Bab 3 : Lima Malam Penempaan

Barak budak di Tambang Kematian bukan tempat tinggal. Cuma gua dingin beralas jerami busuk, dipenuhi bau keringat ribuan orang yang tidur berdesakan.

Angin malam menusuk sampai ke tulang. Dengkuran, rintihan, dan batuk darah jadi pengantar tidur di sini.

Di sudut paling gelap, Ye Cangtian duduk bersila. Matanya terpejam rapat, sebatang kayu keras digigit di antara giginya sampai hampir hancur, dan keringat dingin mengalir deras dari dahinya, membasahi lumpur dan darah kering yang sengaja tidak ia bersihkan.

Ini malam kelima sejak ia keluar dari Lorong Hitam.

Lima malam berturut-turut, saat semua budak terlelap karena kelelahan, Cangtian menahan kantuk dan menggenggam inti batu meteorit yang ia sembunyikan di balik jubahnya.

Ia melakukan hal yang belum pernah dilakukan manusia fana mana pun—menarik energi murni dari alam dan memaksanya masuk ke tubuh. Tidak ada buku, tidak ada guru, cuma insting bertahan hidup.

Qi kuno dari meteorit itu mengalir seperti lava cair di pembuluh darahnya. Setiap kali Qi lewat di meridian yang sempit, rasanya seperti belati panas merobek daging dari dalam. Ototnya berkedut hebat, tulangnya berderak pelan, urat di bawah kulitnya menonjol hijau kehitaman.

Kalau ia hilang fokus sedetik, Qi itu bisa meledakkan jantungnya. Kalau ia sampai berteriak, penjaga di luar akan mendengar dan langsung memenggal kepalanya. Ia harus menahan semuanya dalam diam.

Ini bukan meditasi. Ini penempaan.

Menjelang fajar di malam kelima, akhirnya terjadi.

Wuss..

Rasa sakit yang merobek tubuhnya tiba-tiba reda. Hawa panas yang membakar berubah jadi hangat yang menenangkan. Qi dari meteorit itu akhirnya tunduk, mengalir masuk ke Dantian dan menetap, membentuk danau energi kecil yang stabil.

Cangtian membuka matanya. Di dalam gelap, sekilas mata hitamnya berkilat hijau redup sebelum kembali normal.

Kayu keras yang ia gigit sudah jadi serbuk. Inti meteorit di tangannya kehilangan cahaya, berubah jadi batu kusam, lalu hancur menjadi debu yang tertiup angin.

"Ahli Persilatan..." bisiknya pelan.

Ia tidak tahu sebutan resminya, tapi jelas tubuh fananya sudah naik satu tingkat. Otot, tulang, dan organ dalamnya kini terlapis energi tipis. Ia bisa memanggil Qi kapan saja, menyalurkannya ke kepalan tangan, dan menghasilkan daya hancur sepuluh kali lipat manusia normal.

Fajar menyingsing saat terompet ditiup dari luar. Waktu istirahat selesai.

Para budak bangun dengan enggan, menyeret kaki ke mulut tambang di bawah cambukan pengawal. Cangtian ikut berdiri, sengaja membungkuk untuk menyembunyikan punggungnya yang kini sekeras baja.

Hari ini hari kelima—waktu yang ia janjikan pada dirinya sendiri.

Kawah utama terasa lebih panas dari biasanya.

Pengawas Zhuo berdiri di atas batu besar, mengumumkan aturan baru. Kerajaan butuh lebih banyak Batu Roh untuk istana perjamuan yang baru, jadi kuota harian tiap budak dinaikkan dua kali lipat.

"Siapa yang gagal memenuhi kuota sampai matahari terbenam, tidak akan mendapat jatah makan tiga hari dan menerima dua puluh cambukan!" raung Zhuo, diiringi tawa para pengawal bersayap kelelawar.

Kuota normal saja sudah membunuh puluhan orang tiap hari. Dilipatgandakan, itu sama saja membunuh mereka secara perlahan. Tapi tak ada yang berani melawan. Suara alat tambang kembali terdengar, lebih cepat dan lebih putus asa.

Cangtian memegang alat tambangnya. Dengan kekuatan barunya, menghancurkan obsidian jadi sangat mudah—setengah hari saja keranjangnya sudah penuh. Tapi ia tidak menyetorkannya.

Ia hanya duduk diam di sudut tebing yang sepi, memejamkan mata, menstabilkan aliran Qi di Dantiannya sambil menunggu waktu yang tepat.

Matahari merah turun ke ufuk barat. Banyak budak jatuh pingsan dengan mulut berbusa. Salah satunya Paman Lu.

Luka di punggungnya dari lima hari lalu sudah membusuk. Ia memaksakan diri sejak pagi buta, tapi tubuh fana tetap ada batasnya. Menjelang senja, keranjangnya baru seperempat. Alat tambangnya terlepas, tubuh rentanya ambruk menabrak gerobak.

Keributan itu menarik perhatian Zhuo.

Sang pengawas melangkah dengan wajah masam, menatap keranjang yang hampir kosong dan tubuh tua yang tergeletak lemah.

"Orang tua tak berguna." Ia meludah. "Kau membuang-buang waktu terlalu lama. Dagingmu bahkan terlalu keras untuk pakan anjing. Lebih baik kuakhiri saja."

Zhuo menarik cambuk emas berdurinya.

"Tidak... tolong, Tuan... beri saya satu jam lagi..."

Paman Lu merangkak mundur sambil terisak, tapi seorang pengawal menginjak kakinya hingga ia menjerit.

"Satu jam? Napasmu saja bikin udara di sini kotor," ejek Zhuo.

Ia memutar cambuknya di udara sampai hawa panas menyelimutinya dan bersinar menyilaukan. Dengan satu ayunan kejam, ia sabetkan lurus ke tengkorak Paman Lu—serangan berlapis Qi yang cukup untuk membelah kepala jadi dua.

Paman Lu memejamkan mata, pasrah. Budak-budak lain membuang muka, tak tega melihatnya.

Grepp!

Suara benturan yang sama seperti lima hari lalu. Tapi kali ini tidak ada bau daging terbakar, tidak ada darah menetes.

Zhuo membelalak.

Tepat di depan wajah Paman Lu, berdiri sosok pemuda berlumur lumpur, memegang ujung cambuk emas itu dengan satu tangan kosong.

"Kau?!" Zhuo tersentak menatap tangan yang mencengkeram cambuknya. Duri tajam yang menyala itu bahkan tidak mampu menggores kulitnya. "Bagaimana mungkin..."

Cangtian mengangkat wajahnya perlahan.

Ia tak lagi bungkuk. Punggungnya tegap, lumpur di dahinya mengelupas, memperlihatkan mata hitam pekat yang tak lagi menyembunyikan niat membunuh.

"Kau berisik sekali, anjing biru." Suaranya memecah kesunyian kawah.

Keheningan mutlak menyelimuti tempat itu. Bahkan para pengawal mematung. Seekor budak baru saja memaki keturunan dewa.

Wajah Zhuo berubah menjadi ungu.

"Mati kau, semut rendahan!"

Ia melepaskan semua Qi bawaannya, mengalirkan energi biru keemasan ke cambuk, berusaha meledakkan tangan Cangtian.

Tapi sekuat apa pun ia menarik, cambuk itu tak bergerak seinci pun. Tangan Cangtian seperti inti gunung dari baja.

"Inikah kekuatan yang kau banggakan sejak lahir?" tanya Cangtian, nadanya bosan. "Lemah sekali."

Sebelum Zhuo sempat mencerna kata-katanya, Cangtian bergerak.

Energi Ahli Persilatan Tingkat 1 meledak dari Dantiannya, memompa ke otot lengan kanannya. Satu sentakan brutal dan cepat—ia menarik cambuk emas itu ke arahnya.

Kekuatan tarikannya gila. Zhuo yang tubuhnya jauh lebih besar terbang dari tanah seperti boneka.

"A-Apa?!"

Tubuhnya terseret paksa menembus udara, lurus menuju pemuda fana itu.

Di ujung, tangan kiri Cangtian sudah mengepal sempurna, diselimuti aura tipis yang tak kasat mata. Ia menatap wajah biru yang panik itu, lalu melepaskan tinjunya.

Bummm!

Tinju itu menghantam ulu hati Zhuo dengan suara seperti meriam meledak.

Zhuo memuntahkan darah segar bercampur serpihan organ dalam. Zirah peraknya penyok ke dalam, membentuk cetakan kepalan yang mengerikan.

Tubuhnya terhempas dua puluh meter, menghancurkan gerobak batu dan berguling-guling di tanah berdebu, lalu berhenti dalam posisi tertekuk yang tidak wajar.

Mata kuningnya melotot kosong menatap langit. Mati seketika, di tangan budak yang bahkan tak pernah ia anggap manusia.

Kawah utama jatuh ke dalam sunyi yang mematikan. Puluhan ribu pasang mata menatap dengan ngeri dan tidak percaya.

Seorang dewa baru saja dibunuh oleh manusia.

Cangtian membuang cambuk emas itu ke tanah, mencabut alat tambang berkarat di sebelahnya, lalu menatap dingin ke arah puluhan pengawal berzirah perak yang mulai gemetar.

Episodes
1 Bab 1 : Darah di Gunung Kematian
2 Bab 2 : Mata yang Terbangun di Kegelapan
3 Bab 3 : Lima Malam Penempaan
4 Bab 4 : Api Pemberontakan
5 Bab 5 : Darah yang Memecah Langit
6 Bab 6 : Kebebasan Pertama
7 Bab 7 : Lautan Pasir Kematian
8 Bab 8 : Desa di Ujung Dunia
9 Bab 9 : Gadis Berkeranjang Bambu
10 Bab 10 : Rasa Sakit yang Mengerikan
11 Bab 11 : Mandi Darah Pasukan Fana
12 Bab 12 : Bayangan Pasukan Pelacak
13 Bab 13 : Penyergapan di Lautan Putih
14 Bab 14 : Duel di Atas Es yang Retak
15 Bab 15 : Ambisi Sang Ahli Teknik
16 Bab 16 : Api yang Menjalar di Kegelapan
17 Bab 17 : Pertemuan
18 Bab 18 : Bayangan Armada Udara
19 Bab 19 : Terobosan Berdarah, Lahirnya Master Bela Diri
20 Bab 20 : Kejatuhan Sang Raksasa Besi
21 Bab 21 : Akademi Fajar
22 Bab 22 : Gerbang Bencana Terbuka
23 Bab 23 : Benturan Pertama di Dataran Darah
24 Bab 24 : Keangkuhan Runtuh Berkeping-keping
25 Bab 25 : Badai Kematian Tak Kasat Mata
26 Bab 26 : Pertukaran Berdarah
27 Bab 27 : Kegelapan di Balik Panji
28 Bab 28 : Harga Sebuah Kemenangan
29 Bab 29 : Jalan Menuju Puncak
30 Bab 30 : Menembus Batas Kemustahilan
31 Bab 31 : Mata yang Terpejam di Tengah Malam
32 Bab 32 : Benturan Fisik Melawan Kekosongan
33 Bab 33 : Sinar yang Menghapus Bayangan
34 Bab 34 : Deklarasi Perang Benua
35 Bab 35 : Lembah Besi Merah
36 Bab 36 : Bisikan di Jalur Sungai Perak
37 Bab 37 : Benturan Dua Pasukan Pemusnah
Episodes

Updated 37 Episodes

1
Bab 1 : Darah di Gunung Kematian
2
Bab 2 : Mata yang Terbangun di Kegelapan
3
Bab 3 : Lima Malam Penempaan
4
Bab 4 : Api Pemberontakan
5
Bab 5 : Darah yang Memecah Langit
6
Bab 6 : Kebebasan Pertama
7
Bab 7 : Lautan Pasir Kematian
8
Bab 8 : Desa di Ujung Dunia
9
Bab 9 : Gadis Berkeranjang Bambu
10
Bab 10 : Rasa Sakit yang Mengerikan
11
Bab 11 : Mandi Darah Pasukan Fana
12
Bab 12 : Bayangan Pasukan Pelacak
13
Bab 13 : Penyergapan di Lautan Putih
14
Bab 14 : Duel di Atas Es yang Retak
15
Bab 15 : Ambisi Sang Ahli Teknik
16
Bab 16 : Api yang Menjalar di Kegelapan
17
Bab 17 : Pertemuan
18
Bab 18 : Bayangan Armada Udara
19
Bab 19 : Terobosan Berdarah, Lahirnya Master Bela Diri
20
Bab 20 : Kejatuhan Sang Raksasa Besi
21
Bab 21 : Akademi Fajar
22
Bab 22 : Gerbang Bencana Terbuka
23
Bab 23 : Benturan Pertama di Dataran Darah
24
Bab 24 : Keangkuhan Runtuh Berkeping-keping
25
Bab 25 : Badai Kematian Tak Kasat Mata
26
Bab 26 : Pertukaran Berdarah
27
Bab 27 : Kegelapan di Balik Panji
28
Bab 28 : Harga Sebuah Kemenangan
29
Bab 29 : Jalan Menuju Puncak
30
Bab 30 : Menembus Batas Kemustahilan
31
Bab 31 : Mata yang Terpejam di Tengah Malam
32
Bab 32 : Benturan Fisik Melawan Kekosongan
33
Bab 33 : Sinar yang Menghapus Bayangan
34
Bab 34 : Deklarasi Perang Benua
35
Bab 35 : Lembah Besi Merah
36
Bab 36 : Bisikan di Jalur Sungai Perak
37
Bab 37 : Benturan Dua Pasukan Pemusnah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!