Sudah hampir memasuki akhir trimester pertama kehamilanku. Rasa mual memang mulai berkurang, tetapi tubuhku masih sering cepat lelah.
Dokter berkali-kali mengingatkan agar aku tidak terlalu banyak mengangkat beban dan menghindari stres berlebihan.
Aku selalu mengingat pesan itu.
Sayangnya... Tidak semua orang di rumah ini menganggapnya penting.
**
Sore itu aku pulang kerja sedikit lebih lambat. Rapat yang molor membuat tubuhku terasa remuk.
Begitu membuka pagar rumah, aku melihat sebuah karung beras lima belas kilogram masih tergeletak di teras.
Kurir yang mengantar rupanya sudah lama pergi. Aku baru saja hendak masuk ketika suara Bu Mirna terdengar dari dalam rumah.
"Fitri."
"Iya, Ma."
"Itu berasnya masukin ke dapur."
Aku menoleh ke arah karung beras itu.
"Ma... nanti saja ya. Tunggu Mas Viyan pulang."
Bu Mirna langsung mengerutkan kening. "Kenapa harus nunggu Viyan? Itu cuma beras."
"Aku takut terlalu berat, Ma. Dokter kemarin bilang jangan angkat beban."
Bu Mirna mendengus pelan. "Dokter zaman sekarang bikin perempuan jadi lemah. Dulu Mama hamil sambil angkat karung padi. Anaknya juga lahir sehat."
Aku tetap mencoba tersenyum. "Iya, Ma. Tapi dokter menyarankan saya jangan memaksakan diri."
Belum sempat aku melangkah masuk, Dinda keluar sambil memainkan ponselnya.
"Lho, Mbak. Segitu doang takut?"
Aku tidak menjawab. Dinda malah terkekeh. "Pantes Mama bilang Mbak manja.Baru hamil sedikit sudah kayak orang sakit."
Kalimat itu menusuk, tetapi aku memilih diam. Aku berharap pembicaraan berhenti sampai di situ. Namun Bu Mirna kembali berkata,
"Kalau kerja di kantor kuat. Giliran bantu rumah sendiri enggak kuat."
Dadaku terasa sesak. Aku menatap karung beras itu. Lalu mengusap pelan perutku.
"Maaf ya, Nak..."
Aku berjongkok perlahan. Kedua tanganku memegang ujung karung. Dengan seluruh tenaga yang kupunya, kuangkat sedikit demi sedikit.
Berat.. Sangat berat. Baru beberapa langkah menuju dapur, pinggangku terasa seperti ditarik. Napas mulai memburu.
Bruk... Karung itu ke…
Menantu Yang Tak Pernah Dianggap
Bab 48. Flek Pertama
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 63 Episodes
Comments