JATUH CINTA SAMA ORANG YANG PALING NYEBELIN DI SEKOLAH
Bagi Raina Callista, hidup adalah serangkaian jadwal yang harus berjalan presisi. Sepatu hitam mengkilap, kaus kaki tiga jari di atas mata kaki, dan catatannya yang tersusun rapi berdasarkan kode warna. Sebagai Wakil Ketua OSIS SMA Garuda, tugas utama Raina sederhana: memastikan seluruh siswa patuh pada aturan.
Namun, aturan itu dibuat bukan untuk Devan Adhitama.
Pagi baru saja merambat di lapangan sekolah ketika Raina mendapati Devan kapten tim basket kesayangan sekolah sedang berdiri santai di bawah tiang bendera. Seragamnya tidak dimasukkan, dasinya melar kelonggaran, dan earphone nirkabel menempel manis di telinganya.
"Devan Adhitama!" panggil Raina mantap, langkah kakinya berderak di atas kerikil halaman.
Devan melepas satu earphonenya, lalu melempar senyum lebar yang selalu membuat siswi-siswi kelas sepuluh histeris. Senyum yang bagi Raina tidak lebih dari cengiran pengacau.
"Selamat pagi, Bu Wakil. Awal hari yang indah untuk menghirup udara segar, kan?" ujar Devan santai, seolah ia tidak sedang melanggar tiga poin kedisiplinan sekaligus.
"Rapikan seragammu, lepas earphone, dan masuk ke kelas. Bel tinggal dua menit lagi," tegas Raina sambil mencabut pena merah dari saku seragamnya.
"Raina, Raina... tenang sedikit. Muka kamu kalau galak begitu cepat tua, lho," goda Devan. Tanpa merasa bersalah, ia malah mendekat, lalu dengan seenaknya menarik tali papan nama di dada Raina hingga gadis itu terperanjat. "Lagipula, bel kan belum berbunyi?"
Teeeet!
Suara bel nyaring memotong kalimat Devan. Cowok itu terkekeh geli melihat garis merah yang langsung digoreskan Raina di buku catatannya.
"Poin pelanggaran kesebelas bulan ini," kata Raina dingin, menatap mata Devan dengan tajam. "Kamu resmi menduduki peringkat pertama di daftar hitamku."
Devan bukannya takut, justru malah menunduk sedikit untuk sejajar dengan wajah Raina. "Suatu kehormatan bisa jadi nomor satu di hatimu, Raina."
Sebelum Raina sempat meledak, Devan sudah berbalik dan berlari santai menuju bangunan kelas sambil melambaikan tangan tanpa beban. Raina mengepalkan tangannya rapat-rapat. Dia bersumpah, Devan Adhitama adalah makhluk paling nyebelin yang pernah diciptakan di muka bumi.
Raina menghabiskan seluruh jam istirahat pertamanya di perpustakaan. Bukan untuk bersantai, melainkan menyelesaikan laporan evaluasi kegiatan OSIS yang harus diserahkan kepada Pembina sore nanti. Lembar demi lembar kertas HVS putih bersih bertumpuk rapi di meja kayu tempat favoritnya—pojok kanan yang sunyi dan jauh dari lalu lalang siswa.
Tepat saat Raina hendak menancapkan klip kertas terakhir, bayangan tinggi mendadak menutupi cahaya dari jendela.
"Lho, beneran di sini. Pantes di kantin gak ada," suara familiar itu memecah keheningan perpustakaan.
Raina mendongak, matanya memicing seketika. Devan berdiri di sana membawa segelas iced americano dari kantin, lengkap dengan senyum tanpa dosanya.
"Gak boleh bawa minuman berasa ke perpustakaan, Devan," tegur Raina cepat, jarinya langsung menunjuk papan pengumuman di dinding.
"Cuma es kopi, Raina. Lagian penjaga perpus lagi ke toilet," jawab Devan santai. Ia bersandarkan badan ke pinggir meja Raina, meletakkan gelas plastiknya yang berembun tepat di samping tumpukan kertas laporan Raina.
"Pindahkan gelas itu. Sekarang," perintah Raina dengan nada penuh penekanan.
"Sensitif banget sih. Tenang aja, gak bakal spill—"
Belum sempat Devan menyelesaikan kalimatnya, seorang siswa kelas sepuluh berlari terburu-buru melintasi lorong rak buku dan memanggil nama Devan. Sikut Devan yang tersenggol secara tidak sengaja langsung menghantam gelas plastik di atas meja.
Crrash!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments