Semuanya gelap pengab : 03

“Awalnya ya aneh, tapi setelah mengetahui siapa pemilik rumah ini, Mas jadi paham. Beliau termasuk orang paling kaya satu kecamatan, Mima. Kebunnya berhektar-hektar, sawah luas, dan punya peternakan Sapi pedaging, terus dijuluki tuan tanah,” sambil bercerita, Galih melepaskan baju Pujiara.

“Alasan juragan Sarkam menjual rumah ini, dikarenakan daripada terbengkalai, gak terawat mending dilepas dengan harga murah, yang penting laku. Seperti itu katanya,” ia mengulangi penjelasan sang tuan tanah terkenal dermawan.

Masih terasa mengganjal dalam benak Hamima. ‘Masa ada orang sebaik itu?’

“Sembilan juta, dengan tanah tiga ribu meter persegi, luas bangunan 400 meter, lengkap dengan perabotan mewah menggunakan bahan kayu jati, apa masuk akal, Mas?” Mima memperhatikan satu set sofa bagian kepalanya berukir burung Elang, lalu jam dinding klasik setiap jarum jam pendek menyentuh angka maka akan berdenting nyaring.

Galih mengedikkan kedua bahunya. “Bisa jadi ini rezeki kita, Sayang. Syukuri saja.”

“Bukannya aku gak bersyukur, cuma aneh saja rasanya, Mas. Kalau dikota, gak kemana 40 jutaan harganya, bisa jadi lebih.” Mima mengambil pakaian ganti dirinya dan Ara.

“Mungkin karena ini pelosok. Hikmahnya, kita jadi bisa menabung, sebagian uang penjualan rumah di kota kabupaten malah terbeli kebun di kampung ibumu untuk investasi masa depan anak-anak. Mas pun sekarang punya motor meski tidak baru, tapi masih sangat bagus,” Galih mengambil sisi pikiran positif, bertentangan dengan sang istri.

“Sudah jangan dibahas lagi, hari mulai gelap. Gak baik mandi malam-malam, nanti Ara masuk angin.” Ia membopong putrinya, berjalan ke bagian belakang hunian mewah.

Terlebih dahulu Hamima menutup pintu depan, menarik gorden warna hijau motif kembang sepatu. Ia tidak perlu menghidupkan lampu, sebab sedari tadi penerangan sudah dinyalakan oleh suaminya.

‘Aku harus bersyukur, setidaknya disini sudah dialiri arus listrik,’ batinnya bergumam. Untuk pertama kalinya dia melangkah ke bagian lebih dalam.

Setiap apa yang terlihat, Hamima berpikir keras. Hunian besar ini benar-benar siap huni. Dapur bersih lengkap dengan tungku perapian, meja keramik tempat pencucian piring, lemari aluminium penyimpanan alat makan, dan satu set kursi makan dengan sandaran tinggi dari bahan kayu berkualitas.

‘Sembilan juta?’ hatinya terus mengulang harga beli rumah mewah memiliki 4 kamar, ruang makan dan dapur jadi satu, lalu area santai, tempat penerimaan tamu, bahkan ada televisi hitam putih serta radio.

“Sayang, kamu kok bengong?” Galih berbalik badan, memperhatikan istrinya yang bergeming di batas lantai dapur lebih tinggi dari ruang santai.

“Aku terkagum-kagum sama rumah baru kita, Mas. Bagus banget,” ucapnya tidak sepenuhnya dusta.

“Galih maju sampai tangannya merangkul pinggang lebar istrinya. “Masih banyak waktu untuk mengagumi, sekarang mandilah dulu bersama Pujiara. Biar Mas panaskan menu yang tadi beli di pasar kecamatan.

Hamima mengambil putrinya, lalu masuk ke kamar mandi dekat dengan pintu belakang.

Pada saat bersamaan, Guntur pun hendak mandi, tetapi tidak perlu antri. Hunian baru mereka memiliki dua kamar mandi.

***

Kala langit berangsur-angsur menggelap, dan matahari sudah tenggelam, jam dinding berdenting nyaring sebanyak enam kali, menandakan waktu malam telah tiba.

Perasaan Hamima tak tenang, setiap suara dentingan jam yang bergema keseluruh ruangan, jantungnya ikut berdetak kencang.

Ia gugup duduk di kursi meja makan, suasana malam disini sangat sunyi, hanya terdengar suara Jangkrik mengerik.

“Hamima ….” Galih menyenggol lengan istrinya yang kehilangan nafsu makan. “Menunya gak enak, ya?”

Hamima mengerjapkan mata, lalu menunduk melihat nasi putih dan lauk sayur santan rebung bambu, sambal telur diatas piring tidak tersentuh.

“Aku sebenarnya mengantuk, Mas,” senyumnya tampak dipaksakan. Ia menyembunyikan kegundahan hati, tak ingin membuat suaminya khawatir.

Pria memiliki berat badan ideal, tinggi 176 centimeter, penampilan selalu rapi dengan potongan rambut cepak, tersenyum lebar. Gemas sekali melihat sikap cinta pertamanya. Sayangnya dia sedang menggendong Ara yang tertidur pulas.

“Makanlah sedikit. Kamu masih masa menyusui, kasihan Ara nanti tak mendapatkan gizi dari ASI kurang nutrisi,” katanya penuh perhatian dengan tatapan mata lembut.

“Iya.” Hamima memegang sendok, lalu mulai menyuap nasi beserta lauk masuk ke mulutnya.

Guntur tersenyum senang, ikut merasakan keharmonisan hubungan kedua orangtuanya. Dia makan dengan tenang, duduk di seberang meja makan.

Setengah jam kemudian, keluarga kecil itu selesai menyantap makan malam.

“Beres-beres baju dan barang dari kota kabupaten, besok saja. Kalian pasti capek, lebih baik kita langsung tidur!” suara Galih terdengar sampai dapur.

“Biar aku saja yang menyusun piring sudah dicuci ini, Bu. Ibu temani Ayah, sepertinya sedang ingin mengajak ngobrol,” Guntur paham kebiasaan pria yang dianggap pahlawannya itu.

Hamima mengelap tangan basah ke handuk kecil tergantung di paku dinding atas tempat cuci piring. “Terima kasih ya, Nak. Kamu juga, begitu selesai beresin dapur, langsung tidur. Beranikan tidur sendirian?”

Guntur tidak langsung menjawab. Mulutnya bilang berani, tetapi hati meragu. “Iya.”

‘Aku gak boleh jadi penakut. Kasihan Ayah sama Ibu, nanti mereka kepikiran terus,’ gumamnya dalam hati.

Sebuah sendok dalam genggaman, tergelincir jatuh ke lantai menimbulkan bunyi nyaring. Guntur membungkuk, bermaksud mengambil cepat.

Namun, sesuatu menahannya — “Ara … Pujiara?”

Adiknya tengah bermain di bawah meja makan, dan ada tiga pasang kaki menyentuh lantai. Remaja memakai piyama tidur itu diserang rasa penasaran. Pelan-pelan dia berdiri dengan mata terkunci ke depan.

“Kok gak ada badannya?” Guntur membungkuk lagi, ingin melihat apa yang tadi tampak, nyata atau halusinasi.

“Gak ada siapa-siapa. Apa benar kata Ayah, ya? Aku kecapean, jadinya seperti melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada,” tidak mau sampai menimbulkan ketakutan lebih besar lagi, Guntur menaruh asal piring ke dalam lemari.

Cepat-cepat dia masuk ke dalam kamar, mengunci pintunya, lalu naik ke atas ranjang. Bersembunyi dibawah selimut sampai tertidur.

***

Duk … duk, duk ….

Guntur terjaga. Terganggu oleh suara berisik yang dikenali apabila seseorang memakai sandal bakiak dari tapak kayu, lalu ada diberi bunyi gemerincing.

“Bukannya tadi aku sembunyi dibawah selimut, kok sekarang ada di ….” Ia kebingungan, punggungnya terasa menekan sesuatu keras, bukan empuk tilam kapuk.

Semuanya gelap, pengab, membuatnya kesulitan bernapas. Tangan Guntur terangkat dan langsung menekan benda keras.

“Ayah! Ibu!” Susah payah dia telungkup lalu menggunakan siku merayap keluar dari kolong tempat tidur.

Begitu berhasil, Guntur langsung berdiri. Ketika mau berlari — badannya tersentak. Dari sudut mata, ia melihat jendela kamar menghadap ke sungai tiba-tiba terhempas terbuka lebar.

Semilir angin masuk ke dalam kamar, menerpa wajah memucat dibawah penerangan lampu kuning kemerahan.

Hueg!

Guntur menahan mual, bau amis seperti luka membusuk bernanah menusuk hidung.

Sekelebat bayangan putih melintas cepat tepat di depannya yang kesulitan bergerak, seolah kaki dipaku pada lantai.

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ

ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ

Dan lebih aneh lagi, kalau Tuan takur seorang yang terkenal. pasti para tetangga tahu kan? pernah terjadi kejadian apa di rumah itu? tapi kenapa tak ada satu pun yang berani cerita sama pembeli rumah? apa para tetangga sudah di ancam supaya tidak membocorkan sama pembeli rumah? biasanya kan pembeli kevoo, tanya2 dulu sama tetangga kira2 ada kejadian apa saja di rumah itu, smapai di jual murah.

2026-08-14

4

🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡

🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡

mitos kenapa rumah angker dijual murah , yaaa ini ...banyak penghuni nya.
dari berbagai kejadian ,misal hasil pembunuhan ,perampokan dan yang lebih seram hasil mati dari tumbal.
mereka memberi tahu keberadaan mereka tapi caranya salah.Dimensi yang berbeda membuat energi mereka saling bertabrakan, yang satu berniat minta tolong, yang satunya berasumsi di teror😂.

selamat menikmati hidangan dengan menu yang siap membuat anda ( pembaca) tercekik ,terpekik ,mengumpat dan deg deg sirr, ritme jantung berlomba ,cepet2 an berdetak

2026-08-14

0

Al Fatih

Al Fatih

sy pernah alamin yg mbak Mima rasakan terkait jam yg berdentang,, ketika pas jam nya itu,, d rumah mertuaku,, dan yang paling menegangkan itu slalu pas jam 12 malam.....,,

2026-08-14

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!