Bab 2 Awal kisah

Mertuaku pun keluar. Setelah saat tadi aku merasa mulai di manfaatkan sebagai pembantu gratis di sini. Tapi aku tak boleh langsung menentang mertua ku. Aku menghormati nya jadi kali ini aku akan membiarkan diriku untuk membantu nya.

2 jam kemudian, semua pakaian pun sudah tercuci. Setelah itu, aku beristirahat sejenak sembari membalas pesan chat dari suamiku.

“Eh sudah jam 1 aja. Astaga..” Ucapku lalu aku pun bangkit dari rebahan ku dan langsung berbelanja sayur mayur di warung sekitar sini sekalian untukku mengenal tempat-tempat sini.

Aku mengambil dompet ku lalu keluar dari rumah dan berjalan ke arah selatan karena setau ku, warung ada tak jauh dari rumah ini.

“Ah itu dia.” Aku senang setelah melihat warung yang ku maksud.

Ku lihat ibu-ibu yang berbelanja juga masih sangat ramai disini. “Semoga saja, sayuran nya belum habis.” Gumam ku.

“Eh mba, kamu menantu nya bu Mirna kan mba?” Sapa seorang ibu-ibu padaku.

“Iya bu. Salam kenal. Ibu-ibu semua, nama saya Fitri.” Ucapku memperkenalkan diri.

“Iya Salam kenal Fitri. Aduh, pengantin baru. Wajahnya cerah ceria memerah sekali.” Ledek pemilik warung.

“Ah bisa aja bu.”

“Mana mertua kamu itu? Apa dia sudah pension belanja di warung nya.”

“Em, mama pergi bu. Engga kok, paling sementara saya dulu yang belanja.”

“Oh gitu, saya Cuma mau bilang yang sabar—sabar saja mba Fitri. Mertua kamu itu orang nya nyebelin, suka ikut campur urusan orang. Yang sabar ya mba”

“Eh, iya bu. Insyaallah mama tidak bakal seperti itu.” Jawabku yang sedikit memihak mertua ku.

Setelah berbelanja, aku segera pulang ke rumah. Dari kejauhan aku sudah melihat adik ipar ku yang berdiri dengan seorang laki—laki di depan rumah.

“Loh, Kamu sudah pulang Din?” tanya ku pada ipar ku itu.

“Lama banget sih mba. Kamu kemana aja sih. Buka mba, lama banget.” Respon adik ipar ku dengan jengkel.

Tanpa menjawab nya, aku segera membukakan pintu rumah. Sontak dia langsung menerobos masuk kedalam rumah.

“Bentar ya yang. Cuma sebentar kok.” Ucap nya pada laki-laki yang ternyata adalah pacar nya.

“Iya. Ku tunggu di sini kok.” Jawab laki-laki itu.

Tanpa ikut campur, aku pun segera masuk dan langsung menuju dapur. Aku keluarkan semua sayur mayur yang ku beli tadi dan Sebagian ku letakan di lemari pendingin juga. Sedang fokus dengan itu, dari sudut mataku melihat Dinda keluar dari kamar mertua ku dan berjalan mendekatiku.

“Mba, ada 300 ribu lagi engga? Minta dong. Kurang nih.” Ucap nya menyodorkan telapak tangannya padaku.

“Kan tadi pagi sudah din. 500 ribu itu.” Ucapku.

“Lah, 500 kan Cuma buat bayar administrasi aja. 300 ribu buat ku beli buku nih. Mana mba cepetan dong pacarku nungguin tuh. Pelit banget sih Cuma minta 300 ribu aja lama banget.”

“Iya sebentar.” Ku beranjak dan berjalan ke dalam kamarku setelah ku ambil uang nya dan segera keluar menemui adik iparku itu.

“Nah gitu dong.” Dia sontak merebut uang yang belum ku serahkan padanya.

“Astaga..” ucapku lirih.

“Ya sudah, ku berangkat lagi mba. Bye.”

“Iya hati-hati.”

Dia pun pergi dengan pacarnya itu. “Memang kalau kuliah itu keluar banyak sekali uang ya.Semoga saja Dinda jadi orang sukses dimasa depan. Jadi setelah rumah ku dan mas Viyan jadi, dia setidaknya bisa membantu perekonomian ibunya juga” Gumam ku.

Aku pun lanjut memasak untuk suamiku yang akan pulang sore hari nanti. “Sop ayam, sambal bawang, bakwan, pastel, sama kue bolunya sudah siap. Hmm, asik juga masak buat suami. Semoga saja mas Viyan suka masakan aku ini. “ gumam ku sendiri.

Aku pun menata makanan itu di meja makan. Setelah selesai, aku pun masuk kekamar ku dan membawa bajuku ke kamar mandi untuk mandi. baru aku mengguyur air dari atas kepalaku, Aku mendengar suara motor dan suara pintu terbuka. Aku menduga kalau itu adalah suamiku yang pulang. Karena itu, aku pun mempercepat mandi ku ini.

“Mas kamu sudah pulang?” Aku keluar kamar mandi dengan menggosok-gosokan handuk pada rambutku.

Aku berjalan dan menoleh ke meja makan. Namun rupanya yang pulang itu bukan lah suamiku tetapi mertua ku. Aku lihat dia sedang memakan semua makanan yang ku sajikan itu dengan sangat lahap. Aku hanya bisa menatap nya dan menyapa nya saja.

“Sudah pulang bu?” tanya ku ramah.

“Ya. Kamu sudah belanja kan? jemuran sudah di angkat kan?” Ucapnya dengan mulut yang masih mengunyah.

“Iya bu. Semua sudah beres kok.” Jawabku lalu aku pun menurunkan pandangan ku ke piring yang berisi makanan itu namun nyatanya mertua ku itu sudah menghabiskan Sebagian makanan yang ku masak tadi.

“Hmm, lumayan juga masakan kamu fit. Kalau bisa, ini sup nya ayam nya di banyakin. Viyan suka itu. Terus gorengan ini kamu kasih sedikit bumbu merica. Terus ini kue bolu nya, kamu bikin agak banyakan 2 loyangan lah karena mama sama Dinda suka bolu.” Komentar mertua ku dengan menunjuk ke masakan yang aku masak.

“Iya ma. Tapi ini kok mama menghabiskan bakwan sama kue nya ma? Kayaknya ini enggak cukup kalau buat makan bertiga deh.” Ucapku dengan perlahan.

“Loh kok malah nyalahin mama sih Fit? Seharusnya kamu ya masaknya banyakin dikit lah. Sudah tau buat berempat malah masak sedikit gini. Mama cape sekali setelah muter-muter mall tadi. Sudah lah, besok kamu masak yang banyakan biar kamu juga kebagian.”

Setelah berkata seperti itu, mertua ku pun beranjak dari duduknya dan langsung menuju kamarnya tanpa mencuci piring yang sudah dia pakai untuk makan. Aku hanya bisa mengelus dada ku dan bersabar dengan respon mertua ku itu karena bagaimana lagi posisi ku saat ini memang dibilang masih menumpang pada orang tua.

Aku pun berjalan masuk ke kamar ku dan ku sempatkan memakai perawatan wajah serta tubuh. Setelah selesai, Aku mendengar suara suamiku yang telah pulang. Dengan tak sabar aku pun segera keluar kamar dan menemui nya.

“Assalamualaikum sayang.” Ucap nya yang melihat ku berlari ke depan pintu.

“Waalaikumsalam mas. Selamat datang suamiku.” Aku pun mencium tangan nya dan dia juga mencium kening ku.

“Mas, masuk yuk. Aku sudah masak mas. Tapi kayaknya mandi dulu deh biar seger.” Ucapku tersenyum lebar.

“Iyaa, em oh iya. Ini, untuk istriku.” Suamiku menyerahkan sebuat buket bunga mawar dan ada coklat yang menempel di tengahnya.

“Aaaaww. Bagus sekali..Romantis sekali suamiku. Makasih..”

“Pasti dong.” Dia sempatkan untuk mencium pipiku lagi.

“Hmm.. Kamu sudah pulang yan?” Tiba-tiba saja mertua ku ada di belakang kami.

“Iya ma.” Jawab suamiku singkat.

“Ya sudah kamu mandi sana terus pakai batik saja. Antar mama ke nikahan anaknya bu Adi”

“Sekarang banget ma?”

“Iya lah. Mama tuh nunggu kamu pulang biar bisa diantar kondangan.”

“Iya sudah bentar ya ma.”

Bersambung...

Episodes
1 Bab 1. Alkisah
2 Bab 2 Awal kisah
3 Bab 3. Masalah awal
4 Episode 4. Sifat buruk yang mulai keluar
5 Bab 5. Katanya Menantu Harus Tahu Diri
6 Bab 6. Air Mata di Balik Pagar
7 Bab 7. Menantu Tidak Boleh Menganggur
8 Bab 8. Katanya Menantu Juga Punya Penghasilan
9 Bab 9. Syarat dari Mama
10 Bab 10. Hari Pertama yang Melelahkan
11 Bab 11 . Kartu ATM
12 Bab 12. Fitnah Pertama
13 Bab 13. Tak Pernah Cukup
14 Bab 14. Pulang Terlambat
15 Bab 15. Ketidaksenangan mulai muncul
16 Bab 16. Kata Mertua, Aku menantu Penghasut
17 Bab 17. Katanya Aku menantu yang Tidak Tahu Diri
18 Bab 18. Pengajian Ibu-Ibu
19 Bab 19. Uang Kuliah Dinda
20 Bab 20. Kebohongan Dinda
21 Bab 21. Air Mata Dinda
22 Bab 22. Kebohongan yang Terbongkar
23 Bab 23. Selalu Ada Alasan untuk Dinda
24 Bab 24. Katanya Aku Menantu Pembangkang
25 Bab 25. Tamparan Keras Mertua
26 Bab 26. Rencana Baru Bu Mirna
27 Bab 27. Licik nya mertua ku
28 Bab 28. Tuduhan palsu mertuaku
29 Bab 29. Air Mata Seorang Ibu
30 Bab 30. Kepulangan Ayah
31 Bab 31. Menantu Harus Tahu Diri
32 Bab 32. Akal akalan mertua
33 Bab 33. Dulu wajib bekerja, sekarang di suruh berhenti
34 Bab 34. Tamu yang Tidak Diundang
35 Bab 35. Adu Domba
36 Bab 36. Nama Baik yang Mulai Tercemar
37 Bab 37.Fitnah yang Berbuah Malu
38 Bab 38. Bukti yang Direkayasa
39 Bab 39. Pilih Rumah atau Pekerjaan
40 Bab 40. Kesabaran Ada Batasnya
41 Bab 41. Hak Seorang Istri
42 Bab 42. Dua Garis Merah
43 Bab 43. Mengadu domba
44 Bab 44. Engga ada habis nya rencana nya
45 Bab 45. Walaupun Hamil, Tidak Boleh Manja
46 Bab 46. Ramuan Orang Tua
47 Bab 47. Dukun Bayi Pilihan Mertua
48 Bab 48. Flek Pertama
49 Bab 49. Jangan Ada yang Disembunyikan Lagi
50 Bab 50. Salahkan Menantunya
51 Bab 51. Jika Kehadiranku Hanya Membawa Masalah
52 Bab 52. Jangan Menyerah Dulu
53 Bab 53. Restu yang Tak Kunjung Datang
54 Bab 54.Rumah Kecil, Bahagia Kami
55 Bab 55. Di Hadapan Keluarga Besar
56 Bab 56. Nama Kecil untuk Seorang Pejuang
57 Bab 57. Tengah Malam yang Menegangkan
58 Bab 58. Tangis Pertama dan malam pertama jadi orang tua
59 Bab 59. Nama yang Kami Pilih
60 Bab 60. Aqiqah anak kami
61 Bab 61. Empat Tahun Kemudian
62 Bab 62. Pertanyaan Sederhana
63 Epilog. Rumah yang Kami Perjuangkan
Episodes

Updated 63 Episodes

1
Bab 1. Alkisah
2
Bab 2 Awal kisah
3
Bab 3. Masalah awal
4
Episode 4. Sifat buruk yang mulai keluar
5
Bab 5. Katanya Menantu Harus Tahu Diri
6
Bab 6. Air Mata di Balik Pagar
7
Bab 7. Menantu Tidak Boleh Menganggur
8
Bab 8. Katanya Menantu Juga Punya Penghasilan
9
Bab 9. Syarat dari Mama
10
Bab 10. Hari Pertama yang Melelahkan
11
Bab 11 . Kartu ATM
12
Bab 12. Fitnah Pertama
13
Bab 13. Tak Pernah Cukup
14
Bab 14. Pulang Terlambat
15
Bab 15. Ketidaksenangan mulai muncul
16
Bab 16. Kata Mertua, Aku menantu Penghasut
17
Bab 17. Katanya Aku menantu yang Tidak Tahu Diri
18
Bab 18. Pengajian Ibu-Ibu
19
Bab 19. Uang Kuliah Dinda
20
Bab 20. Kebohongan Dinda
21
Bab 21. Air Mata Dinda
22
Bab 22. Kebohongan yang Terbongkar
23
Bab 23. Selalu Ada Alasan untuk Dinda
24
Bab 24. Katanya Aku Menantu Pembangkang
25
Bab 25. Tamparan Keras Mertua
26
Bab 26. Rencana Baru Bu Mirna
27
Bab 27. Licik nya mertua ku
28
Bab 28. Tuduhan palsu mertuaku
29
Bab 29. Air Mata Seorang Ibu
30
Bab 30. Kepulangan Ayah
31
Bab 31. Menantu Harus Tahu Diri
32
Bab 32. Akal akalan mertua
33
Bab 33. Dulu wajib bekerja, sekarang di suruh berhenti
34
Bab 34. Tamu yang Tidak Diundang
35
Bab 35. Adu Domba
36
Bab 36. Nama Baik yang Mulai Tercemar
37
Bab 37.Fitnah yang Berbuah Malu
38
Bab 38. Bukti yang Direkayasa
39
Bab 39. Pilih Rumah atau Pekerjaan
40
Bab 40. Kesabaran Ada Batasnya
41
Bab 41. Hak Seorang Istri
42
Bab 42. Dua Garis Merah
43
Bab 43. Mengadu domba
44
Bab 44. Engga ada habis nya rencana nya
45
Bab 45. Walaupun Hamil, Tidak Boleh Manja
46
Bab 46. Ramuan Orang Tua
47
Bab 47. Dukun Bayi Pilihan Mertua
48
Bab 48. Flek Pertama
49
Bab 49. Jangan Ada yang Disembunyikan Lagi
50
Bab 50. Salahkan Menantunya
51
Bab 51. Jika Kehadiranku Hanya Membawa Masalah
52
Bab 52. Jangan Menyerah Dulu
53
Bab 53. Restu yang Tak Kunjung Datang
54
Bab 54.Rumah Kecil, Bahagia Kami
55
Bab 55. Di Hadapan Keluarga Besar
56
Bab 56. Nama Kecil untuk Seorang Pejuang
57
Bab 57. Tengah Malam yang Menegangkan
58
Bab 58. Tangis Pertama dan malam pertama jadi orang tua
59
Bab 59. Nama yang Kami Pilih
60
Bab 60. Aqiqah anak kami
61
Bab 61. Empat Tahun Kemudian
62
Bab 62. Pertanyaan Sederhana
63
Epilog. Rumah yang Kami Perjuangkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!