Pagi itu fajar menyingsing dengan lembut, menyisakan udara yang sejuk dan bersih, seakan seluruh alam baru saja dimandikan cahaya. Embun masih menempel di ujung daun-daun, berkilauan seperti butiran permata kecil saat cahaya matahari pertama menyentuhnya. Di puncak bukit yang sunyi itu, suasana begitu hening — tak ada suara manusia, tak ada keramaian dunia. Hanya suara angin yang berbisik di antara dahan pohon, kicauan burung yang menyambut pagi, dan detak jantung sendiri yang terdengar jernih di dalam keheningan.
Fazam duduk bersila di atas hamparan rumput hijau yang empuk, menghadap ke arah lembah luas yang terbentang di bawah sana. Dadanya terasa lapang, namun di kedalaman batinnya masih ada satu hal yang mengganjal — satu beban tak tampak yang selalu dibawa manusia ke mana pun ia pergi: rasa "aku". Rasa aku ini Fazam, rasa aku yang berjalan, rasa aku yang mencari. Selama ini ia berpikir bahwa dirinya adalah Fazam Arjuna — tubuh ini, nama ini, watak ini. Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: rasa "aku" inilah tirai paling tebal yang menghalangi cahaya sejati masuk sepenuhnya ke dalam hati.
Eyang Semar duduk di hadapannya, jarak langkah saja, dengan wajah tenang bagaikan danau yang tak beriak. Ia menatap muridnya dengan pandangan lembut namun menembus hingga ke dasar jiwa. Hari ini bukan saatnya menyapu halaman atau mengambil air. Hari ini adalah saatnya membersihkan ruang batin yang paling dalam — tempat di mana keakuan diri bersembunyi.
“Kau merasa diri ini 'Fazam', Le,” ucap Eyang Semar perlahan, suaranya rendah namun jernih di tengah keheningan pagi. “Kau merasa 'aku yang berjalan', 'aku yang berdoa', 'aku yang mencari'. Selama rasa 'aku' ini masih berdiri tegak di dalam hatimu, pintu menuju kedekatan sejati akan tetap tertutup. Karena di hadapan-Nya, tak ada tempat bagi dua — hanya Dia yang ada.”
Fazam menunduk perlahan, merasakan kebenaran kata-kata itu menembus dadanya. Ia memegang dadanya sendiri, seakan bisa merasakan sosok "aku" yang selama…
PERJALANAN LAKU SPIRITUAL
BAB 8: Meditasi — Meluruhkan Keakuan Diri
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 34 Episodes
Comments