BAB 8: Meditasi — Meluruhkan Keakuan Diri

Pagi itu fajar menyingsing dengan lembut, menyisakan udara yang sejuk dan bersih, seakan seluruh alam baru saja dimandikan cahaya. Embun masih menempel di ujung daun-daun, berkilauan seperti butiran permata kecil saat cahaya matahari pertama menyentuhnya. Di puncak bukit yang sunyi itu, suasana begitu hening — tak ada suara manusia, tak ada keramaian dunia. Hanya suara angin yang berbisik di antara dahan pohon, kicauan burung yang menyambut pagi, dan detak jantung sendiri yang terdengar jernih di dalam keheningan.

Fazam duduk bersila di atas hamparan rumput hijau yang empuk, menghadap ke arah lembah luas yang terbentang di bawah sana. Dadanya terasa lapang, namun di kedalaman batinnya masih ada satu hal yang mengganjal — satu beban tak tampak yang selalu dibawa manusia ke mana pun ia pergi: rasa "aku". Rasa aku ini Fazam, rasa aku yang berjalan, rasa aku yang mencari. Selama ini ia berpikir bahwa dirinya adalah Fazam Arjuna — tubuh ini, nama ini, watak ini. Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: rasa "aku" inilah tirai paling tebal yang menghalangi cahaya sejati masuk sepenuhnya ke dalam hati.

Eyang Semar duduk di hadapannya, jarak langkah saja, dengan wajah tenang bagaikan danau yang tak beriak. Ia menatap muridnya dengan pandangan lembut namun menembus hingga ke dasar jiwa. Hari ini bukan saatnya menyapu halaman atau mengambil air. Hari ini adalah saatnya membersihkan ruang batin yang paling dalam — tempat di mana keakuan diri bersembunyi.

“Kau merasa diri ini 'Fazam', Le,” ucap Eyang Semar perlahan, suaranya rendah namun jernih di tengah keheningan pagi. “Kau merasa 'aku yang berjalan', 'aku yang berdoa', 'aku yang mencari'. Selama rasa 'aku' ini masih berdiri tegak di dalam hatimu, pintu menuju kedekatan sejati akan tetap tertutup. Karena di hadapan-Nya, tak ada tempat bagi dua — hanya Dia yang ada.”

Fazam menunduk perlahan, merasakan kebenaran kata-kata itu menembus dadanya. Ia memegang dadanya sendiri, seakan bisa merasakan sosok "aku" yang selama…

Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya

Download aplikasi
Episodes
1 BAB 1: Secangkir Kopi dan Panggilan yang Tersembunyi
2 BAB 2: Langkah Pertama di Jalan yang Tak Bertapak
3 BAB 3: Di Bawah Naungan Eyang Semar
4 BAB 4: Zikir yang Menggetarkan Langit dan Bumi
5 BAB 5: Zikir Sirrul Asror Rahasia di Balik Segala Rahasia
6 BAB 6: Gusti Allah Urip Sejati yang Tak Pernah Berhenti
7 BAB 7: Guru Sejati Itu Ada di Dalam Diri Sendiri
8 BAB 8: Meditasi — Meluruhkan Keakuan Diri
9 BAB 9: Suluk di Gua Sendiri — Ujian di Tengah Kesunyian
10 BAB 10: Cahaya Kebenaran di Bawah Pohon Beringin
11 BAB 11: Melangkah Pulang Membawa Cahaya
12 BAB 12: Kembali ke Rumah, Hidupkan Cahaya di Tengah Dunia
13 BAB 13: Cahaya di Tengah Keramaian Desa
14 BAB 14: Hati yang Rendah Langkah yang Teguh
15 BAB 15: Panggilan Lembut yang Menggetarkan Hati
16 Bab 16: Pintu Langit yang Terbuka
17 BAB 17: Sikembar Datang Membawa Angin Lama
18 BAB 18: Di Antara Persahabatan dan Jalan Lurus
19 BAB 19: Badai di Hati, Ketenangan di Dalam
20 BAB 20: Buah Kesabaran dan Cahaya yang Menyebar
21 BAB 21: Di Antara Pujian dan Kebenaran
22 BAB 22: Obat Nyeleneh yang Menembus Hati
23 BAB 23: Kabar yang Menyebar Jadi Pembicaraan Satu Desa
24 BAB 24: Sakit Badan, Obatnya Hati
25 BAB 25 Bertemu di Jalan Pulang
26 BAB 26 : Perang Melawan Ratu Gelapan
27 BAB 27: Hati yang Makin Terang
28 BAB 28: Jejak Langkah Menuju Cahaya Sunan Ampel
29 BAB 29: Ujian di Tengah Jalan
30 BAB 30: Cahaya Kelembutan Sunan Bonang
31 BAB 31: Hati yang Selalu Berbagi — Jejak Sunan Drajat
32 BAB 32: Mbah Tunggal — Yang Selalu Membisik di Hati
33 BAB 33: Langkah yang Makin Teguh
34 BAB 34: Menyerah dan Percaya Sepenuhnya
Episodes

Updated 34 Episodes

1
BAB 1: Secangkir Kopi dan Panggilan yang Tersembunyi
2
BAB 2: Langkah Pertama di Jalan yang Tak Bertapak
3
BAB 3: Di Bawah Naungan Eyang Semar
4
BAB 4: Zikir yang Menggetarkan Langit dan Bumi
5
BAB 5: Zikir Sirrul Asror Rahasia di Balik Segala Rahasia
6
BAB 6: Gusti Allah Urip Sejati yang Tak Pernah Berhenti
7
BAB 7: Guru Sejati Itu Ada di Dalam Diri Sendiri
8
BAB 8: Meditasi — Meluruhkan Keakuan Diri
9
BAB 9: Suluk di Gua Sendiri — Ujian di Tengah Kesunyian
10
BAB 10: Cahaya Kebenaran di Bawah Pohon Beringin
11
BAB 11: Melangkah Pulang Membawa Cahaya
12
BAB 12: Kembali ke Rumah, Hidupkan Cahaya di Tengah Dunia
13
BAB 13: Cahaya di Tengah Keramaian Desa
14
BAB 14: Hati yang Rendah Langkah yang Teguh
15
BAB 15: Panggilan Lembut yang Menggetarkan Hati
16
Bab 16: Pintu Langit yang Terbuka
17
BAB 17: Sikembar Datang Membawa Angin Lama
18
BAB 18: Di Antara Persahabatan dan Jalan Lurus
19
BAB 19: Badai di Hati, Ketenangan di Dalam
20
BAB 20: Buah Kesabaran dan Cahaya yang Menyebar
21
BAB 21: Di Antara Pujian dan Kebenaran
22
BAB 22: Obat Nyeleneh yang Menembus Hati
23
BAB 23: Kabar yang Menyebar Jadi Pembicaraan Satu Desa
24
BAB 24: Sakit Badan, Obatnya Hati
25
BAB 25 Bertemu di Jalan Pulang
26
BAB 26 : Perang Melawan Ratu Gelapan
27
BAB 27: Hati yang Makin Terang
28
BAB 28: Jejak Langkah Menuju Cahaya Sunan Ampel
29
BAB 29: Ujian di Tengah Jalan
30
BAB 30: Cahaya Kelembutan Sunan Bonang
31
BAB 31: Hati yang Selalu Berbagi — Jejak Sunan Drajat
32
BAB 32: Mbah Tunggal — Yang Selalu Membisik di Hati
33
BAB 33: Langkah yang Makin Teguh
34
BAB 34: Menyerah dan Percaya Sepenuhnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!