Bersatunya Miracle Dari 4 Kota

​Latihan bersama pun berlanjut. Suasana di halaman belakang markas Zenith perlahan membaik pasca-kejadian konyol Serafe tadi, walau gesekan-gesekan kecil masih sesekali terjadi saat mereka mencoba menyelaraskan kombinasi serangan.

​Namun, di tengah-tengah sesi latihan yang berlangsung sengit—

​BOOMMM!!!

​Tanah di sekitar halaman belakang mendadak bergetar hebat. Dinding pembatas markas hancur berantakan diterjang sesosok monster berukuran raksasa dengan armor batu tebal dan cakar membara. Aura tekanan energinya jauh lebih pekat dan berbahaya dibanding monster-monster yang pernah mereka hadapi sebelumnya.

​"Serangan musuh! Bersiap semuanya!" teriak Ayyasy memberi komando.

​Pertempuran sengit tak terhindarkan. Karena belum terbiasa bertarung bersama, serangan dari 32 anggota Miracle dari empat kota tersebut justru saling bertabrakan dan tumpang tindih. Kekacauan itu dimanfaatkan dengan cerdik oleh sang monster. Dengan satu kibasan tangan raksasanya, monster itu menghempaskan puluhan anggota hingga kewalahan dan terdesak.

​Di tengah kekacauan itu, Vikka yang mencoba meluncurkan serangan laser dari jarak dekat justru kehilangan keseimbangan akibat pijakannya retak. Monster itu menggeram kencang, mengangkat cakarnya yang membara tajam, dan bersiap menghantam Vikka yang terpojok tak berdaya di tanah.

​Vikka memejamkan mata erat-erat, jantungnya berdegup kencang menantikan hantaman fatal yang akan menimpanya.

​FUSHHHH... CRACK!

​Tiba-tiba, hawa dingin ekstrem berembus kencang. Gelombang es melesat cepat dan langsung membekukan seluruh tubuh monster itu hanya beberapa sentimeter sebelum cakarnya menyentuh wajah Vikka!

​"Ayyasy, sekarang!" teriak Sintia yang berdiri di belakang dengan meriam esnya yang masih mengepulkan asap dingin.

​"AARRGHHH!!"

​Dari udara, Ayyasy melesat turun dengan pedang api besarnya yang membara terang. Dengan satu tebasan dahsyat penuh tenaga, Ayyasy menghantam inti tubuh monster yang membeku itu hingga hancur berkeping-keping menjadi abu!

​BOOM!

​Debu pertempuran perlahan memudar. Vikka terduduk lemas dengan mata membelalak tak percaya. Cewek yang tadinya paling keras kepala dan sinis itu kini tertegun menatap Ayyasy dan Sintia yang berdiri di depannya—orang-orang yang selama ini terus ia rendahkan, justru menjadi sosok yang menyelamatkan nyawanya tanpa ragu.

​Setelah situasi kembali aman, seluruh anggota berkumpul di tengah halaman. Atmosfer terasa sangat hening.

​Tanpa menunggu lama, Arunnaqa, Tasya, dan Davi langsung berdiri di depan anggota tim mereka masing-masing.

​"Kalian lihat sendiri kan apa akibatnya kalau terus dipelihara sama gengsi?!" tegur Arunnaqa dengan suara tegas dan mata menatap tajam ke arah Vikka dan anggota Miracle Cyber lainnya. "Kalau bukan karena refleks cepat Sintia dan tebasan Ayyasy, salah satu dari kita udah nggak ada di sini sekarang!"

​Tasya melipat tangan di dada, menatap dingin anggota Miracle Kosmik. "Kalian selalu ngebanggain kekuatan kalian, tapi pas bertarung tanpa kerja sama, kalian cuma jadi sasaran empuk!"

​Davi menambahkan dengan suara beratnya, "Gengsi nggak bakal ngebantu kita nyelamatin dunia dari monster. Yang kita butuhin adalah saling percaya!"

​Ceramah keras dari para pemimpin itu meresap dalam ke sanubari seluruh anggota. Vikka tertunduk dalam-dalam, dadanya sesak oleh rasa malu dan bersalah.

​Perlahan, Vikka melangkah mendekati Sintia dan Ayyasy. Dengan napas terengah-engah dan mata yang mulai berkaca-kaca, ia menundukkan kepalanya.

​"Gue... gue minta maaf," bisik Vikka tulus, suaranya bergetar. "Maaf karena selama ini udah ngerendahin kalian... dan terima kasih banyak udah nyelametin nyawa gue tadi."

​Melihat Vikka menurunkan egonya, anggota Miracle dari Cyber, Kosmik, dan Harvest lainnya ikut melangkah maju. Satu per satu dari mereka menyampaikan permohonan maaf atas sikap sombong mereka selama ini kepada Miracle Zenith.

​Ayyasy tersenyum tipis lalu mengulurkan tangannya ke depan. "Lupakan yang udah berlalu. Yang penting sekarang kita tahu, kita nggak bisa berjuang sendirian."

​Sintia, Night, Azkailah, dan anggota Zenith lainnya tersenyum lebar. Sintia menjabat tangan Vikka dengan hangat, mengikis habis seluruh dendam dan permusuhan di antara mereka.

​Arunnaqa, Tasya, Davi, dan Ayyasy kemudian saling bertumpuk tangan di tengah lingkaran, diikuti oleh puluhan anggota lainnya dari empat kota.

​"Mulai hari ini..." ujar Ayyasy lantang. "...kita bukan lagi tim yang terpisah. Kita adalah satu!"

​"MIRACLE!!" teriak mereka serentak, membahana memenuhi langit Kota Zenith.

​Ikatan baru telah terbentuk. 32 pahlawan dari empat kota kini resmi bersatu, siap menghadapi ancaman terbesar yang tengah mengintai dunia mereka.

Kini, markas villa tua di bukit Zenith bukan lagi sekadar tempat latihan terpencil, melainkan pusat komando gabungan yang canggih. Berkat sihir teknologi milik Arunnaqa dan kekuatan perisai hologram Dhafina, markas tersebut kini dilengkapi dengan sistem deteksi monster otomatis berbasis radar energi.

Sore itu, suasana markas tampak riuh dan hangat. Tidak ada lagi sekat gengsi atau kata-kata merendahkan.

Di halaman belakang, Sintia dan Vikka yang tadinya paling sering bentrok, kini justru sibuk melatih kombinasi serangan baru. Sintia meluncurkan peluru es dari meriamnya, sementara Vikka membakar proyektil beku itu dengan tembakan laser presisi, menciptakan partikel kristal tajam yang melesat bagai badai jarum di udara.

"Gimana, Sin? Combo es-laser kita makin makin makin rapi, kan?" puji Vikka sambil tersenyum bangga dan menaikkan kacamata pelindungnya.

"Lumayan! Tapi gerak refleks lu harus lebih cepet lagi biar nggak kena pantulan," sahut Sintia sambil tertawa kecil, menepuk bahu Vikka.

Sementara itu di sudut lain, Serafe terlihat sedang duduk santai bersama Davi dan Tasya sambil memegang buklet bergambar. Kepolosan Serafe kembali kambuh.

"Davi, kalau batu kamu digabungkan sama Black Hole-nya Tasya, nanti batunya kemakan terus hilang ke dimensi lain enggak ya?" tanya Serafe dengan mata berbinar polos.

Davi menepuk jidatnya pelan, sedangkan Tasya tertawa terbahak-bahak. "Serafe, Black Hole aku itu daya hisap energi, bukan mukbang batu!" kelakar Tasya.

Namun, di tengah gelak tawa dan kehangatan seluruh anggota Miracle, Ayyasy berdiri diam di balkon lantai dua. Matanya menatap tajam ke arah langit bagian utara yang mendadak berubah warna menjadi keunguan—sebuah

warna awan yang tidak wajar.

BZZZZZT... BZZZZT...

Tiba-tiba, sirene darurat di dalam markas meraung nyaring! Monitor raksasa di ruang tengah menyala merah terang.

Arunnaqa langsung melesat ke meja kontrol, jemarinya menari cepat di atas keyboard holografik. "Semuanya, berkumpul! Radar mengendus lonjakan energi raksasa di perbatasan empat kota!"

Dalam hitungan detik, 32 anggota Miracle sudah berdiri dalam formasi siap tempur. Masing-masing memegang senjata dan mengalirkan elemen kekuatan mereka.

"Ada berapa monster, Naq?" tanya Davi tegas.

Arunnaqa menelan ludah, raut wajahnya berubah menjadi sangat serius. "Bukan cuma satu... tapi ratusan! Dan di belakang gerombolan itu, ada gelombang energi hitam yang memancar kuat. Sepertinya... komando utama dari para monster akhirnya muncul."

Ayyasy melangkah ke depan, mencabut pedang api besarnya yang langsung menyala membara. Ia menoleh ke belakang, menatap 31 kawannya yang kini menatapnya penuh rasa percaya.

"Dulu kita bertarung sendiri-sendiri dan nyaris hancur," ujar Ayyasy dengan suara berwibawa. "Tapi sekarang, kita adalah benteng terakhir untuk empat kota!"

"MIRACLE, BERANGKAT!!" jerit Ayyasy lantang.

Dengan kecepatan penuh, 32 pahlawan super dari empat kota itu melesat bersama membelah angin sore, siap menghadapi pertempuran terbesar dalam hidup mereka.

Terpopuler

Comments

Dwi Agustina

Dwi Agustina

suka sama ceritanya, jadi ikut ngebayangin kejadiannya sambil baca, seru 😍😍

2026-08-17

0

lihat semua
Episodes
1 Awal Mula
2 Kekuatan Baru
3 Pahlawan Dari Kota Lain
4 Mempersatukan 4 Kota
5 Bersatunya Miracle Dari 4 Kota
6 Invasi
7 Sadar
8 Eksperimen Menemukan Sumber Di Balik Kemunculan Monster
9 Petunjuk Nama Sang Musuh
10 Monster Kristal
11 Darking
12 Masa Lalu Night
13 Petualangan Menuju Dimensi Darking
14 Dimensi Kegelapan
15 Terpisah Di Dimensi Buatan Darking
16 Pertarungan Melawan 4 Makhluk Raksasa Dan Ayyasy Yang Membara
17 Pertarungan Langsung Melawan Darking
18 Kebangkitan Para Miracle & Kemusnahan Darking
19 Kembali Ke Rumah
20 Kehidupan Setelah Menyelamatkan Dunia
21 Ancaman di Balik Ketenangan
22 Bayangan di Balik Jendela
23 Ledakan di Pusat Kota
24 Jangan Semuanya
25 Pertandingan Pertama
26 Serangan Kontra Miracle
27 Pertahanan di SMA Perbatasan
28 Di Balik Candaan Dan Tawa
29 Double Kill
30 Hari Libur Dan Jejak Kebersamaan
31 Rencana Dari Kehampaan
32 Retakan Dari Empat Penjuru
33 Pertempuran di Empat Penjuru
34 Terhisap Ke Dalam Dimensi Kehampaan
35 Di Dua Alam Yang Berbeda
36 Ilusi Kehampaan
37 Percuma Gak Sih?
38 Data Pertarungan Dan Gelak Tawa Di Markas
39 Tenang Sementara
40 Hari-hari Tanpa Ada Musuh
41 Kocha
42 Penculikan Miracle
43 Jejak Yang Hilang
44 Target Berikutnya
45 Perlawanan di Tengah Kota
46 Perburuan Tanpa Henti
47 Amarah Matahari Dan Bulan
48 Pilihan Sang Ksatria Zairus
49 Benturan di Aula Markas
50 Ruang Hampa dan Kekuatan Maksimal
51 Duka dan Perlawanan Miracle Yang Tersisa
52 Kekuatan Yang Disatukan
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Awal Mula
2
Kekuatan Baru
3
Pahlawan Dari Kota Lain
4
Mempersatukan 4 Kota
5
Bersatunya Miracle Dari 4 Kota
6
Invasi
7
Sadar
8
Eksperimen Menemukan Sumber Di Balik Kemunculan Monster
9
Petunjuk Nama Sang Musuh
10
Monster Kristal
11
Darking
12
Masa Lalu Night
13
Petualangan Menuju Dimensi Darking
14
Dimensi Kegelapan
15
Terpisah Di Dimensi Buatan Darking
16
Pertarungan Melawan 4 Makhluk Raksasa Dan Ayyasy Yang Membara
17
Pertarungan Langsung Melawan Darking
18
Kebangkitan Para Miracle & Kemusnahan Darking
19
Kembali Ke Rumah
20
Kehidupan Setelah Menyelamatkan Dunia
21
Ancaman di Balik Ketenangan
22
Bayangan di Balik Jendela
23
Ledakan di Pusat Kota
24
Jangan Semuanya
25
Pertandingan Pertama
26
Serangan Kontra Miracle
27
Pertahanan di SMA Perbatasan
28
Di Balik Candaan Dan Tawa
29
Double Kill
30
Hari Libur Dan Jejak Kebersamaan
31
Rencana Dari Kehampaan
32
Retakan Dari Empat Penjuru
33
Pertempuran di Empat Penjuru
34
Terhisap Ke Dalam Dimensi Kehampaan
35
Di Dua Alam Yang Berbeda
36
Ilusi Kehampaan
37
Percuma Gak Sih?
38
Data Pertarungan Dan Gelak Tawa Di Markas
39
Tenang Sementara
40
Hari-hari Tanpa Ada Musuh
41
Kocha
42
Penculikan Miracle
43
Jejak Yang Hilang
44
Target Berikutnya
45
Perlawanan di Tengah Kota
46
Perburuan Tanpa Henti
47
Amarah Matahari Dan Bulan
48
Pilihan Sang Ksatria Zairus
49
Benturan di Aula Markas
50
Ruang Hampa dan Kekuatan Maksimal
51
Duka dan Perlawanan Miracle Yang Tersisa
52
Kekuatan Yang Disatukan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!