Bab 3: Sumpah Demi Bubur Ayam yang Diaduk

Kian mematung. Tatapannya tertahan di wajah gue yang lagi berusaha keras kelihatan santai, cuek, dan sama sekali gak terpengaruh.

Gue menyedot es teh manis gue sampai menyisakan bunyi sroooot yang memecah keheningan di warung bubur. "Serius, Ki. Kalau Vanya butuh bantuan lu atau kalian mau jalan, sok aja. Gue bisa pulang naik ojek online kok."

Kian gak menjawab. Dia cuma menghela napas panjang, meraup wajahnya kasar pakai sebelah tangan, lalu menaruh HP-nya di meja dengan posisi dilipat telungkup.

"Gak ada yang mau jalan sama Vanya, Elora," kata Kian dengan suara rendah. "Dan dia bukan cewek gue."

"Iya, iya, terserah. Kan definisi 'cewek lu' emang fleksibel banget," sahut gue asal, sibuk memindahkan sisa kerupuk ke mangkok gue. "Lagian lu gak perlu jelasin ke gue. Kita kan cuma lagi... simulasi."

"Simulasi mata lu," potong Kian cepat, bikin gue spontan mendongak.

Mata Kian menyipit. Kerutan di dahinya dalam banget, tanda kalau dia lagi benar-benar jengkel. "Lu tahu gak, Ra? Dari tadi di meja makan rumah lu sampai di sini, lu terus-terusan masang tembok setinggi Monas. Lu udah nge-judge gue seolah gue ini penjahat kelamin yang mau ngerusak hidup lu."

"Lah, emang fakta kan?" tembak gue gak mau kalah. "Gue ngeliat dengan mata kepala gue sendiri kemarin sore di kafe! Lu meluk bahunya Vanya, lu bisik-bisik ke dia sambil senyum-senyum! Terus sekarang dia nelfon lu pagi-pagi gini, dan lu mau ngeles kalau kalian gak ada hubungan apa-apa?"

Kian memejamkan mata sejenak, kayak lagi menahan diri buat gak ngamuk di tempat. Dia memajukan tubuhnya ke arah gue, menopang kedua siku di atas meja kayu.

"Vanya itu sepupunya Bima," kata Kian pelan, menyebut nama salah satu teman tongkrongan kami. "Dia lagi dikejar-kejar sama mantannya yang toksik dan suka mengancam. Kemarin sore di kafe, mantannya Vanya itu tiba-tiba datang dan bikin ulah. Gue yang lagi nongkrong di sana reflek pasang badan. Gue meluk bahunya Vanya biar tuh cowok mundur dan tahu Vanya gak sendirian!"

Gue terpaku. Sendok di tangan gue hampir terlepas lagi. "Hah?"

"Telepon tadi?" Kian menunjuk HP-nya di atas meja. "Dia cuma mau nanya Bima ada di mana karena HP Bima gak aktif. Gue bilang gue lagi sama lu, biar dia gak enak kalau mau minta tolong apa-apa lagi ke gue!"

Gue menelan ludah. Tenggorokan gue mendadak rasanya kering banget. "Tapi... tapi yang cewek mahasiswi hukum minggu lalu..."

"Itu KLIEN bokap gue!" potong Kian gemas. "Bokap minta gue nganter berkas ke dia karena beliau lagi ada meeting. Demi Tuhan, Elora, lu mikir gue seleluasa itu jalan sama cewek?"

Gue terdiam total. Suasana hening sejenak, cuma terdengar deru mesin motor dari jalan raya dan bapak-bapak di meja sebelah yang lagi menyeruput kopi.

Pikiran gue langsung berputar balik. Semua adegan yang selama beberapa minggu terakhir bikin hati gue potek dan berasumsi kalau Kian adalah playboy kawakan... ternyata cuma kesalahpahaman raksasa yang gue rangkai sendiri di dalam kepala.

Aduh. Malu banget. Mau tukar tambah muka di mana gue sekarang?

"Jadi..." suara gue mencicit, mendadak kehilangan keberanian yang tadi membakar dada. "Lu... gak lagi dekat sama siapa-siapa?"

Kian menatap gue datar, tapi ada kilat kejahilan yang perlahan muncul di matanya. "Kenapa? Lu kecewa karena teori lu patah?"

"Nggak!" seru gue cepat, muka gue mendadak terasa panas. "Gue kan cuma memastikan! Ya bagus kalau lu gak punya pacar, berarti lu gak lagi menduakan anak orang pas kita dijodohin!"

Kian tertawa pelan. Tawa renyah yang bikin dada gue desir-desir gak karuan. Dia menggeleng-gelengkan kepala sambil menyandarkan punggungnya lagi.

"Gue emang bukan malaikat, Ra. Dulu gue pernah pacaran, iya. Tapi sejak beberapa bulan lalu, gue udah gak dekat sama cewek mana pun," kata Kian, menatap gue lurus-lurus. "Makanya waktu bokap nyebut soal perjodohan semalam, gue gak ada beban buat setuju."

Gue menunduk, pura-pura sibuk mengaduk es teh manis yang es batu-nya udah meleleh semua. Kalau Kian gak punya siapa-siapa, terus alasan dia terima perjodohan ini... beneran cuma gara-gara gengsinya terluka pas gue tolak?

"Tapi lu," sambung Kian, nadanya mendadak berubah serius. "Alasan lu nolak semalam... beneran cuma karena mikir gue playboy?"

Pertanyaan itu menghantam gue tepat di ulu hati.

Gak mungkin gue jujur dan bilang.. Bukan, Kian. Gue nolak karena gue udah suka sama lu dari dulu, dan gue takut kalau kita nikah, lu gak bakal pernah bisa balik mencintai gue sebagai cewek, melainkan cuma menganggap gue sahabat masa kecil lu.

"Ya... iya lah," bohong gue setengah mati, memaksakan cengiran paling wajar yang gue punya. "Gue kan mikirnya lu mau manfaatin gue biar bisa bebas main cewek. Siapa juga yang mau dijadiin tameng?"

Kian mengamati wajah gue lama banget, seolah-olah dia lagi mencari celah kebohongan di sana. Tapi akhirnya dia cuma menghela napas dan tersenyum tipis.

"Ya udah. Berarti sekarang kesalahpahamannya udah beres kan?" Kian mengetuk-ngetuk meja. "Habis ini ikut gue."

"Ke mana lagi?"

"Ke mal."

"Ngapain pagi-pagi ke mal?"

Kian menyeringai tengil, kembali ke mode tengilnya yang biasa. "Ibu Negara alias Nyokap gue udah nge-WA dari tadi. Beliau minta bukti foto kita lagi kencan hari ini. Kalau gak ada foto bergandengan tangan, uang jajan gue bulan ini dipotong lima puluh persen."

Gue melotot. "Gila! Lu mau manfaatin gue demi uang jajan?!"

"Bukan manfaatin, Ra," Kian berdiri, mengambil dompetnya lalu mengacak rambut gue asal sampai berantakan. "Ini dinamakan kerja sama strategis antara dua calon pengantin. Yuk, Calon!"

"Kian! Jangan panggil gitu di tempat umum!" jerit gue pelan sambil menyusul langkah lebarnya. Tapi di balik omelan gue, ada rasa lega yang aneh... sekaligus ketakutan baru yang makin membesar di dalam dada.

Bagaimana cara gue bertahan melewati masa enam bulan ini, kalau setiap kali Kian tersenyum di dekat gue, benteng pertahanan yang udah gue bangun bertahun-tahun rasanya mau runtuh seketika?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!