Bab 4: Gandengan Tangan

Pukul sebelas siang, sebuah mal megah di pusat kota masih tergolong lengang. Tapi buat gue, tempat ini terasa bagaikan arena gladiator di mana reputasi dan ketahanan batin gue dipertaruhkan.

Kian berjalan santai di samping gue. Langkah kakinya yang lebar bikin gue harus melangkah dua kali lebih cepat biar gak ketinggalan.

"Pelan-pelan napa, sih!" omel gue sambil menepuk lengannya. "Kaki lu dipasang roda ya?"

Kian menghentikan langkahnya, menoleh ke gue, lalu menatap kaki gue dari atas ke bawah. "Kaki lu aja yang kepanjangan... kepanjangan kalau dibandingin sama kaki semut."

"Kian!"

"Bercanda," Kian tertawa pelan. Dia lalu merogoh saku celananya, mengeluarkan HP, dan membolak-balik layarnya. "Nah, nyokap udah nge-WA lagi. Katanya.. Kian, mana fotonya? Mama mau pamer ke grup arisan Komplek Permata.',"

"Grup arisan?! Kenapa harus pamer ke sana coba? Minta dihujat ibu-ibu sekomplek?"

"Biar mereka tahu kalau anak bujangnya yang paling ganteng ini udah ada yang punya," jawab Kian percaya diri tingkat dewa. Dia memiringkan tubuhnya mendekat ke arah gue, mengangkat HP tinggi-tinggi dengan tangan kanan. "Sini, foto dulu."

Gue memutar bola mata, tapi tetap mendekat. Gue memasang senyum kaku ala kadarnya ke kamera depan HP Kian.

Cklik.

Kian melihat hasil fotonya, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Jelek banget. Muka lu kayak orang nahan boker, Ra. Yang wajar dong senyumnya."

"Ini udah wajar ya!" potong gue gemas.

"Sini," tanpa aba-aba, tangan kiri Kian bergerak. Jarinya menyusup di antara jemari tangan kanan gue, menggenggamnya erat. Tangan Kian yang hangat dan besar menyelimuti tangan gue sepenuhnya.

DEG.

Dada gue langsung deg-degan parah. Tubuh gue membeku seketika. Sensasi kulit Kian yang menyentuh jemari gue bikin aliran darah gue rasanya mendadak berhenti beredar.

Gue mencoba menarik tangan gue reflek, tapi genggaman Kian makin erat.

"Jangan dilepas," bisik Kian di dekat telinga gue, matanya menatap lurus ke layar HP. "Biar kelihatan natural. Senyum, Elora."

Cklik.

Foto kedua tercipta. Di layar, kelihatan Kian tersenyum lebar sambil merangkul bahu gue dari samping, sementara tangan kami yang saling bertaut berada tepat di tengah frame. Dan gue... muka gue merah padam kayak udang rebus dengan senyum canggung yang gak bisa disembunyiin.

"Nah, gini dong. Bagus," kata Kian puas, langsung memencet tombol send ke Mamanya.

Anehnya, setelah foto selesai, Kian gak langsung melepas genggaman tangannya. Dia malah tetap menggandeng tangan gue sambil menuntun gue berjalan menyusuri koridor mal.

"Eh, udah selesai fotonya! Lepas dong!" bisik gue setengah panik, berusaha menarik tangan gue pelan-pelan biar gak menarik perhatian pengunjung mal yang lalu lalang.

"Biarin aja," sahut Kian enteng, pandangannya lurus ke depan. "Mal kan ramai. Nanti kalau lu terlepas terus hilang, gue yang repot dicariin Om Hardy."

"Gue udah dua puluh dua tahun ya, Kian! Bukan bocah TK yang bakalan hilang di wahana ball pit!"

"Tapi otak lu kan kadang suka delay," balas Kian tanpa rasa bersalah sama sekali.

Gue mendesis kesal, tapi di dalam hati gue yang paling dalam... ada kembang api yang meletup-letup. Jemari kami yang saling bertaut terasa begitu pas. Sudah berapa tahun gue membayangkan momen kecil seperti ini? Berjalan berdua, menggandeng tangannya, bukan sebagai "sahabat cowok yang tengil", tapi sebagai seorang laki-laki yang menjaga wanitanya.

Tapi detik berikutnya, akal sehat gue langsung menampar gue keras-keras.

Inget, Ra! Ini cuma pencitraan buat grup arisan Tante Maya! Jangan kepedean!

Kami akhirnya berhenti di sebuah toko pakaian wanita. Kian mendadak menarik gue masuk.

"Ngapain ke sini?" tanya gue bingung, melihat deretan gaun dan baju wanita yang terpajang rapi.

"Beliin lu baju," kata Kian, sibuk menggeledah rak pakaian.

"Hah? Gak usah! Baju gue masih banyak."

"Kemarin Nyokap bilang, minggu depan ada acara syukuran di rumah gue," Kian mengambil sebuah dress simpel berwarna baby blue dengan potongan sopan di bagian leher, lalu menempelkannya di depan tubuh gue. "Nyokap minta kita pakai baju senada. Dan lu harus kelihatan cantik."

Gue mendelik. "Maksud lu selama ini gue jelek?"

Kian menahan senyumnya. Dia memiringkan kepala, mengamati gaun itu di tubuh gue, lalu menatap wajah gue lekat-lekat. Untuk sejenak, tatapannya mendadak berubah lembut. Begitu hangat sampai bikin tenggorokan gue mendadak kering lagi.

"Gak jelek," gumam Kian pelan, hampir tak terdengar. "Coba lu ganti pakai ini dulu."

Kian menyodorkan gaun itu ke tangan gue. Gue yang agak salah tingkah gara-gara tatapannya tadi, langsung menyambar gaun itu dan kabur ke dalam fitting room tanpa kata-kata.

Di dalam fitting room, gue bersandar di pintu sambil memegang dada gue yang berdetak abnormal.

"Tenang, Elora. Jantung lu tolong dikontrol. Dia cuma lagi menjalankan tugas dari mamanya!" maki gue pada diri sendiri di depan cermin.

Setelah mengganti baju, gue keluar ragu-ragu. Gaun warna baby blue itu pas banget di tubuh gue, jatuh sedikit di bawah lutut, memberikan kesan anggun tapi tetap simpel.

Kian yang lagi duduk di sofa tunggu sambil bermain HP, langsung mendongak begitu mendengar pintu fitting room terbuka.

Begitu pandangan kami bertemu, jemari Kian yang lagi mengetik di layar HP langsung berhenti total.

Kian mematung. Matanya meneliti penampilan gue dari rambut, gaun, sampai kaki, tanpa berkedip sama sekali selama beberapa detik. Ada riak emosi yang asing di dalam matanya, sebuah tatapan takjub yang belum pernah dia tunjukkan ke gue selama belasan tahun kami bersahabat.

Gue yang makin canggung dan salah tingkah langsung merapikan bagian bawah gaun gue. "Gimana? Aneh ya? Jelek kan? Ya udah gue ganti lagi—"

"Bagus," potong Kian cepat. Suaranya agak serak.

Kian berdiri dari sofa, berjalan mendekat ke arah gue. Dia berhenti tepat di depan gue, lalu mengulurkan tangannya buat merapikan sehelai rambut gue yang terlepas ke belakang telinga. Jarinya sempat menyentuh pipi gue secara tidak sengaja, meninggalkan sensasi tersengat listrik lokal.

"Bagus banget, Ra," kata Kian pelan, menatap lurus ke mata gue dengan intensitas yang bikin napas gue tertahan. "Lu... cantik."

Gue terpaku. Dunia seolah mendadak hening. Tak ada suara musik mal, tak ada suara lalu lalang orang. Cuma ada Kian dan tatapan matanya yang terasa begitu tulus.

Tuhan... kalau ini cuma akting, tolong suruh Kian berhenti sekarang juga. Karena kalau dia terus-terusan kayak gini... benteng pertahanan gue bakalan hancur lebur sebelum bulan pertama selesai.

Terpopuler

Comments

ms. S

ms. S

ya ampun aku jadi deg2an ini kayak akunsama kian🤭🤣

2026-08-27

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!