Weekend

Diana bekerja seharian, dia merasa lelah "Wahhh sedikit lagi, muaach".Diana mencium file terakhir yang akan dia kerjakan.

Semua mata tertuju pada Diana, mereka mengaguminya " Wah benar-benar hebat, aku harus lebih giat kali ini, jika tidak kau akan menggeser posisiku".Pak Andra memelas.

"Hahaha jika itu bisa, aku akan menolak".Diana.

" Tapi benar-benar loh Di, kamu baru masuk hari ini, kamu baru tahu kinerja perusahaan ini, kau menerima begitu banyak tugas dari Tuan Dalmas, tapi kau mengerjakannya dengan cepat".Bianka.

Seisi rungan sibuk membenarkan perkataan Bianka, Pak andra juga, ia tidak bisa memungkiri kehebatan Diana.

"Hah aku hanya berpikir, ini harus cepat selesai, aku tidak suka menunda pekerjaan, selagi bisa pasti akan ku kerjakan".Pernyataan Diana membuat yang lainnya tertampar, karna mereka menyadari terkadang pekerjaan mereka tertunda karna kebanyakan istrahat dan cerita, sontak mereka diam, dan kembali di meja masing-masing. Pak Andra memberi jempol pada Diana karna berhasil membuat mereka tertampar tanpa sadar.

Diana mengerti maksud Pak Andra, rupanya Pak Andra sengaja memancing untuk memuji Diana, agar menyinggung bawahannya yang lain.Diana tersenyum, senyuman itu membuat perhatian beberapa pria di ruangan itu terbuai, "Ehem ehem".Pak Andra seolah terbatuk menyadarkan pria2 tersebut, walau dirinya juga sempat memperhatikan senyum itu.

Semua menyelesaikan tugasnya, terkecuali Diana.

" Yah Di, aku harus balik aku ada janji sama seseorang".Agata.

"Sama Dandi? ya sudah sana, cepatlah, temui belahan jiwamu".Bianka berbicara dengan dramatis dan romantis, membuat Agata kesal karna Bianka tahu dirinya memiliki janji dengan Dandi.

" Hahaha, Iya kamu balik sana, lagi pula ini sedikit lagi kok, kamu juga balik sana, aku gak apa-apa kok".Pinta Diana.

"Gak, aku nunggu kamu, aku gak punya janji sama siapa2".Bianka menyinggung Agata, dan akhirnua terjadilah perang gelitik antara Bianka dan Agata, mereka bertiga pun tertawa,sampai Agata pamit pergi.

Sekitar 30 menit kemudian pekerjaan Diana tuntas" Oke tunggu yah, aku rapiin ini dulu".Diana merapikan mejanya, kemudian mengambil tasnya, dan menggandeng tangan Bianka.

"Ayo pulangg".Bianka dan Diana serentak. " Hahahaha".

***

Diana sampai di kontarkannya cukup larut, terlihat di depan pintu ada Mang Didi duduk dengan wajah yang sangat khawatir, Diana merasa bersalah melihat Mang Didi, dia apsti mengkhawatirkan Diana.

"Mang! ".Diana menyapa Mang Didi.

" Aduh neng, emangnya kantornya jauh yah, neng sampai pulang larut, mang khawatir".Mang Didi.

Tidak lama kemudian keluar istri Mang Didi. "Hah udah balik?, dari mana aja Dian? Kami khawatir nak".Istri mang Didi yang di panggil ibu oleh Diana.

" Maaf ya bu, Mang, tadi Diana buat kesalahan di kantor, jadinya di kasih pekerjaan tambahan sama Tuan Dalmas".Diana meraih tangan ibu dan mengusapnya lembut, dia begitu menyayangi kedua orang itu, karna kalau bukan karena mereka yang membantunya, entah kemana lagi Diana akan pergi.

Mang Didi adalah pemilik kontrakan tersebut, mereka menawarkan Diana untuk tinggal saja di kontrakan itu, tapi Diana tidak mau tinggal cuma-cuma, dia bersih keras untuk membayarnya, karna ia tahu ini juga sumber pencarian mereka.

Mang didi dan istrinya Bu Sitti tidak memiliki anak, keberadaan Diana membuat mereka sangat menyayanginya, mereka menganggap Diana sebagai anak sendrii, begitupun Diana menganggap mereka sebagai orang tua.

"Kamu masuk aja dulu, bersihin diri, terus datang yah makan malam, Ibu tadi nunggu kamu pulang dulu baru makan".Hal biasa, bagi Diana, mereka selalu melakukan itu walau kadang Diana sudah mengatakan agar mereka makan dahulu, tapi mereka selalu mengulanginya. Diana pun memaklumi hal itu.

" Ya sudah, tunggu bentar ya Bu".Diana dengan cepat mengganti pakaian, mencuci mukanya dan segera ke rumah Mang Didi.

Makan malam berlalu, Usai bercerits ria Diana pamit pulang.

***

Tiba-tiba Diana melihat wajah Dalmas sekilas, dia memikirkan Dalmas, entah apa yang membuatnya memikir orang itu.

"Gila Di, kamu kok bisa ketemu orang itu, katanya dia dingin, kejam, ahhh buka kejam, tapi tegas, penyayang, tapi karena hal itu banyak orang yang segan padanya, dan tidak berani melawannya, karna dia tidak suka di usik".Diana mengulang semua info yang ia dapat dari Bianka di perjalanan pulang tadi sebelum berpisah.

"Hah tapi dia rese, gila, seenaknya, gak penyayang tuh, ihh menjengkelkan".Diana malah berpendapat sebaliknya, kekaguman tadi yang dia katakan hanya mengulangi perkataan Bianka. " Semua yang kulihat kebalikannya ". Diana kesal memikirkan Dalmas, dia kemudian memutuskan untuk tidur.

***

Di sisi lain

Dalmas sedang mendengar laporan Nisa, dan Rico yang sedang sibuk dengan laptopnya, entah apa yang dia kerjakan.

" Hachuuu,, hachhhhu".Dalmas bersin.

" Oke cukup!. uhuk uhuk uhuk uhuk....".Dalmas tiba2 terbatuk.

"Apa ruangan ini tidak di bersihkan".Rico marah karna bosnya sedari tadi bersin dan batuk seolah terkena debu.

" Atau mungkin ada yang sedang memikirkan anda".Nisa, membuat Dalmas berpikir bahwa Diana yang memikirkannya.

"Benar, mungkin saja Diana sedang memikirkanku".Dalmas langsung menentukan Dianalah yang sedang memikirkannya sambil tersenyum bangga.

" Atau bisa jadi dia sedang mengumpati anda".Rico berhasil membuat Dalmas Geram.

"Apa yang membuatnya mengumpatiku? ".Tanya Dalmas.

" Yah saya pikir seperti itu Tuan karna Tuan memberinya pekerjaan berlebihan hari ini, membuatnya harus mengganti rugi vas yang sengaja anda pecahkan".Tutur Rico.

"Hey aku tidak memecahkannya".Dalmas membela diri, walau sebenarnya yang di katakan Rico benar.

" Aku melihat Tuan sengaja menarik Vas itu, padahal vas itu memiliki jarak di tempat nona Diana mendorong anda".Rico membela diri.

"Aku hanya ingin membuatnya terikat dengan perusahaan".Jawab Dalmas ketus.

" Atau terikat dengan anda".Sambung Nisa.

"Tepat".Dalmas keceplosan, membuat Nisa dan Rico cekikikan. " Ahh bukan begitu maksudku, sudah selesai untuk hari ini, sana kalian balik, dan istrahatlah".Dalmas gelagapan.

"Baik Tuan, kami permisi".Rico dan Nisa meninggalkan Dalmas di ruang kerjanya.

Sementara di sisi lain malam itu.

" uhuk uhuk....... uhukuhuk".Diana meminun air. "Kenapa aku terus terbatuk batuk".

***

Keesokan harinya.

Weekend yang cerah, Diana keluar sambil membawa alat-alat lukis, dia tersenyum ceria melihat Mang Didi dan Bu sitti di halaman rumahnya. Dia langsung menghampiri mereka, kemudian mencari posisi yang tepat untuk melukis.

Diana memiliki hobi Melukis, dia sangat menyukai melukis, hasil gambarnya selalu di puji orang-orang yang melihat, terkadang ada yang mengajukannya untuk membuat pameran gambar, atau membuat galerinya sendiri, tapi Diana selalu menolak, saat di tanya alasannya Diana selalu diam, seolah ada hal yang dia tidak ingin sebutkan.

"Mang! Ibu! ".Teriak Diana

" Iya nak".Ibu heran melihat Diana memanggil mereka, biasanya Diana hanya akan langsung melukis saja."Ada apa nak? ".Tanya ibu.

" Hmmm".Diana menarik bangku kayu panjang yang cukup untuk 2 orang, ia letakkan di dekat taman bunga milik bi sitty. "Nah, duduk di sini yah bu, mang juga, oke terus tangannya di sini, mang rangkul tangan ibu, oke hari ini Diana mau melukis mang sama ibu".Diana.

" Waahh ibu jadi malu".Jawab ibu malu-malu.

"Hihi ya sudah nak,, tapi cepat yah gambarnya, nanti mang pegal".Tutur Mang yang membuat Diana mengangguk mengerti.

" Oke, tahan yah, Diana mulai".Diana kemudian memulai aksinya, dia menggambar sketsa dengan begitu lincah.

Diana sudah selesai menggambar Mang Didi dan Bu Sitty. "Ini Bu, hasil karya Diana yang mempesona, hamba berharap yang mulia menyukainya".Diana berlakon seolah sedang memberi hadiah pada Ratu dan Raja.

" Dasar! "Ibu menggetuk jidat Diana. " Gambarnya bagus, kenapa tidak di jual saja nak hasil lukisanmu, pasti akan laku keras, kamu bisa jadi seniman terkenal".Ibu langsung mendapat senggolan dan tatapan tajam dari Mang Didi, menyadari yang dia katakan, Ibu langsung memutuskan untuk membawanya masuk tak lupa ia minta maaf. "Maaf ya nak, ibu lupa".

" Gak apa-apa Bu, Diana mau jogging dulu yah".Diana.

"Iya nak".

***

" Menurutmu Dalmas akan membawa calon istrinya ke rumah dalam 1 bulan ini? ".Tanya Tuan Angga pada sahabatnya Tuan Adi

ADI PUTRA

Seorang ketua mafia Yang bernama Venos yang terkenal sangat hebat di seluruh negeri, kenapa tidak, wilayah kekuasaanya sangat luas, mafia satu ini sangat di takuti oleh mafia lainnya. Markasnya selalu ada di negara manapun, tetapi markas pusatnya ada di negara B.

Tak ada yang tahu bahwa dirinya adalah mafia, hanya orang-orang tertentu.

"Entahlah Tuan,tapi menurutku dia akan melakukannya dariapada harus tinggal di rumah istriku".Jawab pak Adi

" Hahaha iya benar,kegemasan istrimu terhadap anakku sungguh keterlaluan, tapi tidak apa itu menjadi senjataku saat Dalmas tidak mendengarkanku".Ucap Tuan Angga yang kemudian mereka tertawa.

bersambung…………

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play