Boneka kain sarung : 02

Guntur menahan napas, sulit sekali mengalihkan pandangan dari atap limas tinggi nan curam yang warna gentengnya sudah coklat kehitaman.

“Hei jagoan Ayah, kenapa?” Dari bawah, netranya memperhatikan wajah sang putra yang mulai pias, ia pun menurunkan Guntur ke tanah.

“Nak?” tanyanya berulang, sedikit cemas mendapati remaja berambut cepak ini tidak berkedip.

Hamima baru saja keluar dari dalam mobil, hatinya mulai cemas. Dari jarak satu meter, terlihat jelas tubuh sang putra menggigil.

“Guntur, kamu kenapa, Sayang?” Langkahnya di cepatkan, lalu menarik siku remaja berkulit sawo matang itu sampai masuk ke dalam dekapan. “Cerita ke Ibu, ada apa, Guntur?”

Pujiara menggeliat, dia terjepit karena ibunya merunduk memeluk kakaknya.

Galih mengambil putrinya dari gendongan jarik, menimang agar bayi ngemut empeng tidak menangis.

“Ada apa, Nak?” pertanyaan yang sama, diulang lagi, tetapi tetap tidak mendapatkan jawaban.

Guntur memeluk erat pinggang ibunya, menyembunyikan wajah di bawah ketiak berlengan gemuk. Ia bertemu tatap dengan pak sopir yang memandang datar, lalu cepat-cepat membuang muka.

Hamima mendongak, ia tatap lekat hunian terbilang megah dengan teras depan dan samping luas. Atapnya tinggi, curam. Banyak jendela besar menjulang. Cat dinding warna putih, tembok teras hitam, dan lantai tegel keramik abu-abu gelap.

Hunian itu berdiri gagah di kaki bukit sedikit menanjak, dan sedikit berjauhan dengan rumah tetangga.

“Mima, ajak Guntur masuk. Mas mau bantuin pak sopir ngangkut barang-barang di bak pickup.” Galih menggendong Ara, ia berjalan lebih dulu.

Hamima yang merasa sungkan ke sopir, sedikit tidak sabaran. Digendongnya sang putra, lalu melangkah memasuki halaman luas, bersih, sebagian ditumbuhi rumput gajah mini berdaun lebar. Ada juga tanaman pohon kersen, jambu biji, dan mangga.

Pujiara diturunkan di teras samping, langsung saja bayi mulai belajar jalan itu merangkak.

Guntur berdiri diambang pintu. Dari sini bisa melihat ke dalam tembus pada dapur. ‘Kenapa jantungku terus berdetak kencang, lalu bulu kuduk merinding gak karuan?’

“Yah … yah!” seruan Ara menyadarkan sang kakak yang langsung mengerjapkan mata.

Tanpa berpikir panjang, Guntur masuk dari pintu depan, mencari adiknya yang berceloteh riang.

Ternyata Pujiara tengah mendekap boneka terbuat dari kain sarung lusuh — memiliki sepasang tangan dan kaki, serta kepala.

“Punya siapa, Dek?” Guntur berjongkok, menarik boneka berdebu sampai membuat hidungnya gatal. “Jangan dipeluk, Ara. Ini kotor, nanti kamu batuk-batuk.”

Pujiara menunjukkan reaksi aneh. Matanya mendelik, melototi sang kakak yang langsung menjerit keras.

“Ibu! Ayah!” Spontanitas Guntur mundur sambil memejamkan mata, dia ketakutan.

Suara derap langkah kaki mendekat, pertama kali yang sampai adalah Galih.

“Ada apa, Mas?” tanyanya. Membiasakan menyebut panggilan tersebut agar Pujiara juga mengikuti.

Remaja mengenakan celana panjang yang bagian kanan kiri paha terdapat saku, perlahan-lahan membuka mata.

“Tadi, tadi Ara — mendelik, dia gak mau melepaskan boneka terbuat dari kain sarung,” ungkapnya tergagap.

“Boneka apa? Adikmu lagi main di halaman, mencabuti rumput. Tadi ibu yang membawanya ke sana,” beritahu Hamima, merasa sikap putranya aneh.

Guntur tersentak, dia langsung melihat tempat dimana tadi Pujiara memeluk boneka kain. Tidak ada siapa-siapa. Samping kursi jati, kosong.

“Aku gak bohong, Bu! Tadi Ara mirip boneka Susan, matanya melotot!” ia keukeuh kalau penglihatannya nyata.

Galih mengelus rambut lebat putranya. “Sepertinya kamu kelelahan. Ayo Ayah tunjukkan kamar yang sudah dicat ulang temboknya sesuai warna kesukaan mas Guntur.”

Tidak ada pilihan lain selain menurut, Guntur jadi bingung sendiri. Meyakini kejadian barusan nyata, tetapi adiknya benar-benar tengah bermain di halaman teras samping.

Pintu kayu dibuka, kamar bernuansa warna biru langit tampak menarik mata Guntur. Sejenak ia takjub, melupakan hal aneh barusan dialaminya.

“Bagus banget kamarnya, Yah,” ucapnya riang. Memperhatikan ruangan luas, terdapat lemari kayu tiga pintu, ranjang ukir, ada juga meja rias dari bahan kayu kuat.

“Ayah sudah yakin, kamu pasti suka dengan kamar ini. Apalagi kalau melihat pemandangan luar dari sini!” Galih melangkah mendekati jendela.

Guntur pun mengikuti sang ayah, berdiri di sisinya, dan sama-sama melihat keluar. “Ada sungai dibelakang rumah ini, Yah?”

“Ada air terjunnya juga, airnya jernih banget. Ayah sering berenang di sana,” kegembiraannya menular ke remaja tidak berkedip memandangi aliran sungai tampak kecil dari ketinggian. Berjarak tiga puluh meter dari sini.

“Besok kita mandi disana ya, Yah?” Guntur sangat antusias. Tempat ini mengingatkan pada kampung halaman sang nenek.

“Iya. Sekarang sebaiknya kamu mandi, mumpung belum maghrib.”

“Aku mau memandangi sungai dulu, Yah. Sebentar saja,” tawarnya bernegosiasi.

“Jangan lama-lama!” Galih mengusak rambut Guntur, lalu dia berjalan keluar dari kamar.

“Bagaimana dengan Guntur, Mas?” Hamima sedang memisahkan kardus, dia mencari yang ada tulisan pakaian.

Galih mendekati sang istri, diam-diam mencuri kecupan pada pipi tembam.

“Mas?” netra Mima terbelalak, dia melirik ke pintu. Beruntung pak sopir tidak ada disana. “Malu dilihat orang.”

“Aku kangen banget sama kamu.” Ia rangkul pundak ibu dari anak-anaknya. “Sudah 3 mingguan kita gak bertemu, rindu ini semakin menggebu-gebu.”

Hamima terkekeh, dalam hati bersyukur memiliki suami humoris, penyayang keluarga, dan selalu mengupayakan yang terbaik untuknya serta putra-putri mereka.

“Mas selesaikan sebentar urusan dengan sopir ya, sambil menghentikan putri cantik kita sebelum dia menggunduli rumput halaman,” mereka sama-sama tertawa kecil.

Galih keluar rumah, membayar sewa mobil pickup milik tuan tanah wilayah kelurahan yang terkenal kaya raya.

Pujiara masih asik mengorek tanah menggunakan sendok teh yang tadi diberikan oleh ibunya.

Lingsir wengi ….

“Apa itu?” Secepat mungkin Hamima berdiri, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah. “Tidak ada orang. Lantas siapa yang menembangkan lagu ungkapan kerinduan di kesunyian malam?”

Sudut matanya berkerut, seperti tengah diperhatikan seseorang — Hamima mengangkat wajah, melihat plafon menutup rapat langit-langit rumah besar.

“Kamu kenapa, Mima?” Galih masuk ke dalam rumah sambil menggendong Pujiara yang bajunya kotor.

Mima menggeleng. ‘Mungkin perasaanku saja. Bisa jadi karena efek lelah.’

“Mas, rumah ini beneran cuma satu lantai?” tiba-tiba pertanyaan itu meluncur begitu saja.

“Iya. Ini rumah dibangun dengan gaya bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda di Indonesia. Langit-langit tinggi membantu sirkulasi udara naik ke atas agar ruangan bawah tetap dingin. Jendela dan pintu besar dilengkapi ventilasi untuk memaksimalkan aliran angin. Hunian yang cocok bukan untuk keluarga kita, Mima?” ia menjelaskan.

Hamima pun setuju akan pendapat suaminya. Hunian ini sejuk, tidak panas.

“Apa kamu gak merasa aneh, Mas? Hunian sebesar ini, mana luas, bagus, termasuk mewah, kenapa dijual dengan harga sangat murah?”

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ

ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ

penghuni rumah sudah kesenangan menyambut kedatangan kamu Gun? mereka mencium aroma wangi keluar dari dalam tubuhmu, siap menyedottt dan mencucup darahmu 😂 sebut namaku 3 kali jika kau membutuhkan bantuanku, nanti aku bawakan darah ayam untuk hidangan mbk kun2 😂

2026-08-14

2

Betri Betmawati

Betri Betmawati

Takut ya si galih ini ada bnyk menyimpan rahasia besar maka nya anak nya slu di ganggu Sama setan rmh itu
baru datang aja udh smabut setan

2026-08-14

4

Al Fatih

Al Fatih

sepertinya ada benang merah antara guntur dengan rumah ini. Karna,, guntur sudah memimpikan rumah itu jauh2 hari sebelum mereka d haruskan untuk tinggal d rumah itu.

Ada apa yaa,, ad rahasia apa yang d sembunyikan sama si galih itu🤔

2026-08-14

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!