Episode 4

Bab 004: Bagaimana Kalau Aku Menyukainya?

Pipi Galang masih merah ketika Arga berjalan keluar dari ruang keluarga.

Tidak ada yang mengejarnya.

Untuk beberapa detik, seluruh Rumah Anggrek seperti lupa cara bernapas. Televisi masih menyiarkan kabar Kejatuhan Kusuma. Suara pembawa berita terdengar jauh, kalah oleh gema tamparan yang baru saja menempel di dinding marmer.

"Dia menampar Galang..." Ratna berbisik, seperti baru menyadari apa yang terjadi.

Galang menegakkan tubuh dengan wajah terbakar malu. "Aku akan buat dia menyesal."

"Cukup," kata Bu Agung.

Satu kata itu menghentikan semua suara.

Bu Agung Hartono berdiri perlahan dari kursi utama. Tongkatnya menyentuh lantai, satu ketukan pendek. Matanya tidak mengejar Arga. Matanya berhenti pada Kiara.

"Kamu puas?"

Kiara masih berdiri di dekat sofa. "Apa maksud Eyang?"

"Dua hari lalu kamu menandatangani perjanjian perceraian. Semalam kamu menyeret dia kembali ke rumah ini. Pagi ini kamu berdiri di depan dia, melawan seluruh keluarga."

Ratna segera menyambung, "Kiara, kamu jangan bodoh. Orang itu membawa masalah. Hari ini Kusuma jatuh karena urusan mereka sendiri, tanpa campur tangan dia."

Bimo mengangguk cepat. "Betul. Jangan salah membaca keadaan."

Kiara menatap mereka satu per satu.

Ia mengingat suite 1208. Tangan Rendra di pergelangannya. Ponsel yang hampir jatuh dari jarinya. Suara Arga di ujung panggilan, dingin, pendek, tetapi datang seperti garis terakhir antara dirinya dan jurang.

Lalu ia melihat keluarganya.

Orang-orang yang baru menangis karena takut kehilangan bisnis, tetapi tidak satu pun bertanya apakah ia masih takut.

"Bagaimana kalau aku memang salah membaca?" kata Kiara pelan.

Ratna mengerutkan kening. "Apa?"

Kiara mengangkat wajah.

"Bagaimana kalau aku menyukainya? Memangnya tidak boleh?"

Kalimat itu jatuh lebih keras daripada tamparan Arga.

Galang tertawa pendek. "Kamu gila."

Ratna memegang dada. "Kiara! Kamu CEO, kamu pewaris Hartono. Kamu bilang kamu menyukai laki-laki yang bahkan tidak punya pekerjaan?"

"Dia menolong saya."

"Sopir juga bisa menolong kalau disuruh!" Ratna membentak. "Jangan campuradukkan kasihan dengan perasaan."

Bu Agung mengangkat tangan. Ratna langsung diam.

Perempuan tua itu menatap Kiara dengan sorot yang sudah membuat banyak direktur menunduk dalam RUPS.

"Kalau kamu memilih dia," kata Bu Agung, "jangan harap kamu tetap memegang kendali di PT Hartono Group."

Bimo terkejut. "Bu..."

"Diam." Bu Agung tidak menoleh. "Keluarga ini dibangun dengan nama, reputasi, dan disiplin. Cucu Eyang boleh lelah. Boleh marah. Tapi tidak boleh menyeret sampah ke kursi direksi."

Kiara merasakan kalimat itu masuk seperti pisau tumpul.

Ia sudah sering mendengar keluarganya menghina Arga. Kali ini, hinaan itu terasa mengenai dirinya sendiri.

Sebelum Kiara menjawab, suara Arga terdengar dari ambang pintu utama.

"Tidak perlu memilih."

Semua orang menoleh.

Ternyata ia belum benar-benar pergi. Ia berdiri di luar ruang keluarga, ransel tua di satu bahu, wajahnya tenang seperti biasa.

Kiara menatapnya. "Arga..."

"Aku tidak akan tinggal."

Kalimat itu bersih. Tidak keras. Justru terlalu rapi, seperti keputusan yang sudah dipotong sebelum siapa pun bisa menyentuhnya.

Ratna mendengus lega. "Setidaknya dia tahu diri."

Arga tidak melihat Ratna.

Ia hanya melihat Kiara.

Sebentar saja.

"Jaga dirimu," katanya.

Lalu ia berjalan keluar.

Kiara bergerak sebelum ia sadar.

Ia mengejar melewati koridor, melewati pelayan yang menunduk panik, sampai ke teras depan Rumah Anggrek. Udara sore masih menyimpan bau hujan. Arga sudah berada di dekat gerbang.

"Arga!"

Ia berhenti.

Kiara menuruni tiga anak tangga. "Kita masih bisa berteman?"

Pertanyaan itu terdengar bodoh begitu keluar dari mulutnya.

Setelah perjanjian perceraian. Setelah pesta Rendra. Setelah ia tidak menahan Arga pergi. Setelah seluruh keluarganya ingin menyerahkan laki-laki itu.

Berteman.

Seolah kata itu cukup untuk menambal semua yang rusak.

Arga tidak berbalik penuh. Hanya sedikit, cukup untuk membuat profil wajahnya terlihat di bawah lampu teras.

"Lebih baik jangan."

Kiara berhenti.

"Kenapa?"

Arga menatap jalan basah di luar gerbang.

Karena kalau ia tetap dekat, keluarga Hartono akan terus menyeretnya.

Karena kalau ia terlalu lama melihat Kiara, ia mungkin lupa bahwa perempuan itu tidak pernah memintanya tinggal.

Karena semua rahasia yang ia simpan bisa menghancurkan lebih banyak orang sebelum waktunya.

Tetapi ia hanya berkata, "Kamu akan lebih tenang."

Lalu ia pergi.

Malam itu, Kiara berdiri di teras sampai mobil hitam yang menjemput Arga menghilang di tikungan.

Keesokan paginya, ruang keluarga Rumah Anggrek berubah menjadi ruang perang.

Kejatuhan Kusuma membuat keluarga Hartono selamat dari ancaman, tetapi juga membuka bau darah di air. Ketika satu konglomerat jatuh, yang lain segera mencari aset murah, proyek tertunda, dan celah baru.

Bu Agung duduk di kursi utama dengan map cokelat di pangkuan.

"Kawasan Rusunawa Harapan masuk tahap akhir revitalisasi," katanya.

Bimo mengangkat wajah. "Yang dekat koridor MRT baru itu?"

"Ya. Dokumen pemerintah daerah belum diumumkan luas, tapi jalurnya sudah jelas. Begitu keputusan keluar, harga lahan dan unit di sana bisa naik dua kali lipat dalam tiga tahun."

Galang yang pipinya masih sedikit bengkak langsung lupa malu. "Kita beli sekarang."

Ratna menyipitkan mata. "Bukankah Kiara punya unit di sana?"

Kiara yang baru turun dari tangga berhenti.

Unit itu apartemen sederhana yang dulu ia beli atas namanya sendiri, jauh sebelum ia sepenuhnya mengendalikan PT Hartono Group. Tempat itu lebih sering kosong, tetapi baginya, itu satu-satunya ruang di Jakarta yang tidak berbau keputusan keluarga.

Bu Agung menatapnya. "Unitmu tidak masalah. Justru itu pintu masuk."

"Eyang mau membeli seluruh blok?" tanya Kiara.

"Kalau kita bergerak cepat, ya."

Bimo sudah membuka kalkulator. "Kita bisa kirim tim akuisisi. Penduduk lama biasanya mau jual kalau diberi uang tunai."

Kiara mengerutkan kening. "Jangan tekan mereka terlalu rendah."

Galang tertawa. "Ini bisnis, Kiara. Kalau mereka tidak tahu harga masa depan, itu bukan salah kita."

Kiara menatapnya dingin. "Itu tetap salah kalau kita sengaja memanfaatkan informasi tertutup."

Bu Agung mengetukkan tongkat. "Kita tidak melanggar hukum. Kita bergerak lebih cepat."

Di Villa Puncak, sore harinya, Arga berdiri di ruang kerja ketika ponselnya bergetar.

Gacrux.

"Bos, ada pergerakan di kawasan Rusunawa Harapan."

"Siapa?"

"Keluarga Hartono. Mereka mulai membeli unit di sekitar apartemen Kiara. Harga yang mereka tawarkan rendah. Beberapa penghuni sudah tertekan untuk tanda tangan."

Arga menatap kota dari balik kaca.

Kusuma baru saja jatuh, tetapi keluarga Hartono sudah menemukan sesuatu yang lain untuk diperas.

"Kirim lokasi dan daftar unit," katanya.

"Siap."

Arga menutup mata sebentar.

Lebih baik jangan, katanya kemarin.

Tetapi ada hal-hal yang tidak bisa ia biarkan hanya karena ia sedang mencoba menjauh.

Ponselnya kembali menyala. Peta kawasan masuk. Titik merah menumpuk di sekitar satu menara.

Menara tempat Kiara tinggal.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!