Ch. 5 — Sekte Pedang Tiran

Sekte Pedang Tiran. Sekte itu adalah rival abadi dari Sekte Pedang Mendalam dan sekte ini merupakan sekte aliran hitam.

Jika ia ingin menghancurkan tempat yang telah memberinya neraka, apa cara yang lebih masuk akal selain menyusup dan memanfaatkan kekuatan serta sumber daya dari musuh bebuyutan mereka?

Perjalanan itu cukup singkat. Karena letak perbatasan kedua sekte raksasa ini saling berdempetan di wilayah pegunungan yang sama, hanya butuh waktu sekitar setengah jam bagi Huo Li untuk menembus hutan lebat dan tiba di tempat tujuan.

Di ujung jalan setapak, sebuah gerbang batu raksasa berlambang dua pedang bersilang menyambutnya dengan aura yang buas.

Di depannya, berdiri dua orang penjaga bertubuh tegap dengan tatapan mengintimidasi.

"Berhenti di sana, Gembel!" hardik salah satu penjaga, menyilangkan tombaknya dan menatap curiga pada jubah pelayan kusam yang dikenakan Huo Li. "Ini bukan tempat untuk meminta-minta!"

Huo Li menatap mereka dengan tenang. Ekspresinya datar tanpa riak kegugupan sedikit pun. "Aku datang untuk mendaftar menjadi murid," jawabnya singkat.

Kedua penjaga itu saling berpandangan sebelum meledak dalam tawa meremehkan. Namun, tawa mereka tercekik di tenggorokan pada detik berikutnya.

BUM!

Huo Li tidak membuang waktu berdebat. Ia memanipulasi Energi Surgawi di dalam dantian emasnya, menyamarkannya sedemikian rupa agar terasa seperti energi spiritual biasa, lalu melepaskan sedikit fluktuasi tekanan ke arah mereka.

Meski ranah kultivasi Surgawi Bintang 1 tahap puncaknya setara dengan Ranah Pembentukan Fondasi tahap puncak, ia tahu dengan sangat jelas, kemurnian dan ketebalan energi surgawinya berada di dimensi yang sama sekali berbeda dengan energi spiritual.

Desiran angin yang sangat berat mendadak menyapu debu di sekitar gerbang, menekan dada kedua penjaga itu bagai dihantam palu godam.

"Ugh?!"

Kedua penjaga itu terhuyung mundur, wajah mereka memucat.

"Apa ini!"

Mereka sendiri berada di Ranah Pembentukan Fondasi tahap puncak, namun tekanan murni dari pemuda berpakaian compang-camping di hadapan mereka membuat naluri bertahan hidup mereka menjerit.

Tubuh dan kepala mereka yang telah dilatih keras oleh hukum rimba dunia kultivasi segera bekerja. Pemuda ini mungkin berpakaian seperti pengemis, tetapi aura membunuh dan ketenangan di matanya membuktikan ia bukan orang sembarangan. Di sekte aliran hitam yang memuja kekuatan mutlak ini, menyinggung seorang genius gila yang sedang menyamar sama saja dengan mencari mati.

Penjaga yang tadi menghardik buru-buru menyingkir dan membuka jalan, menundukkan kepalanya sedikit.

"M-maafkan ketidaksopanan kami, Tuan Muda! Silakan masuk. Anda datang di waktu yang tepat. Hari ini adalah hari penerimaan murid Sekte Pedang Tiran kami. Anda bisa terus berjalan lurus kedepan. Disanalah Alun-alun penerimaan murid baru berada!"

Huo Li hanya mengangguk tipis dan melangkah masuk. 'Huh. Jadi seperti ini rasanya menjadi kuat dan dihormati. Ini cukup menyenangkan. Tapi aku juga tidak bisa pongah begitu saja. Sekte Pedang Tiran menyimpan banyak monster tua.' batinnya memperhitungkan.

Huo Li terus berjalan. Hingga akhirnya ia sampai di alun-alun aula luar.

Udara di atas alun-alun luas Sekte Pedang Tiran terasa padat oleh hiruk-pikuk ratusan orang. Ini adalah hari penerimaan murid baru, satu-satunya gerbang bagi rakyat jelata maupun anak-anak dari klan kecil untuk melangkah ke dunia kultivasi yang menjanjikan kekuasaan.

Di antara kerumunan pemuda-pemudi yang mengenakan pakaian sutra rapi atau zirah kulit yang bagus. Huo Li tampak menonjol layaknya noda kotor di atas kanvas putih.

Jubah pelayannya yang sobek, kusam, dan penuh bekas noda darah mengering membuatnya langsung menjadi pusat perhatian dan cemoohan.

"Hei, lihat gembel itu. Apakah dia salah masuk tempat?"

"Mungkin dia mengira ini tempat pembagian sisa makanan, hahaha!"

"Menjauh darinya, auranya yang kotor bisa merusak sirkulasi energi spiritual-ku."

Huo Li mendengar semuanya. Namun, ia menghiraukannya. Tetap setenang permukaan danau beku. Tidak ada kilat kemarahan di matanya, apalagi rasa malu. Matanya sibuk mengamati para peserta, menakar kekuatan rata-rata dari mereka yang kelak akan menjadi batu loncatannya. 'Mereka semua lemah, hanya da beberapa yang berada di Ranah Pembentukan Fondasi tahap puncak.'

Beberapa saat kemudian. Tiba-tiba, suhu di alun-alun anjlok drastis.

WUSHH!

Sebuah siluet hitam melesat dari atas atap dan mendarat dengan suara dentuman keras di atas panggung batu di depan mereka.

Debu mengepul, memperlihatkan seorang pria paruh baya berjubah hitam. Di punggungnya, sebuah pedang raksasa tanpa sarung memancarkan aura yang menekan dan sangat mengerikan.

Kehadirannya seketika membuat ratusan calon murid itu bungkam. Napas mereka seolah ditarik paksa dari paru-paru.

"I-itu... Tetua Gubang!" bisik seorang pemuda dari keluarga bangsawan dengan suara bergetar.

"Kudengar beliau telah meraih Ranah Lautan Spiritual sejak lama!"

"Sial! Apakah tetua pemarah itu akan menjadi penguji kita?!"

Di atas panggung, Tetua Gubang menyapu pandangannya ke seluruh lapangan. Matanya yang setajam elang menyipit melihat lautan manusia di bawahnya.

'Tcih, para anjing-anjing ini...' gumam Gubang dalam hati, menatap mereka dengan raut wajah tidak senang.

"DIAM!"

Raungan Gubang meledak, membawa gelombang kejut energi spiritual yang menyapu telinga semua orang.

"Jangan ada yang bergerak! Tegapkan badan kalian!"

Ratusan pemuda, termasuk Huo Li, segera berdiri tegap mengikuti instruksi tersebut.

"Bagus," Gubang mendengus. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang kejam.

Tanpa basa-basi khas kultivator aliran hitam, Gubang berteriak, "Namaku Gubang! Akulah yang akan menjadi penguji kalian!" Ia tersenyum misterius, "Sekarang... tahanlah tekanan dariku. Jika kalian bisa bertahan, maka kalian akan menjadi murid luar... tidak!" Ia berhenti sebentar, melihat calon-calon murid di depannya dengan tatapan setajam pedang, "Kalian akan menjadi murid dalam dan menjadi muridku!"

BOOM!

Pengumuman itu meledak bagai petir di telinga para peserta.

"A—apa!?"

"Yang benar saja?!"

Kerumunan yang tadinya tegang kini dilanda gelombang euforia. Menjadi murid langsung seorang Tetua di sekte sebesar Sekte Pedang Tiran adalah tiket emas menuju kekuasaan!

Namun, di belakang panggung, salah seorang pengelola sekte yang mendampingi Gubang terbelalak kaget. Ia bergegas maju setengah berbisik dengan nada panik.

"Tetua?! Apa yang Anda lakukan? Ini bukan prosedur yang seharusnya!" bisik pria itu cemas dan tersembunyi rasa takut.

"Bagaimana mungkin anak-anak baru ini bisa bertahan dari tekanan milik kultivator Ranah Lautan Spiritual seperti Anda? Tulang mereka bisa hancur!"

Gubang mencondongkan tubuhnya dan membalas bisikan itu dengan suara yang sedingin es.

"Tenang saja. Aku akan mengatur kekuatanku. Untuk kelanjutannya... aku yang akan menghadapi amarah Ketua Sekte nanti."

"Lagipula, kau tahu sendiri sekte kita saat ini sedang kekurangan sumber daya. Tidak mungkin kita menerima cecunguk-cecunguk lemah ini dan memberi mereka makan secara gratis." ujarnya tegas disertai senyum tipis tersembunyi. "Biarkan yang lemah patah hari ini."

Mendengar jawaban tersebut, pengelola sekte itu hanya bisa terdiam tanpa ada penolakan sama sekali.

Di lapangan, para peserta mulai tersenyum angkuh dan saling sikut.

Mereka menganggap hal ini hanyalah formalitas pendaftaran belaka, ujian ketahanan mental biasa; mana mungkin sebuah sekte benar-benar melukai calon muridnya sendiri?

Tetapi Huo Li tidak berpikiran naif seperti mereka. Insting bertahan hidupnya yang terasah dari bertahun-tahun menjadi samsak hidup menangkap niat membunuh yang nyata.

Begitu ia melihat sorot mata dingin Tetua Gubang, Huo Li tahu pria itu sama sekali tidak bercanda. Orang tua ini benar-benar berniat meremukkan mereka.

Sementara yang lain sibuk berteori dan menyombongkan diri, Huo Li diam-diam menutup matanya sejenak. Ia menyebarkan Energi Surgawi murni dari dantiannya, mengalirkannya secara senyap untuk melapisi organ dalam, tulang, dan merapatkan otot-ototnya hingga sekeras baja, bersiap menghadapi benturan.

'Tetua itu memiliki niat tersembunyi.' batin Huo Li menilai cepat.

Di atas panggung, Tetua Gubang mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Matanya berkilat buas. "Para anak anjing! Tahanlah ini!"

GELAGARRR!

Udara di atas alun-alun seketika terdistorsi. Energi spiritual yang masif berkumpul dalam sekejap mata, membentuk sebuah manifestasi Telapak Tangan Raksasa transparan yang menutupi langit.

Bahkan sebelum telapak tangan raksasa itu bergerak turun menghantam mereka, tekanan gravitasi yang luar biasa mematikan telah jatuh meremukkan bumi!

KRAK!

KRAK!

Lantai batu pijakan mereka retak serentak, dan jeritan kepanikan baru saja akan meledak dari ratusan mulut yang tak siap menghadapi teror kematian.

"Kughh!!! Sialan! Dia berniat membunuh kita!"

Terpopuler

Comments

Raju

Raju

sekte aliran hitam...
bukan kaleng kalenk....!!
yg g kuat. mencret...

2026-08-25

0

y@y@

y@y@

⭐👍🏼👍🏾👍🏼⭐

2026-08-17

0

lihat semua
Episodes
1 Ch. 1 — Huo Li
2 Ch. 2 — Sang Penyelamat
3 Ch. 3 — Janji
4 Ch. 4 — Metamorfosis
5 Ch. 5 — Sekte Pedang Tiran
6 Ch. 6 — Puncak Pedang Kedua
7 Ch. 7 — Memahami Makna
8 Ch. 8 — Langkah Pemutus Nadi
9 Ch. 9 — Ujian Latih Tanding
10 Ch. 10 — Tebasan Bayangan Berat
11 Ch. 11 — Perburuan
12 Ch. 12 — Raja Babi Hutan Berkulit Besi
13 Ch. 13 — Kalau Kau Menginginkannya, Ambil Sendiri
14 Ch. 14 — Hukum Rimba
15 Ch. 15 — Panen yang Luar Biasa
16 Ch. 16 — Pil yang Rasanya Tidak Enak!
17 Ch. 17 — Perburuan Sudah Mencapai Target
18 Ch. 18 — Sedikit Candaan
19 Ch. 19 — Peringatan dari Yun Bing
20 Ch. 20 — Nilai dari Sebuah Kekuatan
21 Ch. 21 — Mengapa Hanya ada Kau?
22 Ch. 22 — Jatuh Miskin
23 Ch. 23 — Jenius
24 Ch. 24 — Parasit
25 Ch. 25 — Pelelangan?
26 Ch. 26 — Menuju Kota Sungai Hijau
27 Ch. 27 — Penginapan Teratai Merah
28 Ch. 28 — Menyembunyikan Identitas
29 Ch. 29 — Jangan Uji Kesabaranku
30 Ch. 30 — Kesalahpahaman
31 Ch. 31 — Negoisasi
32 Ch. 32 — Riuh Sebelum Badai
33 Ch. 33 — Harga Sebuah Harapan
34 Ch. 34 — Permainan Penawaran Harga
35 Ch. 35 — Rencana dari Balik Layar
36 Ch. 36 — Umpan Sang Topeng Iblis
37 Ch. 37 — Rencana Penghapusan Dimulai!
38 Ch. 38 — Mantan Murid Pelayan Vs Jenius Sekte
39 Ch. 39 — Keserakahan
40 Ch. 40 — Tiga Kepala yang Menggelinding
41 Ch. 41 — Perencana Cerdik
42 Ch. 42 — Apa Aku Salah Dengar?
43 Ch. 43 — Pembalasan yang Sempurna
Episodes

Updated 43 Episodes

1
Ch. 1 — Huo Li
2
Ch. 2 — Sang Penyelamat
3
Ch. 3 — Janji
4
Ch. 4 — Metamorfosis
5
Ch. 5 — Sekte Pedang Tiran
6
Ch. 6 — Puncak Pedang Kedua
7
Ch. 7 — Memahami Makna
8
Ch. 8 — Langkah Pemutus Nadi
9
Ch. 9 — Ujian Latih Tanding
10
Ch. 10 — Tebasan Bayangan Berat
11
Ch. 11 — Perburuan
12
Ch. 12 — Raja Babi Hutan Berkulit Besi
13
Ch. 13 — Kalau Kau Menginginkannya, Ambil Sendiri
14
Ch. 14 — Hukum Rimba
15
Ch. 15 — Panen yang Luar Biasa
16
Ch. 16 — Pil yang Rasanya Tidak Enak!
17
Ch. 17 — Perburuan Sudah Mencapai Target
18
Ch. 18 — Sedikit Candaan
19
Ch. 19 — Peringatan dari Yun Bing
20
Ch. 20 — Nilai dari Sebuah Kekuatan
21
Ch. 21 — Mengapa Hanya ada Kau?
22
Ch. 22 — Jatuh Miskin
23
Ch. 23 — Jenius
24
Ch. 24 — Parasit
25
Ch. 25 — Pelelangan?
26
Ch. 26 — Menuju Kota Sungai Hijau
27
Ch. 27 — Penginapan Teratai Merah
28
Ch. 28 — Menyembunyikan Identitas
29
Ch. 29 — Jangan Uji Kesabaranku
30
Ch. 30 — Kesalahpahaman
31
Ch. 31 — Negoisasi
32
Ch. 32 — Riuh Sebelum Badai
33
Ch. 33 — Harga Sebuah Harapan
34
Ch. 34 — Permainan Penawaran Harga
35
Ch. 35 — Rencana dari Balik Layar
36
Ch. 36 — Umpan Sang Topeng Iblis
37
Ch. 37 — Rencana Penghapusan Dimulai!
38
Ch. 38 — Mantan Murid Pelayan Vs Jenius Sekte
39
Ch. 39 — Keserakahan
40
Ch. 40 — Tiga Kepala yang Menggelinding
41
Ch. 41 — Perencana Cerdik
42
Ch. 42 — Apa Aku Salah Dengar?
43
Ch. 43 — Pembalasan yang Sempurna

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!