Bagaimana rasanya?

Sejak sore di mana Julian mengantarkan Sabrina kembali ke kostnya, benih keakraban di antara mereka mulai tumbuh pesat.

Hari-hari berikutnya di Universitas Artha Persada tak lagi sama bagi Sabrina. Lorong-lorong kampus yang tadinya terasa asing dan membingungkan, kini selalu diwarnai kehadiran sosok senior berprestasi dari jurusan Manajemen tersebut.

Kehadiran Julian di kehidupan Sabrina terasa mengalir begitu alami. Hampir setiap pagi dan sore, sedan hitam mengilap milik Julian tampak terparkir setia di depan Gang Perintis, menunggu Sabrina keluar dari kostnya.

Julian seolah selalu punya sejuta alasan yang masuk akal, mulai dari searah ingin beli kopi dekat kosan, sekadar melintas, hingga alasan klasik, takut Sabrina terlambat kelas pagi.

Lama-kelamaan, rasa canggung yang sempat membentengi Sabrina meluruh sepenuhnya. Dinding pemisah antara anak beasiswa dari desa dan mahasiswa elit kota meluap begitu saja disapu keramahan Julian yang jujur dan konsisten.

Pagi itu, udara kampus terasa sejuk diselimuti kabut tipis. Mobil Julian baru saja meluncur mulus memasuki area parkir khusus Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Di dalam kabin, alunan lagu favorit yang biasa mereka dengarkan bersama mengalun lembut. Sabrina tak lagi duduk kaku seperti pertama kali, ia kini tertawa lepas menanggapi cerita kocak Julian tentang dosen Manajemen yang kerap lupa menaruh kacamata di atas kepalanya sendiri.

"Beneran, Kak? Terus mahasiswanya tidak ada yang berani bicara?" tanya Sabrina seraya terkekeh pelan, membetulkan letak tali tasnya.

"Nggak ada yang berani!" sahut Julian ikut tertawa renyah, mengacak rambut depannya dengan gaya santai yang selalu berhasil membuat dada Sabrina berdesir.

"Semua cuma bisa nahan tawa sampai jam kuliah usai. Makanya, kalau Bu Maya di kelasmu galak, dosen di jurusanku beda lagi, sukanya bikin senam jantung."

Julian mematikan mesin mobil, lalu berbalik penuh menatap Sabrina. Sorot matanya hangat, dihiasi senyum tipis yang selalu membuat Sabrina merasa dihargai.

Tanpa ragu, Julian mengulurkan tangan, membantu merapikan tatanan rambut Sabrina yang sedikit berantakan tertiup angin pendingin mobil.

"Jadwal kuliahmu selesai jam berapa hari ini?" tanya Julian lembut. Sabrina sempat terpaku sejenak merasakan sentuhan singkat jemari Julian di dekat pelipisnya, sebelum akhirnya menjawab.

"Hari ini ada praktikum Sanitasi & Hygiene di laboratorium, Kak. Mungkin baru kelar jam empat sore."

"Oke, pas banget," puji Julian seraya mengedipkan sebelah matanya jahil.

"Jam empat sore aku selesai rapat BEM. Nanti tunggu di depan lobi Gedung B, ya. Jangan coba-coba kabur naik bus atau pesan ojek online. Biar aku yang antar pulang."

"Nanti merepotkan Kak Julian lagi..." celetuk Sabrina, walau sejujurnya ada rasa hangat yang membuncah di dalam dadanya.

"Bicara merepotkan sekali lagi, aku denda kamu untuk mencium ku," potong Julian cepat, diiringi tawa renyahnya yang khas.

"Lagian, rutin mengantar-jemput anak berprestasi kayak kamu itu investasi pahala buat aku."

Sabrina tak sanggup menahan senyumnya lebih lama lagi. Keakraban yang terjalin erat dalam beberapa pekan terakhir ini telah mengubah rutinitas jalannya di kampus.

Sabrina akhirnya mengangguk malu-malu.

"Nah, gitu dong," sahut Julian puas, senyum mewahnya mengembang lebar menatap Sabrina.

Ia lalu membukakan pintu mobil dari dalam dengan santai. Sabrina melangkah keluar menembus sejuknya udara pagi kampus, disusul Julian yang berjalan memutar dan mengambil posisi persis di sampingnya.

Seperti hari-hari biasa, langkah kaki Julian yang lebar sengaja diperlambat, menyelaraskan irama jalan mereka menyusuri selasar kampus yang mulai ramai oleh lalu-lalang mahasiswa.

Sepanjang koridor menuju Gedung B, sapaan hangat dan lambaian tangan dari rekan-rekan sesama mahasiswa tak henti-hentinya mengarah pada Julian.

Sosok senior populer itu membalasnya dengan ramah, namun fokus dan perhatian utamanya tetap tertuju pada gadis bergaun sederhana di sebelahnya.

Julian dengan sigap membantu mengambil alih dua modul tebal yang didekap Sabrina ketika melihat mahasiswi itu kerepotan.

"Jangan lupa makan siang nanti, ya. Kalau praktikumnya selesai lebih cepat, langsung kirim pesan ke aku," pesan Julian lembut tatkala mereka akhirnya tiba di depan ruang praktikum Sabrina.

"Iya, Kak Julian. Makasih banyak ya buat tumpangan pagi ini, dan buat bantuannya," jawab Sabrina tulus, mengutarakan rasa terima kasih yang tak pernah luput ia ucapkan.

"Sama-sama, Sabrina. Belajar yang rajin ya," ujar Julian seraya mengacak pelan puncak kepala Sabrina sebelum berbalik menuju gedungnya sendiri.

Sabrina mematung sejenak di ambang pintu, menyentuh kepalanya yang baru saja diusap lembut oleh Julian.

Debaran halus di dadanya kian kencang bergetar, menegaskan betapa hadirnya sosok senior itu kini telah menjadi bagian yang paling manis dalam lembaran hidupnya di Universitas Artha Persada.

Saat Julian melangkah menyusuri lorong Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Langkah tegapnya baru saja berbelok mendekati pintu ruang kelas Manajemen Strategis ketika tiga sosok pria yang sangat familier tampak menyandar santai di pilar koridor, menunggunya dengan sunggingan senyum jahil di wajah masing-masing.

"Wah, pangeran kampus kita beberapa hari ini sepertinya sangat sibuk," kata Adrian membuka suara. Ia bersedekap dada, menatap Julian dari atas sampai bawah dengan binar mata penuh godaan.

"Iya, sibuk sama cewek kampung," sahut Rian menimpali. Ia mengibaskan berkas di tangannya seraya tertawa remeh, merujuk pada pemandangan rutin beberapa pekan terakhir di mana Julian selalu terlihat bersama Sabrina, gadis beasiswa berpenampilan sederhana dari jurusan Manajemen Perhotelan.

"Udah lain seleranya kayaknya sekarang," ucap Fano tak mau kalah, menyikut pinggang Rian seraya mengembuskan napas jenaka.

"Dari deretan mahasiswi hits kampus yang ngantri, dari ujung lorong ke ujung gerbang, jatuhnya malah sama anak perhotelan dari desa yang ke mana-mana bawa buku tebal."

Julian menghentikan langkahnya tepat di hadapan ketiga sahabatnya itu. Alih-alih tersinggung atau terpancing emosi, raut wajahnya tetap tenang.

"Sekali-kali seleranya beda, bisa kan?" kata Julian santai seraya bersedekap dada, menyandarkan separuh bahunya pada pilar koridor.

"Hahaha! Iya juga sih, bosan kan makan steak tiap hari? Jadi pengen cicip singkong," canda Rian meledak dalam tawa, diikuti kekehan geli dari Adrian.

Fano ikut melangkah maju, memiringkan kepalanya dengan raut wajah jahil dan alis terangkat.

"Gimana rasanya, enak nggak singkongnya?" tanya Fano setengah berbisik, menantikan jawaban liar dari sang pangeran kampus.

Julian hanya menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan. Sorot matanya nampak tenang tanpa beban sedikit pun saat ia membetulkan posisi jam tangan di pergelangan kirinya.

"Belum dicicip," sahut Julian santai, nada suaranya begitu ringan seolah topik yang mereka bahas hanyalah angin lalu.

Tanpa menunggu balasan atau tawa riuh dari ketiga temannya yang melongo, Julian menepuk pelan bahu Fano, lalu melangkah santai melintasi mereka dan masuk ke dalam kelasnya.

Ia meninggalkan Adrian, Rian, dan Fano yang saling pandang di luar lorong, sementara di balik pintu kelas, Julian duduk di bangkunya seraya mengulas senyum misterius, menyimpan rapat-rapat pikiran dan niat sebenarnya.

Terpopuler

Comments

Ineke Susanti

Ineke Susanti

Julian tidak sebaik yg terlihat.. ad modus dan niat jahat tersembunyi sptnya.. kshn km sabrina😭

2026-08-02

5

Siti Yatmi

Siti Yatmi

jiahhhh....julian..padahal aku brrharap padamuuuuu....

2026-08-03

1

kayyaaa

kayyaaa

nah kan

2026-08-20

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog....
2 Awal pertemuan..
3 Kamu Hebat
4 Bagaimana rasanya?
5 Ungkapkan perasaan...
6 Berpacaran!
7 Jeritan histeris!
8 Terenggut!
9 Di lupakan!
10 Bau amis darah!
11 Nikmati malam ini.
12 Menabrak sesuatu!
13 Hanya binatang saja
14 Maafkan aku...
15 Hanya sampingan!
16 Pesta malam!
17 Pergi dari klub!
18 Jalan-jalan
19 Janji Julian!
20 Ucapan manis!
21 Apa kamu serius denganku?
22 Terasa pening!
23 Masuk angin dan hamil, efeknya tak berbeda jauh.
24 Masuk kedalam apotek
25 Hasil yang tidak diharapkan!
26 Kasta berbeda!
27 Kamu pasti sengajakan!
28 Mungkin salah alatnya salah!
29 Kenyataan yang tak bisa di hindari!
30 Lu kenapa!
31 Kau harus mati!
32 Aku tidak ingin kau mati dengan mudah!
33 Kau tidak akan lepas!
34 Ngelantur karna teler
35 Air mata darah!
36 Genangan darah!
37 Fano yang aneh
38 Mencari tahu!
39 Mimpi buruk!
40 Rasa takut!
41 Tak pernah tenang!
42 Teror!
43 Bukan aku!
44 Kematian Fano!
45 Tertebus!
46 Bangsat!
47 Dibawa ke rumah duka.
48 Ini tentang Fano!
49 Itukan pilihan kalian!
50 Itu ulah kalian!
51 Dia itu perempuan gatal!
52 Di ejek!
53 Hanya mainan!
54 Permohonan yang tak di gubris.
55 Harus kemana lagi?
56 Ancaman sangat Ayah!
57 Ketakutan Julian!
58 Suruh dia gugurkan!
59 Ambil uang itu!
60 Cewek sialan!
61 Dia yang menjebak aku!
62 Akan seperti di neraka!
63 Bikin dia trauma!
64 Cewek bangsat!
65 Hancur sudah!
66 Kehancuran Sabrina!
67 Kehancuran seorang perempuan
68 kehidupan kecil itu sudah tidak ada.
69 Pandangan itu!
70 Rasa jijik orang-orang!
71 Kehilangan harapan!
72 Sumpah yang terucap!
73 Pesan ancaman!
74 Kematian itu hanya lelucon!
75 Mengingat sensasinya!
76 Urat hitam yang muncul!
77 Berlari kesetanan.
78 Dikira orang gila!
79 Di hantui Sabrina
80 Apakah bapak percaya hantu?
81 Mungkin hanya halusinasi
82 Di teror hantu!
83 Belum selesai!
84 Rasa takut Adrian!
85 Dia ada disini!
86 Gue nggak gila!
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Prolog....
2
Awal pertemuan..
3
Kamu Hebat
4
Bagaimana rasanya?
5
Ungkapkan perasaan...
6
Berpacaran!
7
Jeritan histeris!
8
Terenggut!
9
Di lupakan!
10
Bau amis darah!
11
Nikmati malam ini.
12
Menabrak sesuatu!
13
Hanya binatang saja
14
Maafkan aku...
15
Hanya sampingan!
16
Pesta malam!
17
Pergi dari klub!
18
Jalan-jalan
19
Janji Julian!
20
Ucapan manis!
21
Apa kamu serius denganku?
22
Terasa pening!
23
Masuk angin dan hamil, efeknya tak berbeda jauh.
24
Masuk kedalam apotek
25
Hasil yang tidak diharapkan!
26
Kasta berbeda!
27
Kamu pasti sengajakan!
28
Mungkin salah alatnya salah!
29
Kenyataan yang tak bisa di hindari!
30
Lu kenapa!
31
Kau harus mati!
32
Aku tidak ingin kau mati dengan mudah!
33
Kau tidak akan lepas!
34
Ngelantur karna teler
35
Air mata darah!
36
Genangan darah!
37
Fano yang aneh
38
Mencari tahu!
39
Mimpi buruk!
40
Rasa takut!
41
Tak pernah tenang!
42
Teror!
43
Bukan aku!
44
Kematian Fano!
45
Tertebus!
46
Bangsat!
47
Dibawa ke rumah duka.
48
Ini tentang Fano!
49
Itukan pilihan kalian!
50
Itu ulah kalian!
51
Dia itu perempuan gatal!
52
Di ejek!
53
Hanya mainan!
54
Permohonan yang tak di gubris.
55
Harus kemana lagi?
56
Ancaman sangat Ayah!
57
Ketakutan Julian!
58
Suruh dia gugurkan!
59
Ambil uang itu!
60
Cewek sialan!
61
Dia yang menjebak aku!
62
Akan seperti di neraka!
63
Bikin dia trauma!
64
Cewek bangsat!
65
Hancur sudah!
66
Kehancuran Sabrina!
67
Kehancuran seorang perempuan
68
kehidupan kecil itu sudah tidak ada.
69
Pandangan itu!
70
Rasa jijik orang-orang!
71
Kehilangan harapan!
72
Sumpah yang terucap!
73
Pesan ancaman!
74
Kematian itu hanya lelucon!
75
Mengingat sensasinya!
76
Urat hitam yang muncul!
77
Berlari kesetanan.
78
Dikira orang gila!
79
Di hantui Sabrina
80
Apakah bapak percaya hantu?
81
Mungkin hanya halusinasi
82
Di teror hantu!
83
Belum selesai!
84
Rasa takut Adrian!
85
Dia ada disini!
86
Gue nggak gila!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!