Penguasa di Lantai 50
11 Bayangan yang Kembali ke Lorong Sempit
12 Gema Malam di Balik Dinding Sempit
13 Darah di Bawah Lampu Temaram
14 Garis Akhir di Ujung Laras
15 Kepungan di Batas Malam
16 Jejak di Bawah Tanah
17 Setan Laut di Belakang Garis Horizon
18 Pintu Keluar Neraka dan Benturan di Lautan Bebas
19 Bayang Bayang di Balik Fajar
20 Persiapan Menuju Garis Akhir
21 Jatuh nya Sang Penguasa Bayangan
22 Fajar Baru di Istana yang Hilang
23 Bayang Bayang Masa Lalu yang Tersisa
24 Fajar Kebahagiaan Abadi
25 Akhir yang Sempurna di Bawah Langit Senja
26 Bayang Bayang Kontrak yang Belum Selesai
27 Cap Kebebasan dan Runtuhnya Jaringan Hitam
28 Perayaan Kemenangan di Istana Menteng
29 Perang Malam di Surabaya dan Kehancuran Cendana Tua
30 Kembalinya Sang Penguasa dan Bayangan Musuh Musuh Lama
31 Jaringan Hitam yang Bergerak
32 Sentuhan Terakhir Sebelum Badai Tiba
33 Asap Darah dan Tembakan di Lorong Bawah Tanah
34 Singa yang Keluar dari Sarang dan Jejak Darah di Hutan Menteng
35 Ledakan di Pelabuhan Tua
36 Mentari Baru di Menteng dan Damai yang Terbayar Mahal
37 Di Atas Sepuluh Ribu Kaki Menuju Horizon Baru
38 Topeng yang Retak
39 Kepulangan di Bawah Cahaya Gerhana
Episodes

Updated 39 Episodes

1
Penyamaran Sang Miliader
2
Pagi Pertama di Dunia Baru
3
Tamu Tak di Undang
4
Rahasia yang Mulai Terkuak
5
Badai yang Belum Usai
6
Malam Penentuan di Lorong Sempit dan Pukulan Telak Sang Miliader
7
Pagi Baru di Bawah Langit Ibu Kota
8
Akad Sederhana di Kantor Kelurahan
9
Badai Korporasi
10
Kembalinya Sang Penguasa di Lantai 50
11
Bayangan yang Kembali ke Lorong Sempit
12
Gema Malam di Balik Dinding Sempit
13
Darah di Bawah Lampu Temaram
14
Garis Akhir di Ujung Laras
15
Kepungan di Batas Malam
16
Jejak di Bawah Tanah
17
Setan Laut di Belakang Garis Horizon
18
Pintu Keluar Neraka dan Benturan di Lautan Bebas
19
Bayang Bayang di Balik Fajar
20
Persiapan Menuju Garis Akhir
21
Jatuh nya Sang Penguasa Bayangan
22
Fajar Baru di Istana yang Hilang
23
Bayang Bayang Masa Lalu yang Tersisa
24
Fajar Kebahagiaan Abadi
25
Akhir yang Sempurna di Bawah Langit Senja
26
Bayang Bayang Kontrak yang Belum Selesai
27
Cap Kebebasan dan Runtuhnya Jaringan Hitam
28
Perayaan Kemenangan di Istana Menteng
29
Perang Malam di Surabaya dan Kehancuran Cendana Tua
30
Kembalinya Sang Penguasa dan Bayangan Musuh Musuh Lama
31
Jaringan Hitam yang Bergerak
32
Sentuhan Terakhir Sebelum Badai Tiba
33
Asap Darah dan Tembakan di Lorong Bawah Tanah
34
Singa yang Keluar dari Sarang dan Jejak Darah di Hutan Menteng
35
Ledakan di Pelabuhan Tua
36
Mentari Baru di Menteng dan Damai yang Terbayar Mahal
37
Di Atas Sepuluh Ribu Kaki Menuju Horizon Baru
38
Topeng yang Retak
39
Kepulangan di Bawah Cahaya Gerhana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!