Episode 2

Bab 002 - Aku Tidak Akan Lari

"Tapi, Arya... Mama akan membunuhku kalau dia tahu."

Kirana mengucapkan kalimat itu tepat di depan pintu ruang pemeriksaan.

Arya tidak langsung menjawab. Ia melihat tangan Kirana yang masih menggenggam ujung cardigan. Buku jarinya pucat.

Ia meraih tangan itu.

"Kita dengar dokter dulu," katanya. "Setelah itu, aku yang bicara denganmu. Satu per satu."

Perawat di dalam ruangan menunggu. Kirana menarik napas, lalu masuk bersama Arya.

Dokter jaga pagi itu perempuan berusia sekitar empat puluh tahun. Di papan namanya tertulis Dokter Maya. Wajahnya tenang, suaranya lembut, gerakannya rapi.

"Silakan duduk. Keluhannya apa?"

Kirana menunduk. Arya mengambil alih.

"Dok, test pack dua kali positif. Dia telat haid. Kami ingin memastikan."

Dokter Maya menatap Kirana, lalu mengangguk. Ia tidak menghakimi. Sikap itu membuat bahu Kirana sedikit turun.

"Kita periksa urine dulu, lalu kalau perlu USG awal. Usia kehamilan masih sangat muda biasanya belum terlalu jelas, tapi tanda awal bisa kita lihat."

Arya mengangguk. "Baik, Dok."

Sambil menunggu hasil tes urine, Kirana duduk di kursi panjang kecil dekat dinding. Matanya kosong menatap lantai.

Arya duduk di sampingnya.

"Kalau hasilnya positif..." Kirana berhenti.

"Aku tetap di sini."

"Kamu sudah bilang itu."

"Aku akan bilang lagi sampai kamu percaya."

Kirana menoleh. Matanya basah, tapi napasnya mulai teratur.

"Arya, hidupmu bisa hancur."

"Hidupku sudah berubah sejak tadi." Arya menatap pintu ruang laboratorium kecil. "Sekarang tinggal pilih berubah jadi pengecut atau jadi laki-laki yang bertanggung jawab."

Kirana menggigit bibir.

Pintu terbuka. Perawat menyerahkan kertas kecil kepada Dokter Maya.

Dokter membaca, lalu memandang mereka berdua.

"Hasilnya positif."

Kirana memejamkan mata.

Arya merasakan tangannya diremas kuat.

Dokter Maya melanjutkan, "Dari riwayat telat haid, kemungkinan sekitar enam minggu. Kita lakukan USG transvaginal atau jadwalkan ulang untuk kontrol lebih jelas. Karena ini masih awal, yang penting sekarang istirahat, makan teratur, asam folat, dan jangan stres berat."

Kata "enam minggu" membuat ruangan terasa hening.

Enam minggu.

Di kepala Arya, angka itu langsung diikuti informasi dari sistem. Trimester pertama. Janin sangat rapuh. Stres berat bisa memperburuk mual, tidur, tekanan darah. Asam folat perlu segera dimulai.

"Dok, untuk asam folat dosis hariannya berapa?" tanya Arya.

Dokter Maya sedikit terkejut. "Biasanya 400 mikrogram per hari untuk awal. Nanti saya tuliskan resep. Ada riwayat anemia?"

Kirana menggeleng pelan. "Saya tidak tahu, Dok."

"Kita bisa cek darah di kunjungan berikutnya. Untuk hari ini, tenangkan diri dulu."

Arya mengeluarkan ponsel. "Dok, kapan kontrol berikutnya?"

"Satu sampai dua minggu. Kalau ada flek, nyeri perut hebat, muntah parah, atau pusing berat, langsung kembali ke IGD."

"Baik. Saya catat."

Dokter Maya memandang Arya lebih lama. "Kamu suaminya?"

Kirana kaku.

Arya menjawab tanpa ragu, "Saya ayah dari anak ini, Dok. Untuk urusan resmi keluarga, kami akan selesaikan secepatnya."

Kirana menoleh cepat.

Dokter Maya tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya menulis resep dan memberi mereka map kecil berisi hasil pemeriksaan.

"Jaga dia. Kehamilan awal perlu pendampingan. Jangan biarkan dia menghadapi ini sendirian."

"Saya paham."

Arya menerima map itu dengan dua tangan.

Di luar ruang pemeriksaan, Kirana berhenti di koridor. Ia menatap map di tangan Arya seolah benda itu lebih berat dari batu.

"Jadi... benar."

"Benar."

Kirana tertawa kecil. Suaranya patah. "Aku hamil."

Arya menyimpan map ke dalam tasnya. "Kita beli obat dulu. Setelah itu makan."

"Aku tidak lapar."

"Kamu harus makan. Dokter bilang jangan telat makan."

"Kamu mendadak cerewet."

"Mulai hari ini, aku punya alasan."

Kirana menatapnya. Untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibirnya bergerak sedikit.

Mereka turun ke apotek rumah sakit. Arya membayar resep tanpa menghitung ulang uang di dompet. Notifikasi saldo tadi masih menempel di kepalanya seperti angka yang menyala.

Rp 200.000.000.

Uang itu tidak menghapus ketakutan Kirana. Tidak membuat Ibu Ratna langsung menerima. Tidak menyelesaikan kampus, keluarga, dan gosip.

Namun uang itu memberi Arya ruang bernapas.

Ruang untuk bertindak.

Setelah obat dibungkus, Arya membawa Kirana keluar dari rumah sakit.

"Kita ke mana?" tanya Kirana.

"Warung Nasi Campur Pak De."

Kirana berkedip. "Sekarang?"

"Kamu pernah bilang kalau panik, nasi campur Pak De bisa bikin dunia sedikit masuk akal."

Kirana terdiam.

Warung itu hanya sepuluh menit dari RS Darmo. Tempatnya sederhana, meja plastik, kipas dinding, kaca etalase penuh ayam suwir, telur pindang, sambal, tahu, dan serundeng. Pak De yang menjaga warung mengenali Kirana.

"Lho, Mbak Kirana. Pagi-pagi sudah datang? Sama Mas Arya?"

Kirana cepat mengusap mata. "Iya, Pak De."

Arya memesan dua porsi. Untuk Kirana, ia minta nasi setengah, ayam, telur, sayur, dan sambal dipisah. Ia juga mengambil air mineral sebagai pengganti es teh manis yang biasa Kirana pesan.

Kirana memperhatikannya.

"Kamu kok tahu aku harus mengurangi pedas?"

Arya hampir tersedak napas sendiri. Sistem di kepalanya terlalu berguna sampai ia lupa terlihat aneh.

"Tadi dokter bilang jangan bikin perutmu kaget," jawabnya cepat.

Kirana menerima alasan itu.

Mereka duduk di sudut warung.

Beberapa menit pertama, hanya suara sendok dan piring yang terdengar. Kirana makan sedikit demi sedikit. Arya tidak memaksa. Ia hanya mendorong gelas air mineral lebih dekat.

Setelah tiga suap, Kirana meletakkan sendok.

"Arya, aku takut Mama kecewa."

"Dia pasti kecewa."

Kirana menatapnya, terluka.

Arya menatapnya lurus. "Dia pasti butuh waktu. Aku akan datang ke Malang, minta maaf langsung, lalu jelaskan rencanaku."

"Rencana apa?"

Arya membuka catatan di ponselnya. Dalam perjalanan dari rumah sakit ke warung, ia sudah menulis cepat.

"Pertama, kontrol kehamilan rutin. Aku yang antar. Kedua, vitamin dan makanan. Ketiga, tempat tinggal yang lebih aman. Kosmu terlalu sempit dan orang mudah bertanya. Keempat, aku bicara dengan orang tuaku. Setelah itu kita bicara dengan Ibu Ratna."

Kirana menatap daftar itu.

"Kamu membuat rencana?"

"Kalau aku hanya bilang bertanggung jawab tanpa rencana, kamu boleh marah."

Kirana menunduk. Air matanya jatuh lagi, kali ini pelan.

"Aku kira kamu akan panik lalu menghilang."

"Aku memang panik."

"Tapi kamu masih di sini."

"Aku masih di sini."

Kirana menggenggam sendok sampai gemetar. "Anak ini..."

Arya menunggu.

"Anak ini benar-benar anak kita."

Arya merasakan dadanya sesak. Ia mengangguk.

"Iya. Anak kita."

Pada saat itu, panel sistem muncul.

【Tindakan terdeteksi: menerima kehamilan dan menyusun rencana tanggung jawab.】

【Evaluasi: komitmen nyata tahap awal.】

【Hadiah diberikan: Toyota GR Supra.】

【Lokasi kendaraan: Area parkir B, RS Darmo Surabaya.】

Arya berhenti mengunyah.

Sendoknya menggantung di udara.

"Arya?" Kirana mengernyit. "Kamu kenapa lagi?"

"Aku..." Arya menelan nasi dengan susah payah. "Aku perlu ke toilet sebentar."

Kirana menatapnya curiga.

"Sebentar saja."

Arya berdiri, membayar makanan di kasir, lalu keluar dari warung. Begitu di luar, ia hampir berlari kembali ke RS Darmo.

Area parkir B ada di sisi belakang gedung.

Di sana, di antara mobil keluarga dan beberapa sedan dokter, sebuah Toyota GR Supra warna abu-abu metalik terparkir dengan tenang.

Plat nomor sudah terpasang.

Kunci mobil ada di saku jaket Arya.

Ia merogoh saku dengan tangan kaku. Benar. Sebuah smart key hitam dengan logo Toyota berada di sana.

Arya menekan tombol.

Lampu mobil berkedip.

"Ya Allah..."

Ia berdiri beberapa detik, memandang mobil itu. Tadi pagi ia datang dengan Honda Beat tua yang suara mesinnya memalukan. Sekarang sistem memberinya mobil yang bahkan Denny Hartono pun akan lirik dua kali.

Panel kecil muncul lagi.

【Catatan: gunakan hadiah untuk melindungi keluarga. Hindari pamer kosong.】

Arya menarik napas.

Pesan itu jelas.

Mobil ini alat.

Ia kembali ke warung dengan langkah yang dipaksa normal.

Kirana sudah berdiri di depan warung, memegang kantong obat dan tas kecilnya.

"Toiletnya jauh sekali?"

"Agak."

"Kamu pucat."

"Nanti aku jelaskan." Arya mengambil kantong obat dari tangannya. "Ayo, aku antar pulang."

"Naik motor?"

Arya diam sebentar.

"Ada kendaraan lain."

Kirana menyipitkan mata.

Mereka berjalan kembali ke RS Darmo. Ketika tiba di Area parkir B, langkah Kirana melambat.

Matanya tertuju pada GR Supra abu-abu itu.

Arya menekan tombol kunci.

Lampu mobil berkedip.

Kirana berhenti total.

"Arya..."

Arya membuka pintu penumpang untuknya.

Kirana tidak langsung masuk. Ia menatap mobil itu, lalu menatap Arya.

"Mobil ini dari mana?"

Terpopuler

Comments

Teripat Embat

Teripat Embat

aku baru tau kalok makan diwarung nasi bisa bikin dunia nyata🤭

2026-08-26

0

penggemar_Uangkecil?!

penggemar_Uangkecil?!

👍👍

2026-07-31

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
143 Episode 143
144 Episode 144
145 Episode 145
146 Episode 146
147 Episode 147
148 Episode 148
149 Episode 149
150 Episode 150
151 Episode 151
152 Episode 152
153 Episode 153
154 Episode 154
155 Episode 155
156 Episode 156
157 Episode 157
158 Episode 158
159 Episode 159
160 Episode 160
161 Episode 161
162 Episode 162
163 Episode 163
164 Episode 164
165 Episode 165
166 Episode 166
167 Episode 167
168 Episode 168
169 Episode 169
170 Episode 170
171 Episode 171
172 Episode 172
173 Episode 173
174 Episode 174
175 Episode 175
176 Episode 176
177 Episode 177
178 Episode 178
179 Episode 179
180 Episode 180
181 Episode 181
182 Episode 182
183 Episode 183
184 Episode 184
185 Episode 185
186 Episode 186
187 Episode 187
188 Episode 188
189 Episode 189
190 Episode 190
191 Episode 191
192 Episode 192
193 Episode 193
194 Episode 194
195 Episode 195
196 Episode 196
197 Episode 197
198 Episode 198
199 Episode 199
200 Episode 200
201 Episode 201
202 Episode 202
203 Episode 203
204 Episode 204
205 Episode 205
206 Episode 206
207 Episode 207
208 Episode 208
209 Episode 209
210 Episode 210
211 Episode 211
212 Episode 212
213 Episode 213
214 Episode 214
215 Episode 215
216 Episode 216
217 Episode 217
218 Episode 218
219 Episode 219
220 Episode 220
Episodes

Updated 220 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142
143
Episode 143
144
Episode 144
145
Episode 145
146
Episode 146
147
Episode 147
148
Episode 148
149
Episode 149
150
Episode 150
151
Episode 151
152
Episode 152
153
Episode 153
154
Episode 154
155
Episode 155
156
Episode 156
157
Episode 157
158
Episode 158
159
Episode 159
160
Episode 160
161
Episode 161
162
Episode 162
163
Episode 163
164
Episode 164
165
Episode 165
166
Episode 166
167
Episode 167
168
Episode 168
169
Episode 169
170
Episode 170
171
Episode 171
172
Episode 172
173
Episode 173
174
Episode 174
175
Episode 175
176
Episode 176
177
Episode 177
178
Episode 178
179
Episode 179
180
Episode 180
181
Episode 181
182
Episode 182
183
Episode 183
184
Episode 184
185
Episode 185
186
Episode 186
187
Episode 187
188
Episode 188
189
Episode 189
190
Episode 190
191
Episode 191
192
Episode 192
193
Episode 193
194
Episode 194
195
Episode 195
196
Episode 196
197
Episode 197
198
Episode 198
199
Episode 199
200
Episode 200
201
Episode 201
202
Episode 202
203
Episode 203
204
Episode 204
205
Episode 205
206
Episode 206
207
Episode 207
208
Episode 208
209
Episode 209
210
Episode 210
211
Episode 211
212
Episode 212
213
Episode 213
214
Episode 214
215
Episode 215
216
Episode 216
217
Episode 217
218
Episode 218
219
Episode 219
220
Episode 220

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!