The Captain's Discarded Siri Wife

The Captain's Discarded Siri Wife

Episode 1

Bab 1

Talak dan Ratu di Lantai Teratas

“Apartemen ini harus dikosongkan hari ini, Bu Anindya. Tempat ini akan disiapkan untuk calon istri Pak Arkana.”

Kalimat pria berjas abu-abu itu jatuh di antara dua piring sarapan. Kopi hitam di depan kursi Arkana masih utuh, tetapi cincin di jari Anindya sudah tidak ada.

Kurang dari satu jam sebelumnya, ia masih berdiri berjinjit di depan suaminya.

“Jangan bergerak. Pangkatmu miring.”

Anindya berdiri berjinjit di depan Arkana. Ujung jarinya merapikan epolet empat garis emas di bahu seragam putih pria itu. Kainnya masih hangat setelah disetrika. Aroma kopi hitam bercampur wangi sabun yang begitu dikenalnya memenuhi dapur apartemen mereka.

Mereka memang tak pernah tercatat sebagai suami istri di dokumen negara. Tak ada foto pernikahan di ruang tamu, tak ada nama Anindya di undangan keluarga Adiwijaya. Hanya akad sederhana tiga tahun lalu, dua cincin polos, dan apartemen di SCBD yang menjadi rumah rahasia mereka.

Namun, setiap kali Arka mengenakan seragam kapten, Anindya tetap merasa lelaki itu pulang kepadanya, meski langit lebih sering memilikinya.

“Sudah.” Anindya menepuk pelan bahunya. “Sarapan dulu. Kamu punya waktu dua puluh menit sebelum berangkat ke bandara.”

Arka tidak langsung menjawab. Ponselnya bergetar di atas meja. Nama yang muncul di layar membuat rahangnya mengeras, tetapi ia membalikkan ponsel sebelum Anindya sempat membacanya.

“Siapa?”

“Kantor.”

Jawabannya terlalu cepat.

Anindya meletakkan roti panggang di piring. Saat berbalik, ia mendapati Arka sedang memandang tangannya. Lebih tepatnya, cincin tipis di jari manisnya.

Pria itu mendekat.

Untuk sesaat, Anindya mengira Arka hendak menggenggam tangannya seperti biasa. Namun, jemari pria itu justru mencabut cincin tersebut. Logam dingin bergesekan dengan kulitnya, lalu hilang ke dalam saku seragam putih.

Bekas pucat melingkar di jari Anindya.

“Arka?”

“Nanti ada orang datang untuk bicara denganmu.”

Suara pengumuman penerbangan terdengar samar dari panggilan yang baru saja ia angkat. Arka meraih topi kapten, lalu berjalan menuju pintu.

“Bicara soal apa?”

Langkahnya berhenti, tetapi ia tidak menoleh.

“Ikuti saja penjelasannya.”

Pintu tertutup.

Roti di meja masih mengepulkan uap. Kopi hitamnya belum disentuh.

Kurang dari satu jam kemudian, bel apartemen berbunyi.

Seorang pria berjas abu-abu berdiri di luar dengan tas dokumen hitam. Ia memperkenalkan diri sebagai pengacara keluarga Adiwijaya, lalu meminta izin masuk dengan kesopanan yang terasa seperti ujung pisau.

Anindya duduk di seberangnya. Jari manisnya tetap berada di bawah meja.

“Saya akan langsung ke pokok persoalan, Bu Anindya.” Pria itu mengeluarkan amplop tebal. “Pak Arkana telah mengambil keputusan untuk menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan nikah siri kalian.”

Dengung pendingin ruangan mendadak terdengar terlalu keras.

“Ulangi.”

Pengacara itu menarik napas pendek. “Pak Arkana mengakhiri pernikahan ini. Apartemen harus dikosongkan hari ini karena akan dipersiapkan untuk calon istrinya, Nona Amara Wicaksana.”

Nama itu jatuh tepat di tengah meja makan yang masih menyimpan dua piring sarapan.

Amara.

Adik tirinya sendiri.

Anindya menatap amplop di hadapannya. Segelnya sudah dibuka. Di dalamnya ada lembar transfer dana, dokumen pengalihan sebuah unit apartemen kecil, dan daftar barang yang selama tiga tahun pernah diberikan Arka kepadanya.

Pengacara itu membaca satu per satu.

“Jam tangan, satu unit kendaraan, biaya hidup selama masa iddah, beberapa perhiasan, dan nilai kompensasi yang sudah ditransfer pagi ini.”

Ia membalik halaman.

“Kemudian, pin penerbang lama milik Adiwijaya Airlines yang pernah diberikan kepada Ibu saat masih menjadi siswa penerbang. Barang tersebut tercatat sebagai aset perusahaan dan harus dikembalikan.”

Dada Anindya akhirnya bergerak.

Pin itu bukan emas. Nilainya bahkan tak seberapa dibanding angka yang tercetak pada dokumen kompensasi. Namun, Arka memberikannya saat Anindya lulus penerbangan solo pertamanya. Malam itu, pria tersebut memasangnya sendiri di kerah seragam latihannya dan berkata bahwa langit tak pernah salah memilih orang.

Sekarang kenangan itu dimasukkan ke dalam daftar inventaris.

“Berapa?” tanya Anindya.

“Maaf?”

“Berapa harga tiga tahun saya menurut keluarga Adiwijaya?”

Pria itu menunduk pada angka terakhir. “Jumlah keseluruhannya tercantum di halaman empat.”

“Saya tidak bertanya halaman berapa.”

Pengacara itu terdiam.

Anindya mengambil ponselnya dan menekan nomor Arka. Panggilan pertama ditolak. Panggilan kedua baru dijawab setelah dering panjang.

Suara roda koper dan pengumuman keberangkatan memenuhi sambungan. Arka sudah berada di dekat pesawat, mungkin hanya beberapa langkah dari pintu kokpit.

“Arka, apa semua ini benar?”

Hening dua detik.

“Ikuti kata pengacara.”

“Kamu mengambil cincinku sebelum berangkat, lalu menyuruh orang lain menalakku?”

“Aku harus terbang.”

Anindya mencengkeram ponsel. “Dan Amara akan tinggal di sini?”

Kali ini jedanya lebih lama. Seorang petugas memanggil, “Kapten Arkana, kami siap boarding.”

“Kosongkan apartemen hari ini,” katanya akhirnya. “Jangan mempersulit keadaan.”

Sambungan terputus.

Anindya tidak langsung menurunkan ponselnya. Layar hitam memantulkan wajah yang masih rapi, seolah pagi ini tidak baru saja merobek hidupnya dari tengah.

Pengacara di seberang menggeser bolpoin.

“Jika Ibu bersedia menandatangani, staf kami akan membantu memindahkan barang pribadi.”

Anindya meraih bolpoin itu.

“Tidak perlu.”

Ia membaca setiap halaman, mengembalikan pin penerbang ke dalam kotak kecil, lalu menandatangani di tempat yang ditunjukkan. Goresan tintanya lurus. Hanya ujung jari yang memegang kertas terlihat memutih.

“Untuk apartemen kecil dan uangnya?” tanya pengacara itu hati-hati.

“Biarkan prosesnya jalan.” Anindya menutup dokumen. “Saya ingin tahu seberapa murah keluarga Adiwijaya menilai rasa bersalah mereka.”

Pria itu tidak berani menjawab.

Anindya masuk ke kamar. Lemari besar di sisi Arka penuh oleh seragam, kemeja, dan jas. Di sisinya hanya ada beberapa pakaian yang benar-benar ia sukai. Ia memasukkannya ke satu koper kabin. Tak ada foto yang perlu dibawa. Arka tak pernah mengizinkan foto mereka dipajang.

Di depan meja rias, Anindya membuka kotak beludru hijau. Sepasang anting milik mendiang Laras terbaring di dalamnya. Ia mengenakan anting itu, menyentuh permukaannya sekali, lalu menutup kotak.

Itulah satu-satunya benda yang tidak pernah diberikan Arka kepadanya.

Menjelang siang, Anindya keluar hanya dengan satu koper.

Pengacara itu berdiri saat ia melewati ruang makan. Roti panggang sudah dingin. Kopi hitam Arka masih utuh.

“Bu Anindya, mobil dari keluarga bisa mengantar.”

“Saya masih punya mobil sendiri.”

“Kendaraan itu tercantum dalam daftar pemberian.”

Anindya berhenti. Untuk pertama kalinya, senyum tipis muncul di bibirnya.

“Bukan mobil yang di basemen. Yang itu boleh kalian ambil.”

Ia pergi sebelum pria tersebut sempat memahami maksudnya.

Empat puluh menit kemudian, sebuah sedan hitam tanpa logo berhenti di depan bangunan batu berwarna gelap di kawasan bisnis Jakarta. Dari luar, tempat itu tampak seperti klub privat yang sengaja menolak perhatian. Tak ada papan nama besar. Hanya simbol huruf E di pintu kaca.

Petugas keamanan melihat plat mobilnya dan segera membuka palang.

Anindya masuk tanpa menunggu dibukakan pintu. Sepatu haknya berdetak di lantai marmer. Beberapa tamu di lobi menoleh, tetapi ia tidak berhenti. Kartu hitam di tangannya membuka lift khusus yang bahkan tak tercantum pada panel umum.

Lift melaju langsung ke lantai teratas.

Saat pintunya terbuka, Sisi sudah menunggu bersama belasan staf. Perempuan itu mengenakan kemeja hitam dengan tablet di tangan. Di belakangnya, ruang kendali Klub Enggar membentang di balik dinding kaca, dipenuhi layar, peta koneksi, dan orang-orang yang selama ini bekerja tanpa pernah menyebut nama pemilik sesungguhnya di luar lantai itu.

Mereka serempak menundukkan kepala.

“Selamat siang, Bos.”

Anindya menyerahkan koper kepada seorang staf. Punggungnya tegak. Tak ada yang akan mengira, kurang dari dua jam lalu, seorang pengacara baru saja menghitung harga dirinya halaman demi halaman.

Enggar keluar dari ruang rapat sambil membawa sebuah map.

“Kami siap sejak Bos mengirim pesan dari jalan.” Pandangannya turun ke jari Anindya yang kosong, lalu segera beralih. “Ada satu informasi lain. Adiwijaya Airlines sedang membuka posisi kopilot untuk rute domestik. Batas pengajuan berkas siang ini.”

Sisi mengangkat tablet. “Lisensi CPL Bos masih aktif. Jam terbang dan pemeriksaan kesehatan juga lengkap. Saya bisa kirim berkasnya sekarang.”

Anindya menyentuh anting peninggalan ibunya. Bayangan Arka dengan seragam putih, cincin di sakunya, dan suara dingin dari ujung telepon melintas sekali.

Lalu ia menekan tombol lift untuk turun lagi.

“Kirim berkasnya,” katanya. “Aku akan terbang kembali.”

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!