Bab 4 : Api Pemberontakan

Darah menetes dari kepalan Ye Cangtian, jatuh ke tanah berdebu.

Di tengah keheningan kawah Gunung Darah, suara pelan itu terdengar seperti lonceng kematian.

Zhuo tergeletak tak bernyawa, dadanya cekung ke dalam. Mati hanya dengan satu pukulan dari seorang budak fana.

Lima detik tak ada yang bernapas. Hukum alam yang mereka percaya selama ribuan tahun, hancur tepat di depan mata.

"Dia... dia bunuh Tuan Zhuo..." bisik seorang pengawal, suaranya gemetar, matanya bolak-balik dari mayat atasannya ke Cangtian yang berdiri tegak seperti iblis.

Panik menyapu barisan penjaga, lalu cepat berubah jadi amarah. Di mata mereka, seekor semut baru saja membunuh singa—penghinaan yang tak bisa dimaafkan.

"Bunuh bocah itu! Cincang tubuhnya!" raung wakil pengawas sambil mencabut pedang peraknya.

Puluhan pengawal mencabut senjata. Tombak berlapis Qi biru keemasan diarahkan ke depan. Mereka menerjang dari segala arah.

Tapi Ye Cangtian bukan lagi manusia fana biasa. Dia Ahli Persilatan Tingkat 1 pertama di dunia.

Ia tendang gagang alat tambangnya, menangkapnya di udara, lalu mengambil kuda-kuda rendah. Qi dari meteorit meledak dari Dantian, memompa ke seluruh ototnya.

Trangg!

Cangtian tidak menghindar. Ia mengayunkan alat tambangnya dengan kecepatan luar biasa, menghantam ketiga ujung tombak sekaligus sampai patah seperti ranting kering.

Tulang lengan ketiga pengawal itu retak seketika. Mereka menjerit, tapi tak lama—Cangtian melesat maju, memutar tubuh, menghantamkan sisi tumpul alat tambangnya ke dada pengawal di tengah.

Bum!

Zirah perak hancur berkeping-keping. Pengawal itu terpental sepuluh meter, menabrak dua rekannya. Ketiganya tewas di tempat.

"Jangan serang satu per satu! Kepung dia!" teriak pengawal lain.

Lima belas pengawal melompat ke udara, menyerang dari atas. Mata hitam Cangtian menyala dingin—ia bisa melihat setiap gerakan seolah waktu melambat, efek dari meridian di sekitar matanya yang sudah terbuka penuh.

Ia melompat menyongsong ke depan. Alat tambangnya bergerak seperti pusaran badai. Tiap ayunan menghasilkan semburan darah, patahan tulang, dan tubuh berzirah perak yang jatuh bergelimpangan.

Di sudut kawah, ribuan budak masih mematung, berdesakan menjauh. Seumur hidup mereka hanya diajari menunduk, menerima cambuk, dan mati diam-diam—insting budak membuat kaki mereka terpaku.

Di tengah kerumunan yang gemetar itu, sepasang mata tajam mengawasi.

Milik seorang budak muda yang kurus, hampir seperti kerangka hidup. Berbeda dari yang lain, matanya licik dan penuh perhitungan. Namanya Xing Yun.

Ia menghitung setiap gerakan Cangtian.

Tiga puluh pengawal sudah mati. Tapi napas Cangtian mulai berat, otot lengannya bergetar. Sekuat apa pun dia, dikepung ratusan orang tetap berbahaya. Lima menit lagi dia habis, batin Xing Yun.

Otaknya berputar cepat. Kalau dia mati, kita semua dibantai malam ini sebagai hukuman. Diam mati, melawan juga mati. Tapi kalau melawan... setidaknya ada peluang satu persen.

Xing Yun membuat keputusan yang kelak mengubah sejarah.

Ia mengambil alat tambangnya dari tanah, memanjat tumpukan Batu Roh yang tinggi biar terlihat semua budak.

"Apa yang kalian tunggu, para budak?!"

Raungannya yang melengking memecah kepanikan. Semua budak menoleh ke arahnya.

"Kalian pikir kalau diam mereka bakal mengampuni kalian?!" teriaknya, matanya melotot. "Pengawas mereka sudah mati! Hukum mereka jelas—seratus nyawa budak untuk setetes darah dewa! Malam ini, mau ikut bertarung atau sembunyi di bawah batu, kita semua bakal dipenggal!"

Pernyataan itu seperti siraman air es. Realita pahit itu menghantam mereka. Di Kerajaan Surga Tiran, nyawa manusia fana memang lebih murah dari debu.

Xing Yun mengangkat alat tambangnya tinggi-tinggi.

"Kalau kita pasti mati besok pagi... kenapa tidak kita seret mereka ke kematian bersama kita malam ini?! Angkat senjata kalian!"

Keheningan kembali menyelimuti, tapi kali ini bukan karena takut. Melainkan bara api yang baru disiram minyak.

Seorang budak gempal memungut alatnya. Yang lain ikut. Lalu sepuluh. Lalu seratus.

Paman Lu, yang sebelumnya terbaring setengah mati, memaksakan diri berdiri. Ia menatap kapak batunya, lalu menatap Cangtian yang sedang dikepung. Rahangnya mengatup keras, air mata mengalir di pipi kotornya.

"Haaaarrrgghhh!"

Jeritan meledak dari tenggorokannya. Ia menerjang, menghantamkan kapak ke punggung pengawal yang lengah.

Krak!

Zirah penyok, pengawal itu jatuh berlutut.

Jeritan Paman Lu jadi wadah bagi amarah, penderitaan, dan siksaan puluhan tahun yang terpendam di dasar jiwa mereka, dan akhirnya meledak serempak.

"Bunuh mereka!"

"Hancurkan dewa-dewa sialan ini!"

Puluhan ribu budak menerjang seperti lautan semut hitam yang kelaparan. Alat tambang, kapak batu, batu obsidian, bahkan gigi dan kuku jadi senjata. Ini bukan pertempuran biasa. Ini pemberontakan brutal demi bertahan hidup.

Para pengawal yang tadi sombong kini panik. Tidak peduli sekuat apa Qi mereka, mereka kalah jumlah—satu pengawal mungkin bisa membunuh sepuluh budak, tapi budak kesebelas akan melompat dan menggigit lehernya sampai putus.

Darah membanjiri kawah, merah manusia bercampur biru milik keturunan dewa.

Cangtian di pusat kekacauan menarik napas dalam. Lelahnya sedikit reda karena sebagian besar pengawal kini sibuk mempertahankan hidup mereka sendiri.

Ia melirik ke tumpukan batu, bertatapan sejenak dengan Xing Yun. Pemuda kurus itu mengangguk kecil. Cangtian membalas dengan seringai tipis. Tanpa kata, mereka saling mengakui.

"Terus desak mereka ke gerbang!" teriak Cangtian, suaranya diperkuat Qi hingga mendominasi medan perang. "Jangan biarkan mereka atur formasi! Hancurkan menara pemanah!"

Di bawah kekuatan Cangtian dan teriakan taktis Xing Yun, lautan budak itu pelan-pelan menang. Ratusan pengawal tewas bersimbah darah, gerbang kawah utama nyaris jebol. Kebebasan tinggal beberapa ratus meter lagi.

Tapi dunia ini tidak pernah melepaskan mangsanya dengan mudah.

Tepat saat para budak bersorak sambil membongkar gerbang kayu raksasa itu, terompet perang kuno membelah langit malam—suaranya seperti raungan monster purba.

Tuummm...

Gelombang suaranya begitu kuat sampai gendang telinga ribuan budak berdarah. Langkah mereka terhenti. Bahkan Cangtian harus menancapkan alatnya ke tanah agar tidak terdorong mundur.

Dari atas tebing kawah tertinggi, sebuah bayangan hitam raksasa melompat turun.

Bummm!

Bayangan itu mendarat tepat di depan gerbang, menciptakan kawah baru berdiameter belasan meter. Gelombang kejutnya saja membuat puluhan budak terpental dan tewas dengan tulang remuk jadi debu.

Debu perlahan menipis.

Sosok yang muncul membuat keputusasaan kembali mencekik leher setiap manusia di sana.

Pria setinggi tiga meter dengan zirah hitam legam penuh paku. Kulit biru gelap, otot menonjol mengerikan, sepasang sayap berselaput besar terbentang di punggungnya. Di tangannya, kapak raksasa yang terus meneteskan darah segar.

Xie Tu. Kepala Pengawas Tambang Gunung Darah.

Auranya ribuan kali lebih mengerikan dari Zhuo—setara Ahli Persilatan Tingkat Puncak atau 5, selangkah lagi menuju Ranah Master Bela Diri, yang kelak akan menjadi nama ranah kedua setelah Ahli Persilatan. Bagi budak fana, dia adalah dewa kematian itu sendiri.

Xie Tu mengangkat kapaknya, menunjuk lurus menembus kerumunan, mengunci pandangan pada satu-satunya orang yang memancarkan aura mengancam.

"Jadi kau... tikus yang bunuh pengawalku." Suaranya bergema. "Akan kucungkil jantungmu dari dadamu, dan kupaksa kau memakannya sendiri."

Cangtian menarik alatnya dari tanah. Ia memutar lehernya sampai berbunyi krek, mengabaikan darah yang menetes dari lukanya.

"Kau boleh coba, anjing penjaga."

Pertarungan yang mempertaruhkan nyawa puluhan ribu budak, baru saja dimulai.

Episodes
1 Bab 1 : Darah di Gunung Kematian
2 Bab 2 : Mata yang Terbangun di Kegelapan
3 Bab 3 : Lima Malam Penempaan
4 Bab 4 : Api Pemberontakan
5 Bab 5 : Darah yang Memecah Langit
6 Bab 6 : Kebebasan Pertama
7 Bab 7 : Lautan Pasir Kematian
8 Bab 8 : Desa di Ujung Dunia
9 Bab 9 : Gadis Berkeranjang Bambu
10 Bab 10 : Rasa Sakit yang Mengerikan
11 Bab 11 : Mandi Darah Pasukan Fana
12 Bab 12 : Bayangan Pasukan Pelacak
13 Bab 13 : Penyergapan di Lautan Putih
14 Bab 14 : Duel di Atas Es yang Retak
15 Bab 15 : Ambisi Sang Ahli Teknik
16 Bab 16 : Api yang Menjalar di Kegelapan
17 Bab 17 : Pertemuan
18 Bab 18 : Bayangan Armada Udara
19 Bab 19 : Terobosan Berdarah, Lahirnya Master Bela Diri
20 Bab 20 : Kejatuhan Sang Raksasa Besi
21 Bab 21 : Akademi Fajar
22 Bab 22 : Gerbang Bencana Terbuka
23 Bab 23 : Benturan Pertama di Dataran Darah
24 Bab 24 : Keangkuhan Runtuh Berkeping-keping
25 Bab 25 : Badai Kematian Tak Kasat Mata
26 Bab 26 : Pertukaran Berdarah
27 Bab 27 : Kegelapan di Balik Panji
28 Bab 28 : Harga Sebuah Kemenangan
29 Bab 29 : Jalan Menuju Puncak
30 Bab 30 : Menembus Batas Kemustahilan
31 Bab 31 : Mata yang Terpejam di Tengah Malam
32 Bab 32 : Benturan Fisik Melawan Kekosongan
33 Bab 33 : Sinar yang Menghapus Bayangan
34 Bab 34 : Deklarasi Perang Benua
35 Bab 35 : Lembah Besi Merah
36 Bab 36 : Bisikan di Jalur Sungai Perak
37 Bab 37 : Benturan Dua Pasukan Pemusnah
Episodes

Updated 37 Episodes

1
Bab 1 : Darah di Gunung Kematian
2
Bab 2 : Mata yang Terbangun di Kegelapan
3
Bab 3 : Lima Malam Penempaan
4
Bab 4 : Api Pemberontakan
5
Bab 5 : Darah yang Memecah Langit
6
Bab 6 : Kebebasan Pertama
7
Bab 7 : Lautan Pasir Kematian
8
Bab 8 : Desa di Ujung Dunia
9
Bab 9 : Gadis Berkeranjang Bambu
10
Bab 10 : Rasa Sakit yang Mengerikan
11
Bab 11 : Mandi Darah Pasukan Fana
12
Bab 12 : Bayangan Pasukan Pelacak
13
Bab 13 : Penyergapan di Lautan Putih
14
Bab 14 : Duel di Atas Es yang Retak
15
Bab 15 : Ambisi Sang Ahli Teknik
16
Bab 16 : Api yang Menjalar di Kegelapan
17
Bab 17 : Pertemuan
18
Bab 18 : Bayangan Armada Udara
19
Bab 19 : Terobosan Berdarah, Lahirnya Master Bela Diri
20
Bab 20 : Kejatuhan Sang Raksasa Besi
21
Bab 21 : Akademi Fajar
22
Bab 22 : Gerbang Bencana Terbuka
23
Bab 23 : Benturan Pertama di Dataran Darah
24
Bab 24 : Keangkuhan Runtuh Berkeping-keping
25
Bab 25 : Badai Kematian Tak Kasat Mata
26
Bab 26 : Pertukaran Berdarah
27
Bab 27 : Kegelapan di Balik Panji
28
Bab 28 : Harga Sebuah Kemenangan
29
Bab 29 : Jalan Menuju Puncak
30
Bab 30 : Menembus Batas Kemustahilan
31
Bab 31 : Mata yang Terpejam di Tengah Malam
32
Bab 32 : Benturan Fisik Melawan Kekosongan
33
Bab 33 : Sinar yang Menghapus Bayangan
34
Bab 34 : Deklarasi Perang Benua
35
Bab 35 : Lembah Besi Merah
36
Bab 36 : Bisikan di Jalur Sungai Perak
37
Bab 37 : Benturan Dua Pasukan Pemusnah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!