Episode 4

Bab 4

Dua Nama dan Pintu Rumah yang Tertutup

Lima hari kemudian, Anindya berdiri di depan pagar rumah masa kecilnya sambil membawa nampan bunga untuk mendiang Laras.

Pintu pagar di Menteng itu tetap tertutup.

“Maaf, Bu Anindya.” Penjaga rumah menunduk tanpa berani menatap matanya. “Bu Sri sedang menerima tamu. Saya diminta tidak membiarkan siapa pun masuk tanpa izin.”

“Hari ini haul ibu saya.”

“Saya tahu, Bu.”

“Tahlilan diadakan di dalam rumah saya, untuk ibu saya, dan saya disebut siapa pun?”

Pria itu makin menunduk. Dari balik pagar, suara bacaan doa baru saja selesai. Sejumlah mobil mewah terparkir di halaman. Alasan tentang tamu bukan kebohongan. Hanya orang yang dilarang masuk memang khusus Anindya.

Sepatu hak mendekat dari sisi dalam.

“Buka sedikit. Biar aku bicara dengannya.”

Amara muncul dalam gamis krem dengan kerudung yang disematkan rapi. Wajahnya lembut, cocok untuk foto keluarga yang berduka. Hanya matanya yang tampak terlalu puas.

“Kak Anindya, kenapa datang tanpa kabar?”

“Sejak kapan anak harus membuat janji untuk mendoakan ibunya sendiri?”

“Ibu sedang menjaga suasana. Banyak keluarga besar datang.” Amara merendahkan suara. “Setelah keributanmu di maskapai, semua orang membicarakan kita. Lebih baik kamu pulang dulu.”

“Buka pintunya.”

“Jangan keras kepala.”

Seorang perempuan berusia lima puluhan muncul di belakang Amara. Sri Wahyuni mengenakan kebaya gelap dan kerudung senada. Ia menangkupkan tangan di depan dada, wajahnya menyimpan kesedihan yang telah dilatih.

“Anindya, Ibu mengerti kamu ingin datang.”

Anindya menatapnya. “Kalau mengerti, buka pintu.”

“Jangan membuat keributan di hari doa untuk Laras.” Sri Wahyuni melirik para tamu yang mulai keluar ke teras. “Kami sedang menjaga nama baik keluarga. Kamu baru saja ditalak, lalu masuk ke perusahaan calon suami adikmu. Orang-orang bisa salah paham.”

“Orang-orang salah paham karena Amara sibuk memberi mereka cerita.”

Amara menyentuh dada. “Aku?”

“Siapa lagi yang mengundang infotainment ke acara pindahan apartemen?”

Bisik-bisik terdengar dari teras. Senyum Amara menegang.

Sri Wahyuni melangkah mendekati celah pagar. “Cukup. Sejak kecil kamu selalu membawa kesulitan. Ibumu sakit setelah melahirkanmu. Sekarang rumah tanggamu juga gagal. Jangan bawa nasib burukmu ke dalam rumah ini.”

Jari Anindya menekan tepi nampan sampai anyaman bambunya menusuk kulit.

“Ulangi di depan foto Ibu Laras,” katanya. “Kalau berani, katakan saya pembawa sial sambil melihat wajah perempuan yang rumah dan suaminya kamu ambil.”

Wajah Sri Wahyuni memucat.

“Kurang ajar!”

Suara berat memotong dari belakang para tamu.

Pak Yahya berjalan menuruni tangga dengan tongkat kayu di tangan. Usianya membuat langkahnya lambat, tetapi para pengusaha yang mengikutinya otomatis memberi jalan.

“Yang kurang ajar bukan anak ini,” katanya. “Yang kurang ajar adalah orang yang memakai acara doa untuk mengusir putri kandung almarhumah.”

“Pak Yahya, ini masalah keluarga,” ujar Sri Wahyuni cepat.

“Laras pernah menyelamatkan usaha saya ketika semua orang menjauh. Saya datang karena menghormatinya.” Pak Yahya menunjuk pagar dengan ujung tongkat. “Kalau anaknya sendiri tidak boleh masuk, doa macam apa yang kalian adakan?”

Bramantya akhirnya terlihat di ambang pintu utama. Rambutnya lebih banyak memutih daripada terakhir kali Anindya melihatnya. Ia membuka mulut, tetapi Sri Wahyuni lebih dulu menoleh.

“Pak, katakan sesuatu. Jangan biarkan dia mempermalukan kita di depan tamu.”

Bramantya memandang Anindya melalui pagar. Tatapannya turun pada bunga di tangannya, lalu berpindah ke para tamu.

“Nindya,” suaranya serak. “Pulanglah dulu. Kita bicara lain waktu.”

Sesuatu yang lebih tajam daripada hinaan Sri Wahyuni menekan dada Anindya.

Ayahnya masih memilih pintu tertutup itu.

Pak Yahya mengangguk pelan, seolah baru menerima jawaban atas keraguan lama.

“Mulai besok, perusahaan saya menghentikan semua pembicaraan kerja sama dengan Grup Wicaksana.”

Bramantya terkejut. “Pak Yahya, jangan campur urusan bisnis dengan...”

“Nama baik keluarga, bukan?” Pak Yahya berbalik. “Saya tidak mau nama perusahaan saya berada di samping keluarga yang memperlakukan anak almarhumah seperti pengemis di depan pagar.”

Dua tamu lain ikut turun. Seorang perempuan paruh baya menyerahkan kartu nama kepada Anindya sebelum masuk ke mobil. Yang lain hanya menggeleng kepada Bramantya.

Dalam beberapa menit, halaman yang tadi penuh mulai kosong.

Sri Wahyuni menyuruh penjaga membuka pagar setelah wartawan dan sebagian besar tamu pergi. Bukan untuk menerima Anindya, melainkan agar Bramantya bisa menariknya ke sisi halaman yang tak terlihat dari jalan.

“Kamu puas?” bentak Bramantya. “Satu kerja sama batal karena kamu!”

“Karena saya?” Anindya menyodorkan nampan bunga. “Saya datang untuk mendoakan Ibu. Kalian yang menjadikan pagar ini panggung penghinaan.”

“Jangan bicara seperti itu kepada papamu,” Sri Wahyuni menyela.

“Dia berhenti menjadi Papa ketika membiarkan makam dan doa ibu saya dikuasai orang yang membencinya.”

Bramantya mengangkat tangan, lalu ragu. Keraguan itu hanya berlangsung sesaat. Telapak tangannya mengenai pipi Anindya.

Nampan bunga jatuh. Kelopak melati dan mawar putih berserakan di batu halaman.

Amara tersenyum kecil sebelum cepat-cepat memasang wajah cemas.

“Papa, jangan...”

Bramantya menatap tangannya sendiri, seolah tak percaya ia baru menggunakannya. “Nindya, aku...”

“Jangan.”

Rasa logam memenuhi mulut Anindya. Ia menyentuh sudut bibir, melihat darah tipis di jarinya, lalu menatap ayahnya.

“Sepuluh tahun lalu, Ibu Laras meninggal di rumah ini. Hari ini, putrinya dipukul karena ingin membacakan doa untuknya.”

“Kamu yang memancing emosi Papa,” kata Amara.

Anindya menoleh. “Nikmati rumah, apartemen, dan laki-laki yang kamu ambil selama masih bisa.”

Senyum Amara benar-benar hilang.

Anindya membungkuk, mengambil satu kuntum melati yang belum terinjak, lalu berdiri kembali.

“Aku akan kembali.”

Malam itu, pintu lain terbuka untuknya.

Di ruang intelijen Klub Enggar, Sisi menampilkan dua salinan catatan gawat darurat di layar. Waktu panggilan ambulans berbeda empat puluh tujuh menit. Dalam laporan awal, ada satu petugas rumah yang menyebut Laras sudah kesulitan bernapas sebelum jatuh. Kesaksian itu hilang dari berkas berikutnya.

Enggar meletakkan map fisik di depan Anindya. “Mantan asisten rumah tangga yang membuat pernyataan awal bersedia bicara. Selama ini dia takut.”

“Siapa yang menekannya?”

Sisi memperbesar jejak pembayaran lama. “Uangnya melewati tiga rekening. Rekening terakhir terhubung ke orang kepercayaan Bu Sri.”

“Dan nama yang dihapus?”

“Amara.”

Ruangan menjadi sunyi.

Anindya mengeluarkan kuntum melati yang ia bawa dari rumah Menteng. Kelopaknya sudah layu dan ternoda setitik darah dari bibirnya. Ia meletakkannya di atas dua nama pada halaman pertama.

Sri Wahyuni.

Amara Wicaksana.

“Simpan salinan di tiga tempat. Lindungi saksi. Jangan bergerak sebelum rantainya lengkap.”

“Baik, Bos,” jawab Sisi.

Anindya menutup map kematian ibunya. Di balik kaca gedung, sebuah pesawat melintas di antara lampu Jakarta.

“Mulai hari ini,” katanya, “orang-orang yang membunuh Ibu saya akan membayar semuanya.”

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!