Bab 5: Pengintaian Tebing Barat

Rian menghabiskan potongan terakhir daging rebus hangat dan meminum habis tehnya. Rasa hangat yang menjalar di dada memberikan rasa nyaman setelah beberapa hari bertahan hidup di alam liar.

Ia tidak langsung beranjak dari kursi sudut Kedai Kiras. Skor Intelligence bernilai 14 memaksanya untuk terus menimbang segala variabel sebelum melangkah.

"Dogo... mantan ninja pelarian tingkat C dari Kirigakure," gumam Rian sangat pelan, menyembunyikan bibirnya di balik cangkir kayu kosong.

Seorang ninja pelarian tingkat C umumnya memiliki kemampuan setara Genin senior atau Chunin bawah di desa besar. Meskipun berada di tingkatan terendah dalam hirarki shinobi, Dogo pasti menguasai setidaknya pengontrolan chakra dasar, teknik taijutsu di atas manusia biasa, atau ninjutsu elemen air (Suiton) sederhana.

Bagi Rian yang kekuatan fisiknya hanya bernilai 8 dan tanpa chakra, menerima satu serangan ninjutsu langsung berarti kematian.

"Kuncinya adalah informasi dan serangan pendahuluan," batinnya.

Rian meletakkan cangkir kayu, merapatkan mantel hitamnya, lalu berjalan keluar dari kedai.

Untuk mendapatkan peta lokasi yang presisi, Rian menyusuri kawasan dermaga selatan yang kumuh. Ia menemukan sebuah lapak perbaikan jala ikan yang dikelola oleh seorang nelayan paruh baya dengan kaki pincang. Dari percakapan di kedai tadi, para nelayan dermaga selatan adalah pihak yang paling sering diperas oleh kelompok Dogo.

Rian mendekati nelayan tersebut, bersandar pada tiang kayu dermaga seraya menatap ke arah laut yang tertutup kabut.

"Satu informasi akurat mengenai tata letak markas Dogo di tebing barat," kata Rian datar tanpa memandang orang itu. Tangannya menyelipkan sekeping koin logam ke dalam lipatan jala di meja kerja nelayan.

Nelayan tua itu kaget, dengan cepat menutupi koin perak senilai 500 Ryo tersebut dengan telapak tangannya yang kasar. Ia menengok ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada orang yang memperhatikan.

"Bocah, kau cari mati?" bisik nelayan itu serak. "Dogo dan anak buahnya tidak segan membuang orang ke laut jika tahu ada yang membocorkan markas mereka."

"Kau butuh uangnya, dan aku butuh informasinya," balas Rian tenang. "Cukup jelaskan struktur markas dan jumlah penjaga mereka malam ini."

Nelayan itu menelan ludah, menatap koin 500 Ryo yang setara dengan hasil melaut tiga hari.

"Tebing barat... markas mereka adalah sebuah gua laut alami yang dibangun menjadi benteng kayu di kaki tebing," bisik nelayan itu cepat. "Hanya ada satu jalur darat menyusuri celah karang sempit dari arah hutan. Jalur lautnya terlalu berbahaya karena karang tajam. Dogo punya sekitar dua belas anak buah. Malam hari, biasanya dua orang berjaga di mulut celah karang, sisanya minum-minum di dalam gua bersama Dogo."

"Bagaimana dengan kemampuan Dogo?"

"Dia memegang pedang besar dan bisa menyemburkan tembakan air (Suiton: Mizurappa) dari mulutnya. Dia kejam, tapi setiap malam dia selalu mabuk berat bersama anak buahnya."

"Cukup." Rian berbalik dan berlalu pergi, menyatu kembali dalam kerumunan pasar.

[Uang Tunai Berkurang: 11.200 Ryo → 10.700 Ryo]

Matahari perlahan tenggelam di balik garis pantai utara, mengganti langit siang dengan kegelapan yang diselimuti kabut tebal khas Negara Air.

Rian berjalan menuju pinggiran hutan Pulau Ren yang berbatasan langsung dengan tebing barat. Ia duduk bersila di balik rimbunnya semak-semak, terlindung dari pandangan luar.

Di depannya, layar semi-transparan sistem menyala redup. Rian menatap saldo System Point-nya.

[System Point: 150 SP]

Ia membuka menu Shop kategori Skill.

[SYSTEM SHOP - CATEGORY: SKILL]

Kenbunshoku Haki / Observation Haki (Basic) - Cost: 150 SP (Meningkatkan persepsi indra untuk merasakan keberadaan, aura kehidupan, dan ancaman di sekitar dalam radius terbatas.)

Untuk melakukan infiltrasi malam hari di wilayah musuh yang berjumlah belasan orang, mata telanjang tidak akan cukup. Di tengah kabut pekat, satu jebakan atau penyergapan tersembunyi bisa berakibat fatal.

"Beli Kenbunshoku Haki (Basic)," perintah Rian tegas di dalam pikitannya.

[Membeli Skill: Kenbunshoku Haki (Basic)... Berhasil.] [Sisa System Point: 0 SP]

Wush!

Sebuah sensasi aneh menjalar dari pusat kepalanya menuju ke seluruh saraf indra. Penglihatannya tidak berubah, namun persepsi mentalnya meluas secara drastis.

Rian memejamkan mata. Di dalam kegelapan pikirannya, ia bisa merasakan "percikan aura kehidupan" di sekitarnya. Ia bisa merasakan pergerakan jangkrik di tanah sejauh lima meter, aura burung hantu di dahan pohon di atasnya, hingga getaran langkah kaki beberapa penduduk pulau yang berjalan jauh di belakangnya.

Radius jangkauan Observation Haki tingkat dasarnya saat ini adalah sekitar lima belas hingga dua puluh meter.

"Luar biasa..." gumam Rian. Kombinasi Kami-e untuk kelenturan tubuh dan Kenbunshoku Haki untuk pemetaan posisi musuh memberikan keunggulan taktis yang sangat besar bagi strategi gerilya.

Rian berdiri, merapatkan mantel bertudung hitamnya, dan mulai melangkah menembus kabut malam menuju celah karang tebing barat.

Celah karang tebing barat Pulau Ren sangat sempit dan licin, diapit oleh dinding batu terjal dan deburan ombak laut yang menghantam karang di bawahnya.

Rian merayap pelan di antara ceruk batu. Observation Haki-nya aktif secara konstan, memetakan keberadaan dua percikan aura kehidupan di depan celah masuk gua.

Di balik keremangan kabut, tampak dua orang anak buah Dogo berdiri bersandar pada dinding karang. Masing-masing memegang obor minyak yang meredup dan sebilah parang.

"Ugh, dingin sekali malam ini..." keluh salah satu penjaga seraya meniup telapak tangannya. "Kenapa kita harus berjaga di luar sementara bos dan yang lainnya minum arak hangat di dalam?"

"Diamlah, Dogo-sama bisa memotong telingamu kalau mendengar keluhanmu," balas temannya malas.

Rian berada sepuluh meter dari posisi mereka, bersembunyi di balik lekukan batu besar. Melalui Kenbunshoku Haki, ia membaca tingkat kewaspadaan kedua penjaga itu yang sangat rendah akibat rasa dingin dan kantuk.

Rian merogoh saku mantelnya, mengeluarkan dua butir batu kerikil kecil yang ia ambil dari jalanan.

Ia melempar batu pertama ke arah laut di sebelah kanan mereka.

Pluk!

Suara batu jatuh ke air membuat kedua penjaga itu terkejut.

"Suara apa itu? Ikan?" tanya penjaga pertama.

"Periksa sana," dorong penjaga kedua.

Penjaga pertama melangkah mendekati tepi karang tempat suara berasal, memisahkan diri sejauh beberapa meter dari temannya.

Rian bergerak seperti bayangan. Memanfaatkan Kami-e untuk meminimalisir gesekan tubuh dengan udara, ia meluncur tanpa suara ke belakang penjaga kedua yang masih berdiri menyandar.

Sebelum penjaga itu menyadari keberadaan aura lain di belakangnya, tangan kiri Rian yang dilapisi kain mantel menutup rapat mulut dan hidung pria itu, sementara tangan kanannya merogoh Basic Hunting Knife dan menghantamkan bagian gagang besi pisau tersebut sekuat tenaga ke tulang belakang leher musuh.

Bugh!

Pria itu langsung terkulai pingsan tanpa sempat berteriak. Rian menahan tubuhnya agar tidak jatuh menghantam tanah, lalu merebahkannya perlahan di balik bayangan batu.

Penjaga pertama yang berada di tepi karang berbalik karena merasa aneh dengan kesunyian di belakangnya. "Oi, tidak ada apa-apa di—"

Kata-katanya terhenti saat melihat Rian sudah berdiri hanya satu meter di depannya.

Sebelum penjaga itu sempat mengangkat parangnya atau berteriak, Rian melangkah maju menembus pertahanannya. Meliukkan tubuh ke samping untuk menghindari tebasan liar penyamun itu menggunakan Kami-e, Rian mendaratkan pukulan telak pisau berburunya ke rahang bawah musuh.

Krak!

Penjaga pertama tumbang seketika ke atas tanah pasir, pingsan tak berdaya.

Rian menyarungkan pisaunya, mengambil napas dalam-dalam untuk mengatur staminanya. Melalui pindaian Kenbunshoku Haki, ia merasakan sepuluh hingga sebelas percikan aura kehidupan lain yang berada di dalam gua laut di depannya—termasuk satu percikan aura yang jauh lebih padat dan agresif dibandingkan yang lain.

Dogo.

Rian berdiri di mulut gua laut yang remang-remang, menatap pintu kayu tebal markas penyamun yang bercahaya obor dari dalam. Infiltrasi awalnya berhasil tanpa memicu alarm.

Episodes
1 Bab 1: Terbangun di Pulau Tak Dikenal
2 Bab 2: Jejak Desa Kabut dan Perahu yang Datang
3 Bab 3: Peluang di Antara Puing
4 Bab 4: Dermaga Pulau Ren
5 Bab 5: Pengintaian Tebing Barat
6 Bab 6: Tunduknya Tebing Barat
7 Bab 7: Pemburu Buronan dari East Blue
8 Bab 8: Fondasi Organisasi Rahasia
9 Bab 9: Bayangan Kabut di Dermaga
10 Bab 10: Penyergapan di Tengah Kabut
11 Bab 11: Konsolidasi dan Rencana Perekrutan
12 Bab 12: Langkah Menuju Pelabuhan Bebas
13 Bab 13: Gelombang Pertama dari Pulau Hagi
14 Bab 14: Kembalinya Sang Semburan Badai
15 Bab 15: Jejak di Tengah Kabut Pesisir
16 Bab 16: Perekrutan Sang Komandan Angkatan Laut
17 Bab 17: Transformasi Markas dan Bayangan di Perairan Luar
18 Bab 18: Pelayaran Dua Warna
19 Bab 19: Pos Terdepan Teluk Karang
20 Bab 20: Ahli Galangan dan Roda Pasar Gelap
21 Bab 21: Jaringan Intelijen dan Bayangan Bloody Mist
22 Bab 22: Konsolidasi Karang Hantu dan Strategi Baru
23 Bab 23: Tembakan di Atas Balai Lelang
24 Bab 24: Armada Pengawal dan Bayangan Kirigakure
25 Bab 25: Struktur Dua Sayap dan Rahasia Kabut
26 Bab 26: Blokade Celah Kabut Barat
27 Bab 27: Tempaan Besi Chakra dan Badai Perbatasan
28 Bab 28: Kejatuhan Benteng Karang Hitam
29 Bab 29: Sang Penguasa Kegelapan dan Peta Laut Baru
30 Bab 30: Kehendak Galleon dan Riak di Negara Air
31 Bab 31: Tiga Master Galangan dan Bayangan Kirigakure
32 Bab 32: Garis Logistik Timur dan Gemuruh Selat Tanduk Hantu
33 Bab 33: Permukiman Klan Kaguya dan Bintang Intelijen
34 Bab 34: Kebangkitan Sovereign dan Raja Pasir Bawah Tanah
35 Bab 35: Sang Laksamana Es dan Cengkeraman Bawah Tanah Hagi
36 Bab 36: Runtuhnya Benteng Kabut Abadi
37 Bab 37: Tebasan Mata Elang dan Senja Kabut Berdarah
38 Bab 38: Magma Keadilan Absolut dan Tirai Kabut Terakhir
39 Bab 39: Tumbangnya Sang Mizukage dan Kejatuhan Kirigakure
40 Bab 40: Tatanan Baru Kirigakure dan Sang Raja Penakluk
41 Bab 41: Ekspedisi Benua dan Panji Gale di Perbatasan Negara Api
42 Bab 42: Raja Benang dan Gemuruh Tanjak Merah
43 Bab 43: Bedah Ruang Kehendak dan Bayangan Root Konoha
44 Bab 44: Cahaya Laksamana Kuning dan Gerbang Laut Konohagakure
45 Bab 45: Utusan Perdamaian Konoha dan Panggilan Kaisar Merah
46 Bab 46: Laksamana Gravitasi dan Badai Selat Pasir Merah
Episodes

Updated 46 Episodes

1
Bab 1: Terbangun di Pulau Tak Dikenal
2
Bab 2: Jejak Desa Kabut dan Perahu yang Datang
3
Bab 3: Peluang di Antara Puing
4
Bab 4: Dermaga Pulau Ren
5
Bab 5: Pengintaian Tebing Barat
6
Bab 6: Tunduknya Tebing Barat
7
Bab 7: Pemburu Buronan dari East Blue
8
Bab 8: Fondasi Organisasi Rahasia
9
Bab 9: Bayangan Kabut di Dermaga
10
Bab 10: Penyergapan di Tengah Kabut
11
Bab 11: Konsolidasi dan Rencana Perekrutan
12
Bab 12: Langkah Menuju Pelabuhan Bebas
13
Bab 13: Gelombang Pertama dari Pulau Hagi
14
Bab 14: Kembalinya Sang Semburan Badai
15
Bab 15: Jejak di Tengah Kabut Pesisir
16
Bab 16: Perekrutan Sang Komandan Angkatan Laut
17
Bab 17: Transformasi Markas dan Bayangan di Perairan Luar
18
Bab 18: Pelayaran Dua Warna
19
Bab 19: Pos Terdepan Teluk Karang
20
Bab 20: Ahli Galangan dan Roda Pasar Gelap
21
Bab 21: Jaringan Intelijen dan Bayangan Bloody Mist
22
Bab 22: Konsolidasi Karang Hantu dan Strategi Baru
23
Bab 23: Tembakan di Atas Balai Lelang
24
Bab 24: Armada Pengawal dan Bayangan Kirigakure
25
Bab 25: Struktur Dua Sayap dan Rahasia Kabut
26
Bab 26: Blokade Celah Kabut Barat
27
Bab 27: Tempaan Besi Chakra dan Badai Perbatasan
28
Bab 28: Kejatuhan Benteng Karang Hitam
29
Bab 29: Sang Penguasa Kegelapan dan Peta Laut Baru
30
Bab 30: Kehendak Galleon dan Riak di Negara Air
31
Bab 31: Tiga Master Galangan dan Bayangan Kirigakure
32
Bab 32: Garis Logistik Timur dan Gemuruh Selat Tanduk Hantu
33
Bab 33: Permukiman Klan Kaguya dan Bintang Intelijen
34
Bab 34: Kebangkitan Sovereign dan Raja Pasir Bawah Tanah
35
Bab 35: Sang Laksamana Es dan Cengkeraman Bawah Tanah Hagi
36
Bab 36: Runtuhnya Benteng Kabut Abadi
37
Bab 37: Tebasan Mata Elang dan Senja Kabut Berdarah
38
Bab 38: Magma Keadilan Absolut dan Tirai Kabut Terakhir
39
Bab 39: Tumbangnya Sang Mizukage dan Kejatuhan Kirigakure
40
Bab 40: Tatanan Baru Kirigakure dan Sang Raja Penakluk
41
Bab 41: Ekspedisi Benua dan Panji Gale di Perbatasan Negara Api
42
Bab 42: Raja Benang dan Gemuruh Tanjak Merah
43
Bab 43: Bedah Ruang Kehendak dan Bayangan Root Konoha
44
Bab 44: Cahaya Laksamana Kuning dan Gerbang Laut Konohagakure
45
Bab 45: Utusan Perdamaian Konoha dan Panggilan Kaisar Merah
46
Bab 46: Laksamana Gravitasi dan Badai Selat Pasir Merah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!