Emosi Yang Terpendam

"Argh! Sialan! Sialan! Sialan!" maki Cecilia setengah berbisik sambil melangkah terburu-buru menaiki anak tangga kos-kosan.

​Langkah kakinya dihentak-hentakkan dengan kasar ke lantai, menjadi pelampiasan atas rasa kesal, marah, dan takut yang kini berkecamuk di dalam dadanya. Betapa malang nasibnya! Dia memang sangat mendambakan sebuah kisah transmigrasi, tapi dalam bayangannya, dia ingin menjadi gadis desa yang lugu atau seorang putri bangsawan zaman kerajaan yang hidup terhormat, bukan malah masuk ke dalam raga seorang wanita simpanan alias pelakor!.

​"Aku ini benci pelakor! Kenapa takdir malah mempermainkanku separah ini?!" rutuknya dalam hati, terus menaiki tangga dengan napas yang memburu.

​Sesampainya di lantai dua, tepat di tikungan koridor yang agak gelap menuju kamarnya, kekacauan kembali terjadi. Karena jalannya terburu-buru dan pikirannya sedang melayang jauh memikirkan ancaman Douglas, Cecilia tidak melihat arah depan.

​Bruk!

​Tubuhnya menabrak dada bidang seseorang dengan cukup keras. Kantong plastik berisi nasi goreng hangat yang baru saja dibelinya langsung terlepas dari genggamannya dan melayang jatuh ke lantai.

​Beruntung, bungkusan itu mendarat mulus tanpa langsung robek. Namun, akumulasi dari rasa kesal, marah, lelah, dan ketakutan yang sudah mencapai puncaknya membuat pertahanan mental Cecilia mendadak runtuh seketika.

​Bukannya bersyukur makanannya selamat, Cecilia justru langsung jongkok di lantai koridor. Ia memeluk lututnya, menatap nanar bungkusan plastik nasi gorengnya yang tergeletak di lantai, lalu pecah tangisnya sejadi-jadinya.

​"Hiks... hiks... Jahat banget! Kenapa semuanya menyebalkan?! Aku lapar, aku capek, aku mau hidup tenang! Kenapa pria kulkas itu terus menerorku?!" tangis Cecilia histeris, bahunya bergetar hebat.

​Pria yang tidak sengaja ditabrak Cecilia terperanjat kaget luar biasa. Ia berdiri mematung menatap gadis di depannya yang mendadak menangis meraung-raung di lantai koridor.

​Pria itu tidak lain adalah penghuni berbadan tegap berkaos oblong abu-abu yang sempat berpapasan dengan Cecilia tadi sore, pria dingin yang sebelumnya dengan sengaja mengabaikan senyuman ramah Cecilia.

​Raut wajah sang pria kontan berubah panik. Ia celingukan menatap ke sekeliling lorong yang sepi. Bagaimana jika penghuni kamar lain keluar dan melihat kejadian ini? Apa kata mereka nanti? Pria itu dikenal sebagai pribadi yang sangat malas berinteraksi dengan orang lain, apalagi terlibat dalam drama cengeng seperti ini.

​Ingin rasanya ia mengabaikan dan melangkah pergi begitu saja ke kamarnya. Tapi melihat seorang gadis menangis sesenggukan di depan pintunya sendiri, rasanya terlalu kejam dan aneh jika ditinggalkan begitu saja.

​Dengan gerakan canggung, pria itu berjongkok di samping Cecilia.

​"Ehem... Nona, hei... tenanglah," ucap pria itu dengan suara berat yang terdengar kaku. Ia mengulurkan tangan ragu-ragu untuk membantu Cecilia berdiri.

"M-Makananmu tidak hancur kok. Hanya jatuh ke lantai. Jangan menangis seperti itu, nanti dikira aku berbuat jahat padamu."

​Cecilia mendongakkan wajahnya yang sudah basah oleh air mata. Matanya yang memerah menatap tajam ke arah sang pria, sementara isak tangisnya justru semakin menjadi-jadi.

​"Kamu tidak tahu apa-apa! Hiks... nasibku sedang hancur lebur! Hidupku berantakan! Dan sekarang nasi gorengku ikut terancam tidak bisa dimakan!" racaunya dengan suara parau bercampur isakan khas orang yang sedang stres berat.

​Melihat Cecilia semakin histeris, kepanikan sang pria mencapai puncaknya. Ia pikir wanita di depannya menangis hanya karena makanannya jatuh.

​"Baiklah, baiklah! Jangan menangis lagi, kumohon," bujuk pria itu dengan nada putus asa. Ia meraih kantong plastik nasi goreng yang tergeletak di lantai.

"Nasi gorengnya masih terbungkus rapat, belum tumpah. Kalau kamu tidak mau makan itu karena kotor, nanti aku ganti uangnya dua kali lipat, atau aku belikan yang baru. Jadi, tolong hentikan tangisanmu sekarang."

​Alih-alih mereda, mendengar perkataan pria itu justru membuat Cecilia semakin meraung kencang. Tangisannya menggema di sepanjang koridor lantai dua yang sunyi.

​Kriek...

​Suara pintu kamar di dekat mereka mendadak terbuka lebar. Seseorang dari kamar sebelah melongokkan kepala keluar, tampak terganggu oleh suara keributan di luar.

​Wajah sang pria langsung menegang panik. Jika situasi ini berlarut-larut, seluruh penghuni kos akan keluar dan mengerubungi mereka. Tanpa pikir panjang lagi, pria itu langsung meraih pergelangan tangan Cecilia, menarik tubuh gadis itu berdiri, lalu menyeretnya secara paksa masuk ke dalam kamarnya sendiri.

​Brak!

​Pintu kamar ditutup rapat dan dikunci dari dalam.

​Di dalam kamar sang pria yang bernuansa minimalis dan rapi, Cecilia tidak melawan sama sekali. Ia hanya pasrah ditarik masuk, berdiri mematung di dekat pintu sambil terus menunduk dan terisak pelan, tenggelam dalam kebingungan dan keputusasaannya yang sudah mencapai tingkat akut. Pikirannya benar-benar sudah buntu.

​Pria itu menghela napas panjang dengan kasar, melepaskan pegangan tangannya dari tangan Cecilia. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, merasa frustrasi menghadapi makhluk cengeng di hadapannya ini.

​"Duduklah di sana," kata pria itu dengan nada memerintah namun tidak bernada galak, menunjuk ke arah sebuah sofa single di sudut kamar.

​Cecilia tidak menjawab. Dengan langkah terhuyung-huyung seperti orang linglung, ia berjalan pelan menuju sofa yang ditunjuk, lalu kembali mendudukkan diri sambil memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya di antara lipatan tangan. Isak tangisnya berubah menjadi isakan kecil yang menyayat hati.

​Pria itu berjalan ke atas meja kerjanya, mengambil selembar tisu kotak, lalu berbalik mendekati Cecilia. Ia menyodorkan tisu tersebut ke hadapan gadis itu.

​"Nih, bersihkan air mata dan ingusmu. Jangan menangis seperti anak kecil yang kehilangan permen," ucap pria itu datar, berusaha menetralkan rasa canggung di antara mereka.

​Cecilia mendongak perlahan, mengambil tisu dari tangan sang pria dengan jari-jarinya yang masih sedikit bergetar. Ia menyeka pipinya yang basah, lalu menatap pria di depannya dengan tatapan kosong dan memerah.

​"Kamu... kenapa membawaku masuk ke kamarmu?" suara Cecilia terdengar serak dan lemah, jauh berbeda dari karakternya yang biasanya cerewet dan berapi-api.

"Apa kamu mau berbuat jahat padaku juga? Silakan saja... hidupku sudah hancur hari ini. Diusir dari apartemen, diteror mantan sugar daddy, dicap sebagai pelakor, dan sekarang terjebak di kos-kosan antah berantah..."

​Pria itu mengerjap pelan, tertegun mendengar rentetan kalimat frustrasi yang meluncur begitu saja dari bibir Cecilia. Alis tebalnya bertaut bingung.

"​Sugar... sugar daddy? Pelakor? Apa wanita ini sedang berhalusinasi atau mengalami gangguan jiwa ringan?" batin pria itu bertanya-tanya.

​"Aku tidak berniat berbuat jahat padamu, Nona," balas pria itu dengan suara beratnya, melipat kedua tangan di depan dada sambil bersandar di tepi meja.

"Aku hanya tidak ingin kamarku digerebek oleh tetangga sebelah karena ada wanita yang menangis histeris di depan pintuku tengah malam begini. Reputasiku bisa hancur."

​Cecilia mendengus pelan, menarik napas panjang untuk menstabilkan dadanya yang sesak. Ia menatap sekeliling kamar pria itu. Suasananya tampak tenang, bersih, dan berbau maskulin. Sama sekali tidak ada kesan menyeramkan seperti yang ia khawatirkan tadi.

​"Terima kasih..." cicit Cecilia lirih, suaranya terdengar jauh lebih tenang dari sebelumnya, meskipun sisa-sisa air mata masih menghiasi wajah cantiknya.

"Dan minta maaf karena aku sudah menabrakmu dan membuat keributan di luar."

​Pria itu menatap Cecilia lekat-lekat selama beberapa detik, mengamati bagaimana gadis di depannya ini berubah dari sosok yang meledak-ledak marah di lorong tadi menjadi sosok yang begitu rapuh dan kebingungan di dalam kamarnya.

​"Sudahlah. Jangan dipikirkan," jawab pria itu singkat. Ia menunjuk kantong plastik nasi goreng yang tadi sempat diletakkannya di atas meja.

"Makanlah nasi gorengmu itu sebelum benar-benar dingin. Kamu bilang tadi kelaparan, kan? Perut kosong tidak akan membantumu menyelesaikan masalah."

​Cecilia menatap bungkusan makanan di atas meja, lalu kembali menatap sang pria dengan pandangan penuh rasa bersalah sekaligus heran. Pria yang tadi siang tampak begitu dingin dan mengabaikannya, kini justru memberinya tempat berlindung dan menyuruhnya makan.

​"Kamu... tidak sedang berniat meracuniku, kan?" selidik Cecilia setengah bercanda, mencoba memulihkan sedikit sifat cerewetnya.

​Pria itu mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang nyaris tak terlihat.

"Kalau aku berniat meracunimu, aku tidak perlu repot-repot menarikmu masuk ke kamarku dan memberikan tisu. Makan saja sana."

​Cecilia menghela napas panjang. Rasa laparnya yang sempat hilang karena panik kini kembali merajai perutnya. Dengan ragu-ragu, ia membuka bungkusan plastik tersebut. Aroma gurih nasi goreng langsung menguar di dalam kamar, membuat perutnya kembali bergemuruh pelan.

​Di tengah situasi hidupnya yang jungkir balik dan penuh ketidakpastian ini, setidaknya malam ini Cecilia mendapatkan sedikit kehangatan dari seseorang yang tidak disangkanya sama sekali.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Dewi Anggraeni

Dewi Anggraeni

Lanjutttt

2026-08-09

0

lihat semua
Episodes
1 Jadi Simpanan
2 Resign Jadi Simpanan
3 Meninggalkan Kemewahan Haram!
4 Teror Panggilan
5 Emosi Yang Terpendam
6 Memulai Kehidupan Baru
7 Douglas dan Pikirannya
8 Toko Bunga
9 Pria Tampan Itu Lagi
10 Avgar dan Penguntit?
11 Amarah Douglas
12 Kedatangan Douglas
13 Kamu Milikku Selamanya!
14 Hukuman Untuk Pembangkang! (Revisi)
15 Boneka Untukku!
16 Harapan Cecilia
17 Pijat Aku
18 Balasan Kecil Cecilia
19 Douglas Pria Yang Aneh
20 Nyaman Dalam Dekapan Douglas (Revisi)
21 Tahanan Dalam Kamar
22 Kedatangan Adara
23 Kalung Seperti Bola Mata Cecilia
24 Kalung Dan Pemiliknya
25 Ada Apa Dengan Cecilia?
26 Keguguran!
27 Efek Keguguran
28 Kebebasan Kecil
29 Isi Pikiran Douglas
30 Mansion Megah dan Perasaan Cecilia
31 Kue dan Kesalahpahaman
32 Muak!
33 Bermain Cantik
34 Cecilia Yang Baru
35 Baking
36 Kue Sekeras Batu!
37 Bingung
38 Maafkan Aku!
39 Fitting dan Obat Perangsang
40 Ratu Dalam Hidupku!
41 Tubuh Murahan
42 Pintu Untuk Kabur
43 Cecilia Yang Aneh
44 Cecilia Manja?
45 Douglas Tau Rencana Pelarian Cecilia?
46 Melarikan Diri!
47 Avgar dan Adara?!
48 Dugaan Yang Melenceng Jauh
49 Novel Baru Lagi!!
50 Hadiah Pernikahan
51 Cecilia Telah Pergi Selamanya
52 Desa Terpencil
53 Siapakah Itu?
54 Ternyata Bukan Douglas
55 Pregnant!
56 Fakta Yang Terungkap
57 Jujur Pada Avgar
58 Kesalahpahaman
59 Kita Bersaudara!
60 17 Bersaudara
61 Aku Menemukanmu!
62 Jadi Kamu Bersembunyi Disini
63 Ini Anakmu Douglas!
64 Kesempatan Kedua?
65 Kemarahan Avgar
66 Dimana Adara?
67 Maukah Kamu Menikah Denganku?
68 Menghubungi Avgar dan Emma
69 Ragu
70 Merindukan Douglas?
71 Ancaman Cecilia
72 Pria Tampan Dari London
73 Mengabaikan Douglas Berakibat Fatal
74 Kesal Tanpa Alasan
75 Kapan Kita Menikah?
76 Sentuhan Panas dan Manja
77 Kegiatan Panas Douglas
78 Hobi Baru Douglas
79 Lebih Bagus Bergulat Di Ranjang
80 Kalung berbandul Coklat
81 Aku Bersedia Menikah Denganmu Douglas!
82 Resmi Jadi Nyonya Essen
83 Dipijat Douglas
84 Baby Girl Berubah Jadi Baby Boy
85 Sweet Time
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Jadi Simpanan
2
Resign Jadi Simpanan
3
Meninggalkan Kemewahan Haram!
4
Teror Panggilan
5
Emosi Yang Terpendam
6
Memulai Kehidupan Baru
7
Douglas dan Pikirannya
8
Toko Bunga
9
Pria Tampan Itu Lagi
10
Avgar dan Penguntit?
11
Amarah Douglas
12
Kedatangan Douglas
13
Kamu Milikku Selamanya!
14
Hukuman Untuk Pembangkang! (Revisi)
15
Boneka Untukku!
16
Harapan Cecilia
17
Pijat Aku
18
Balasan Kecil Cecilia
19
Douglas Pria Yang Aneh
20
Nyaman Dalam Dekapan Douglas (Revisi)
21
Tahanan Dalam Kamar
22
Kedatangan Adara
23
Kalung Seperti Bola Mata Cecilia
24
Kalung Dan Pemiliknya
25
Ada Apa Dengan Cecilia?
26
Keguguran!
27
Efek Keguguran
28
Kebebasan Kecil
29
Isi Pikiran Douglas
30
Mansion Megah dan Perasaan Cecilia
31
Kue dan Kesalahpahaman
32
Muak!
33
Bermain Cantik
34
Cecilia Yang Baru
35
Baking
36
Kue Sekeras Batu!
37
Bingung
38
Maafkan Aku!
39
Fitting dan Obat Perangsang
40
Ratu Dalam Hidupku!
41
Tubuh Murahan
42
Pintu Untuk Kabur
43
Cecilia Yang Aneh
44
Cecilia Manja?
45
Douglas Tau Rencana Pelarian Cecilia?
46
Melarikan Diri!
47
Avgar dan Adara?!
48
Dugaan Yang Melenceng Jauh
49
Novel Baru Lagi!!
50
Hadiah Pernikahan
51
Cecilia Telah Pergi Selamanya
52
Desa Terpencil
53
Siapakah Itu?
54
Ternyata Bukan Douglas
55
Pregnant!
56
Fakta Yang Terungkap
57
Jujur Pada Avgar
58
Kesalahpahaman
59
Kita Bersaudara!
60
17 Bersaudara
61
Aku Menemukanmu!
62
Jadi Kamu Bersembunyi Disini
63
Ini Anakmu Douglas!
64
Kesempatan Kedua?
65
Kemarahan Avgar
66
Dimana Adara?
67
Maukah Kamu Menikah Denganku?
68
Menghubungi Avgar dan Emma
69
Ragu
70
Merindukan Douglas?
71
Ancaman Cecilia
72
Pria Tampan Dari London
73
Mengabaikan Douglas Berakibat Fatal
74
Kesal Tanpa Alasan
75
Kapan Kita Menikah?
76
Sentuhan Panas dan Manja
77
Kegiatan Panas Douglas
78
Hobi Baru Douglas
79
Lebih Bagus Bergulat Di Ranjang
80
Kalung berbandul Coklat
81
Aku Bersedia Menikah Denganmu Douglas!
82
Resmi Jadi Nyonya Essen
83
Dipijat Douglas
84
Baby Girl Berubah Jadi Baby Boy
85
Sweet Time

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!