Sistem Pekerja Super

Sistem Pekerja Super

Bab 1 — Pekerjaan Musim Panas

Surabaya, awal musim kemarau.

Pukul sebelas lewat dua puluh malam.

Adrian Wijaya berdiri di depan sebuah gudang logistik dengan pakaian yang sudah basah oleh keringat.

Kedua tangannya masih memegang kardus besar. Telapak tangannya terasa panas meski sejak siang dia sudah mengenakan sarung tangan kerja.

Hari itu seharusnya menjadi hari terakhirnya.

Seharusnya.

“Adrian!”

Suara mandor terdengar dari dalam gudang.

Adrian berhenti dan menoleh.

“Masih ada satu truk. Bantu sampai selesai.”

Adrian melirik jam di ponselnya.

Sudah pukul sebelas lewat dua puluh.

“Pak, bukannya jam kerja sudah selesai?”

Mandor mengangkat bahu.

“Kalau mau dapat uang tambahan, lanjut.”

“Kalau saya nggak lanjut?”

“Besok belum tentu saya kasih jadwal.”

Adrian terdiam.

Dia tahu betul maksud ucapan itu.

Kalau menolak, pekerjaannya bisa saja diberikan kepada orang lain.

Akhirnya Adrian menghela napas.

“Baiklah.”

Dia kembali masuk ke gudang.

 

Dua jam kemudian, truk terakhir akhirnya selesai dibongkar.

Adrian duduk di pinggir gudang sambil meneguk air mineral.

Tubuhnya benar-benar lelah.

Dia mengambil ponsel dan membuka aplikasi perbankan.

Begitu melihat saldo rekeningnya, Adrian hanya bisa tersenyum pahit.

“Cuma segini?”

Sudah hampir dua bulan dia bekerja serabutan selama liburan.

Dia pernah menjadi pelayan restoran, mengantar barang, membantu di gudang, bahkan menjaga stan di sebuah acara.

Semua pekerjaan itu melelahkan.

Namun uang yang terkumpul tetap tidak seberapa.

Padahal Adrian sedang menabung untuk membeli laptop.

Bukan untuk sekadar bergaya.

Sebentar lagi dia mulai kuliah dan membutuhkan laptop yang cukup bagus untuk mengerjakan tugas-tugasnya.

Masalahnya, laptop yang dia incar harganya jauh di atas kemampuan keuangannya sekarang.

“Kalau begini terus, kapan bisa terkumpul?”

Adrian memasukkan ponselnya ke saku.

Dia berdiri, mengambil tas, lalu berjalan keluar dari halaman gudang.

“Besok cari pekerjaan lain saja.”

Setidaknya dia tidak perlu lagi berurusan dengan mandor yang suka meminta lembur tanpa kejelasan bayaran.

Malam itu jalanan masih cukup ramai.

Adrian berjalan menyusuri trotoar sambil memikirkan pekerjaan apa yang bisa memberinya penghasilan lebih besar.

Tiba-tiba—

TING!

Adrian berhenti.

Dia menoleh ke belakang.

Tidak ada apa-apa.

“Suara apa tadi?”

Beberapa detik kemudian—

TING!

Kali ini suara itu terdengar lebih jelas.

Bukan berasal dari ponselnya.

Bukan pula dari lingkungan sekitar.

Suara itu seolah-olah muncul langsung di dalam kepalanya.

Adrian mengernyit.

“Jangan-jangan aku terlalu capek.”

Tiba-tiba sebuah layar transparan muncul di depan matanya.

Adrian refleks mundur selangkah.

“Apa...?”

Layar itu melayang di udara.

Warnanya biru transparan dan hanya bisa dilihat oleh Adrian.

Beberapa tulisan muncul satu per satu.

[Pemeriksaan selesai.]

[Kondisi pengguna memenuhi persyaratan.]

[Sistem Pekerja Super berhasil diaktifkan.]

Adrian berdiri terpaku.

“Pekerja Super?”

Dia melihat ke kanan dan kiri.

Seorang pengendara motor melewatinya tanpa menoleh.

Orang-orang di trotoar juga berjalan seperti biasa.

Tidak ada seorang pun yang memperhatikan layar aneh di hadapannya.

Adrian perlahan mengangkat tangan.

Jarinya menyentuh layar.

Tidak ada benda fisik yang terasa di ujung jarinya, tetapi layar tersebut langsung merespons gerakannya.

[Selamat datang.]

[Sistem Pekerja Super menyediakan berbagai pekerjaan khusus dengan bayaran sesuai tingkat kesulitan.]

[Setiap pekerjaan yang berhasil diselesaikan akan memberikan kompensasi serta hadiah tambahan.]

Adrian membaca tulisan itu sekali lagi.

Kemudian dia tertawa kecil.

“Ini serius?”

Dia sudah membaca banyak cerita tentang sistem seperti ini.

Namun semuanya hanya cerita.

Tidak pernah terpikir olehnya bahwa suatu hari dia akan mengalami hal seperti ini sendiri.

Adrian mencoba bertanya.

“Kalau begitu, apa yang bisa kamu lakukan?”

Layar berubah.

Sebuah kolom pencarian muncul.

[Masukkan jenis pekerjaan yang diinginkan.]

Adrian berpikir sebentar.

Kemudian mengetik:

Pekerjaan sementara dengan bayaran tinggi.

Hasil pencarian langsung muncul.

[Petugas keamanan acara — Rp700.000/hari]

[Pengantar barang jarak jauh — Rp1.500.000/hari]

[Asisten teknisi lapangan — Rp2.000.000/hari]

Adrian membaca satu per satu.

“Lumayan.”

Namun dia belum puas.

Dia mengubah pencarian.

Bayaran minimal Rp10.000.000 per hari.

Daftar pekerjaan langsung berkurang drastis.

Beberapa detik kemudian, hanya tersisa tiga pilihan.

[Pengawal pribadi — Rp12.000.000/hari]

[Teknisi lapangan di lokasi terpencil — Rp20.000.000/hari]

[Personel pendukung proyek keamanan — Rp30.000.000/hari]

Adrian mengangkat alis.

“Yang terakhir menarik.”

Dia membuka detail pekerjaannya.

Namun baru beberapa detik membaca persyaratannya, Adrian langsung menutupnya.

Dibutuhkan pengalaman di bidang keamanan.

Dia tidak memiliki pengalaman seperti itu.

Adrian kembali ke halaman utama.

“Berarti pekerjaan dengan bayaran tinggi memang tidak mudah.”

Dia hampir menyerah.

Namun sebuah tulisan berwarna merah tiba-tiba muncul di bagian bawah layar.

[Pekerjaan Khusus Tersedia.]

Adrian menatap tulisan itu.

“Apa itu?”

Dia menekannya.

Layar berubah.

Tidak banyak informasi yang ditampilkan.

Hanya sebuah kontrak singkat.

 

PROJECT BLACK HORIZON

Durasi: 72 jam.

Lokasi: Negara asing.

Posisi: Staf pendukung keamanan.

Persyaratan khusus: Tidak diperlukan pengalaman tempur.

Kompensasi: Rp500.000.000.

Fasilitas: Transportasi, makanan, dan tempat tinggal disediakan.

Bonus penyelesaian: Kemampuan Prediksi Krisis Dasar]

 

Adrian terdiam.

Setengah miliar.

Untuk tiga hari.

Dia membaca kembali informasi tersebut.

Tidak salah.

Memang Rp500 juta.

Namun lokasi pekerjaan berada di negara asing dan posisinya berkaitan dengan keamanan.

Jelas bukan pekerjaan biasa.

“Lima ratus juta untuk tiga hari...”

Adrian mengusap dagunya.

Kalau menerima pekerjaan itu, target tabungannya bukan hanya tercapai.

Dia bahkan bisa membeli laptop yang diinginkannya dan masih memiliki banyak uang tersisa.

Tetapi ada satu masalah.

“Kenapa mereka mau membayar sebesar ini untuk orang tanpa pengalaman?”

Adrian menatap layar dengan hati-hati.

Sistem memberikan jawaban.

[Karena tingkat kesulitan pekerjaan tinggi.]

[Risiko menjadi tanggung jawab pengguna.]

Adrian kembali terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak sistem muncul, dia sadar bahwa ini bukan sekadar keberuntungan.

Pekerjaan itu pasti berbahaya.

Sangat berbahaya.

Namun justru karena itulah bayarannya begitu besar.

Adrian memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

Dia menatap jalanan di depannya.

Kalau menolak, besok dia kembali mencari pekerjaan dengan bayaran ratusan ribu rupiah per hari.

Kalau menerima...

Hidupnya mungkin berubah.

Atau justru menjadi jauh lebih rumit.

Adrian tersenyum tipis.

“Kalau cuma takut, kapan bisa maju?”

Dia kembali menatap layar.

Sebuah pertanyaan muncul.

[Apakah Anda menerima kontrak Project Black Horizon?]

Di bawahnya terdapat dua pilihan.

[TERIMA]

[TOLAK]

Adrian mengangkat jarinya.

Kali ini dia tidak ragu.

Tek.

[Kontrak diterima.]

Layar langsung berubah.

[Persiapan keberangkatan dimulai.]

[Waktu menuju lokasi: 16 jam 42 menit.]

Senyum Adrian langsung menghilang.

“...Tunggu.”

Dia membaca angka itu sekali lagi.

“Enam belas jam?”

Adrian menatap pakaian yang dikenakannya.

Kemudian melihat tas kecil di tangannya.

Dia bahkan belum menyiapkan pakaian.

Belum tahu harus pergi ke negara mana.

Dan yang paling penting—

Dia bahkan belum tahu pekerjaan apa yang sebenarnya akan dia lakukan.

Adrian mengusap wajah.

“Sepertinya aku baru saja membuat keputusan yang agak gila.”

Layar kembali menampilkan satu kalimat.

[Selamat datang di dunia pekerjaan khusus.]

Adrian menatap tulisan itu.

Tanpa dia sadari, keputusan malam itu akan menjadi awal dari kehidupan yang sama sekali berbeda.

Dan pekerjaan tiga hari dengan bayaran Rp500 juta itu hanyalah kontrak pertamanya.

Episodes
1 Bab 1 — Pekerjaan Musim Panas
2 Bab 2 — Keberangkatan
3 Bab 3 — Celana Pendek dan Sandal Jepit
4 Bab 4 — Bukankah Kita Harus Menandatangani Kontrak Kerja?
5 Bab 5 — Tidak Berniat Membayar Gaji?
6 Bab 6 — Malam Hari Harus Ada Uang Lembur, Kan?
7 Bab 7 — Buang Air Saat Jam Kerja Tetap Dibayar
8 Bab 8 — Menyerbu Markas Musuh Seorang Diri
9 Bab 9 — Tertawa? Kenapa Sekarang Diam?
10 Bab 10 — Seumur Hidup, Aku Tidak Akan Pernah Lembur
11 Bab 11 — Brankas
12 Bab 12 — Mau Mangkir Bayar?
13 Bab 13 — Menuju Markas Black Fox
14 Bab 14 — Anggap Saja Seratus Ribu Dolar
15 BAB 15 — BURONAN KELAS S
16 Bab 16 — Mau Mati! Masih Mikir Bonus Kinerja?!
17 Bab 17 — Bersiap
18 Bab 18 — Sang Pemilik Helm Merah Muda Datang!
19 Bab 19 — Jangan Menghalangi Jalan
20 Bab 20 — Menghindari Peluru dengan Mata Terpejam, Menembak AK dengan Satu Tangan
21 Bab 21 — Kendaraan Lapis Baja Datang?, akanku ledakan
22 Bab 22 — Aku Cuma Pekerja Musiman
23 Bab 23 — Waktu Misi Hampir Habis
24 Bab 24: Serangan ke Markas Blood Viper
25 Bab 25 — Baru Sekarang Dimulai
26 Bab 26 — Pemimpin Blood Viper Kabur Diam-Diam
27 Bab 27 — Markas Mau Meledak? Tunggu, Saya Ambil Sisa Bayaran Dulu!
28 Bab 28 — Mbak Wartawan, Tolong Kasih Bintang Lima
29 Bab 29 — Sinyal Sejelek Ini Mau Main Apa? ( Bab bonus )
30 Bab 30 - Misi Tingkat SSS
31 BAB 31 — GELOMBANG KEDUA
32 BAB 32 — INFORMASINYA SALAH. DIA BUKAN ORANG BIASA!
33 Pengumuman Author
34 BAB 33 — SENJATA MANUSIA
35 BAB 34 — TEMBAKAN BUTA BARRETT
36 BAB 35 — ASTAGA! TAS KARUNG INI ISINYA GUDANG SENJATA?!
37 BAB 36 — Laptopku ......tidak!!!!
38 BAB 37 — Membalikan Keadaan
39 BAB 38 — KEJAR-KEJARAN DI UJUNG MAUT
40 BAB 39 — TEMBAK JATUH PESAWAT
41 BAB 40 — PEMBAYARAN MISI BERUNTUN!
42 BAB 41 — ADRIAN, ASET NASIONAL KELAS SATU!
43 BAB 42 — GAJINYA DIBEKUKAN?
44 BAB 43 — TUJUH MARKAS, SATU TARGET
45 BAB 44 — KENDARAAN DINAS DARI HASIL “OPERASI PENAGIHAN”
46 BAB 45 — MARKAS IRON SCORPION: GAJI YANG DITAGIH DENGAN KEKERASAN
47 BAB 46 — RAMPASAN HASIL KERJA: SATU PUN TAK BOLEH TERSISA
48 BAB 47 — SEMAKIN MEREKA BERKUMPUL, SEMAKIN MUDAH AKU MENEMUKAN MEREKA
49 BAB 48 — Roda Keberuntungan dan Awal Amukan Sang Asura
50 Bab 49 - Layaknya Tubuh Vajra
51 Bab 50 — Kekuatan Api Tanpa Batas
52 Bab 51 — Kalau Saja Kalian Tidak Membekukan Rekeningku
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Bab 1 — Pekerjaan Musim Panas
2
Bab 2 — Keberangkatan
3
Bab 3 — Celana Pendek dan Sandal Jepit
4
Bab 4 — Bukankah Kita Harus Menandatangani Kontrak Kerja?
5
Bab 5 — Tidak Berniat Membayar Gaji?
6
Bab 6 — Malam Hari Harus Ada Uang Lembur, Kan?
7
Bab 7 — Buang Air Saat Jam Kerja Tetap Dibayar
8
Bab 8 — Menyerbu Markas Musuh Seorang Diri
9
Bab 9 — Tertawa? Kenapa Sekarang Diam?
10
Bab 10 — Seumur Hidup, Aku Tidak Akan Pernah Lembur
11
Bab 11 — Brankas
12
Bab 12 — Mau Mangkir Bayar?
13
Bab 13 — Menuju Markas Black Fox
14
Bab 14 — Anggap Saja Seratus Ribu Dolar
15
BAB 15 — BURONAN KELAS S
16
Bab 16 — Mau Mati! Masih Mikir Bonus Kinerja?!
17
Bab 17 — Bersiap
18
Bab 18 — Sang Pemilik Helm Merah Muda Datang!
19
Bab 19 — Jangan Menghalangi Jalan
20
Bab 20 — Menghindari Peluru dengan Mata Terpejam, Menembak AK dengan Satu Tangan
21
Bab 21 — Kendaraan Lapis Baja Datang?, akanku ledakan
22
Bab 22 — Aku Cuma Pekerja Musiman
23
Bab 23 — Waktu Misi Hampir Habis
24
Bab 24: Serangan ke Markas Blood Viper
25
Bab 25 — Baru Sekarang Dimulai
26
Bab 26 — Pemimpin Blood Viper Kabur Diam-Diam
27
Bab 27 — Markas Mau Meledak? Tunggu, Saya Ambil Sisa Bayaran Dulu!
28
Bab 28 — Mbak Wartawan, Tolong Kasih Bintang Lima
29
Bab 29 — Sinyal Sejelek Ini Mau Main Apa? ( Bab bonus )
30
Bab 30 - Misi Tingkat SSS
31
BAB 31 — GELOMBANG KEDUA
32
BAB 32 — INFORMASINYA SALAH. DIA BUKAN ORANG BIASA!
33
Pengumuman Author
34
BAB 33 — SENJATA MANUSIA
35
BAB 34 — TEMBAKAN BUTA BARRETT
36
BAB 35 — ASTAGA! TAS KARUNG INI ISINYA GUDANG SENJATA?!
37
BAB 36 — Laptopku ......tidak!!!!
38
BAB 37 — Membalikan Keadaan
39
BAB 38 — KEJAR-KEJARAN DI UJUNG MAUT
40
BAB 39 — TEMBAK JATUH PESAWAT
41
BAB 40 — PEMBAYARAN MISI BERUNTUN!
42
BAB 41 — ADRIAN, ASET NASIONAL KELAS SATU!
43
BAB 42 — GAJINYA DIBEKUKAN?
44
BAB 43 — TUJUH MARKAS, SATU TARGET
45
BAB 44 — KENDARAAN DINAS DARI HASIL “OPERASI PENAGIHAN”
46
BAB 45 — MARKAS IRON SCORPION: GAJI YANG DITAGIH DENGAN KEKERASAN
47
BAB 46 — RAMPASAN HASIL KERJA: SATU PUN TAK BOLEH TERSISA
48
BAB 47 — SEMAKIN MEREKA BERKUMPUL, SEMAKIN MUDAH AKU MENEMUKAN MEREKA
49
BAB 48 — Roda Keberuntungan dan Awal Amukan Sang Asura
50
Bab 49 - Layaknya Tubuh Vajra
51
Bab 50 — Kekuatan Api Tanpa Batas
52
Bab 51 — Kalau Saja Kalian Tidak Membekukan Rekeningku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!