Ch. 3 — Janji

Sebuah lempengan hitam pekat berbahan logam tak dikenal dilemparkan dengan santai. Dengan refleks canggung, Huo Li menangkapnya.

Lempengan itu dipenuhi aksara kuno berlekuk rumit yang membuat matanya pusing. Teksturnya sangat dingin, kuno, dan anehnya, terasa memiliki bobot sebuah gunung raksasa yang ditekan ke dalam ukuran genggaman tangan.

"Paman, benda apa ini?" tanya Huo Li penasaran.

Seketika atmosfer di dalam gua mendadak runtuh. Tekanan udara anjlok drastis ke titik yang mencekik.

"Apa itu?" ujar Pria itu mengulangi. Nada suaranya berubah menjadi teramat agung dan purba, seakan-akan jika ia mengucapkan nama benda ini secara sembarangan... sesuatu akan murka dan menghancurkan lini masa waktu dunia ini.

Tangan pria itu terangkat perlahan. Sepasang mata birunya yang jernih tiba-tiba meledakkan cahaya seterang bintang fajar.

WUSH!

[Tatanan Surga! Dunia ini milikku! Ruang dan Waktu adalah Dao-ku! Menunduklah di bawah hukumku...]

Drashhh!!!

Saat itu juga, waktu dunia ini berhenti dalam sekejap dan sebuah Tatanan Surga tercipta melindungi pria tersebut dan Huo Li. Ruang berdiameter 10 meter mengisolasi mereka sepenuhnya dari dunia yang ruang dan waktunya telah berhenti total.

"...!"

'Ini... mengerikan!' batin Huo Li tersentak. Suara desau angin malam di luar gua lenyap seketika, tergantikan oleh kesunyian yang hampa. Insting bertahan hidup Huo Li menjerit; ia sadar paman ini sedang melakukan sesuatu yang berada diluar pemahamannya.

Pria itu menatap lempengan di tangan Huo Li lekat-lekat. "Lempengan yang kau pegang itu... berisi Teknik Kultivasi Dewa... [Penipu Langit]."

DTENGTENGGGG!

DRENGTENGGG!

Tepat setelah isi dari nama benda itu diucapkan, ruang di luar Tatanan Surga bergetar hebat. Suara guruh samar terdengar saling menyusul di langit malam yang tadinya cerah. Seolah ada sebuah Mata Kosmis tak kasat mata yang sedang murka karena tabunya ditantang.

GRENTENGTENG!

BRENGTENGTENG!

'Hmm... bahkan setelah kubekukan ruang dan waktu, kau masih bisa mengendus keberadaan klonku,' batin pria itu santai, menatap tembus ke arah langit-langit gua. Kemudian, ia kembali menatap Huo Li, menyudahi keheningan magis tersebut. 'Baiklah, hanya dengan klonku tidak akan cukup untuk bertahan dari amarahmu.'

Pria itu berdiri. "Bocah. Berjanjilah kepadaku. Runtuhkan langit dunia ini dan kau akan tahu alasan aku membantu mu." Ujarnya menegaskan melanjutkan, "Begitu kau meruntuhkan langit dunia ini, kau akan ku angkat menjadi muridku."

WUSH!

Bersamaan dengan itu, sebuah benda lain melayang ke pangkuan Huo Li. Sebuah kantong kecil berwarna emas yang disulam dengan benang bercahaya.

"Kantong itu bernama..., sebut saja kantong keberuntungan. Jagalah dengan baik, jangan sampai kau menghilangkannya. Jika itu sampai hilang... kau sendiri yang akan kesulitan nantinya." ucap pria itu dengan senyum tipis penuh arti.

Tatapannya perlahan melembut, namun kata-katanya setajam pisau bedah yang membedah kepribadian Huo Li yang masih tersembunyi. "Aku tidak menyarankanmu untuk membalas dendam dengan tergesa-gesa. Namun, Bocah, ingat pesanku ini..." Pria itu menatap lurus ke dalam jiwa pemuda itu. "Jika kau pada akhirnya berniat membalaskan dendammu... pastikan dendam itu tidak menelan kewarasanmu. Jadilah sekejam yang kau mau pada musuhmu, tapi jangan pernah menjadi iblis buta yang membantai mereka yang tak bersalah."

Zzt...

Pria di depan Huo Li tiba-tiba menghilang. Tidak ada gejolak energi, tidak ada distorsi udara, bahkan tidak ada embusan angin sedikit pun. Ia lenyap seolah eksistensinya terhapus dari realitas. Ruang di seberang api unggun mendadak kosong, menyisakan keheningan malam yang kembali mencekam.

Huo Li mematung. Matanya menatap kosong ke arah dinding gua yang lembap, tempat di mana pria misterius itu baru saja berdiri. Napasnya tertahan. Keberadaan sosok itu terasa begitu surealis, seolah-olah hanya ilusi manis yang diciptakan oleh benaknya yang sekarat di dasar sungai es.

"Ke mana Paman aneh itu pergi? Aku bahkan belum mengucapkan terima kasih dengan layak," gumam Huo Li pelan. "Terimakasih, Paman." ujar Huo Li menangkupkan kedua tangannya hormat dengan sedikit kebingungan di dalam kepalanya. "Pesan yang Paman sampaikan. Akan kuingat dengan baik. Meruntuhkan langit... aku berjanji akan melakukannya, Paman."

Pandangannya kemudian turun, tertuju pada lempengan hitam pekat berbahan logam tak dikenal yang tergeletak di telapak tangannya. Benda itu sedingin es, namun memancarkan aura kuno yang menekan jiwa. Namun, tepat saat matanya terpaku pada aksara rumit di permukaannya, sebuah keanehan yang mengerikan merayap di dalam kepalanya.

Zrt...

Sesuatu... sebuah kekuatan tak kasat mata memasuki memorinya secara paksa, mengoyak ingatan yang baru saja terbentuk, lalu menghapus dan memutarbalikkan persepsinya tanpa ampun.

'Tunggu... Apa nama benda ini sebelumnya?' Huo Li memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut hebat.

Sebuah ingatan baru, yang terasa sangat dipaksakan namun segera dilegalkan oleh hukum dunia, tertanam di dalam kepalanya. "Ahh... Aku ingat! Lempengan Dewa Surgawi," ucap Huo Li lirih. Tanpa secercah keraguan pun, ia langsung mempercayai ingatan baru tersebut.

Nama Penipu Langit yang diucapkan sang paman misterius beberapa saat lalu telah menguap sepenuhnya, terhapus oleh kehendak agung yang menolak tabu tersebut diingat oleh manusia fana.

.....

Sementara itu, di kejauhan yang tak terbayangkan... di luar batas zona realitas tempat hukum ruang, waktu, dan kehidupan hancur menjadi ketiadaan yang absolut.

Batas Hitam Semesta, Lautan Kekacauan Nomor Tujuh.

Pria bermata biru itu berjalan santai melintasi kehampaan. Jubah kebesarannya yang berwarna biru, merah, dan emas berkibar anggun meski tak ada angin yang berembus.

Tap. Tap.

Setiap langkah kakinya di atas ketiadaan memaksakan hukum-hukum baru yang menundukkan realitas di sekitarnya.

Sebuah senyum tipis penuh ironi terukir di wajahnya. "Dewa Surgawi? Itu sangat berlawanan dengan gelarmu sebelumnya... Namun, itu tidak buruk juga..." gumam pria itu dengan nada mengejek.

Ia menghentikan langkahnya. Pria itu menoleh ke samping kanan melihat sosok pria berambut putih yang sedang tersegel dalam rantai pengekangan yang menguarkan energi kekacauan tidak terbendung sebelum akhirnya ketiga matanya, termasuk mata vertikal di dahinya bergetar pelan saat menatap sebuah eksistensi raksasa yang menaungi ruang hampa.

Itu adalah entitas abstrak, sebuah manifestasi kosmis yang ukurannya jauh melampaui ukuran sebuah alam semesta. Entitas itu memancarkan tekanan Dao Langit Absolut, menatap sang pria dengan kemurkaan tak bersuara yang mampu memusnahkan triliunan jiwa dalam satu kedipan.

"Sayangnya aku tidak bisa berlama-lama di sana... Bukan begitu, Kaisar Langit?" tantang pria itu, sama sekali tidak gentar menghadapi wujud murni dari kehendak Dao Langit Absolut.

Ia tahu, ingatan Huo Li telah dimanipulasi secara otomatis oleh Dao Langit Absolut. Kaisar Langit tidak akan pernah mengizinkan nama teknik yang mampu mengancam otoritasnya diingat oleh makhluk di bawahnya. Namun, sang pria tersenyum.

"Dao Langit Absolut boleh merubah namanya, tetapi esensi sejati dari teknik penentang dewa itu tidak akan pernah bisa diubah."

Entitas raksasa itu tetap diam, namun tekanannya semakin mencekik.

"Baiklah. Waktunya aku kembali, aku harus memurnikan Alam Astral Abadi, dengan begitu aku akan menguasai tepat sepuluh alam semesta, dan mempersiapkan 'hal itu'..." ujar pria itu penuh arti dengan suara yang bergema seperti lonceng penciptaan.

Tepat sebelum pria itu pergi, ia merasakan denyutan pada mata vertikal di dahinya, "Hmm... ada seorang manusia fana yang menginginkan dirinya kembali ke masa lalu menggunakan tujuh bola dewa naga?"

"Luar biasa. Bagaimana bisa tujuh bola dewa naga bisa ada di satu planet kecil di Alam Kuburan Para Peri Abadi? Kabulkan permintaannya, Shenlong. Tapi tidak ke tubuh aslinya."

Dari jarak miliaran tahun cahaya, Naga Hijau Raksasa mematuhi perintahnya. "Baik, Yang Mulia."

.....

Kembali ke dalam gua kecil yang remang-remang. Huo Li masih duduk bersila, mengusap permukaan Lempengan Dewa Surgawi dengan ibu jarinya.

"Bagaimana cara menggunakannya?" gumam remaja itu kebingungan. "Apakah aku perlu meneteskan darahku ke atas lempengan ini?"

Tepat saat pertanyaan itu terlintas, sebuah resonansi aneh terjadi.

Drrrt... Drrrt!

Lempengan hitam di tangannya bergetar hebat.

Cyuuuttt...

Benda itu tiba-tiba terlepas dari genggamannya, melayang di udara, dan meledakkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata.

JLEB!

Tanpa memberi Huo Li kesempatan untuk menghindar, lempengan itu melesat secepat kilat dan menembus langsung ke bagian tengah dahinya!

"AGGGGGHHHHHH! ARGHHHHHHH!"

Terpopuler

Comments

y@y@

y@y@

💥👍🏾👍🏼👍🏾💥

2026-08-16

0

lihat semua
Episodes
1 Ch. 1 — Huo Li
2 Ch. 2 — Sang Penyelamat
3 Ch. 3 — Janji
4 Ch. 4 — Metamorfosis
5 Ch. 5 — Sekte Pedang Tiran
6 Ch. 6 — Puncak Pedang Kedua
7 Ch. 7 — Memahami Makna
8 Ch. 8 — Langkah Pemutus Nadi
9 Ch. 9 — Ujian Latih Tanding
10 Ch. 10 — Tebasan Bayangan Berat
11 Ch. 11 — Perburuan
12 Ch. 12 — Raja Babi Hutan Berkulit Besi
13 Ch. 13 — Kalau Kau Menginginkannya, Ambil Sendiri
14 Ch. 14 — Hukum Rimba
15 Ch. 15 — Panen yang Luar Biasa
16 Ch. 16 — Pil yang Rasanya Tidak Enak!
17 Ch. 17 — Perburuan Sudah Mencapai Target
18 Ch. 18 — Sedikit Candaan
19 Ch. 19 — Peringatan dari Yun Bing
20 Ch. 20 — Nilai dari Sebuah Kekuatan
21 Ch. 21 — Mengapa Hanya ada Kau?
22 Ch. 22 — Jatuh Miskin
23 Ch. 23 — Jenius
24 Ch. 24 — Parasit
25 Ch. 25 — Pelelangan?
26 Ch. 26 — Menuju Kota Sungai Hijau
27 Ch. 27 — Penginapan Teratai Merah
28 Ch. 28 — Menyembunyikan Identitas
29 Ch. 29 — Jangan Uji Kesabaranku
30 Ch. 30 — Kesalahpahaman
31 Ch. 31 — Negoisasi
32 Ch. 32 — Riuh Sebelum Badai
33 Ch. 33 — Harga Sebuah Harapan
34 Ch. 34 — Permainan Penawaran Harga
35 Ch. 35 — Rencana dari Balik Layar
36 Ch. 36 — Umpan Sang Topeng Iblis
37 Ch. 37 — Rencana Penghapusan Dimulai!
38 Ch. 38 — Mantan Murid Pelayan Vs Jenius Sekte
39 Ch. 39 — Keserakahan
40 Ch. 40 — Tiga Kepala yang Menggelinding
41 Ch. 41 — Perencana Cerdik
42 Ch. 42 — Apa Aku Salah Dengar?
43 Ch. 43 — Pembalasan yang Sempurna
Episodes

Updated 43 Episodes

1
Ch. 1 — Huo Li
2
Ch. 2 — Sang Penyelamat
3
Ch. 3 — Janji
4
Ch. 4 — Metamorfosis
5
Ch. 5 — Sekte Pedang Tiran
6
Ch. 6 — Puncak Pedang Kedua
7
Ch. 7 — Memahami Makna
8
Ch. 8 — Langkah Pemutus Nadi
9
Ch. 9 — Ujian Latih Tanding
10
Ch. 10 — Tebasan Bayangan Berat
11
Ch. 11 — Perburuan
12
Ch. 12 — Raja Babi Hutan Berkulit Besi
13
Ch. 13 — Kalau Kau Menginginkannya, Ambil Sendiri
14
Ch. 14 — Hukum Rimba
15
Ch. 15 — Panen yang Luar Biasa
16
Ch. 16 — Pil yang Rasanya Tidak Enak!
17
Ch. 17 — Perburuan Sudah Mencapai Target
18
Ch. 18 — Sedikit Candaan
19
Ch. 19 — Peringatan dari Yun Bing
20
Ch. 20 — Nilai dari Sebuah Kekuatan
21
Ch. 21 — Mengapa Hanya ada Kau?
22
Ch. 22 — Jatuh Miskin
23
Ch. 23 — Jenius
24
Ch. 24 — Parasit
25
Ch. 25 — Pelelangan?
26
Ch. 26 — Menuju Kota Sungai Hijau
27
Ch. 27 — Penginapan Teratai Merah
28
Ch. 28 — Menyembunyikan Identitas
29
Ch. 29 — Jangan Uji Kesabaranku
30
Ch. 30 — Kesalahpahaman
31
Ch. 31 — Negoisasi
32
Ch. 32 — Riuh Sebelum Badai
33
Ch. 33 — Harga Sebuah Harapan
34
Ch. 34 — Permainan Penawaran Harga
35
Ch. 35 — Rencana dari Balik Layar
36
Ch. 36 — Umpan Sang Topeng Iblis
37
Ch. 37 — Rencana Penghapusan Dimulai!
38
Ch. 38 — Mantan Murid Pelayan Vs Jenius Sekte
39
Ch. 39 — Keserakahan
40
Ch. 40 — Tiga Kepala yang Menggelinding
41
Ch. 41 — Perencana Cerdik
42
Ch. 42 — Apa Aku Salah Dengar?
43
Ch. 43 — Pembalasan yang Sempurna

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!