Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Episode 1

Bab 1

Terlahir Kembali di Malam yang Sama

Sindrom lapar sentuhan itu sedang memakannya hidup-hidup.

Vivi meringkuk di sudut sofa sambil mencengkeram boneka beruang berwarna krem. Kukunya menembus bulu sintetis sampai menyentuh kain di bawahnya. Namun, benda lembut itu tak bisa menolong. Rasa panas merayap di bawah kulitnya, disusul geli menyakitkan seolah ribuan semut menggigit tulangnya dari dalam.

Ia butuh sentuhan manusia.

Bukan sembarang manusia.

Di seluruh dunia, hanya sentuhan pria paling berbahaya yang dikenalnya yang bisa menghentikan rasa sakit ini.

Sebastian Gunawan. Suaminya sendiri.

Ponsel di atas meja bergetar karena tersenggol lutut Vivi. Layar yang masih menyala memperlihatkan panggilan WA selama tujuh detik. Ia bahkan tak ingat kapan menekan nama Sebastian. Yang ia ingat hanya suaranya sendiri, pecah dan memalukan.

“Pulang. Tolong.”

Setelah itu sambungan terputus.

Hujan sudah berhenti, tetapi tetes air masih jatuh dari tepian atap ke halaman rumah Gunawan di Pondok Indah. Bunyi tik, tik, tik itu bercampur dengan detak jam dinding. Setiap detik terasa seperti kuku yang menggores kulit Vivi.

Ia menekan boneka beruang ke dada. Biasanya benda itu mampu menenangkannya. Malam ini, aroma kain yang familier justru membuat kepalanya semakin berat.

Ada sesuatu yang salah dengan malam ini.

Ruangan ini terasa pernah ia lihat dari tempat yang sangat jauh. Lampu kuning di dekat tangga. Gelas air yang belum disentuh. Bayangan ranting basah di jendela. Semuanya terlalu akrab, tetapi ingatannya tertutup kabut tebal.

Rasa sakit kembali menghantam.

Vivi menggigit bibir agar tak menjerit. Setitik darah terasa asin di lidahnya.

Pintu utama terbuka.

Langkah sepatu menghantam lantai marmer, cepat dan teratur. Bukan langkah orang yang baru berlari dari mobil, meski napas pria itu sedikit lebih berat daripada biasanya.

Sepuluh menit.

Sebastian selalu tiba dalam sepuluh menit setiap kali penyakit Vivi kambuh. Seolah CEO Gunawan Group itu bisa membelah kemacetan Jakarta dengan satu perintah.

“Vivi.”

Suaranya dingin. Wajahnya pun sama dinginnya.

Kemeja hitam Sebastian lembap di bagian bahu. Beberapa helai rambutnya jatuh di dahi, mungkin terkena gerimis saat turun dari mobil. Ia menyerahkan ponsel kepada seseorang di luar pintu tanpa menoleh.

“Pak Yanto, jangan biarkan siapa pun masuk.”

“Baik, Pak Sebastian.”

Pintu tertutup.

Sebastian mendekati sofa. Tatapannya menyapu wajah pucat Vivi, bibirnya yang berdarah, lalu jemari yang gemetar di antara bulu boneka.

“Sejak kapan?”

Vivi mencoba menjawab, tetapi yang keluar hanya embusan napas serak.

Sebastian tak menunggu. Ia mengambil boneka itu dari pelukan Vivi dan meletakkannya di sisi sofa. Sesaat kemudian, satu lengan menyusup ke bawah lutut Vivi, satu lagi menopang punggungnya.

Tubuh Vivi terangkat.

Panas kulit Sebastian menembus gaun tidurnya. Rasa sakit yang tadi menggila langsung surut setingkat, seperti ombak yang ditarik paksa kembali ke laut.

Vivi mengeluarkan suara kecil tanpa sadar. Kedua lengannya segera melingkari leher Sebastian.

“Lebih dekat,” bisiknya.

Rahang Sebastian mengeras.

Ia duduk di sofa dan menempatkan Vivi menghadapnya, mengangkangi pahanya. Posisi itu selalu membuat Vivi ingin lenyap karena malu. Hampir setahun menjadi suami istri, tetapi mereka hanya bersentuhan ketika penyakit sialan ini kambuh.

Pada malam pernikahan mereka, Sebastian sudah menyampaikan aturannya dengan jelas.

Ia memiliki gangguan obsesif-kompulsif dan tak suka disentuh. Pernikahan ini hanya kesepakatan. Vivi tak boleh masuk ke kamarnya tanpa izin, tak boleh menyentuh barang pribadinya, dan tak perlu mengharapkan hubungan seperti pasangan biasa.

Sebagai gantinya, satu persen saham Gunawan Group berpindah sesuai perjanjian. Suntikan dana dari kesepakatan itu menahan PT Winata, perusahaan tekstil milik keluarganya, dari jurang kebangkrutan.

Vivi menerima semuanya.

Hanya saja tubuhnya tak pernah belajar menerima kesepian.

“Masih sakit?” tanya Sebastian.

Vivi mengangguk. “Di sini.”

Ia menyentuh bibirnya sendiri.

Sepasang mata gelap di hadapannya menyempit.

“Kamu yakin?”

Pertanyaan itu terdengar sopan, tetapi telapak tangannya telah menahan pinggang Vivi lebih erat. Panas merembes dari ujung jarinya. Tubuh Vivi bereaksi lebih cepat daripada harga dirinya.

Ia menunduk dan menempelkan bibir ke bibir Sebastian.

Pria itu diam selama satu detik.

Lalu tangannya naik ke tengkuk Vivi.

Ciuman yang seharusnya hanya menjadi obat berubah lebih dalam. Sebastian memiringkan kepala dan mengambil napas Vivi seakan tak ingin menyisakan ruang di antara mereka. Bibirnya dingin karena udara malam, tetapi tekanannya panas dan tegas. Saat Vivi gemetar, ia tidak melepaskan. Ia menahan pinggang Vivi, membiarkan tubuh kecil itu menempel penuh pada dadanya.

Nyeri di bawah kulit Vivi memudar sedikit demi sedikit.

Sebagai gantinya, jantungnya berdetak semakin kacau.

“Sudah?” Sebastian bertanya di sela napas.

Vivi ingin berkata sudah. Namun, ketika ia mencoba mundur, jemari di tengkuknya tetap berada di sana.

Mata mereka bertemu dari jarak yang terlalu dekat.

Tak ada kelembutan di wajah Sebastian. Tak ada senyum atau rasa malu seperti seorang suami yang baru mencium istrinya. Tatapannya datar, nyaris tanpa emosi.

Seperti biasa.

Seperti pria yang hanya menjalankan kewajibannya.

Rasa sakit Vivi sudah hilang, tetapi sesuatu yang lebih perih menekan dadanya.

“Aku sudah membaik,” katanya pelan.

Baru kali itu Sebastian melepas tengkuknya. “Kalau begitu, kita berpisah kamar.”

Kalimat sederhana itu menghantam lebih keras daripada seharusnya.

Sebastian selalu begitu. Datang dalam sepuluh menit. Memeluknya sampai sembuh. Membiarkannya mencium. Lalu pergi seolah sentuhan mereka tak berarti apa-apa.

Vivi menatap kancing hitam di kerah suaminya. Hampir setahun ia mencoba meyakinkan diri bahwa pernikahan ini cukup. PT Winata selamat. Papa dan Mama tak lagi menerima telepon penagih setiap malam. Ia tinggal di rumah mewah dan tak pernah kekurangan apa pun.

Kecuali perasaan bahwa dirinya diinginkan.

Malam ini, entah kenapa, kesepian itu terasa terlalu berat.

“Sebas.”

Sebastian yang hendak mengangkat tubuhnya berhenti. “Ya?”

Vivi menggenggam bagian depan kemejanya.

Kata-kata yang sudah ia simpan berbulan-bulan naik ke tenggorokan.

“Kita cerai sa...”

Sebuah pintu besi terbanting di dalam kepalanya.

Bukan bayangan. Bukan mimpi.

Vivi melihat jemarinya sendiri mencakar permukaan pintu yang terkunci. Ia mendengar suaranya memohon agar diperbolehkan pulang menemui Papa dan Mama. Ia mencium udara pengap dari kamar tanpa jendela. Di luar, langkah kaki Sebastian berhenti tepat di depan pintu, tetapi tak pernah membukanya.

Lalu potongan lain menyambar.

Telepon tentang PT Winata yang akhirnya jatuh. Tangis Mama. Wajah Papa yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Tubuh Vivi sendiri terbaring dingin di atas lantai, napasnya putus-putus, sementara cahaya di langit-langit menyusut menjadi titik putih.

Ia pernah mati.

Ia pernah menjalani malam ini.

Dalam kehidupan pertamanya, ia mengucapkan kalimat yang sama. Setelah itu, topeng dingin Sebastian retak dan dunia Vivi berubah menjadi sangkar.

Sekarang ia kembali ke titik sebelum semuanya dimulai.

“Cerai apa?”

Suara Sebastian menariknya kembali.

Keringat dingin membanjiri punggung Vivi. Jemarinya membeku di kemeja pria itu. Ia masih duduk di pangkuannya, masih dikelilingi lengan yang tadi menyembuhkan rasa sakitnya, tetapi bayangan pintu besi membuat napasnya sesak.

“Aku...”

Tatapan Sebastian turun ke bibirnya.

Hanya sesaat, sesuatu bergerak di mata gelap itu. Bukan jijik. Bukan pula ketidaksabaran.

Sesuatu yang tajam dan lapar.

Jemarinya menekan pinggang Vivi seakan memastikan ia masih berada di sana.

Vivi menelan kata terakhir itu bersama rasa darah di bibirnya.

“Aku cuma mau bilang... cerainya sinetron tadi jelek sekali.”

Sunyi.

Alasan itu begitu buruk sampai Vivi ingin menenggelamkan kepala ke dalam boneka beruangnya.

Sebastian tak tertawa. “Kamu meneleponku karena sakit sambil menonton sinetron?”

“Aku bisa melakukan dua hal sekaligus.”

“Begitu rupanya.”

Nada suaranya tetap datar. Namun, tangan yang memegang pinggang Vivi belum juga mengendur.

Vivi memaksa tersenyum, sementara serpihan kehidupan pertama berputar di kepalanya. Ia tahu bagaimana kisah mereka berakhir. Ia tahu kata cerai akan mengubah pria ini menjadi seseorang yang tak dikenalnya.

Tetapi ia tak tahu mengapa.

Ia juga tak tahu siapa sebenarnya suami yang sedang memeluknya ini.

***

Sebastian mengenal setiap perubahan napas Vivi.

Malam ini, napas itu berubah tepat ketika bibirnya membentuk suku kata kedua dari kata yang tidak akan ia biarkan selesai.

Ia menatap wajah pucat di hadapannya. Vivi tampak seperti baru melihat hantu. Padahal beberapa menit lalu, ia sendiri yang menarik kerah Sebastian dan meminta ciuman.

Aneh.

Gaun tidur lain milik Vivi masih tersimpan di bagian terdalam ruang ganti pribadinya, terlipat di dalam kotak hitam yang tak boleh disentuh siapa pun. Bahkan Pak Yanto tak memiliki akses ke sana.

Sebastian pernah mengira menyimpan satu benda sudah cukup untuk meredam sesuatu di dalam dirinya.

Ternyata tidak.

Telapak tangannya mengunci pinggang Vivi sedikit lebih kuat.

“Kamu mau turun?” tanyanya.

Vivi langsung menggeleng terlalu cepat.

Bagus.

Sebastian menyandarkan punggung ke sofa, tetap membiarkannya duduk di pangkuan. Ia tidak bertanya lagi. Belum.

Kalau Vivi benar-benar hendak mengatakan sesuatu yang bisa mengambilnya dari rumah ini, Sebastian hanya perlu memastikan kalimat itu tak pernah memperoleh kesempatan kedua.

***

Vivi merasakan lengan di pinggangnya mengeras seperti palang pintu.

Saat ia kembali menatap Sebastian, tatapan lapar tadi sudah lenyap. Yang tersisa hanya wajah dingin suami kontraknya, sempurna dan sulit dibaca.

Namun, setelah pernah mati sekali, Vivi tak lagi yakin wajah dingin itu berarti ia dibenci.

Mungkin selama ini, ia telah salah membaca sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!