Lampu-lampu gantung kristal di aula utama balai kota memancarkan cahaya megah yang sangat menyilaukan.
Alunan musik klasik bergema lembut di tengah derak tawa ratusan tamu undangan dari kalangan elit kota.
Brandon berdiri tegak di atas panggung utama dengan setelan jas mahal, memegang mikrofon sambil tersenyum penuh percaya diri.
Di sampingnya, Alya berdiri mematung dalam balutan gaun malam. Wajahnya pucat pasi, matanya terus melirik gelisah ke arah pintu masuk.
'Duh, Mas Reno ke mana ya? Jangan-jangan dia beneran pasrah dan melepaskan aku?' batin Alya cemas, meremas jemarinya sendiri.
"Hadirin sekalian, terima kasih sudah hadir di hari bahagia ini!" seru Brandon dengan suara lantang lewat pengeras suara.
Lautan tamu bertepuk tangan riuh mengelilingi panggung.
"Hari ini, saya tidak hanya menyelamatkan bisnis keluarga Pramudya," lanjut Brandon sambil memamerkan jam tangan mewahnya. "Tapi saya juga menyelamatkan Alya dari jeratan mantan suaminya yang cuma pengangguran tak berguna!"
*Gerrrr...*
Para tamu tertawa mengejek setelah mendengar ucapan Brandon.
Maya yang berdiri di barisan depan panggung tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk bangga. "Betul itu! Brandon memang menantu idaman! Si miskin itu mana layak mendampingi anak saya!"
Alya mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Brandon, cukup! Kamu gak usah menginjak-injak Mas Reno di depan umum!"
"Kamu diam, Alya! Masih aja belain si pembawa sial itu!" potong Hendra dingin dari samping Maya. "Tanda tangani surat cerainya sekarang juga!"
Tepat ketika Brandon hendak menyerahkan pulpen emas ke tangan Alya, pintu ganda aula mendadak terbuka lebar.
*Brakkkk!*
Seorang pria bersetelan kemeja putih rapi tanpa dasi melangkah masuk dengan santai.
Seluruh mata di dalam ruangan langsung tertuju ke arah pintu.
"Waduh! Si sampah itu berani muncul juga?!" jerit Maya kaget setengah mati.
Reno melangkah tenang menyusuri karpet merah, mengabaikan tatapan heran dan sindiran tajam dari para tamu.
"Hadeuh... setelan kemeja biasa gitu pasti hasil nyewa di tempat murah," bisik salah satu pengusaha di barisan depan sambil terkekeh.
'Gak sabar lihat muka serangga-serangga ini berubah pucat pas kejutan dari Bagas sampai,' batin Reno sambil menyunggingkan senyum tipis.
"Reno! kau ngapain ke sini, hah?!" bentak Brandon kasar sambil turun dari panggung.
"Gue cuma mau menghadiri pesta yang kau buat," jawab Reno santai sambil menghentikan langkahnya tepat di depan Brandon.
Maya menyusul berlari kecil lalu menunjuk muka Reno dengan penuh emosi. "Pengawal! Mana pengawal?! Usir si pengemis ini keluar dari sini!"
Hendra juga ikut maju membusungkan dada. "Reno, kamu gak tahu malu, ya?! Tempat ini disewa miliaran rupiah oleh keluarga Pratama! kau gak pantas menginjakkan kaki di sini!"
Alya memandang Reno dengan mata berkaca-kaca. "Mas Reno... kenapa Mas datang? Mereka bisa mencelakai Mas..."
Reno menatap Alya dengan pandangan lembut. "Aku datang buat jemput kamu, Alya. Pesta murahan ini gak pantas buat kamu."
"Sialan! Berani banget kamubilang pestaku murahan?!" raung Brandon murka.
Brandon menyengir licik lalu mengangkat tangannya ke udara, memberikan sinyal kepada sepuluh pengawal bertubuh kekar di sudut aula.
"Gue tadinya mau lepaskan lo hidup-hidup, Reno," bisik Brandon dengan nada penuh ancaman. "Tapi karena lo sendiri yang cari mati, sekalian aja gue bikin lo cacat di depan semua orang!"
Sepuluh pengawal berotot besar langsung mengepung Reno, memegang tongkat pemukul di tangan mereka.
Para tamu melangkah mundur, siap menyaksikan pembalasan berat terhadap sang mantan menantu.
"Hajar dia sampai berdarah-darah! Biar tahu diri!" teriak Maya memberi komando.
Para pengawal maju serentak, mengayunkan tongkat besi mereka tepat ke arah kepala Reno.
Reno bahkan tidak bergeming atau mengedipkan mata sama sekali. Hawa dingin Sutra Naga Kuno yang sudah pulih sempurna meluap samar dari balik matanya.
*Brakkkkkkk!*
Sebelum ujung tongkat besi itu menyentuh kemeja Reno, pintu utama aula balai kota mendadak didobrak hingga hancur berkeping-keping.
*Dug! Dug! Dug!*
Langkah kaki puluhan orang berseragam rapi bergema hebat, menggetarkan lantai marmer aula.
"Siapa pun yang berani menyentuh Tuan Muda Naga Hitam, habisi tanpa sisa!" deru sebuah suara serak yang sangat menggelegar dari luar pintu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments