Semua karyawan tengah sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing,terlebih Diana merasa heran mengapa begitu banyak tugas yang di berikan padanya,jika itu dari kepala bidang wajar saja,tapi ini dari CEO langsung.
"Kenapa aku terus yang di kasih sih,bukannya seharusnya di berikan ke kepala bidang dulu,baru di tentukan oleh kepala bidang siapa yang akan mengerjakannya!". Diana protes.
"Ini perintah langsung dari CEO jadi tolong anda tidak usah berkomentar!". Rico kemudian keluar dari ruang bidang marketing.
"Hah dasar pria mesum,gak punya hati!". Diana mengumpat di meja kerjanya.
"Sabar yah DI,kami ingin membantumu,tapi ada perintah langsung dari CEO bahwa kau harus mengerjakannya sendiri,ini pesannya di kirim di grup". Pak andra.
"Grup? emang ada grup?aku belum masuk tuh". Diana.
"Oh yah,kenapa CEO tidak memasukan mu,mungkin dia tidak punya nomormu". Bianka.
"Gak mungkin,kemarin dia yang menelponku langsung kok,aku tahu pasti dia sengaja ingin mengerjaiku,dasar pria mesum satu itu". Diana bertambah kesal.
"Kurasa aku harus menambah pekerjaanmu lagi". Ternyata Dalmas berada di depan pintu ruangan bersama Rico,semua karyawan tertunduk kaget menyadari kehadiran CEO nya.
"Memang wajar apa memberiku pekerjaan sebanyak ini,kau pikir aku robot,aku baru masuk hari ini,aku baru mempelajari kinerja di perusahaan mu,tapi kau memberiku pekerjaan seolah aku sudah 3 tahun di sini". Diana mengomel membuat seisi ruangan tercengang melihat keberaniannya.
"Dasar! baru kali ini aku bertemu dengan gadis rese sepertimu,kau memarahiku seolah aku adalah bawahanmu di sini,kau berani sekali!". Dalmas berdecak melihat tingkah Diana.
"Aku begini karna merasa ini tidak wajar,kau seenaknya menggunakan kekuasaanmu untuk mengerjaikukan". Diana malah tambah kesal.
"Hah dasar! kau berikan file menumpuk di mejaku padanya,biarkan dia lembur berhari-hari di sini". Dalmas.
"Hey kau kenapa malah menambah pekerjaanku?". Diana bingung dan panik.
"Karna kau terus membantahku". Dalmas yang kemudian meninggalkan ruangan.
"Hiihh aku ingin sekali mencakar mukanya". Diana berbalik dan menuju meja kerjanya.
"Ayo DI kita makan dulu,inikan jam istrahat". Agata mengajak Diana.
"Gak dulu deh,kalian dluan aja,aku mau ngerjain ini dulu,kalau istrahat entah kapan ini akan selesai". Diana menolak.
"HAH kenapa CEO begitu yah!". Agata merasa kasian pada Diana.
----------------
Seisi ruangan kosong karna perusahaan ini tidak membolehkan karyawan makan di ruang kerja.
"Hah laper banget". Diana memegangi perutnya sambil memperhatikan jam tangannya."Jam istrahat 45 menit lagi,masih lumayan lama.
Tiba-tiba ada yang datang dan memerintah Diana ikut dengannya.
"Hey kau!keluar,ikut aku!". Dalmas memerintah Diana.
"D-I-A-N-A DIANA,namaku Diana,bukan Hey kau, aku punya nama". Diana.
"Gadis rese,kau tuli yah,atau kau ingin aku menambah tugasmu!".Dalmas mengancam.
"Dasar!".Diana berjalan dengan bibir yang komat kamit.
"imutnya".Pikir Dalmas.
Diana memiliki wajah yang cantik, bibirnya yang imut, akan membuat wajahnya semakin imut ketika di mainkan,sebenarnya tubuhnya tidak kurus, tubuhnya sangat ideal, tetapi Dalmas mengatainya kurus hanya untuk menutupi salah tingkahnya.
Mereka berdua berjalan menuju kantin kantor, tetapi ada ruangan khusus yang di gunakan hanya untuk CEO, untuk berjaga-jaga kalau tidak sempat keluar makan dan masih banyak pekerjaan.
Semua mata melotot heran ketika melihat Dalmas dan Diana berlalu di hadapan mereka dan menuju ruangan yang tidak boleh di masuki oleh karyawan lain, selain koki dan pelayan di kantor tersebut.
Dalmas sangat memperhatikan kesehatan karyawannya, oleh karena itu, dia memperkerjakan koki khusus di kantin kantornya, dia ingin semua yang di konsumsi selama di kantornya adalah makanan sehat yang bisa menjaga kesehatan tubuh karyawannya, dan setiap sebulan sekali akan ada kunjungan kesehatan di kantornya, untuk pemeriksaan menyeluruh mengenai kesehatan karyawannya.
"Diana benar-benar hebat".Agata ternganga melihat pemandangan tersebut.
" Kalau di lihat-lihat mereka cocok".Bianka yang kemudian menerima anggukan setuju dari semua karyawan termasuk kepala bidang.
Tetapi selain rasa kagum, ada juga yang merasa iri, terutama gadis-gadis yang yang sangat mengagumi CEO nya itu.
"Dia pake cara licik apa sampai bisa nempel begitu? ". Shira.
" Iya, susah payah kita deketin".Nela.
Rupanya mereka berdua adalah asisten Dalmas. Sudah lama mereka bekerja dengan Dalmas, sejak Tuan Angga memutuskan agar Dalmas yang mengurus segalanya. Tetapi sedikit Dalmas tidak melirik mereka selain sebagai sekretaris.
"Huss, makan aja, kalian nanti di dengar".Ucap Nisa, dia merupakan asisten sekaligus kepercayaan Dalmas, setelah Rico.
" Iya, tapi emangnya kau gak heran apa? ".Tanya Nela.
" Itu urusan Tuan Dalmas".Nisa memasukkan suapan terakhir kemudian berdiri meninggalkan mereka.
"Humm dia mah enak, di ajak kemana-mana sama Tuan Dalmas".Mereka mengerti posisi Nisa, yang selalu di ajak jika ada perjalanan Tugas.
Tanpa mereka sadari, karyawan penghuni bidang marketing menatap mereka seolah ingin menelan mereka.
" Kok rasanya aneh yah".Ucap Shira yang merasa bulu-bulunya merinding.
***
Di sisi lain, Dalmas dan Diana
"Makan! ".Dalmas menyuruh Diana makan, tetapi malah mendapat tatapan tajam." Kenapa menatapku? ".
" Kau tidak merasa ini aneh, kau mengajakku makan di ruangan yang tidak bisa di masuki oleh karyawan manapun".Tanya Diana menyelidik.
"Ah, aku hanya mengasihanimu karna tidak makan".Jawab Dalmas yang lagi-lagi menggunakan kata yang salah.
" Dasar!memangnya aku semenyedihkan itu, hihh".Diana berdiri begitu saja dan keluar dari ruangan itu tanpa menyentuh makanan lezat itu sedikit pun, walaupub ia lapar.
"Heh!! ".Dalmas reflek mengejarnya tapi Diana tidak menoleh sedikit pun, sampai akhirnya tangannya di gapai oleh Dalmas.
" Dasar mesum! ".Lagi-lagi Diana menyebut Dalmas mesum dan mendoronya hingga tersungkur di dekat Vas, melihat Vas bunga cantik dan mahal itu, Dalmas mengambil kesempatan, dia menarik vas itu dan praank, pecah.
" Haaaa".Mata Diana membulat besar melihat Vas itu pecah, dia tahu harganya pasti sangat mahal. "Ohh aku baru bekerja, kenapa kau harus pecah".Diana seolah akan menangis.
" Yes,".gumam Dalmas. "Wahh aku mengajakmu makan baik-baik hanya untuk menutupi karna memberimu pekerjaan yang banyak, kau malah berulah".Dalmas berdecsk di hadapan Diana dengan jas yang sudah penuh tanah.
" Tuan, anda tidak apa-apa? ".Tanya Nisa,yang kemudian di ikuti oleh Nela dan Shira.
" Carikan jas baru, bawa ke ruanganku".Pinta Dalmas tanpa menoleh.
"Baik tuan".Nisa dengan sopan dan berlalu pergi.
" Rasakan, kau pasti akan kena marah".Bisik Nela.
"Yah, merasa dekat dengan Tuan Dalmas, dia pikir bisa seenaknya".Jawab Shira.
Rupanya Dalmas mendengarnya, dia membalikkan badannya melihat seisi kantin itu memperhatikan mereka, dia meremas rambutnya, waduh inikan kantor, kenapa aku tidak menyadari ini.
" Aku akan memasukkan ini di tagihanmu, kau bisa memilih bisa membayar yanga mana dulu, perbaikan mobil atau Vas ini".Dalmas kembali pada sikap coolnya.
"Iya aku tahu, punya uang banyak tapi masih memeras kaum lemah".Diana komat kamit, membuat Dalmas terpancing kembali.
" Dasar rese".Dalmas meninggikan suaranya.Sontak seisi ruangan terlonjak mendengar itu.
"Apa? ".Beda halnya Diana, dia malah marah mengalahkan Dalmas. " Kalau kau tidak mengajakku ke sini dan aku tetap di ruang kerjaku, ini semua tidak akan terjadi. kemudian Soal mobilmu, kalau kau tidak menyambarku dahulu , kita tidak akan berurusan seperti ini".Diana kesal.
Hal itu membuat Dalmas diam, tetapi tidak lama.
"Alasan, aku sudah mengganti rugi soal motormu tapi kau tolak, tau sendiri kerusakan motormu dan mobilku berbeda, dan vas ini lagi beda cerita, kalau kau mengikuti yang ku katakan vas ini tidak akan pecah, kalau kau bicara baik-baik soal motormu, dan tidak mengataiku, aku akan sedikit memaafkanmu".Dalmas tak mau kalah.
Diana diam dan berfikir bahwa yang dia katakan ada benarnya. "Baiklah Tuan Dalmas saya akan mengikuti perintah anda, soal makan siang saya akan makan di sini, bersama teman-teman departemen saya, bukan di ruangan sana, kalau saya masuk di sana itu tidak adil untuk karyawan lain".Pernyataan Diana membuat orang-orang kagum, baru kali ada yang bisa menjawab perkataan Tuan Dalmas Anggara Wijaya, biasanya tidak ada yang bisa melawan perkataannya.
"Oke, lanjutkan makan siang kalian, dan kembali bekerja".Pinta Dalmas kepada karyawan lain, kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Diana.
Diana kemudian berniat memesan makanan dan duduk di antara teman-teman satu departemennya.
" Gak usah pesan, sini kita makan bareng aja, kalau pesan harus nunggu lagi, waktu istrahat sisa 10 menit, ayo cepat makan".Agata menyodorkan 1 burger di hadapan Diana.
"Ini tambah 1 lagi, pasti tenaga mu terkuras karna harus menjawab Tuan Dalmas".Bianka
Diana tersenyum melihat teman-teman 1 departemen nya begitu memperhatikannya, kemudian dia makan, dan saat selesai mereka berjalan kembali ke ruangan mereka.
Bersambung..........
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments