Menantu, Tolong Ampuni Aku

Menantu, Tolong Ampuni Aku

Episode 1

Bab 001: Apa Bedanya Aku Baca atau Tidak?

Pulpen hitam itu diletakkan tepat di depan Arga Pratama.

Di atas meja kayu jati ruang kerja Rumah Anggrek, selembar perjanjian perceraian sudah terbuka pada halaman terakhir. Nama Kiara Hartono tercetak rapi di sebelah kiri. Nama Arga Pratama menunggu di sebelah kanan, kosong, seolah dua tahun hidupnya hanya tinggal satu garis tanda tangan.

Ruangan itu terlalu sunyi.

Dari luar jendela, halaman Kebayoran Baru terlihat basah setelah hujan pagi. Anggrek putih di teras masih meneteskan air. Di dalam, pendingin ruangan bekerja tanpa suara, tetapi udara di antara mereka tetap terasa berat.

Kiara duduk di seberangnya dengan blazer abu-abu dan rambut terikat rapi. Wajahnya tenang, wajah yang biasa muncul di halaman bisnis sebagai CEO termuda PT Hartono Group. Hanya jarinya yang mengkhianati dia. Ujung jarinya terus menekan sudut map kulit di meja.

"Kamu bisa baca dulu," katanya pelan.

Arga menatap halaman itu sebentar.

Perjanjian pranikah. Pemisahan harta penuh. Kompensasi Rp 2 miliar setelah masa pernikahan dua tahun berakhir. Denda Rp 1 triliun jika ia menuntut harta keluarga Hartono atau mempermalukan nama keluarga.

Semua sudah ia tahu.

Selama dua tahun, keluarga Hartono memastikan ia tahu posisinya tanpa perlu membaca satu pasal pun.

Di ruang makan, Ratna Hartono pernah berkata di depan sepupu-sepupu Kiara, "Menantu nggak punya kerjaan, numpang makan, numpang tidur. Setidaknya bantu angkat galon."

Di acara keluarga, Bimo Hartono tidak pernah memperkenalkan namanya. Ia cukup berkata, "Ini suaminya Kiara." Bagi Bimo, Arga hanya aksesori yang kebetulan berdiri di belakang putrinya.

Pada Lebaran tahun lalu, Galang Hartono melempar kunci mobil ke dadanya. "Bisa nyetir, kan? Jangan cuma bisa cuci piring."

Arga melakukan semuanya.

Menyetir. Mencuci piring. Membawa koper. Menunggu di parkiran. Menunduk ketika orang-orang tertawa.

Tidak sekali pun ia membantah.

Hari ini, mereka pikir masa sabarnya habis karena mereka yang mengusirnya.

Mereka salah.

Arga mengambil pulpen.

Kiara mengangkat wajah. "Arga."

Ujung pulpen sudah menyentuh kertas.

"Baca atau tidak baca, apa bedanya?" suara Arga datar. "Hasilnya yang kalian mau tetap sama."

Goresan tanda tangannya turun tanpa ragu.

Satu garis.

Dua tahun selesai.

Kiara menatap tanda tangan itu cukup lama. Bibirnya bergerak sedikit, seperti ada kalimat yang hampir keluar, tetapi mati sebelum menjadi suara. Ia mengambil map itu, menutupnya, lalu menggesernya ke sisi meja.

"Dokumen ini akan disimpan kuasa hukum dulu," katanya. "Proses pengadilan belum diajukan hari ini."

Arga mengangguk. "Aku tahu."

Di Indonesia, tanda tangan bukan akta cerai. Pengadilan belum memutuskan apa pun. Secara hukum, pernikahan mereka masih hidup, hanya napasnya dibuat sangat pelan.

Kiara membuka aplikasi bank di ponselnya.

Beberapa detik kemudian, ponsel tua Arga bergetar di saku celananya.

Transfer masuk.

Rp 3.000.000.000.

Angka itu muncul di layar dengan dingin. Tiga miliar. Satu miliar lebih banyak dari isi perjanjian.

Arga menatap angka itu. Lalu menatap Kiara.

Kiara tidak menatap balik.

"Itu bukan dari keluarga," katanya. "Dari rekening pribadi saya."

"Kenapa?"

Pertanyaan itu pendek, tetapi membuat jemari Kiara berhenti.

Di luar sana, ia bisa memotong negosiasi bernilai triliunan rupiah dengan satu kalimat. Di depan Arga, untuk menjelaskan tambahan satu miliar, ia justru seperti kehilangan bahasa.

"Kamu tinggal di rumah ini dua tahun," jawabnya akhirnya. "Kamu... tetap membantu banyak hal."

Arga hampir tersenyum.

Membantu banyak hal.

Itu cara paling mahal untuk mengatakan maaf tanpa mengucapkan maaf.

"Terima kasih," katanya.

Kiara mengangkat wajah. Untuk sesaat, sesuatu di matanya retak oleh rasa bersalah yang terlalu lama disimpan di tempat gelap.

"Setelah ini," kata Kiara, "sopir bisa mengantarmu."

Kalimat itu pelan.

Tetapi cukup.

Arga mengerti.

Ruangan itu membiarkannya pergi begitu saja. Tak satu tangan pun menahan, tak satu suara pun memanggilnya tinggal.

Ia berdiri, mengambil ransel tua yang sejak pagi sudah bersandar di dekat kaki kursi. Ransel itu kecil, pudar, dan hampir kosong. Dua kaus. Satu jaket lusuh. Satu dompet. Satu ponsel.

Itulah semua barang yang menurut keluarga Hartono ia miliki.

Kiara ikut berdiri, tetapi hanya sampai di belakang meja.

"Arga," panggilnya lagi.

Ia berhenti di ambang pintu.

"Hati-hati."

Arga menoleh sedikit. "Kamu juga."

Ia berjalan keluar melewati koridor marmer Rumah Anggrek. Dua pelayan menunduk canggung. Seorang satpam di dekat pintu utama membuka pintu lebih cepat daripada biasanya, mungkin karena hari ini semua orang sudah tahu: si numpang akhirnya pergi.

Arga melangkah ke halaman.

Di belakangnya, pintu rumah besar itu tertutup pelan.

Di dalam ruang kerja, Kiara masih berdiri dengan map perceraian di meja. Ponselnya berdering sebelum ia sempat menarik napas.

Nama ayahnya muncul di layar.

"Ya, Pak?"

Suara Bimo Hartono masuk tanpa salam. "Kiara, besok malam kamu datang ke ulang tahun Rendra Kusuma di Hotel Mulia. Jangan bawa Arga. Urusan kalian sudah selesai, kan?"

Kiara menggenggam ponsel lebih erat. "Baru tanda tangan perjanjian. Belum ada putusan pengadilan."

"Jangan main istilah hukum sama Papa. Intinya, kamu sudah bebas. Rendra tertarik padamu. Kusuma Group bisa jadi mitra penting kalau kamu pintar membawa diri."

Kiara memejamkan mata.

Di meja, tinta tanda tangan Arga bahkan belum kering.

"Jadi karena ini perceraian harus hari ini?" suaranya turun, dingin.

Di ujung telepon, Bimo terdiam setengah detik. Lalu ia berkata lebih keras, "Ini demi keluarga. Jangan keras kepala. Arga itu tidak memberi apa-apa untuk hidupmu."

Kiara melihat ke pintu yang baru dilewati Arga.

Untuk pertama kalinya hari itu, wajah CEO termuda di Sudirman tampak benar-benar lelah.

Sementara itu, di luar pagar Rumah Anggrek, Arga berhenti di bawah pohon tanjung. Hujan sudah berhenti. Jalanan Kebayoran Baru mengilap, memantulkan mobil-mobil mahal yang lewat tanpa peduli.

Ia mengeluarkan ponsel tua dari saku.

Kontak yang ia tekan tidak memiliki nama lengkap. Hanya satu kata.

Gacrux.

Panggilan tersambung pada dering pertama.

"Bos."

Satu kata itu menghapus seluruh suara Rumah Anggrek dari belakangnya.

Arga memandang pagar tinggi keluarga Hartono. "Aku masih hidup."

Di seberang sana, Gacrux tidak bertanya mengapa. Orang seperti dia tidak membuang waktu untuk hal yang sudah jelas.

"Dikonfirmasi."

Arga memasukkan tangan kiri ke saku. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh suara ban mobil di aspal basah.

"Dan PT Kusuma Group akan lenyap."

Hening sebentar.

Lalu Gacrux menjawab, "Dosier Kusuma sudah lengkap. Kredit macet, laporan keuangan ganda, pembayaran ke pejabat pengadaan, semua ada. Tinggal perintah."

"Tahan sampai besok malam."

"Dipahami."

Arga memutus panggilan.

Ia berjalan tanpa menoleh lagi.

Sore berubah menjadi malam ketika sebuah mobil hitam tanpa logo berhenti di depan sebuah gerbang tertutup di Menteng. Gerbang itu terbuka tanpa bunyi. Di baliknya berdiri Villa Puncak, rumah pribadi dengan halaman luas, kaca tinggi, dan helipad kecil yang basah oleh sisa hujan.

Lampu-lampu Jakarta menyala jauh di bawah sana, seperti lautan emas yang tidak pernah tidur.

Seorang kepala rumah tangga membungkuk ketika Arga turun.

"Selamat datang kembali, Pak Arga."

Arga hanya mengangguk. Ransel tuanya masih menggantung di satu bahu, tampak aneh di tengah lantai batu mahal dan dinding kaca raksasa. Ia naik ke ruang kerja lantai dua, menaruh ransel itu di sofa, lalu berdiri di depan jendela.

Di atas meja, sebuah tablet sudah menyala.

Cakra Capital - Quarterly Report.

Angka utama di halaman pertama tidak berteriak. Ia hanya berdiri di sana dengan tenang, seperti sesuatu yang tidak perlu membuktikan diri.

Net asset value: Rp 180 triliun.

Ponselnya kembali bergetar.

Gacrux.

"Bos, laporan kuartal sudah dikunci. Bu Dinda meminta konfirmasi akhir sebelum rilis internal. Semua struktur tetap atas nama Cakra Capital. Nama Anda bersih dari dokumen publik."

"Bagus."

"Ada satu hal lagi."

Arga menatap pantulan dirinya di kaca. Kaos murah. Jaket lama. Wajah laki-laki yang dua jam lalu baru ditandatangani keluar dari sebuah pernikahan seperti barang rusak.

"Katakan."

"Rendra Kusuma mengadakan pesta ulang tahun besok malam. Lusa, mungkin sudah tidak ada yang bisa dirayakan lagi."

Arga diam.

Di bawah langit Jakarta, pria yang dipanggil benalu oleh keluarga istrinya berdiri di atas salah satu rumah paling sunyi di Menteng.

Mereka mengenalnya sebagai menantu yang tidak punya apa-apa.

SCBD mengenalnya sebagai bayangan yang tidak pernah muncul.

Para veteran tertentu mengenalnya sebagai mantan Letnan Kolonel Kopassus yang namanya dikunci negara.

Dan di balik layar Cakra Capital, hanya sedikit orang yang tahu nama satu itu.

Acrux.

Arga menutup laporan kuartal.

"Besok malam," katanya, "biarkan dia meniup lilin dulu."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!