Awal pertemuan..

LIMA TAHUN LALU, ENAM BULAN SEBELUM KEMATIAN SABRINA..

Sinar matahari pagi menembus celah-celah pepohonan rindang yang berjajar di sepanjang selasar utama Universitas Artha Persada.

Udara masih cukup sejuk, tetapi suasana kampus sudah mulai dipenuhi hilir-mudik mahasiswa yang terburu-buru mengejar kuliah jam pertama.

Di antara deretan mahasiswa itu, Sabrina melangkah setengah berlari. Tangannya mendekap erat tumpukan buku dan modul tebal, mulai dari Manajemen Operasional Hotel, Sanitasi & Hygiene, hingga dua jilid buku Food & Beverage Management, yang tingginya hampir menutupi pandangan mata.

Napasnya tersendat, sementara tali tas punggungnya terus-menerus meluncur turun dari bahu kiri.

Dia tergesa-gesa. Namun, persis di belokan dekat perpustakaan pusat, nasib berkata lain.

Seorang pria yang berjalan dari arah berlawanan, tampak tergesa-gesa sambil menatap fokus ke layar ponsel di tangannya, muncul secara mendadak dari balik pilar besar.

Brak!

Benturan keras tak terelakkan. Bahu kokoh pria itu menghantam tubuh Sabrina. Saking kencangnya dorongan tersebut, Sabrina terpental beberapa langkah ke belakang.

Tumpukan buku tebal yang ia pertahankan mati-matian terlepas begitu saja dari pelukannya, melayang bebas sebelum meluncur dan berserakan di atas lantai ubin.

Lembar-lembar catatan selipan modul praktikumnya ikut berhamburan tertiup angin koridor.

"Aduh!" ringis Sabrina, refleks memegang bahunya yang.

Pria itu terhenti mendadak, hampir kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya berhasil berdiri tegak kembali.

Pandangannya beralih seketika dari ponsel menuju tumpukan buku yang berserakan di sekitar kaki mereka, lalu terangkat menatap Sabrina dengan raut terkejut.

"Aduh, maaf! Maaf banget, aku benar-benar nggak lihat jalan," ringis pria itu. Ia buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku dan langsung berlutut di atas ubin koridor.

Dengan gerakan cepat dan cekatan, jemarinya mengumpulkan lembar-lembar modul yang terancam terbang, lalu merapikan tumpukan buku tebal milik Sabrina.

Tatapan matanya penuh rasa bersalah saat menyerahkan kembali buku-buku itu.

"Kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit atau luka?" tanyanya memastikan. Dari pin logo Fakultas Ekonomi dan Bisnis UAP yang tersemat di tali tasnya, terlihat jelas ia adalah seorang senior dari jurusan Manajemen.

Sabrina yang masih memijat bahunya yang agak ngilu menggeleng perlahan, menerima tumpukan buku itu.

"Tidak apa-apa. Cuma kaget saja. Lagipula tumpukan bukuku memang terlalu tinggi. Makasih ya."

Julian tersenyum tipis, merasa lega sekaligus masih merasa bersalah.

"Tetap saja salahku jalan sambil nunduk menatap layar HP. Sebagai gantinya, biar aku bantu bawakan buku-buku tebal ini sampai ke kelasmu. Kamu mau ke gedung mana?"

Sabrina meremas pelan ujung kemejanya, mencoba menutupi debar halus di dadanya. Wajahnya terasa sedikit hangat melihat sikap santun dan perhatian dari senior di hadapannya ini.

"Emm... boleh, kalau tidak merepotkan," sahut Sabrina pelan, malu-malu. Ia menyerahkan separuh tumpukan buku yang paling tebal kepada Julian.

"Aku ada kelas Bu Maya di Gedung B, lantai dua."

Julian tersenyum makin lebar, menyambut tumpukan buku itu dengan mudah.

"Sama sekali nggak merepotkan, kok. Kebetulan aku juga mau ke arah sana."

Mereka berdua mulai berjalan berdampingan melintasi koridor UAP. Langkah kaki Julian yang jangkung sengaja disesuaikan agar tetap selaras dengan langkah Sabrina.

"Kamu anak Manajemen Perhotelan tingkat awal, ya?" tanya Julian membuka percakapan, melihat judul modul yang dibawanya.

"Buku-buku operasional sama standar pelayanan begini biasanya jadi makanan wajib anak Perhotelan."

Sabrina terkekeh pelan, rasa malunya pelan-pelan terkikis oleh keramahan Julian.

"Iya, aku anak baru." Jawab Sabrina.

"Pantesan," Julian terkekeh pendek.

"Lain kali kalau butuh bantuan bawa barang berat di sekitar kampus, atau kalau butuh koneksi ke anak-anak jurusan Manajemen, cari aja aku. Aku angkatan atas di Manajemen." katanya.

"Oiya, aku Julian." Julian menyebut namanya. memperkenalkan diri pada Sabrina.

"Aku Sabrina." Balas Sabrina.

"Nama yang bagus." puji Julian.

Julian tertawa pelan, suara renyah yang terdengar tulus, mencoba mencairkan kecanggungan yang masih menyelimuti Sabrina.

Sabrina hanya tertunduk malu-malu mendapat pujian itu.

Mereka berjalan bersisian menyusuri selasar panjang menuju Gedung B. Cahaya matahari pagi yang tadi terasa cerah, entah kenapa, terasa sedikit meredup saat mereka memasuki area bayangan pohon-pohon yang berjejer di sepanjang jalan.

"Jadi, anak baru ya?" Julian kembali membuka percakapan, suaranya terdengar lembut namun jelas di telinga Sabrina.

Wajah Sabrina memerah, perpaduan antara malu dan senang karena senior setampan Julian, bisa bersikap begitu ramah padanya.

Ia kembali menunduk sedikit, menyembunyikan senyum tipisnya di balik tumpukan buku yang masih ia dekap.

"Karena baru kamu pasti masih binggung kan? ." kata Julian.

"Iya," Sabrina mengangguk paham.

Mereka terus berjalan, melewati pintu-pintu kelas yang tertutup rapat. Dari dalam, terdengar suara dosen yang sedang mengajar, diselingi tawa pelan mahasiswa.

​Mereka menaiki anak tangga satu per satu menuju lantai dua Gedung B. Sesampainya di atas, Julian menghentikan langkah dan menoleh.

"Nah, kita sudah di lantai dua. Kelas Bu Maya ruang berapa tadi?"

​"Ruang 204, di ujung lorong sebelah kiri," tunjuk Sabrina halus.

​Mereka berjalan beberapa meter lagi hingga akhirnya berhenti tepat di depan pintu kayu bernomor 204. Dari balik panel kaca pintu, terlihat Bu Maya belum hadir, tetapi beberapa teman seangkatan Sabrina sudah mulai memenuhi bangku kelas.

​Julian mengulurkan tumpukan modul Manajemen Operasional Hotel milik Sabrina dengan sangat hati-hati. Ujung jemari mereka sempat bersentuhan singkat saat Sabrina menyambut buku-buku tersebut, menyalurkan sentuhan hangat yang membuat debar di dada Sabrina kembali berpacu.

​"Ini bukunya. Pas ya, nggak ada yang tertinggal atau lecek," ujar Julian seraya tersenyum manis, mengusap pelan bagian belakang lehernya.

​"Makasih banyak ya. Benar-benar sangat membantu. Maaf juga sudah bikin repot dan terhambat kakak mau antar berkas," balas Sabrina tulus, memeluk erat seluruh modulnya.

​"Sama sekali nggak merepotkan. Justru aku yang harusnya minta maaf karena tadi jalan sambil lihat HP," jawab Julian ramah.

"Ya sudah, masuk sana. Semoga kuliahnya lancar ya, Sabrina. Sampai ketemu lagi di sekitaran kampus."

​Julian mengedipkan sebelah matanya jahil sebelum akhirnya berbalik, berjalan santai menyusuri selasar Gedung B dengan langkah tegapnya.

Sabrina berdiri mematung sejenak di depan pintu, menatap punggung seniornya yang perlahan menjauh dan menghilang di belokan lorong, meninggalkan simpul senyum manis yang enggan pudar dari wajahnya.

Terpopuler

Comments

Siti Yatmi

Siti Yatmi

nagihhhh....berasa sedikit thorrr..🤭

2026-07-31

4

kayyaaa

kayyaaa

sabrina sabrina 😄

2026-08-20

0

Nurr Tika

Nurr Tika

masih menyimak thor

2026-08-02

2

lihat semua
Episodes
1 Prolog....
2 Awal pertemuan..
3 Kamu Hebat
4 Bagaimana rasanya?
5 Ungkapkan perasaan...
6 Berpacaran!
7 Jeritan histeris!
8 Terenggut!
9 Di lupakan!
10 Bau amis darah!
11 Nikmati malam ini.
12 Menabrak sesuatu!
13 Hanya binatang saja
14 Maafkan aku...
15 Hanya sampingan!
16 Pesta malam!
17 Pergi dari klub!
18 Jalan-jalan
19 Janji Julian!
20 Ucapan manis!
21 Apa kamu serius denganku?
22 Terasa pening!
23 Masuk angin dan hamil, efeknya tak berbeda jauh.
24 Masuk kedalam apotek
25 Hasil yang tidak diharapkan!
26 Kasta berbeda!
27 Kamu pasti sengajakan!
28 Mungkin salah alatnya salah!
29 Kenyataan yang tak bisa di hindari!
30 Lu kenapa!
31 Kau harus mati!
32 Aku tidak ingin kau mati dengan mudah!
33 Kau tidak akan lepas!
34 Ngelantur karna teler
35 Air mata darah!
36 Genangan darah!
37 Fano yang aneh
38 Mencari tahu!
39 Mimpi buruk!
40 Rasa takut!
41 Tak pernah tenang!
42 Teror!
43 Bukan aku!
44 Kematian Fano!
45 Tertebus!
46 Bangsat!
47 Dibawa ke rumah duka.
48 Ini tentang Fano!
49 Itukan pilihan kalian!
50 Itu ulah kalian!
51 Dia itu perempuan gatal!
52 Di ejek!
53 Hanya mainan!
54 Permohonan yang tak di gubris.
55 Harus kemana lagi?
56 Ancaman sangat Ayah!
57 Ketakutan Julian!
58 Suruh dia gugurkan!
59 Ambil uang itu!
60 Cewek sialan!
61 Dia yang menjebak aku!
62 Akan seperti di neraka!
63 Bikin dia trauma!
64 Cewek bangsat!
65 Hancur sudah!
66 Kehancuran Sabrina!
67 Kehancuran seorang perempuan
68 kehidupan kecil itu sudah tidak ada.
69 Pandangan itu!
70 Rasa jijik orang-orang!
71 Kehilangan harapan!
72 Sumpah yang terucap!
73 Pesan ancaman!
74 Kematian itu hanya lelucon!
75 Mengingat sensasinya!
76 Urat hitam yang muncul!
77 Berlari kesetanan.
78 Dikira orang gila!
79 Di hantui Sabrina
80 Apakah bapak percaya hantu?
81 Mungkin hanya halusinasi
82 Di teror hantu!
83 Belum selesai!
84 Rasa takut Adrian!
85 Dia ada disini!
86 Gue nggak gila!
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Prolog....
2
Awal pertemuan..
3
Kamu Hebat
4
Bagaimana rasanya?
5
Ungkapkan perasaan...
6
Berpacaran!
7
Jeritan histeris!
8
Terenggut!
9
Di lupakan!
10
Bau amis darah!
11
Nikmati malam ini.
12
Menabrak sesuatu!
13
Hanya binatang saja
14
Maafkan aku...
15
Hanya sampingan!
16
Pesta malam!
17
Pergi dari klub!
18
Jalan-jalan
19
Janji Julian!
20
Ucapan manis!
21
Apa kamu serius denganku?
22
Terasa pening!
23
Masuk angin dan hamil, efeknya tak berbeda jauh.
24
Masuk kedalam apotek
25
Hasil yang tidak diharapkan!
26
Kasta berbeda!
27
Kamu pasti sengajakan!
28
Mungkin salah alatnya salah!
29
Kenyataan yang tak bisa di hindari!
30
Lu kenapa!
31
Kau harus mati!
32
Aku tidak ingin kau mati dengan mudah!
33
Kau tidak akan lepas!
34
Ngelantur karna teler
35
Air mata darah!
36
Genangan darah!
37
Fano yang aneh
38
Mencari tahu!
39
Mimpi buruk!
40
Rasa takut!
41
Tak pernah tenang!
42
Teror!
43
Bukan aku!
44
Kematian Fano!
45
Tertebus!
46
Bangsat!
47
Dibawa ke rumah duka.
48
Ini tentang Fano!
49
Itukan pilihan kalian!
50
Itu ulah kalian!
51
Dia itu perempuan gatal!
52
Di ejek!
53
Hanya mainan!
54
Permohonan yang tak di gubris.
55
Harus kemana lagi?
56
Ancaman sangat Ayah!
57
Ketakutan Julian!
58
Suruh dia gugurkan!
59
Ambil uang itu!
60
Cewek sialan!
61
Dia yang menjebak aku!
62
Akan seperti di neraka!
63
Bikin dia trauma!
64
Cewek bangsat!
65
Hancur sudah!
66
Kehancuran Sabrina!
67
Kehancuran seorang perempuan
68
kehidupan kecil itu sudah tidak ada.
69
Pandangan itu!
70
Rasa jijik orang-orang!
71
Kehilangan harapan!
72
Sumpah yang terucap!
73
Pesan ancaman!
74
Kematian itu hanya lelucon!
75
Mengingat sensasinya!
76
Urat hitam yang muncul!
77
Berlari kesetanan.
78
Dikira orang gila!
79
Di hantui Sabrina
80
Apakah bapak percaya hantu?
81
Mungkin hanya halusinasi
82
Di teror hantu!
83
Belum selesai!
84
Rasa takut Adrian!
85
Dia ada disini!
86
Gue nggak gila!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!