Teror Panggilan

Kini, Cecilia sudah berdiri mematung di tengah-tengah kamar barunya. Kamar kos yang terletak di lantai dua itu ukurannya memang tidak terlalu besar, jauh jika dibandingkan dengan walk-in closet apartemen mewah Douglas tempo hari. Namun, fasilitas yang tersedia sudah lebih dari cukup untuk ukuran tempat tinggal sementara, sebuah tempat tidur empuk berukuran single, televisi kecil di atas meja sudut, sebuah meja belajar lengkap dengan kursinya, lemari pakaian kayu yang ukurannya pas-pasan, serta kamar mandi di dalam kamar yang bersih.

​Harga sewa kamar ini juga sangat masuk akal dan sama sekali tidak menguras sisa uang tunai di dompetnya.

​Namun, ada satu detail kecil yang baru disadari oleh Cecilia setelah pengurus kos menyerahkan kunci tadi siang. Ternyata, kos-kosan ini adalah kos umum dan bebas yang memperbolehkan penghuni laki-laki maupun perempuan tinggal di satu gedung yang sama. Di sepanjang koridor tadi, Cecilia sempat berpapasan dengan beberapa penghuni lain. Ada yang terlihat seperti mahasiswa biasa, ada pula yang berpasangan mondar-mandir membawa belanjaan. Bahkan, dari salah satu pintu kamar di ujung lorong, terdengar suara bisik-bisik dan tawa renyah yang samar-samar.

​"Ah, entah itu sepasang kekasih, suami istri, atau bahkan selingkuhan terselubung sekalipun, aku sama sekali tidak mau ambil pusing!" gumam Cecilia sambil mengangkat bahunya acuh tak acuh.

"Yang paling penting untuk satu bulan ke depan ini aku tidak perlu kebingungan memikirkan tempat tinggal lagi."

​Bagi Cecilia, urusan moral tetangga sebelah bukanlah urusannya. Yang memenuhi isi kepalanya saat ini hanyalah satu hal yang jauh lebih mendesak, bagaimana cara mencari pekerjaan demi menyambung hidup ke depannya.

​Karena kelelahan yang luar biasa, mulai dari drama pengusiran pagi tadi hingga perjuangannya membereskan koper seorang diri, tubuh Cecilia mendua meminta istirahat. Ia melepas sandal jepitnya, membaringkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, dan dalam hitungan menit, kesadarannya perlahan-lahan hilang. Napasnya teratur, digantikan oleh dengkuran halus yang lolos dari bibirnya.

​Kelopak mata Cecilia mengerjap perlahan. Ia merentangkan kedua tangannya ke atas, merasakan otot-ototnya yang sedikit kaku. Saat ia menoleh ke arah jendela kaca kamarnya, pemandangan di luar sana sudah berubah total. Langit malam tampak gelap gulita, dihiasi kerlap-kerlip lampu kota dan terangi oleh sinar bulan sabit.

​Cecilia mengernyit bingung. Ia merogoh tas tangannya, mengambil ponsel mahalnya, lalu menekan layar untuk melihat jam.

​"Ya ampun! Jam sepuluh malam?!" teriak Cecilia histeris sendirian di dalam kamar.

​Ia benar-benar tidur kebablasan selama berjam-jam tanpa sadar. Mungkin ini adalah akumulasi dari efek kelelahan fisik dan mental akibat proses kepindahannya hari tadi.

​Kruyuuuk...

​Suara gemuruh yang cukup nyaring mendadak keluar dari perut Cecilia. Gadis itu meringis pelan sambil memegangi perutnya yang terasa rata dan kosong.

​"Duh, lapar sekali..." keluh Cecilia dengan nada manja.

​Ia baru teringat, sejak pagi tadi ia sama sekali belum memasukkan sebutir nasi pun ke dalam mulutnya, disibukkan dengan drama resign dari status sugar baby dan pencarian kos-kosan darurat.

​Cecilia bergegas bangkit dari tempat tidurnya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat tidur terlalu pulas. Saat ia melongok keluar dari jendela kamarnya yang menghadap langsung ke jalan raya di depan gedung kos, matanya menangkap siluet sebuah gerobak atau truk jualan mini yang mangkir tepat di bawah lampu penerangan jalan. Dari kejauhan, terlihat kepulan asap tipis dan aroma sedap makanan malam yang menguar.

​"Wah, pas sekali! Ada penjual makanan lewat!" seru Cecilia berbinar-binar.

​Tanpa pikir panjang, ia menyambar dompet kecil dan cardigan rajut tipis untuk menutupi bahunya. Malam ini, sepiring makanan sederhana dari truk jualan di luar sana sudah lebih dari cukup untuk mengganjal perutnya yang kelaparan akut.

​Cecilia membuka pintu kamarnya pelan-pelan. Suasana koridor kos lantai dua sudah cukup sepi. Beberapa lampu lorong tampak berpendar remang-remang, menciptakan suasana yang tenang.

​Saat ia berjalan menelusuri koridor menuju tangga utama, ia berpapasan dengan seorang pria berbadan tegap yang mengenakan kaus oblong abu-abu. Pria itu tampak melirik ke arah Cecilia dengan tatapan tajam, namun Cecilia memilih untuk tidak peduli dan melewatinya begitu saja sambil tersenyum ramah sebagai sesama tetangga baru.

​"Malam, Mas!" sapa Cecilia singkat dengan ramah.

​Pria itu hanya mengangguk kaku tanpa membalas senyuman, lalu melangkah masuk ke salah satu kamar. Cecilia mengedikkan bahunya.

​Begitu sampai di lantai dasar dan keluar dari gerbang kos-kosan, udara malam yang sejuk langsung menerpa kulitnya. Cecilia berjalan beberapa langkah menuju truk jualan yang diparkir di pinggir trotoar. Ternyata itu adalah truk mini yang menjual aneka makanan malam hangat, seperti nasi goreng, mie rebus, dan bubur ayam.

​"Pak, beli satu ya! Nasi gorengnya satu, porsi biasa, tapi pedasnya sedang saja ya, Pak!" pesan Cecilia dengan nada riang khas kasir minimarket yang ceriwis, berdiri di dekat gerobak sang penjual.

​Sang penjual yang merupakan seorang pria paruh baya dengan handuk kecil melingkar di lehernya tersenyum ramah.

"Siap, Neng! Nasi goreng spesial telor dadar ya? Tunggu sebentar ya, Neng, ini baru mau diaduk bumbunya."

​Sambil menunggu pesanannya dimasak, Cecilia berdiri menikmati keramaian malam di sekitar jalan tersebut. Lampu-lampu kendaraan yang berlalu-lalang memberikan pemandangan kota yang hidup.

​Tiba-tiba, ponsel di dalam saku cardigan-nya berdering nyaring.

​Cecilia mengerutkan kening. Ia mengeluarkan benda pipih tersebut dari saku. Matanya langsung membelalak lebar melihat nama yang tertera di layar panggilannya.

​Douglas.

​Jantung Cecilia mendadak copot seketika. Darahnya berdesir hebat, dan keringat dingin langsung merembes di pelipisnya.

​"Kenapa pria kulkas itu meneleponku malam-malam begini?! Bukankah urusan kami sudah selesai siang tadi?!" batin Cecilia panik luar biasa.

​Ia menatap layar ponsel itu seolah-olah benda tersebut adalah seekor ular berbisa yang siap mematuknya kapan saja. Nada dering terus berbunyi, memancing perhatian beberapa orang di sekitar, termasuk sang penjual nasi goreng yang meliriknya penuh tanya.

​"Neng... HP-nya bunyi tuh, tidak diangkat?" tanya si penjual ramah.

​"E-Eh? Ah, tidak apa-apa, Pak! Ini... ini cuma penipu online, tidak penting!" kilah Cecilia buru-buru, menggigit bibir bawahnya karena gugup setengah mati.

​Cecilia dengan jari yang sedikit gemetar langsung menekan tombol merah untuk menolak panggilan tersebut. Namun, belum sempat ia bernapas lega, ponselnya kembali berdering keras. Panggilan kedua dari nomor yang sama.

​"Sialan! Kenapa dia keras kepala sekali sih?!" umpat Cecilia tertahan, kesal bercampur takut.

​Bayangan wajah dingin Douglas, tatapan tajam Logan membuat Cecilia takut jika keputusannya untuk kabur dan lepas dari status selingkuhan justru memicu masalah baru yang lebih besar. Apakah Douglas marah karena kunci mobil dan kartu kreditnya ditinggal begitu saja di atas meja rias? Atau jangan-jangan asistennya yang bernama Logan itu melaporkan sikap kurang ajar Cecilia siang tadi?.

​"Tidak, tidak! Aku tidak boleh takut! Aku kan sudah resmi resign jadi selingkuhannya!" gumam Cecilia menguatkan diri sendiri, mencoba menepis rasa gentar di dadanya.

​Dengan napas memburu, Cecilia akhirnya menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut, menempelkan benda pipih itu ke telinganya dengan hati-hati.

​"Halo..." ucap Cecilia dengan suara gemetar yang berusaha ia kontrol sedingin mungkin.

​Di seberang sana, teredam suara hembusan napas yang berat dan dalam. Beberapa detik berlalu tanpa ada suara dari sang penelepon, membuat suasana terasa semakin mencekam meskipun Cecilia sedang berdiri di pinggir jalan yang cukup ramai.

​Suara bariton yang dingin, berat, dan familier itu akhirnya memecah keheningan malam, langsung menusuk indra pendengaran Cecilia.

​"Beraninya kamu mengabaikan teleponku, Cecilia!" suara Douglas terdengar rendah, penuh dengan tekanan dan ancaman yang tersirat di setiap suku katanya.

​Mendengar suara itu, bulu kuduk Cecilia meremang seketika. Ia menelan ludah susah payah, mencengkeram erat ponselnya di tangannya yang berkeringat.

​"T-Tuan Douglas..." cicit Cecilia, nyaris kehilangan keberaniannya. Namun, sifat cerewet dan rasa tidak maunya kalah mendadak bangkit kembali melawan rasa takutnya. Ia menegakkan dagunya meskipun si penelepon tidak bisa melihatnya.

"Dengar ya, Tuan Essen yang terhormat! Hubungan kita kan sudah putus siang tadi! Aku sudah tanda tangan surat perjanjianmu, aku sudah keluar dari apartemenmu, dan aku bukan lagi wanita simpananmu! Jadi, berhenti meneleponku dan jangan ganggu kehidupan baruku lagi!"

​Di seberang telepon, Douglas terdiam cukup lama. Ada jeda panjang yang membuat jantung Cecilia berdegup semakin kencang, seolah-olah sedang menunggu vonis mati dari seorang algojo kerajaan.

​"Kehidupan baru?" suara Douglas terdengar mencemooh, dingin, dan tajam menusuk tulang.

"Kamu pikir semudah itu melepaskan diri dariku, Cecilia? Kirimkan alamat tempat persembunyianmu sekarang juga, atau aku sendiri yang akan menyeret mu kembali ke apartemen itu malam ini!"

​Mata Cecilia membelalak lebar mendengar ancaman telak tersebut. Darahnya mendidih seketika, dan rasa laparnya mendadak hilang berganti dengan kepanikan yang luar biasa.

​"Hei! Jangan sembarangan ya! Aku bukan tahananmu!" protes Cecilia setengah berteriak, membuat beberapa orang di dekat gerobak menoleh kaget ke arahnya.

"Pokoknya aku tidak mau! Jangan cari aku lagi!"

​Tanpa menunggu balasan atau ancaman lanjutan dari sang mantan sugar daddy, Cecilia langsung menekan tombol merah untuk mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia mematikan daya ponselnya detik itu juga, bernapas tersengal-sengal seperti orang baru saja lari marathon seratus meter.

​"Neng... ini nasi gorengnya sudah jadi, dibungkus atau makan sini?" tanya sang penjual nasi goreng dengan wajah canggung melihat pelanggannya mendadak histeris sendiri.

​Cecilia mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba mengatur napasnya yang naik turun. Ia menatap bungkusan nasi goreng yang baru saja diserahkan oleh penjual tersebut. Rencana malam yang damai dan tenang mendadak hancur lebur seketika akibat teror telepon dari pria kulkas itu.

​"Bungkus saja, Pak! Ini uangnya pas ya, kembaliannya ambil saja!" ucap Cecilia tergesa-gesa, menyerahkan beberapa lembar uang kertas dengan tangan gemetar, lalu berbalik badan dan berjalan cepat kembali ke arah kos-kosannya dengan perasaan was-was, berharap Douglas tidak benar-benar melacak keberadaannya malam ini juga.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

partini

partini

kelihatannya bar bar Banggt ,ayo Patang mundur biarkan tuan douglas ngejar" kamu stay cool aja

2026-08-05

3

lihat semua
Episodes
1 Jadi Simpanan
2 Resign Jadi Simpanan
3 Meninggalkan Kemewahan Haram!
4 Teror Panggilan
5 Emosi Yang Terpendam
6 Memulai Kehidupan Baru
7 Douglas dan Pikirannya
8 Toko Bunga
9 Pria Tampan Itu Lagi
10 Avgar dan Penguntit?
11 Amarah Douglas
12 Kedatangan Douglas
13 Kamu Milikku Selamanya!
14 Hukuman Untuk Pembangkang! (Revisi)
15 Boneka Untukku!
16 Harapan Cecilia
17 Pijat Aku
18 Balasan Kecil Cecilia
19 Douglas Pria Yang Aneh
20 Nyaman Dalam Dekapan Douglas (Revisi)
21 Tahanan Dalam Kamar
22 Kedatangan Adara
23 Kalung Seperti Bola Mata Cecilia
24 Kalung Dan Pemiliknya
25 Ada Apa Dengan Cecilia?
26 Keguguran!
27 Efek Keguguran
28 Kebebasan Kecil
29 Isi Pikiran Douglas
30 Mansion Megah dan Perasaan Cecilia
31 Kue dan Kesalahpahaman
32 Muak!
33 Bermain Cantik
34 Cecilia Yang Baru
35 Baking
36 Kue Sekeras Batu!
37 Bingung
38 Maafkan Aku!
39 Fitting dan Obat Perangsang
40 Ratu Dalam Hidupku!
41 Tubuh Murahan
42 Pintu Untuk Kabur
43 Cecilia Yang Aneh
44 Cecilia Manja?
45 Douglas Tau Rencana Pelarian Cecilia?
46 Melarikan Diri!
47 Avgar dan Adara?!
48 Dugaan Yang Melenceng Jauh
49 Novel Baru Lagi!!
50 Hadiah Pernikahan
51 Cecilia Telah Pergi Selamanya
52 Desa Terpencil
53 Siapakah Itu?
54 Ternyata Bukan Douglas
55 Pregnant!
56 Fakta Yang Terungkap
57 Jujur Pada Avgar
58 Kesalahpahaman
59 Kita Bersaudara!
60 17 Bersaudara
61 Aku Menemukanmu!
62 Jadi Kamu Bersembunyi Disini
63 Ini Anakmu Douglas!
64 Kesempatan Kedua?
65 Kemarahan Avgar
66 Dimana Adara?
67 Maukah Kamu Menikah Denganku?
68 Menghubungi Avgar dan Emma
69 Ragu
70 Merindukan Douglas?
71 Ancaman Cecilia
72 Pria Tampan Dari London
73 Mengabaikan Douglas Berakibat Fatal
74 Kesal Tanpa Alasan
75 Kapan Kita Menikah?
76 Sentuhan Panas dan Manja
77 Kegiatan Panas Douglas
78 Hobi Baru Douglas
79 Lebih Bagus Bergulat Di Ranjang
80 Kalung berbandul Coklat
81 Aku Bersedia Menikah Denganmu Douglas!
82 Resmi Jadi Nyonya Essen
83 Dipijat Douglas
84 Baby Girl Berubah Jadi Baby Boy
85 Sweet Time
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Jadi Simpanan
2
Resign Jadi Simpanan
3
Meninggalkan Kemewahan Haram!
4
Teror Panggilan
5
Emosi Yang Terpendam
6
Memulai Kehidupan Baru
7
Douglas dan Pikirannya
8
Toko Bunga
9
Pria Tampan Itu Lagi
10
Avgar dan Penguntit?
11
Amarah Douglas
12
Kedatangan Douglas
13
Kamu Milikku Selamanya!
14
Hukuman Untuk Pembangkang! (Revisi)
15
Boneka Untukku!
16
Harapan Cecilia
17
Pijat Aku
18
Balasan Kecil Cecilia
19
Douglas Pria Yang Aneh
20
Nyaman Dalam Dekapan Douglas (Revisi)
21
Tahanan Dalam Kamar
22
Kedatangan Adara
23
Kalung Seperti Bola Mata Cecilia
24
Kalung Dan Pemiliknya
25
Ada Apa Dengan Cecilia?
26
Keguguran!
27
Efek Keguguran
28
Kebebasan Kecil
29
Isi Pikiran Douglas
30
Mansion Megah dan Perasaan Cecilia
31
Kue dan Kesalahpahaman
32
Muak!
33
Bermain Cantik
34
Cecilia Yang Baru
35
Baking
36
Kue Sekeras Batu!
37
Bingung
38
Maafkan Aku!
39
Fitting dan Obat Perangsang
40
Ratu Dalam Hidupku!
41
Tubuh Murahan
42
Pintu Untuk Kabur
43
Cecilia Yang Aneh
44
Cecilia Manja?
45
Douglas Tau Rencana Pelarian Cecilia?
46
Melarikan Diri!
47
Avgar dan Adara?!
48
Dugaan Yang Melenceng Jauh
49
Novel Baru Lagi!!
50
Hadiah Pernikahan
51
Cecilia Telah Pergi Selamanya
52
Desa Terpencil
53
Siapakah Itu?
54
Ternyata Bukan Douglas
55
Pregnant!
56
Fakta Yang Terungkap
57
Jujur Pada Avgar
58
Kesalahpahaman
59
Kita Bersaudara!
60
17 Bersaudara
61
Aku Menemukanmu!
62
Jadi Kamu Bersembunyi Disini
63
Ini Anakmu Douglas!
64
Kesempatan Kedua?
65
Kemarahan Avgar
66
Dimana Adara?
67
Maukah Kamu Menikah Denganku?
68
Menghubungi Avgar dan Emma
69
Ragu
70
Merindukan Douglas?
71
Ancaman Cecilia
72
Pria Tampan Dari London
73
Mengabaikan Douglas Berakibat Fatal
74
Kesal Tanpa Alasan
75
Kapan Kita Menikah?
76
Sentuhan Panas dan Manja
77
Kegiatan Panas Douglas
78
Hobi Baru Douglas
79
Lebih Bagus Bergulat Di Ranjang
80
Kalung berbandul Coklat
81
Aku Bersedia Menikah Denganmu Douglas!
82
Resmi Jadi Nyonya Essen
83
Dipijat Douglas
84
Baby Girl Berubah Jadi Baby Boy
85
Sweet Time

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!