Bayangan di Istana Phoenix

Istana Phoenix adalah jantung dari seluruh harem kekaisaran. Tempat ini berdiri paling megah, dikelilingi oleh pilar-pilar giok putih dan tirai sutra merah tua yang menjuntai anggun. Aromanya pun berbeda; alih-alih wewenang dupa biasa, ruangan utama dipenuhi oleh wangi gaharu terbaik yang diimpor langsung dari negeri seberang lautan.

Di singgasana permaisuri yang bertahtakan permata, duduklah Permaisuri Agung—wanita paling berkuasa di harem setelah sang kaisar, yang berasal dari klan bangsawan paling berpengaruh di Kekaisaran Zhengzhou. Wajahnya anggun, matanya menyimpan pengalaman puluhan tahun dalam bertahan hidup di antara intrik darah dan kekuasaan, namun bibirnya menyunggingkan senyuman ramah yang justru terasa jauh lebih berbahaya daripada tatapan tajam Selir Mei.

Di hadapannya, Mu Qingran berdiri tenang setelah membungkuk hormat dengan sempurna. Tidak ada kecanggungan, tidak ada pula ketakutan di wajahnya.

"Duduklah, Selir Mu," suara Permaisuri terdengar lembut, mengalir bagaikan alunan kecapi malam hari. "Namamu kini menjadi buah bibir di setiap sudut istana. Dalam semalam, kau berhasil meruntuhkan arogansi Selir Mei dan merebut perhatian Putra Langit. Sungguh... sebuah prestasi yang luar biasa bagi seseorang yang sebelumnya hanya dikenal hidup di sudut istana dingin."

Chun’er, yang menunggu di luar aula bersama para pelayan istana phoenix, pasti akan mencemaskan setiap kata yang keluar dari bibir sang Permaisuri. Sebab di istana, pujian dari orang yang berkuasa sering kali merupakan racun yang dibungkus dengan madu.

Qingran mengangkat kepalanya perlahan, menatap mata sang permaisuri tanpa ragu. "Yang Mulia terlalu memuji. Hamba hanyalah sehelai daun yang terbawa arus angin. Hamba tidak pernah berniat untuk menarik perhatian siapa pun, apalagi meruntuhkan martabat orang lain. Hamba hanya berusaha bertahan hidup dari badai yang tidak hamba ciptakan."

Permaisuri menyipitkan matanya sejenak. Senyuman di bibirnya sedikit memudar, digantikan oleh tatapan menilai yang tajam. Wanita di hadapannya ini tidak seperti selir-selir muda lainnya yang mudah diintimidasi dengan wibawa atau disuap dengan janji-janji kosong. Mu Qingran memiliki ketenangan mental yang tidak wajar.

"Bertahan hidup..." Permaisuri mengulang kata itu pelan, lalu menyesap tehnya dari cangkir porselen berukir phoenix emas. "Di istana ini, tidak ada tempat bagi mereka yang hanya ingin 'bertahan hidup', Selir Mu. Kau anjing yang melihat mangsa, atau kau adalah mangsa yang menunggu untuk diterkam. Kaisar Tang Xuanze adalah penguasa yang dingin dan penuh perhitungan. Ketertarikannya padamu hari ini bisa menjadi berkah, tetapi bisa juga menjadi bumerang yang menghancurkanmu besok."

"Hamba memahami risiko dari setiap langkah yang hamba ambil, Yang Mulia," jawab Qingran mantap, suaranya tenang tanpa ada getaran sedikit pun. "Namun, burung merpati tidak akan pernah belajar terbang jika ia terus bersembunyi di dalam sangkar karena takut pada badai di luar."

Sebuah keheningan singkat tercipta di dalam aula yang megah itu. Permaisuri menatap Qingran lekat-lekat, mencoba mencari celah atau ketakutan di balik mata jernih sang selir. Namun, yang ia temukan hanyalah sebuah keteguhan jiwa yang keras bagaikan baja.

Sebelum Permaisuri sempat melontarkan kalimat berikutnya, suara langkah kaki berat mendadak terdengar mendekati pintu utama aula, diiringi teriakan kasim yang membuat seluruh pelayan di luar langsung bersujud.

"Kaisar, hadir!"

Suara langkah kaki itu berat, terukur, dan memancarkan dominasi mutlak yang membuat seluruh isi aula mendadak menahan napas. Tirai sutra merah yang menjuntai di pintu masuk tersibak perlahan, menampakkan sosok Kaisar Tang Xuanze dengan jubah naga kuning keemasan yang berkilau tertimpa cahaya matahari senja.

Permaisuri Agung, yang sedari tadi duduk dengan anggun di atas singgasananya, segera berdiri. Ia merapikan lengan jubahnya dan membungkuk hormat menyambut sang Putra Langit.

"Panjang umur kepada Yang Mulia," ucap Permaisuri, nada suaranya berubah menjadi lembut, menyembunyikan keterkejutan di balik senyuman formalnya. "Kehadiran Yang Mulia di Istana Phoenix sungguh sebuah kehormatan yang jarang terjadi. Hari ini aku sedang menikmati jamuan teh bersama Selir Mu..."

Tang Xuanze bahkan tidak melirik ke arah permaisuri. Langkah kakinya langsung terarah lurus ke tengah aula, tempat Mu Qingran berdiri tegak dengan postur yang tenang. Sepasang mata gelap sang kaisar menghujam tajam ke arah sang selir, sebelum akhirnya beralih menatap Permaisuri dengan sorot yang sulit ditebak.

"Aku mendengar dari pengawal bahwa Permaisuri memanggil Selir Mu ke tempat ini," suara Tang Xuanze rendah, dingin, namun mengandung beban wibawa yang membuat suhu di dalam ruangan terasa menurun drastis. "Di luar istana, berita tentang intrik semalam masih hangat diperbincangkan. Apakah Permaisuri juga tertarik ikut campur dalam urusan membersihkan duri di haremku?"

Kata-kata itu tajam bagaikan bilah belati yang terhunus. Meskipun diucapkan dengan nada datar, sindiran di dalamnya begitu telak. Di dalam hierarki istana, Permaisuri adalah penguasa tertinggi para selir, namun Kaisar secara tersirat sedang memperingatkan agar tidak ada yang berani mengusik wanita yang baru saja menarik perhatiannya.

Wajah Permaisuri sempat mengeras untuk sepersekian detik. Senyuman di bibirnya hampir runtuh, namun ia adalah wanita yang telah makan asam garam intrik istana selama bertahun-tahun. Ia segera menguasai diri dan kembali tersenyum tenang.

"Yang Mulia salah paham," jawab Permaisuri dengan suara lembut yang terkontrol. "Sebagai pengampu harem, sudah menjadi kewajibanku untuk mengenal lebih dekat para selir yang tinggal di istana bagian dalam—terutama seseorang yang kini tengah menjadi perbincangan karena kecerdasannya. Aku hanya ingin berbincang-bincang ringan dengannya."

Tang Xuanze mendengus pelan. Ia tidak menanggapi ucapan sang permaisuri lebih jauh. Sebaliknya, pandangan mata elangnya kini kembali tertuju sepenuhnya kepada Mu Qingran.

"Selir Mu," panggil Kaisar, suaranya melunak sedikit namun tetap menyimpan otoritas mutlak. "Waktu minum tehmu bersama Permaisuri sepertinya sudah cukup. Ikut aku."

Chun’er, yang menunggu di luar dan mengintip dari celah pintu, hampir melongo karena tidak percaya. Seorang kaisar yang terkenal dingin dan jarang peduli pada urusan harem, kini datang secara pribadi ke Istana Phoenix hanya untuk "menjemput" seorang selir rendahan yang baru saja naik pangkat? Ini adalah sebuah keistimewaan yang belum pernah diberikan kepada selir mana pun dalam sejarah kekaisaran belakangan ini.

Mu Qingran sendiri merasakan gelombang keheranan melintas di dalam benaknya. Ia tahu betul bahwa tindakan Kaisar ini bukanlah bentuk cinta atau ketertarikan romantis yang naif, melainkan sebuah pernyataan politik yang sangat keras kepada seluruh faksi di istana: Mu Qingran berada di bawah perlindungan langsung sang Putra Langit.

Dengan tenang, Qingran merapatkan kedua tangannya di depan dada, lalu membungkuk hormat kepada Permaisuri. "Hamba mohon pamit, Yang Mulia."

Permaisuri mengepalkan jemarinya di balik lengan jubah sutranya, kuku-kukunya mencengkeram erat kain mahal tersebut. Namun, ia tidak memiliki alasan untuk menahan mereka. "Silakan, Selir Mu. Semoga harimu menyenangkan di sisi Yang Mulia."

Qingran berbalik dan melangkah menghampiri sang kaisar. Saat ia berdiri berdampingan dengan Tang Xuanze, pria itu meliriknya sekilas sebelum berputar badan meninggalkan aula.

Di bawah langit senja Kekaisaran Zhengzhou yang mulai memerah, langkah kaki mereka bergema berdampingan. Babak baru dalam hidup Mu Qingran telah resmi dimulai—bukan lagi sebagai mangsa di sudut yang gelap, tetapi sebagai pion utama yang kini berdiri tepat di samping sang penguasa singgasana naga.

Episodes
1 Bunga di Sudut Istana Dingin
2 Badai di Paviliun Chaoyang
3 Bayangan Naga di Balik Layar
4 Angin Perubahan di Paviliun Lanting
5 Bayangan di Istana Phoenix
6 Paviliun Lanting di Bawah Cahaya Bulan
7 Bayangan di Balik Tirai Sutra
8 Titah dari Aula Naga
9 Darah di Atas Salju Kertas
10 Bayangan Hitam di Bawah Langit Kelabu
11 Tarian di Atas Hamparan Salju Merah
12 Bayangan Naga di Aula Agung
13 Fajar Baru di Istana Phoenix
14 Ombak yang Belum Reda
15 Bayangan di Ujung Perbatasan
16 Jejak Kaki di Padang Salju Utara
17 Jejak Kaki di Padang Salju Utara
18 Bayangan di Tengah Badai Salju
19 Gema Kemenangan di Lembah Salju
20 Langit Malam di Atas Paviliun Lanting
21 Bayangan Hitam dari Timur Laut
22 Benturan Besi dan Kata-Kata
23 Bayangan Pasukan Besi di Lembah Liao
24 Gema Kemenangan dan Janji di Bawah Panji Naga
25 Tuntutan untuk Putra Mahkota
26 Bayang-Bayang di Balik Jubah Kebesaran
27 Riak di Bawah Permukaan Giok
28 Duri dalam Selimut
29 Kabut Pagi di Kuil Leluhur
30 Darah di Atas Meja Rias
31 Badai di Paviliun Bunga Plum
32 Medan Perang Baru di Balik Tirai Sutra
33 Bayang-Bayang di Perbatasan Utara
34 Jaring Laba-Laba di Balik Gerbang Besi
35 Jebakan Malam Bulan Purnama
36 Fajar Kemenangan di Gerbang Utama
37 Fajar Baru di Atas Tahta Giok
38 Kabar Bahagia di Bawah Langit Zhengzhou
39 Penantian di Balik Musim Semi yang Hangat
40 Pangeran Kecil Bernama Tang Zhenyu
Episodes

Updated 40 Episodes

1
Bunga di Sudut Istana Dingin
2
Badai di Paviliun Chaoyang
3
Bayangan Naga di Balik Layar
4
Angin Perubahan di Paviliun Lanting
5
Bayangan di Istana Phoenix
6
Paviliun Lanting di Bawah Cahaya Bulan
7
Bayangan di Balik Tirai Sutra
8
Titah dari Aula Naga
9
Darah di Atas Salju Kertas
10
Bayangan Hitam di Bawah Langit Kelabu
11
Tarian di Atas Hamparan Salju Merah
12
Bayangan Naga di Aula Agung
13
Fajar Baru di Istana Phoenix
14
Ombak yang Belum Reda
15
Bayangan di Ujung Perbatasan
16
Jejak Kaki di Padang Salju Utara
17
Jejak Kaki di Padang Salju Utara
18
Bayangan di Tengah Badai Salju
19
Gema Kemenangan di Lembah Salju
20
Langit Malam di Atas Paviliun Lanting
21
Bayangan Hitam dari Timur Laut
22
Benturan Besi dan Kata-Kata
23
Bayangan Pasukan Besi di Lembah Liao
24
Gema Kemenangan dan Janji di Bawah Panji Naga
25
Tuntutan untuk Putra Mahkota
26
Bayang-Bayang di Balik Jubah Kebesaran
27
Riak di Bawah Permukaan Giok
28
Duri dalam Selimut
29
Kabut Pagi di Kuil Leluhur
30
Darah di Atas Meja Rias
31
Badai di Paviliun Bunga Plum
32
Medan Perang Baru di Balik Tirai Sutra
33
Bayang-Bayang di Perbatasan Utara
34
Jaring Laba-Laba di Balik Gerbang Besi
35
Jebakan Malam Bulan Purnama
36
Fajar Kemenangan di Gerbang Utama
37
Fajar Baru di Atas Tahta Giok
38
Kabar Bahagia di Bawah Langit Zhengzhou
39
Penantian di Balik Musim Semi yang Hangat
40
Pangeran Kecil Bernama Tang Zhenyu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!