Jalan Pedang Tanpa Bakat

Jalan Pedang Tanpa Bakat

Meridian yang Tersumbat

​Hujan turun dengan deras, menghantam atap jerami Desa Besi hingga menimbulkan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Langit senja tampak kelabu pekat, seolah menolak memberikan setitik pun cahaya bagi daratan di bawahnya.

​Namun, di halaman belakang sebuah bengkel pandai besi yang kumuh, derasnya badai seakan diredam oleh satu ritme yang konstan dan keras kepala.

​Swush!

​Sebuah pedang besi hitam, tumpul, berat, dan penuh goresan, membelah tirai hujan. Air yang terpotong oleh bilahnya memercik ke segala arah.

​Genggaman tangan yang menahan gagang pedang itu dipenuhi kapalan tebal. Di beberapa bagian, kulitnya pecah-pecah hingga merembeskan darah, namun darah itu langsung tersapu dinginnya air hujan. Pemilik tangan itu adalah Awan, seorang pemuda berusia lima belas tahun dengan postur kurus namun memiliki otot-otot sekering kawat baja, hasil dari siksaan fisik bertahun-tahun.

​"Sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh delapan..."

​Napas Awan terdengar serak. Paru-parunya terasa seperti diisi pasir dan bara api. Uap panas mengepul dari pori-pori kulitnya, bertabrakan dengan udara dingin musim hujan, menciptakan kabut tipis di sekeliling tubuhnya.

​Matanya yang setajam elang kelaparan menatap lekat sebuah patung kayu di depannya. Patung itu nyaris kehilangan bentuk aslinya, penuh dengan ribuan bekas sayatan dan hantaman tumpul.

​"Sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan..."

​Ia menarik napas panjang hingga rongga dadanya mengembang maksimal. Kakinya memasang kuda-kuda kokoh, mencengkeram lumpur licin di bawahnya. Otot betisnya menegang keras.

​Di dunia ini, para kultivator bernapas untuk menyerap energi alam, membiarkan Qi Spiritual mengalir dan memberi mereka kekuatan dewa. Tapi Awan tidak memiliki kemewahan itu. Ia hanya meminjam hukum fisika fana. Pinggul berputar, mentransfer tenaga ke punggung, bahu mengayun, dan pergelangan tangan mengunci rapat.

​TRANG!

​"Sepuluh ribu!" teriaknya parau.

​Pedang besi tumpul itu menghantam leher patung kayu dengan momentum yang mengerikan. Hantaman itu begitu presisi dan penuh tenaga murni hingga kepala patung kayu tersebut terpelanting jauh, tenggelam ke dalam genangan lumpur.

​Bersamaan dengan itu, pedang besi di tangan Awan bergetar hebat. Resonansi benturan merambat ke lengannya, membuat tangannya mati rasa, sebelum akhirnya...

​KRAK.

​Bilah besi yang malang itu tak sanggup lagi menahan siksaan. Pedang itu patah menjadi dua bagian. Ujungnya terlempar ke tanah dengan bunyi dentingan menyedihkan.

​Awan jatuh terduduk, membiarkan hujan mengguyur wajahnya yang pucat pasi karena kelelahan. Lengannya terkulai lemas di sisi tubuh.

​"Patah lagi," gumam Awan di sela deru napasnya. Ia menatap sisa gagang pedang di tangannya. Ini adalah pedang kelima yang ia patahkan bulan ini.

​Terdengar suara langkah kaki yang terseret dari arah beranda belakang. Seorang pria paruh baya dengan kaki kiri yang pincang dan wajah kusam akibat jelaga berjalan mendekat. Ia memegang sebuah payung kertas minyak yang sudah berlubang di ujungnya dan melempar sebuah handuk kasar ke arah Awan.

​"Kau mematahkan barang dagangan kita lagi, Nak," tegur pria itu.

​Meski kata-katanya berupa teguran, nada suara Paman Karta—ayah Awan—sama sekali tidak menyiratkan kemarahan. Yang ada hanyalah kegetiran yang mendalam.

​"Masuklah. Sup iga babi sudah matang. Ibumu membelinya dengan sisa uang tabungan kita. Kau butuh makan daging setelah memeras tubuhmu seperti itu," lanjut Karta sambil berbalik.

​Awan bangkit berdiri dengan susah payah. Ia mengusap wajahnya dengan handuk kasar, menahan rasa perih dari luka-luka kecil di tangannya.

​"Ayah..." panggil Awan, suaranya pelan namun menembus suara hujan. "Ujian penerimaan murid luar Sekte Daun Angin akan diadakan tiga hari lagi."

​Langkah Karta terhenti di ambang pintu dapur. Punggung bungkuknya membeku sejenak, tampak memikul beban yang tak kasat mata. Ia berbalik perlahan, menatap putra satu-satunya dengan mata nanar.

​"Awan, hentikan omong kosong ini. Kau tahu kenyataannya," suara Karta bergetar tipis. "Kita hanyalah manusia fana yang hidup di dasar jurang. Kau lahir prematur. Tabib desa sudah memeriksa tubuhmu saat kau berumur tujuh tahun. Meridianmu terlalu sempit, nyaris tersumbat total. Tanpa meridian yang lebar, kau tidak akan bisa menampung Qi Spiritual. Berlatih pedang fana siang dan malam hingga tanganmu hancur tidak akan mengubah takdir bahwa kau bukan seorang kultivator!"

​Kata-kata itu tajam, namun Awan tahu ayahnya hanya tidak ingin melihatnya mati muda. Di dunia kultivator, manusia fana yang mencoba mencampuri urusan langit biasanya berakhir menjadi abu.

​"Jika langit menolak memberimu jalan, maka galilah jalanmu sendiri menggunakan tangan kosong. Bahkan tetesan air yang jatuh terus-menerus mampu menembus kerasnya batu karang."

​Itulah pepatah dari mendiang kakeknya yang menolak menyerah pada nasib.

​Awan mencengkeram handuk di tangannya. "Meridianku mungkin sempit, Yah. Tapi jika aku mendorong paksa batas fisikku, dan membangun stamina yang sepuluh kali lipat lebih kuat dari orang biasa, aku bisa memaksa Qi masuk ke dalamnya. Jika pintunya terlalu kecil, aku akan mendobraknya."

​Karta mendesah panjang, mengusap wajahnya yang lelah. "Dunia kultivator bukan tempat untuk orang miskin tanpa bakat seperti kita, Awan. Anak-anak dari Klan Kota punya Pil Pembangkit Roh yang dimakan seperti permen. Mereka berlatih dengan guru sakti dan pedang pusaka. Sedangkan kau? Kau berlatih dengan buku rongsokan dan pedang gagal tempa."

​Ayahnya benar. Dunia ini kejam dan tidak adil.

​Awan melirik ke sudut halaman, tempat sebuah buku usang yang dibungkus kulit binatang tergeletak dengan aman dari hujan. Buku itu berjudul Seni Pedang Dasar Angin Jatuh. Sebuah manual seni bela diri tingkat fana terendah yang hanya memiliki tiga gerakan dasar: Menusuk, Menebas, dan Menangkis.

​Tidak ada rahasia jurus sihir di dalamnya. Tidak akan ada naga es atau harimau api yang keluar dari ujung pedangnya.

​Namun, selama lima tahun terakhir, setiap hari tanpa terlewat satu haripun, Awan mengulang ketiga gerakan dasar itu puluhan ribu kali. Ia membongkar ototnya, menghancurkan batas lelahnya, dan membangun insting bertarungnya secara murni. Jika ia tidak bisa membelah gunung dengan sihir surgawi, maka ia akan menebas gunung itu dengan kekuatan otot murni hingga gunung tersebut runtuh.

​"Tiga hari lagi, aku akan tetap mendaki Gunung Daun Angin, Ayah," ucap Awan tegas. Matanya tidak memancarkan keraguan sedikit pun. "Aku akan mengikuti ujian penerimaan murid luar. Biarkan aku mencoba satu kali ini saja. Jika aku gagal, aku akan kembali dan meneruskan bengkel pandai besi ini sampai aku mati."

​Karta menatap mata putranya cukup lama. Pada akhirnya, pria tua itu membuang muka, tak sanggup berdebat dengan keras kepala yang diwariskan dari mendiang ayahnya tersebut.

​"Masuklah," gumam Karta pelan. "Supnya nanti dingin."

​Awan memungut patahan pedangnya, membungkuk hormat ke arah ayahnya, lalu berjalan tertatih masuk ke dalam rumah.

​Di luar, hujan perlahan mereda, menyisakan kabut dingin yang menyelimuti siluet samar Puncak Gunung Daun Angin di kejauhan.

Terpopuler

Comments

Raju

Raju

awal yg menyedihkan....

2026-08-15

0

lihat semua
Episodes
1 Meridian yang Tersumbat
2 Bab 2: Tangga Seribu Beban
3 Bab 3: Batu Roh yang Membisu
4 Bab 4: Kapak Karat dan Kayu Besi
5 Bab 5: Daging Sebagai Tungku, Tulang Sebagai Pedang
6 Bab 6: Pedang dari Kayu Besi Hitam
7 Bab 7: Hantaman Pertama di Arena Batu
8 Bab 8: Menembus Tirai Udara
9 Bab 9: Palu Kayu Penghancur Gunung
10 Bab 10: Membelah Angin
11 Bab 11: Plakat Besi dan Pil Pemecah Batas
12 Bab 12: Api di Dalam Tulang
13 Bab 13: Halaman Angin Mati dan Sudut Berdebu
14 Bab 14: Menjangkar Bumi
15 Bab 15: Memburu Bayangan di Balik Kabut
16 Bab 16: Tungku Mendidih di Halaman Angin Mati
17 Bab 17: Hukum Rimba di Reruntuhan Kuno
18 Bab 18: Ngarai Kematian dan Hujan Batu
19 Bab 19: Benturan Emas dan Kayu Hitam
20 Bab 20: Mencelup Besi ke Dalam Es
21 Bab 21: Musuh Tanpa Wujud dan Keterbatasan Fana
22 Bab 22: Udara yang Terbelah dan Cikal Bakal Niat
23 Bab 23: Pedang Bumi Pijar
24 Bab 24: Darah Berat dan Sambutan Ujung Pedang
25 Bab 25: Lautan Sihir dan Satu Ayunan Besi
26 Bab 26: Kemarahan Inti Emas dan Pelindung Bayangan
27 Bab 27: Jarak Antara Bumi dan Langit
28 Bab 28: Gravitasi Delapan Ton dan Siasat di Balik Awan
29 Bab 29: Rantai Bumi yang Terputus
30 Bab 30: Harga Sebuah Keajaiban dan Keputusan Pemimpin
31 Bab 31: Air Terjun Penusuk Tulang
32 Bab 32: Kabut Berdarah dan Aliansi dalam Bayangan
33 Bab 33: Pembantaian di Bawah Kubah Emas
34 Denyut Jantung Bumi dan Penjaga yang Tertidur
35 Bab 35: Menelan Gunung dan Runtuhnya Gerbang Utama
36 Bab 36: Tembok Ruang dan Keadilan Tertinggi
37 Bab 37: Menjinakkan Monster di Dalam Diri dan Perjalanan ke Timur
38 Bab 38: Jurang Niat dan Goresan di Atas Besi
39 Bab 39: Menempa Kekosongan dan Genderang Gema Jiwa
40 Bab 40: Arena Langit dan Pecahnya Cermin Ilusi
41 Bab 41: Benturan Dua Gunung
42 Bab 42: Menangkap Badai
43 Bab 43: Tungku Daging dan Teratai Es Abadi
44 Bab 44: Melodi Kematian
45 Bab 45: Musuh Alami dan Hujan Darah di Atas Giok
Episodes

Updated 45 Episodes

1
Meridian yang Tersumbat
2
Bab 2: Tangga Seribu Beban
3
Bab 3: Batu Roh yang Membisu
4
Bab 4: Kapak Karat dan Kayu Besi
5
Bab 5: Daging Sebagai Tungku, Tulang Sebagai Pedang
6
Bab 6: Pedang dari Kayu Besi Hitam
7
Bab 7: Hantaman Pertama di Arena Batu
8
Bab 8: Menembus Tirai Udara
9
Bab 9: Palu Kayu Penghancur Gunung
10
Bab 10: Membelah Angin
11
Bab 11: Plakat Besi dan Pil Pemecah Batas
12
Bab 12: Api di Dalam Tulang
13
Bab 13: Halaman Angin Mati dan Sudut Berdebu
14
Bab 14: Menjangkar Bumi
15
Bab 15: Memburu Bayangan di Balik Kabut
16
Bab 16: Tungku Mendidih di Halaman Angin Mati
17
Bab 17: Hukum Rimba di Reruntuhan Kuno
18
Bab 18: Ngarai Kematian dan Hujan Batu
19
Bab 19: Benturan Emas dan Kayu Hitam
20
Bab 20: Mencelup Besi ke Dalam Es
21
Bab 21: Musuh Tanpa Wujud dan Keterbatasan Fana
22
Bab 22: Udara yang Terbelah dan Cikal Bakal Niat
23
Bab 23: Pedang Bumi Pijar
24
Bab 24: Darah Berat dan Sambutan Ujung Pedang
25
Bab 25: Lautan Sihir dan Satu Ayunan Besi
26
Bab 26: Kemarahan Inti Emas dan Pelindung Bayangan
27
Bab 27: Jarak Antara Bumi dan Langit
28
Bab 28: Gravitasi Delapan Ton dan Siasat di Balik Awan
29
Bab 29: Rantai Bumi yang Terputus
30
Bab 30: Harga Sebuah Keajaiban dan Keputusan Pemimpin
31
Bab 31: Air Terjun Penusuk Tulang
32
Bab 32: Kabut Berdarah dan Aliansi dalam Bayangan
33
Bab 33: Pembantaian di Bawah Kubah Emas
34
Denyut Jantung Bumi dan Penjaga yang Tertidur
35
Bab 35: Menelan Gunung dan Runtuhnya Gerbang Utama
36
Bab 36: Tembok Ruang dan Keadilan Tertinggi
37
Bab 37: Menjinakkan Monster di Dalam Diri dan Perjalanan ke Timur
38
Bab 38: Jurang Niat dan Goresan di Atas Besi
39
Bab 39: Menempa Kekosongan dan Genderang Gema Jiwa
40
Bab 40: Arena Langit dan Pecahnya Cermin Ilusi
41
Bab 41: Benturan Dua Gunung
42
Bab 42: Menangkap Badai
43
Bab 43: Tungku Daging dan Teratai Es Abadi
44
Bab 44: Melodi Kematian
45
Bab 45: Musuh Alami dan Hujan Darah di Atas Giok

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!