Bab 4: Penyangkalan dan Sebuah Janji

​Keheningan di ruang tamu Keluarga Su terasa mencekam. Suara deru mesin mobil Ferrari di luar sana yang ditinggalkan begitu saja oleh Zhao Tian menjadi satu-satunya latar suara yang memecah kebisuan.

​Nyonya Wang masih mematung, matanya terbelalak menatap pintu yang terbuka. Namun, sedetik kemudian, keterkejutannya menguap dan digantikan oleh ekspresi bingung, lalu berubah menjadi tawa canggung yang sumbang. Ia melambaikan tangannya di udara seolah mengusir asap tak kasatmata.

​"Hah! Kebetulan macam apa ini?" Nyonya Wang berseru keras, suaranya melengking menutupi ketakutan yang sempat singgah di hatinya. "Grup Zhao pasti sedang sial. Mungkin mereka terlibat skandal pajak yang baru terendus sekarang, atau musuh bisnis mereka kebetulan menyerang di saat yang sama."

​Ia menoleh ke arah Lin Fan dan mendengus jijik. "Dan kau, sampah! Berhenti berakting seolah kau yang melakukan semua itu! Mengirim pesan bodoh dan berpura-pura menjadi dalang? Kau pikir aku ini idiot? Jika kau benar-benar sekuat itu, kenapa kau sudi mengepel lantaiku selama tiga tahun?!"

​Lin Fan menatap ibu mertuanya tanpa emosi. Ia tidak berniat menjelaskan apa pun padanya. Menyadarkan orang yang dibutakan oleh keserakahan dan prasangka sama halnya dengan membangunkan orang yang pura-pura tidur—mustahil.

​"Ibu!" Su Yuhan akhirnya bersuara, memecah ketegangan. Ia melangkah maju, menempatkan dirinya di antara ibunya dan Lin Fan. Matanya yang indah menatap Lin Fan dengan campuran emosi yang sulit diartikan—keterkejutan, kelegaan, dan rasa penasaran yang teramat dalam.

​"Apapun yang terjadi pada Grup Zhao, kenyataannya adalah kontrak memuakkan itu tidak pernah ditandatangani. Dan Zhao Tian sudah pergi," kata Yuhan tegas.

​Nyonya Wang menghentakkan kakinya. "Lalu bagaimana dengan investasi 50 juta Yuan kita, Yuhan?! Tanpa uang itu, Grup Su akan gulung tikar besok siang! Pegawai kita akan mogok, bank akan menyita rumah ini! Apa kau mengharapkan gembel ini yang akan memberikan uangnya? Cih!"

​Dengan langkah marah dan wajah ditekuk, Nyonya Wang melenggang pergi meninggalkan ruang tamu, membiarkan Yuhan dan Lin Fan hanya berdua.

​Pertanyaan yang Belum Terjawab

​Setelah suara bantingan pintu kamar Nyonya Wang terdengar dari lantai atas, Yuhan menoleh perlahan menatap suaminya. Lin Fan masih berdiri tenang, namun aura dominan yang tadi ia rasakan masih tertinggal tipis di udara.

​"Lin Fan," suara Yuhan terdengar lebih lembut dari biasanya, meski masih membawa nada otoritas seorang CEO. "Apa kau tahu sesuatu tentang kehancuran Grup Zhao barusan?"

​Lin Fan menatap mata istrinya yang jernih. Ada ribuan kata yang ingin ia ucapkan. Ia ingin menceritakan tentang Keluarga Lin di ibu kota, tentang pengasingan tiga tahunnya, dan tentang kekuasaannya yang kini telah kembali. Namun, naluri pelindungnya menahan kata-kata itu.

​Keluarga Lin bukan sekadar konglomerat; mereka adalah entitas raksasa dengan musuh yang sama besarnya. Jika identitas aslinya terungkap secara tiba-tiba, Su Yuhan bisa menjadi target utama intrik dan bahaya dari musuh-musuh Keluarga Lin sebelum Lin Fan sempat mengamankan posisinya.

​"Aku hanya membaca berita tentang skandal mereka di internet beberapa menit sebelum aku keluar dari dapur," Lin Fan berbohong dengan tenang. "Aku tahu Zhao Tian sedang di ujung tanduk, jadi aku memanfaatkannya untuk menggertaknya. Aku tidak ingin kau menandatangani kontrak yang menghinamu itu, Yuhan."

​Yuhan menatap wajah Lin Fan lekat-lekat, mencoba mencari celah kebohongan. Meski alasan itu terdengar masuk akal dan menjelaskan "kebetulan" tadi, ada bagian dari diri Yuhan yang merasa suaminya menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar.

​"Kau menggertaknya?" Yuhan menghela napas panjang, mengusap pelipisnya yang mulai berdenyut. "Kau sangat beruntung gertakanmu berhasil dan telepon ayahnya datang tepat waktu. Jika tidak, dia bisa saja menghajarmu di sini."

​"Aku tidak akan membiarkan siapa pun melukaimu, atau menghinamu," jawab Lin Fan pelan namun tegas.

​Janji Lima Puluh Juta

​Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua. Yuhan berjalan ke arah jendela, menatap taman yang mulai gelap. Beban berat di pundaknya kembali terasa. Zhao Tian pergi membawa ancaman pelecehannya, namun ia juga pergi membawa harapan terakhir Grup Su.

​"Tapi ibuku benar, Lin Fan," suara Yuhan terdengar rapuh, sebuah nada yang sangat jarang ia perlihatkan. "Tanpa suntikan 50 juta Yuan itu, besok pagi Grup Su benar-benar akan hancur. Semua yang dibangun kakekku akan sirna."

​Lin Fan menatap punggung istrinya yang rapuh. Tiga tahun lalu, wanita ini menentang seluruh keluarganya demi menuruti wasiat kakeknya dan menikahi dirinya—seorang gelandangan tanpa identitas. Tiga tahun lamanya, Yuhan menjadi tameng yang melindunginya dari cemoohan terburuk dunia luar.

​Lin Fan melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Yuhan.

​"Tidurlah yang nyenyak malam ini, Yuhan," ucap Lin Fan lembut.

​Yuhan menoleh, terkejut mendengar nada hangat dari suaminya.

​"Besok pagi," Lin Fan melanjutkan, matanya memancarkan keyakinan mutlak, "saat kau melangkah masuk ke kantor, masalah 50 juta Yuan itu akan selesai. Aku berjanji."

​Yuhan tersenyum getir, menganggap ucapan suaminya hanyalah kalimat penghibur kosong. "Terima kasih, Lin Fan. Tapi ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan janji."

​Yuhan melangkah pergi menuju kamarnya, meninggalkan Lin Fan sendirian di ruang tamu yang temaram.

​Setelah istrinya menghilang di balik pintu, Lin Fan kembali mengeluarkan komunikator hitamnya. Layar menyala menyorot wajahnya yang sedingin es.

​"Perintah diterima, Tuan Muda. Apa instruksi Anda untuk malam ini?"

​"Hubungi Presiden Direktur Bank Sentral Jiangzhou," perintah Lin Fan tajam. "Suruh dia bersiap di kantor Grup Su besok pagi jam delapan tepat. Aku ingin dia secara pribadi menyerahkan kontrak investasi tanpa batas untuk istriku."

Episodes
1 Bab 1: Akhir dari Tiga Tahun Kehinaan
2 Bab 2: Harga Diri yang Tak Ternilai
3 Bab 3: Tiga Ratus Detik Menuju Kehancuran
4 Bab 4: Penyangkalan dan Sebuah Janji
5 Bab 5: Kudeta di Ruang Direksi
6 Bab 6: Topeng Kemunafikan
7 Bab 7: Sang Penguasa Bayangan
8 Bab 8: Sandiwara di Balik Asap Dapur
9 Bab 9: Predator dari Puncak Rantai Makanan
10 Bayang-bayang Kematian dan Gaun Hitam
11 Bab 11: Sarang Ular dan Cemoohan Para Elit
12 Bab 12: Argumen Hukum dan Keadilan yang Tumpul
13 Bab 13: Invasi Para Dewa Kematian
14 Bab 14: Runtuhnya Kesombongan Sang Tiran
15 Bab 15: Mengungkap Tabir Sang Penguasa
16 Bab 16: Gelombang Hitam dari Ibu Kota
17 Bab 17: Pagi yang Canggung
18 Bab 18: Benteng Tak Kasatmata di Menara Su
19 Bab 19: Serigala Buta di Kandang Naga
20 Bab 20: Keheningan yang Menulikan di Selatan
21 Bab 21: Aliansi Para Serigala di Ibu Kota
22 Bab 22: Pengepungan Pasukan Serigala Berdarah
23 Bab 23: Tamu Berdarah di Ruang Keluarga
24 Bab 24: Lorong Neraka di Menara Su
25 Bab 25: Pengadilan Hujan Darah di Halaman Belakang
26 Bab 26: Kado Pagi Hari
27 Bab 27: Gempa Berita dari Selatan
28 Bab 28: Utusan Sang Naga
29 Bab 29: Koper Misterius dan Imajinasi Liar Keluarga Su
30 Pendaratan Sang Tiran di Jalur Neraka
31 Karpet Merah dari Darah dan Api
32 Gerbang Naga dan Arogansi Para Tetua
33 Kartu Mati Sang Pecundang
34 Hujan Darah di Ruang Bawah Tanah
35 Mahkota Naga
Episodes

Updated 35 Episodes

1
Bab 1: Akhir dari Tiga Tahun Kehinaan
2
Bab 2: Harga Diri yang Tak Ternilai
3
Bab 3: Tiga Ratus Detik Menuju Kehancuran
4
Bab 4: Penyangkalan dan Sebuah Janji
5
Bab 5: Kudeta di Ruang Direksi
6
Bab 6: Topeng Kemunafikan
7
Bab 7: Sang Penguasa Bayangan
8
Bab 8: Sandiwara di Balik Asap Dapur
9
Bab 9: Predator dari Puncak Rantai Makanan
10
Bayang-bayang Kematian dan Gaun Hitam
11
Bab 11: Sarang Ular dan Cemoohan Para Elit
12
Bab 12: Argumen Hukum dan Keadilan yang Tumpul
13
Bab 13: Invasi Para Dewa Kematian
14
Bab 14: Runtuhnya Kesombongan Sang Tiran
15
Bab 15: Mengungkap Tabir Sang Penguasa
16
Bab 16: Gelombang Hitam dari Ibu Kota
17
Bab 17: Pagi yang Canggung
18
Bab 18: Benteng Tak Kasatmata di Menara Su
19
Bab 19: Serigala Buta di Kandang Naga
20
Bab 20: Keheningan yang Menulikan di Selatan
21
Bab 21: Aliansi Para Serigala di Ibu Kota
22
Bab 22: Pengepungan Pasukan Serigala Berdarah
23
Bab 23: Tamu Berdarah di Ruang Keluarga
24
Bab 24: Lorong Neraka di Menara Su
25
Bab 25: Pengadilan Hujan Darah di Halaman Belakang
26
Bab 26: Kado Pagi Hari
27
Bab 27: Gempa Berita dari Selatan
28
Bab 28: Utusan Sang Naga
29
Bab 29: Koper Misterius dan Imajinasi Liar Keluarga Su
30
Pendaratan Sang Tiran di Jalur Neraka
31
Karpet Merah dari Darah dan Api
32
Gerbang Naga dan Arogansi Para Tetua
33
Kartu Mati Sang Pecundang
34
Hujan Darah di Ruang Bawah Tanah
35
Mahkota Naga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!