Bab 2 — Keberangkatan

Adrian menatap layar sistem yang masih terbuka di hadapannya.

[Kontrak Project Black Horizon berhasil diterima.]

[Waktu menuju keberangkatan: 16 jam 42 menit.]

Adrian menghela napas.

“Cepat juga.”

Dia tidak menyangka sistem akan langsung mengatur keberangkatannya.

Namun setidaknya satu masalah sudah selesai.

Transportasi, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar selama menjalankan kontrak akan disediakan oleh pihak yang merekrutnya.

Adrian hanya perlu menyiapkan dirinya sendiri.

Dia menutup layar.

“Kalau begitu, pulang dulu.”

 

Malam itu, Adrian tidak banyak membuang waktu.

Begitu sampai di rumah, dia langsung mengambil tas besar yang biasa digunakan untuk bepergian.

Pakaian.

Perlengkapan mandi.

Charger.

Power bank.

Beberapa obat ringan.

Dan tentu saja makanan.

Adrian memasukkan semuanya satu per satu.

Dia tidak tahu seperti apa kondisi tempat yang akan didatanginya nanti. Daripada menyesal karena tidak membawa sesuatu yang dibutuhkan, lebih baik bersiap sedikit berlebihan.

Setelah selesai, Adrian menatap tas yang sudah penuh.

“Cukup.”

Dia mengangkatnya.

Berat.

Tapi masih bisa dibawa.

Baru setelah semuanya siap, Adrian teringat satu orang yang belum dia beri tahu.

Ibunya.

Adrian mengambil ponsel dan membuka percakapan yang paling sering muncul di daftar pesan.

Dia berpikir beberapa saat sebelum mulai mengetik.

> Bu, Adrian dapat pekerjaan sementara. Besok harus pergi ke luar negeri beberapa hari.

Dia berhenti.

Kemudian menghapus kalimat itu.

“Kalau bilang luar negeri, pasti langsung ditanya macam-macam.”

Adrian mengetik ulang.

> Bu, Adrian dapat pekerjaan sementara di perusahaan luar. Tempat tinggal dan makan ditanggung. Kerjanya cuma beberapa hari, setelah itu Adrian pulang.

Kali ini dia tidak menghapusnya.

Dia mengirim pesan tersebut.

Tidak sampai satu menit, balasan masuk.

> Hati-hati. Jangan lupa makan. Kalau sudah sampai, kabari Ibu.

Adrian tersenyum.

Rasa bersalah langsung muncul.

“Maaf, Bu.”

Dia tidak mungkin menjelaskan bahwa pekerjaan sementaranya berada di wilayah yang sedang mengalami konflik.

Kalau ibunya tahu, jangan-jangan tiket pesawatnya malah dibatalkan sebelum dia berangkat.

Adrian mematikan layar ponsel.

“Setelah pulang nanti, aku jelaskan.”

 

Keesokan harinya, Adrian menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mempersiapkan keberangkatan.

Dokumen perjalanan sudah tersedia di dalam sistem.

Tiket elektronik juga sudah masuk ke perangkatnya.

Bahkan hotel dan kendaraan dari bandara menuju lokasi sudah tercantum dalam informasi perjalanan.

Semuanya terlalu mudah.

Justru itu yang membuat Adrian sedikit waspada.

“Semoga nggak ada kejutan.”

Malam tiba.

Adrian berangkat menuju bandara.

 

Ruang tunggu penerbangan internasional cukup ramai.

Adrian duduk di sudut ruangan sambil memeriksa informasi Project Black Horizon sekali lagi.

Layar sistem muncul tanpa suara.

[PROJECT BLACK HORIZON]

Durasi: 72 jam.

Lokasi: Kota Darsen, Negara Varelia.

Posisi: Staf pendukung keamanan.

Persyaratan: Tidak membutuhkan pengalaman tempur.

Adrian menggulir layar.

Kali ini informasi yang muncul lebih lengkap.

[Wilayah operasi saat ini berada dalam kondisi tidak stabil.]

[Beberapa kelompok bersenjata aktif di sekitar area operasi.]

[Unit yang merekrut pengguna membutuhkan tambahan personel untuk menjaga perimeter luar.]

Adrian mengusap dagunya.

“Jadi tugasku sebenarnya cuma menjaga perimeter?”

[Benar.]

“Dan tidak perlu pengalaman tempur?”

[Benar.]

Adrian mengangguk pelan.

“Kalau begitu, seharusnya tidak terlalu sulit.”

Sistem tidak memberikan jawaban.

Adrian menatap layar.

“Kok diam?”

Beberapa detik kemudian muncul satu kalimat.

[Informasi lengkap akan diberikan setelah pengguna tiba di lokasi.]

Adrian menghela napas.

“Sudah kuduga.”

Dia mematikan sistem.

Tidak lama kemudian, pengumuman keberangkatan terdengar.

Penumpang diminta menuju gerbang pemeriksaan.

Adrian berdiri dan mengangkat tasnya.

Sebelum berjalan, dia sempat melihat ponselnya sekali lagi.

Tidak ada pesan baru dari ibunya.

Adrian tersenyum kecil.

“Kalau sudah sampai, aku kabari.”

Dia memasukkan ponsel ke saku.

Lalu berjalan menuju gerbang.

 

Beberapa saat kemudian, Adrian melewati pemeriksaan terakhir.

Begitu kakinya memasuki lorong menuju pesawat—

TING!

Suara sistem terdengar.

Layar transparan muncul di depan matanya.

[Pengguna telah resmi memulai perjalanan menuju lokasi kontrak.]

Adrian berhenti.

Matanya langsung tertuju pada pemberitahuan berikutnya.

[Syarat aktivasi Paket Pemula telah terpenuhi.]

Adrian tersenyum.

“Nah, ini yang dari tadi kutunggu.”

Layar berubah.

[Paket Pemula sedang dibuka.]

Satu demi satu hadiah muncul.

[Selamat! Pengguna memperoleh kemampuan: Mastery Senjata Api.]

Adrian membeku.

“...Apa?”

Belum sempat dia mencerna hadiah pertama, pemberitahuan berikutnya muncul.

[Pengguna memperoleh peningkatan fisik: Basic Super Serum.]

[Pengguna memperoleh kemampuan tempur: Survival Combat.]

Adrian mulai serius.

Kemudian hadiah terakhir muncul.

[Pengguna memperoleh ruang penyimpanan khusus: Infinite Supply.]

[Ruang penyimpanan dapat digunakan untuk menyimpan perlengkapan yang diizinkan sistem.]

Adrian menatap layar tanpa berkedip.

Kemampuan menguasai senjata api.

Peningkatan fisik.

Kemampuan bertarung.

Ruang penyimpanan khusus.

“Ini baru namanya paket pemula.”

Senyum muncul di wajahnya.

Setidaknya sekarang dia memiliki sedikit modal untuk menghadapi pekerjaan pertamanya.

Namun sebelum Adrian sempat mencoba apa pun—

Tubuhnya tiba-tiba terasa panas.

“Hm?”

Rasa hangat muncul dari dalam tubuhnya.

Awalnya hanya seperti aliran udara panas.

Namun dalam beberapa detik, sensasinya semakin kuat.

Dari dada, rasa hangat itu menyebar ke bahu, kedua lengan, punggung, lalu turun hingga ke kaki.

Adrian mengepalkan tangannya.

Otot-ototnya terasa menegang.

Napasnya menjadi lebih dalam.

[Peningkatan fisik sedang berlangsung.]

[Mohon tetap tenang.]

Adrian menarik napas perlahan.

“Aku tenang.”

Meski sebenarnya jantungnya berdetak jauh lebih cepat.

Beberapa detik kemudian, rasa panas itu perlahan menghilang.

Adrian membuka dan menutup telapak tangannya.

Tidak ada perubahan yang terlihat.

Namun tubuhnya terasa berbeda.

Lebih ringan.

Lebih kuat.

Dan yang paling aneh...

Dia merasa seolah-olah seluruh tubuhnya baru saja mendapatkan energi baru.

Adrian menatap layar sistem.

“Jadi ini efek hadiah tadi?”

[Peningkatan fisik berhasil.]

[Kemampuan telah terintegrasi.]

Adrian tersenyum.

Pesawat sudah menunggu di ujung lorong.

Dia memasukkan kedua tangan ke saku jaket.

“Baiklah.”

Adrian melangkah menuju pesawat.

“Kalau begitu, mari kita lihat sebenarnya pekerjaan seperti apa yang sudah menungguku.”

Di balik kaca besar bandara, pesawat perlahan bersiap untuk lepas landas.

Adrian tidak tahu apa yang akan terjadi setelah dia tiba di Darsen.

Namun satu hal sudah berubah.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak lagi berangkat mencari pekerjaan.

Dia berangkat menuju kehidupan yang sama sekali berbeda.

Episodes
1 Bab 1 — Pekerjaan Musim Panas
2 Bab 2 — Keberangkatan
3 Bab 3 — Celana Pendek dan Sandal Jepit
4 Bab 4 — Bukankah Kita Harus Menandatangani Kontrak Kerja?
5 Bab 5 — Tidak Berniat Membayar Gaji?
6 Bab 6 — Malam Hari Harus Ada Uang Lembur, Kan?
7 Bab 7 — Buang Air Saat Jam Kerja Tetap Dibayar
8 Bab 8 — Menyerbu Markas Musuh Seorang Diri
9 Bab 9 — Tertawa? Kenapa Sekarang Diam?
10 Bab 10 — Seumur Hidup, Aku Tidak Akan Pernah Lembur
11 Bab 11 — Brankas
12 Bab 12 — Mau Mangkir Bayar?
13 Bab 13 — Menuju Markas Black Fox
14 Bab 14 — Anggap Saja Seratus Ribu Dolar
15 BAB 15 — BURONAN KELAS S
16 Bab 16 — Mau Mati! Masih Mikir Bonus Kinerja?!
17 Bab 17 — Bersiap
18 Bab 18 — Sang Pemilik Helm Merah Muda Datang!
19 Bab 19 — Jangan Menghalangi Jalan
20 Bab 20 — Menghindari Peluru dengan Mata Terpejam, Menembak AK dengan Satu Tangan
21 Bab 21 — Kendaraan Lapis Baja Datang?, akanku ledakan
22 Bab 22 — Aku Cuma Pekerja Musiman
23 Bab 23 — Waktu Misi Hampir Habis
24 Bab 24: Serangan ke Markas Blood Viper
25 Bab 25 — Baru Sekarang Dimulai
26 Bab 26 — Pemimpin Blood Viper Kabur Diam-Diam
27 Bab 27 — Markas Mau Meledak? Tunggu, Saya Ambil Sisa Bayaran Dulu!
28 Bab 28 — Mbak Wartawan, Tolong Kasih Bintang Lima
29 Bab 29 — Sinyal Sejelek Ini Mau Main Apa? ( Bab bonus )
30 Bab 30 - Misi Tingkat SSS
31 BAB 31 — GELOMBANG KEDUA
32 BAB 32 — INFORMASINYA SALAH. DIA BUKAN ORANG BIASA!
33 Pengumuman Author
34 BAB 33 — SENJATA MANUSIA
35 BAB 34 — TEMBAKAN BUTA BARRETT
36 BAB 35 — ASTAGA! TAS KARUNG INI ISINYA GUDANG SENJATA?!
37 BAB 36 — Laptopku ......tidak!!!!
38 BAB 37 — Membalikan Keadaan
39 BAB 38 — KEJAR-KEJARAN DI UJUNG MAUT
40 BAB 39 — TEMBAK JATUH PESAWAT
41 BAB 40 — PEMBAYARAN MISI BERUNTUN!
42 BAB 41 — ADRIAN, ASET NASIONAL KELAS SATU!
43 BAB 42 — GAJINYA DIBEKUKAN?
44 BAB 43 — TUJUH MARKAS, SATU TARGET
45 BAB 44 — KENDARAAN DINAS DARI HASIL “OPERASI PENAGIHAN”
46 BAB 45 — MARKAS IRON SCORPION: GAJI YANG DITAGIH DENGAN KEKERASAN
47 BAB 46 — RAMPASAN HASIL KERJA: SATU PUN TAK BOLEH TERSISA
48 BAB 47 — SEMAKIN MEREKA BERKUMPUL, SEMAKIN MUDAH AKU MENEMUKAN MEREKA
49 BAB 48 — Roda Keberuntungan dan Awal Amukan Sang Asura
50 Bab 49 - Layaknya Tubuh Vajra
51 Bab 50 — Kekuatan Api Tanpa Batas
52 Bab 51 — Kalau Saja Kalian Tidak Membekukan Rekeningku
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Bab 1 — Pekerjaan Musim Panas
2
Bab 2 — Keberangkatan
3
Bab 3 — Celana Pendek dan Sandal Jepit
4
Bab 4 — Bukankah Kita Harus Menandatangani Kontrak Kerja?
5
Bab 5 — Tidak Berniat Membayar Gaji?
6
Bab 6 — Malam Hari Harus Ada Uang Lembur, Kan?
7
Bab 7 — Buang Air Saat Jam Kerja Tetap Dibayar
8
Bab 8 — Menyerbu Markas Musuh Seorang Diri
9
Bab 9 — Tertawa? Kenapa Sekarang Diam?
10
Bab 10 — Seumur Hidup, Aku Tidak Akan Pernah Lembur
11
Bab 11 — Brankas
12
Bab 12 — Mau Mangkir Bayar?
13
Bab 13 — Menuju Markas Black Fox
14
Bab 14 — Anggap Saja Seratus Ribu Dolar
15
BAB 15 — BURONAN KELAS S
16
Bab 16 — Mau Mati! Masih Mikir Bonus Kinerja?!
17
Bab 17 — Bersiap
18
Bab 18 — Sang Pemilik Helm Merah Muda Datang!
19
Bab 19 — Jangan Menghalangi Jalan
20
Bab 20 — Menghindari Peluru dengan Mata Terpejam, Menembak AK dengan Satu Tangan
21
Bab 21 — Kendaraan Lapis Baja Datang?, akanku ledakan
22
Bab 22 — Aku Cuma Pekerja Musiman
23
Bab 23 — Waktu Misi Hampir Habis
24
Bab 24: Serangan ke Markas Blood Viper
25
Bab 25 — Baru Sekarang Dimulai
26
Bab 26 — Pemimpin Blood Viper Kabur Diam-Diam
27
Bab 27 — Markas Mau Meledak? Tunggu, Saya Ambil Sisa Bayaran Dulu!
28
Bab 28 — Mbak Wartawan, Tolong Kasih Bintang Lima
29
Bab 29 — Sinyal Sejelek Ini Mau Main Apa? ( Bab bonus )
30
Bab 30 - Misi Tingkat SSS
31
BAB 31 — GELOMBANG KEDUA
32
BAB 32 — INFORMASINYA SALAH. DIA BUKAN ORANG BIASA!
33
Pengumuman Author
34
BAB 33 — SENJATA MANUSIA
35
BAB 34 — TEMBAKAN BUTA BARRETT
36
BAB 35 — ASTAGA! TAS KARUNG INI ISINYA GUDANG SENJATA?!
37
BAB 36 — Laptopku ......tidak!!!!
38
BAB 37 — Membalikan Keadaan
39
BAB 38 — KEJAR-KEJARAN DI UJUNG MAUT
40
BAB 39 — TEMBAK JATUH PESAWAT
41
BAB 40 — PEMBAYARAN MISI BERUNTUN!
42
BAB 41 — ADRIAN, ASET NASIONAL KELAS SATU!
43
BAB 42 — GAJINYA DIBEKUKAN?
44
BAB 43 — TUJUH MARKAS, SATU TARGET
45
BAB 44 — KENDARAAN DINAS DARI HASIL “OPERASI PENAGIHAN”
46
BAB 45 — MARKAS IRON SCORPION: GAJI YANG DITAGIH DENGAN KEKERASAN
47
BAB 46 — RAMPASAN HASIL KERJA: SATU PUN TAK BOLEH TERSISA
48
BAB 47 — SEMAKIN MEREKA BERKUMPUL, SEMAKIN MUDAH AKU MENEMUKAN MEREKA
49
BAB 48 — Roda Keberuntungan dan Awal Amukan Sang Asura
50
Bab 49 - Layaknya Tubuh Vajra
51
Bab 50 — Kekuatan Api Tanpa Batas
52
Bab 51 — Kalau Saja Kalian Tidak Membekukan Rekeningku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!