Pendekar Brewok

Pendekar Brewok

Episode 1 Anak yang Dibuang

Jalanan ini merupakan jalan setapak yang hanya bisa dilewati oleh sebuah kereta kuda, dan sama sekali tidak rata. Banyak lubang dan gundukan yang dapat menyebabkan kereta kuda menjadi rusak. Selain itu, kanan kirinya masih merupakan hutan yang rimbun. Sehingga jalanan ini sangat jarang dilalui orang.

Seorang pria berusia lima puluh tahunan dalam keadaan terluka, berjalan tertatih-tatih. Bajunya sudah berlumuran darah. Namun tangan kirinya mendekap seorang bayi kecil. Dalam sebuah rimbunan pohon ia menyusup masuk dan bersembunyi di sana.

Tak lama kemudian, sejumlah orang berpakaian hitam-hitam, tiba di jalan tersebut. Mereka berlari cepat, namun melewati rimbunan pohon dimana bersembunyi lelaki dan bayi tersebut. Si lelaki sedikit merasa lega. Lalu ia melepaskan totokan pada bayi tersebut.

“Maafkan ayah, anakku. Aku tadi terpaksa menotok dirimu, agar kita terlepas dari kejaran mereka. Dan sekarang, aku ... aku...” dirinya tak sanggup menahan perasaan hatinya. “Aku harus meninggalkanmu di sini, nak. Semoga kau selamat. Maafkan aku telah menjadi ayah yang jahat...”

Lalu ia meletakkan si bayi dalam sebuah kereta kuda yang telah rusak dan teronggok di sana. Lalu ia meletakkan sebuah selimut dan menggantungkan sebuah kalung kecil pada bayi tersebut. “Semoga kalau memang ada Tuhan, kita akan bertemu kembali.” Lalu iapun pergi dengan berat hati.

Tak berapa lama kemudian bayi itu menangis. Dan tak lama, datanglah seorang pengemis muda, berpakaian compang camping, berambut gimbal, menuju ke kereta kuda yang rusak tersebut. “Hey... apa-apaan ini... siapa yang menaruh bayi ini di tempat tidurku?” gerutunya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.

“Tega... tega...” mulutnya berkata, sambil menggelengkan kepalanya, dan meletakkan satu tangannya membentuk bentuk sembahyang di depan dadanya. “Baru juga aku tinggalkan untuk berburu kelinci...” Tiba-tiba telinganya mendengar ada langkah beberapa orang mendekat.

“Aku mendengar jelas ada bayi menangis di sini. Pasti bayi dari buronan itu!” kata salah seorang dari enam orang yang mendekat ke kereta kuda itu. Mereka berpakaian hitam-hitam. “Apa kau yakin?” tanya yang lain. “Telingaku tak pernah salah.” Jawabnya yakin.

Mereka melangkah berhati-hati ke arah kereta kuda dan menyiapkan pedangnya terhunus. Lalu mereka melihat ke tanah, melihat beberapa jejak kaki di situ. Mereka saling memberikan aba-aba dan mendekat perlahan. Tapi ketika mereka mendekat, tidak nampak ada apa-apa dalam kereta kuda rusak itu.

“Aneh, jelas aku mendengarnya dari arah sini. Dan jejak-jejak kaki ini, jelas masih baru. Tapi... mengapa tidak ada orang?” “Kelihatannya pendengaranmu tidak salah. Jelas mereka ada di sini tadi. Lihatlah ada bekas darah di kereta kuda ini.”

“Kau benar. Ia sudah melarikan diri lagi. Pasti tidak jauh dari sini. Ia sedang terluka. Ayo kejar!” Merekapun meneruskan pengejarannya dengan berpencar.

Si pengemis muda itu sudah berada jauh dari kereta kuda itu. Tak disangka kecepatan larinya dengan menggunakan ilmu ringan tubuhnya sangatlah luar biasa. Ia menuju ke markas rahasia Kaypang di kota Luo Yang.

“Hmm... Anak ini pasti ada hubungannya dengan orang yang dikejar oleh Klan Hitam. Sebaiknya aku membicarakannya hanya dengan ketua saja. Tidak ada yang boleh mengetahui masalah ini.” Si Pengemis muda sudah berada di ruangan tunggu markas Kaypang.

Dua tianglo kanan dan kiri masuk ke dalam ruangan tunggu bersama dengan Ketua Kaypang yang sekarang. ‘Ketua! Kedua Tianglo!” Pengemis muda itu memberikan hormatnya kepada ketua kaypang dan kedua tianglo. “A Kun, lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu?”

“A Kun baik-baik saja berkat bimbingan Ketua.” “Silakan, duduklah, nikmati dulu teh dari perkebunan Kaypang ini.” A Kun duduk bersama dengan ketuanya dan kedua tianglo. Mereka menikmati teh hangat yang harum, dan dengan rasa yang memberikan kelegaan di tenggorokan.

“Kualitas teh ini, sangat luar biasa, siapa yang menyangka kaum pengemislah yang mempunyai perkebunannya.” Tutur ketua Kaypang. “Ketua, Anda memiliki pandangan yang luas untuk memperkuat keuangan organisasi.” “A Kun, dalam kondisi sekarang, sebuah organisasi harus ditopang dengan kekuatan keuangan yang baik. Nah, ada informasi apa yang hendak kau laporkan, A Kun?”

“Ketua, kekuatiran kita mengenai pergerakan Klan Hitam, mungkin ada benarnya. Saat ini, klan hitam mulai menyiapkan kekuatannya untuk muncul kembali dalam dunia persilatan. Kelima partai besar, Siaw Lim, Butong, Go Bi, Kunlun dan Hoasan, tampaknya juga sudah mencium hal ini.”

“Mereka juga mulai mengutus pendekar-pendekar mudanya untuk memeriksa hal ini, namun masih belum berniat melakukan apa-apa karena klan hitam juga belum menampakkan dirinya secara terang-terangan, Ketua.”

“A Kun, semenjak tewasnya Raja Iblis Hitam di tangan pendekar Pedang Khayangan tiga puluh tahun yang lalu, kekuatan mereka memang seakan-akan menghilang. Dunia sempat damai, tapi aku kira dalam waktu tidak sampai dua puluh tahun lagi, klan hitam akan memunculkan dirinya lagi.”

“Ketua, apakah Raja Iblis Hitam memiliki keturunan yang akan membalas dendam kepada dunia persilatan?” “Entahlah, A Kun. Tapi kita semua harus mempersiapkan diri kalau mereka kembali memunculkan dirinya.”

“Ketua, sebelum A Kun kemari, A Kun sempat melihat sekelompok orang berasal dari Klan Hitam yang mengejar-ngejar seseorang. A Kun juga tidak tahu siapa yang dikejar, tapi jelas ada kaitannya dengan bayi yang A Kun temukan di petiduran A Kun.”

“Oh? Ada peristiwa semacam itu? Di mana bayi itu?” “Bayi itu sekarang berada dalam pengawasan inang pengasuh kita.” “Oh? Mari kita ke sana.”

A Kun menceritakan kepada Ketuanya apa yang dia alami secara tiba-tiba ada bayi di tempat tidurnya di kereta rusak itu. “Kereta kuda itu, milik siapakah?” “Entahlah Ketua, A Kun menemukannya sudah di situ dalam keadaan rusak, dan A Kun menggunakannya untuk tidur dan berteduh setelah memperbaikinya pada beberapa bagian.”

Si bayi masih dalam keadaan tertidur, setelah diberikan susu pengganti oleh inang pengasuh dari Kaypang. Sang Ketua mengamati bayi itu, dan berkata, “Baiklah kita pelihara. A Kun, peristiwa ini menunjukkan bahwa Klan hitam memang sudah mulai bergerak. Kaypang harus berada di garis depan mempersiapkan diri”

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play